<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957</id><updated>2011-12-14T18:44:23.030-08:00</updated><title type='text'>Kembali Ke Demak</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-507663743675111062</id><published>2008-02-26T16:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-26T21:57:34.291-08:00</updated><title type='text'>Cashfiesta (How to Earn Income From Internet 3)</title><content type='html'>Sejauh ini &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; adalah program mencari pendapatan via iklan di internet yang paling mudah aplikasinya. Dan kita pun tidak perlu bersusah payah mengklik sana sini untuk mendapatkan point. Tapi memang point-nya cukup tinggi untuk mendapatkan dollar. Promosi bulan ini, 1000 point (sekitar 1 jam online) anda akan dibayar 2 USD.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Aplikasi program &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; cukup mudah. Anda hanya tinggal download toolbar &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; lalu menjadikan toolbar itu "hidup" setiap saat. Untuk menjaga agar toolbar itu hidup cukup click Fiesta boy yang ada di tool bar tersebut. Nah, bagi yang senantiasa kerja dengan komputer setiap hari, program ini sama sekali tidak mengganggu kerja anda, karena kita tidak perlu mengklik iklan, surfing website atau baca email untuk dibayar. Cukup dengan aktifkan toolbar &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; ketika kita mulai kerja, jaga agar toolbar itu tetap hidup, dan matikan ketika selesai bekerja. Kita dibayar karena komputer kita berfungsi sebagai televisi untuk iklan mereka. Mudah bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Segera gabung &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; dan aktifkan toolbarnya, lalu dapatkan uangnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saat tulisan ini dibuat saya sudah membuat perhitungan jika kita minimal 3 jam membuat toolbar itu menyala setiap hari, maka sebulan kita bisa dapatkan 52 USD atau 648 USD per tahun tanpa mereferensikan &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; pada siapapun. Jika kita mereferensikan pada satu orang dan orang itu mereferensikan 1 orang lagi, maka kita dapatkan 76 USD setiap bulan atau 920 USD per tahun. Dan ketika saya mengikuti program ini, 1.6 USD didapatkan dengan 1000 point. Pada hari ketiga ini, saya sudah mendapat 6000 point atau sekitar 7 USD.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jadi manfaatkan komputer anda sebagai televisi untuk &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt;!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-507663743675111062?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/507663743675111062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=507663743675111062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/507663743675111062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/507663743675111062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/cashfiesta-how-to-earn-income-from.html' title='Cashfiesta (How to Earn Income From Internet 3)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-2966472444080567120</id><published>2008-02-21T23:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-22T04:13:17.432-08:00</updated><title type='text'>Tentang bux.to (Masih tentang Internet earn money)</title><content type='html'>Masih ingat tentang &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada kabar baik buat yang mencari tambahan penghasilan via bux.to!&lt;br&gt;Ternyata setelah keliling sana sini (baca surfing - pen) ada piranti&lt;br&gt;yang memungkinkan kita tanpa perlu clicking untuk memperoleh poin/&lt;br&gt;uang dari bux.to. Enak bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jadi sekali lagi, buat yang iseng pengin penghasilan kecil-kecilan,&lt;br&gt;silakan join saya di &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;&lt;br&gt;dan untuk membantu saya unggah program autoclicknya di sini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Penggunaan autoclick &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Caranya sangat mudah, setelah anda mendaftar di bux.to,&lt;br&gt;tentunya anda mendapat username dan password. Nah, setelah&lt;br&gt;anda mendownload program autoclick untuk bux.to tersebut, tinggal&lt;br&gt;anda jalankan, masukkan username dan password anda di sana,&lt;br&gt;dan isi / atur berapa menit anda akan menunggu untuk mengklik dari&lt;br&gt;satu iklan ke iklan berikutnya (satu iklan biasanya cuma 1 menit,&lt;br&gt;tergantung koneksi). Anda bisa menjalankan cukup dalam hitungan&lt;br&gt;30 menit (karena biasanya untuk free account cuma dapat 15 iklan&lt;br&gt;per hari). lalu matikan. simple bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Untuk memperbesar pendapatan anda, silakan anda referensikan&lt;br&gt;program &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt; ini kepada teman-teman anda. semakin banyak&lt;br&gt;semakin baik.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terimakasih!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-2966472444080567120?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/2966472444080567120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=2966472444080567120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/2966472444080567120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/2966472444080567120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/tentang-buxto-masih-tentang-internet.html' title='Tentang bux.to (Masih tentang Internet earn money)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-8605753799298583348</id><published>2008-02-14T23:32:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T04:32:10.075-08:00</updated><title type='text'>Affiliate Program (How to Gain Income from Internet - 2)</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Clickbank sebagai salah satu affiliate program ternama, ternyata tidak bisa dimanfaatkan oleh kita yang tinggal di &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tetapi jangan kuatir, karena ada satu program affiliate yang bisa kita gabung di dalamnya. Program itu adalah &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; adalah e-commerce services provider untuk merchants yang menjual digital goods dan jasa seperti ebooks, music, software, dan membership sites.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Affiliate Marketing adalah salah satu cara terbaik untuk promosi. menjual secara online dan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;mendapat income&lt;/a&gt;, dan banyak orang yang menanti kesempatan seperti ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena keterbatasan dan beberapa kondisi, banyak &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;affiliate network&lt;/a&gt; yang tidak mau memasukkan negara-negara yang tidak mereka percayai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ’s&lt;/a&gt;, kita mendapat kesempatan untuk bergabung dalam pelatihan affiliate marketing dan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;seperti punya bisnis sendiri&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;DClickZ Untuk Pengusaha Digital Goods&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;DClickz adalah e-commerce service provider untuk pengusaha yang menjual digital goods and services, seperti ebooks, music, software, dan membership sites.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benefits yang bisa didapat oleh pengusaha dalam &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ’s&lt;/a&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; memungkinkan      digital goods merchants untuk menerima pembayaran kartu kredit (VISA,      MasterCard, Discover, American Express)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Free Affiliate      marketing, tracking, and payout.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Meningkatkan penjualan dengan      free affiliate program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Instant approval – Langsung      bisa berjualan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Tidak bertele-tele      pengajuannya, tidak ada kontrak yang cukup lama, pembayaran setiap bulan,      dan tidak ada termination fees.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah bagaimana dengan kita yang mau penghasilan tambahan sebagai affiliate marketer tadi?&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;&lt;b&gt;DClickZ&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;&lt;b&gt; untuk Affiliate D&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;/u&gt;Affiliate Marketer akan mendapatkan income dari setiap promosi dan penjualan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benefits untuk DClickZ’s affiliates :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Simple, fast, dan &lt;strong&gt;FREE&lt;/strong&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;100% Guaranteed commission,      karena penanganan penjualan dan komisi bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Instant sign-up process –      dapatkan username anda di &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickz      sekarang&lt;/a&gt; dan mulai menjalankan pemasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan penghasilan dari      mempromosikan DClickz sebagai situs terbaik untuk digital goods.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Berapa penghasilan anda?&lt;/b&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mereferensikan merchant baru (publisher of digital goods): &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan bonus $10.00 USD      ketika mereka mengaktifkan keanggotaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan 5% dari markup &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; dari setiap      penjualan (satu tahun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereferensikan seorang reseller baru: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan bonus $5.00 USD      bonus setiap mereka mendapatkan bonus $10.00&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan 50% dari setiap      bonus yang mereka dapatkan setiap tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pembayaran&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Setiap bulan, DClickZ      mengeluarkan 2 kali pembayaran lewat paypal, check, atau direct deposit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perhatian!!!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;/b&gt;Untuk pengusaha yang membaca entry ini, dapatkan discount 50% untuk mendaftar sebagai merchant di DClickZ dari Activation Fee senilai US$39.95 menjadi $19.95 dengan menggunakan code promo saya : &lt;b&gt;EGOODS69.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;Bagi yang ingin menjadi Affiliate Marketer, Silakan cepat join. Gratis Kok!&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-8605753799298583348?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/8605753799298583348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=8605753799298583348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/8605753799298583348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/8605753799298583348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/affiliate-program-how-to-gain-income.html' title='Affiliate Program (How to Gain Income from Internet - 2)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-2268750374236191593</id><published>2008-02-12T22:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T03:27:57.928-08:00</updated><title type='text'>Paid To Click Programs (How to Gain Income from Internet)</title><content type='html'>Setelah kemarin saya mendapatkan satu program &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;Paid To Click&lt;/a&gt;, maka hari ini saya mendapatkan lagi 2 program serupa yaitu ;&lt;br&gt;1. &lt;a href="http://www.DailyClicks.biz/?r=dedyriyadi"&gt;DailyClicks.biz&lt;/a&gt;, dan&lt;br&gt;2. &lt;a href="http://www.velocityclicks.com/index.php?ref=dedyriyadi"&gt;Velocityclicks.com&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hanya saja, pembayaran dari ke dua program tersebut dilakukan melalui satu situs&lt;br&gt;pembayaran yaitu &lt;a href="http://www.alertpay.com/?X44I5Vm1hCLbrvYNpasm%2bw%3d%3d"&gt;alertpay.com&lt;/a&gt;. Ternyata, &lt;a href="http://www.alertpay.com/?X44I5Vm1hCLbrvYNpasm%2bw%3d%3d"&gt;alertpay&lt;/a&gt; juga merupakan program referral&lt;br&gt;yang mana memungkinkan kita untuk mendapatkan penghasilan dari mengajak orang&lt;br&gt;untuk menggunakan situs tersebut. Jadi semacam double bonus.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Oh iya, paid to click memang program yang kurang cepat menghasilkan karena setiap&lt;br&gt;iklan yang kita lihat kita diberi upah (fee) kurang dari 1 dollar usd. Tapi ini langkah awal bagi&lt;br&gt;anda yang ingin mulai mendapatkan penghasilan dari internet. Dengan fee yang kita kumpul-&lt;br&gt;kan sedikit demi sedikit, kita bisa mulai mencari penghasilan lebih dengan mengikuti program&lt;br&gt;lain seperti &lt;a href="http://www.ezinfocenter.com/10027775/TF"&gt;affiliate marketing&lt;/a&gt; yang biasanya memerlukan biaya untuk menjadi anggotanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pepatah no pain no gain, bagi pemula seperti saya memang ternyata masih berlaku.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-2268750374236191593?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/2268750374236191593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=2268750374236191593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/2268750374236191593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/2268750374236191593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/paid-to-click-programs-how-to-gain.html' title='Paid To Click Programs (How to Gain Income from Internet)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-376674400984337676</id><published>2008-02-11T20:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T01:28:21.606-08:00</updated><title type='text'>bux.to ; iseng-iseng klik dapat cent dollar</title><content type='html'>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://www.bux.to/images/banner/banner.png" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;buat yang suka iseng-iseng klik sana sini, mending arahkan kebiasaan anda dengan mengklik dari bux.to ( atau masuk via referal saya : &lt;strong&gt;&lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;http://bux.to/?r=dedyriyadi&lt;/a&gt; )&lt;br&gt;&lt;br&gt;hari ini saya dapat US$ 0.35 ..lumayan ...&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-376674400984337676?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/376674400984337676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=376674400984337676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/376674400984337676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/376674400984337676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/buxto-iseng-iseng-klik-dapat-cent.html' title='bux.to ; iseng-iseng klik dapat cent dollar'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-4665785498122551572</id><published>2008-02-03T22:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T03:37:12.803-08:00</updated><title type='text'>NOC</title><content type='html'> Put this code in between the &lt;HEAD&gt; and &lt;/HEAD&gt; of your Website's HTML code:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;script language="javascript"&gt;&lt;br&gt;limit=3;&lt;br&gt;most_popular=1;&lt;br&gt;catid=-1;&lt;br&gt;offerid=-1;&lt;br&gt;sfiid=10027775;&lt;br&gt;table_width=250;&lt;br&gt;i_output='';&lt;br&gt;var nocDock='&lt;SCRIPT LANGUAGE="javascript" src="&lt;a href="http://www.sfimg.com/nocads.php?id=';"&gt;http://www.sfimg.com/nocads.php?id=';&lt;/a&gt;&lt;br&gt;nocDock+=catid + '&amp;l=' + limit + '&amp;offerid=' + offerid + '&amp;pop=';&lt;br&gt;nocDock+=most_popular + '" &gt;&lt;\/script&gt;';&lt;br&gt;&lt;/SCRIPT&gt;&lt;br&gt;&lt;script language='javascript'&gt;document.write(nocDock)&lt;/script&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Copy and paste this code wherever you want to display the syndicated ads:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;script language="javascript"&gt;document.write(i_output)&lt;/script&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;It is also possible to apply your custom CSS to the displayed ADs.  Use class noctext in your CSS   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-4665785498122551572?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/4665785498122551572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=4665785498122551572' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/4665785498122551572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/4665785498122551572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/02/noc.html' title='NOC'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-4842499441091831621</id><published>2008-01-31T23:34:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T04:34:10.880-08:00</updated><title type='text'>[IsengAsyik] Ikutan Program Cari Penghasilan di Internet</title><content type='html'>&lt;font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"&gt;&lt;font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.fastfreeway.com/index.php3?ref=186034"&gt;http://www.fastfreeway.com/index.php3?ref=186034&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-4842499441091831621?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/4842499441091831621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=4842499441091831621' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/4842499441091831621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/4842499441091831621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2008/01/isengasyik-ikutan-program-cari.html' title='[IsengAsyik] Ikutan Program Cari Penghasilan di Internet'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115374513730989630</id><published>2006-07-24T05:44:00.000-07:00</published><updated>2006-07-24T05:45:37.456-07:00</updated><title type='text'>BAB XXI.  Cahaya Purnama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Secara umum, kondisi pasien dalam keadaan baik. Lukanya memang cukup parah, tengkoraknya ada yang retak. Tetapi kondisi otaknya masih cukup baik. Saya kira dengan kondisi seperti ini, perlu dilakukan operasi untuk memperbaiki tulang-tulang tengkoraknya. Mungkin pagi ini kami kirim pasien ini ke Rumah Sakit di Kota”, demikian penjelasan dokter Anton tentang kondisi Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Sekretaris Desa Maryono, Budi, dan Furqon tampak lega setelah mendengar hal itu. Sejurus berselang, dokter Anton meminta diri keluar ruangan. Budi pun keluar diikuti oleh Maryono. Lalu keduanya tampak berbincang serius. Furqon memandangi Syaiful yang terbujur di pembaringannya. Dia tampak sangat terpukul dengan kondisi sahabatnya, orang yang pernah mengentaskannya dari sebuah penjara.&lt;br /&gt;“Jika ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu, katakanlah”, desisnya lirih.&lt;br /&gt;Dan seakan mendengar, Syaiful membuka matanya. Demi dilihatnya Syaiful bangun dari pingsannya, Furqon tersenyum. Dia melihat Syaiful tampak hendak mengucapkan sesuatu. Didekatkannya telinga ke arah mulut Syaiful yang terbata-bata.&lt;br /&gt;“Ha..ti ..ha..ti..lah...”&lt;br /&gt;Demikianlah kata-kata yang dapat ia dengar. Furqon kemudian berpikir keras, “Siapakah yang sebenarnya telah melakukan teror atas kehidupannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dia berpikir banyak, Budi masuk.&lt;br /&gt;“Furqon, sebaiknya kita bicara di luar. Ada sesuatu yang perlu saya tanyakan padamu.&lt;br /&gt;“Apa itu pak?”, Furqon terperangah.&lt;br /&gt;“Mari”, kata Budi tanpa basa-basi menarik tangan Furqon.&lt;br /&gt;Sesampai di luar, Maryono juga masih menunggu.&lt;br /&gt;“Aku masih penasaran soal apa yang kau ceritakan tadi di tepi hutan jati”, demikianlah Budi memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;“Sebenarnya siapakah Amir itu?”, tanyanya setelah itu.&lt;br /&gt;“A..amir itu..”, Furqon tergagap, dilihatnya Maryono. Maryono pun memandanginya dengan tatapan yang aneh.&lt;br /&gt;“Amir itu adalah nama samaran pak Syaiful”, jawabnya pendek.&lt;br /&gt;“Aku tahu siapa Iptu Syaiful, tetapi kenapa dia menggunakan samaran sebagai Amir?”, tanya Maryono.&lt;br /&gt;“Siang itu sebelum ke rumahku. Pak Syaiful mampir ke mushola dekat rumah. Di sanalah dia memperkenalkan diri sebagai Amir kepada ustadz Arifin.”&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Itu alasan kamu tadi mencurigai ustadz Arifin?”, desak Budi.&lt;br /&gt;“Begitulah pak Budi, walaupun aku juga tidak percaya. Tetapi kejadian tadi siang membuat aku sempat berpikiran begitu.”&lt;br /&gt;“Iptu Syaiful mungkin mencurigai Arifin!”, dengus Maryono.&lt;br /&gt;“Mencurigai?”, Budi merasa bingung.&lt;br /&gt;“Iptu Syaiful itu kan sedang mencari teroris. Mungkin Arifin sedang diselidikinya”, jelas Maryono kepada Budi.&lt;br /&gt;“Tapi, mereka baru bertemu tadi siang”, ucap Furqon tak percaya.&lt;br /&gt;“Mungkin saja Iptu Syaiful sudah mengantongi identitasnya”, Maryono membuat teori.&lt;br /&gt;“Sudahlah, mungkin setelah dia sehat kita bisa menanyakan langsung kepadanya”, Furqon menyerah.&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana dengan ustadz Arifin?”, Budi kebingungan.&lt;br /&gt;“Sebaiknya kita tangkap dia!”, desak Maryono.&lt;br /&gt;“Apa buktinya pak Sekdes? Jangan main tangkap sembarangan, nanti keadaannya malah jadi kisruh!”, Furqon menyadarkan akan akibat gagasan Maryono.&lt;br /&gt;“Lalu apa yang bisa kita lakukan?”, Maryono bertanya-tanya.&lt;br /&gt;“Jika besok ustadz Arifin pulang, aku akan menanyakan langsung kepadanya”, Furqon bertekad demikian karena yakin ustadz Arifin bukanlah pelakunya. Karena selama ini Furqon telah banyak belajar mengenai cinta Illahiah yang dicarinya selama ini dari ustadz muda tersebut. Meskipun tadinya dia curiga kepadanya, tetapi setelah dipikirnya kecurigaan itu sangatlah tidak beralasan.&lt;br /&gt;“Kamu yakin Furqon?”&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan prasangkaku tidak terbukti”, air muka Furqon bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;“Kami tunggu kabarnya secepatnya, tapi Furqon sebaiknya kamu berhati-hati”, kata Maryono.&lt;br /&gt;“Aku juga akan berjaga-jaga jika hal itu benar adanya. Akan kukerahkan semua pemuda di kampung kita!”, Budi pun serius.&lt;br /&gt;“Jangan dulu! Lebih baik biar aku yang bertanya sebagaimana selama ini sering terjadi seperti seorang murid dan guru”, jelas Furqon.&lt;br /&gt;“Baiklah jika memang keinginan kamu begitu, yang jelas kami semua turut waspada”, Maryono sepertinya kuatir sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun akhirnya berpisah. Furqon kini menjaga Syaiful sendirian di Puskesmas. Hanya ada dokter jaga dan seorang perawat. Setelah melihat kondisi dari temannya, Furqon berjalan-jalan di ruang tunggu. Tak kuasa dia menahan gelisah, pada dokter jaga yang terkantuk-kantuk sambil mendengarkan siaran radio, dia pamit untuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di luar, udara dirasakannya sangat dingin. Sarung yang sedari tadi dililitkan di pinggang, dirapatkan ke tubuhnya yang hanya mengenakan kaos dalam saja. Kemejanya tadi sudah digunakan untuk membebat luka di kepala Syaiful. Furqon menggigil kedinginan, dia pun ingin cepat-cepat masuk kembali ke dalam ruang tunggu Puskesmas.&lt;br /&gt;“Furqon!”&lt;br /&gt;Terdengar suara seseorang memanggilnya dengan kasar. Furqon menoleh kepada asal suara itu. Seseorang tengah berdiri di depan pintu halaman Puskesmas. Furqon terkejut, orang itu adalah orang yang sama yang mendatanginya untuk mengalahkan egonya sebagai seorang lelaki.&lt;br /&gt;“Dewo?”&lt;br /&gt;“Kau masih ingat siapa aku rupanya. Pasti kau juga masih ingat apa yang pernah aku katakan kepadamu, bukan?”&lt;br /&gt;“Aku masih ingat. Ada urusan apa kamu mencariku?”&lt;br /&gt;“Sebutkan satu alasan agar aku tidak jadi membunuhmu, Furqon!”&lt;br /&gt;“Hah? Membunuhku? Bukankah aku sudah menepati janjiku untuk tidak pernah menemui istrimu lagi?”&lt;br /&gt;“Ya, tapi kamu lupa? Beberapa hari yang lalu kamu sudah melakukannya lagi!”&lt;br /&gt;“Demi Allah aku tidak pernah melakukannya!”, Furqon menjerit.&lt;br /&gt;“Dasar bajingan kau! Pura-pura lupa telah mengganggu istri orang. Ini buktinya!”, Dewondaru memperlihatkan sebuah amplop surat. Katanya lagi, “Aku telah menemukan bukti bahwa kau masih menginginkan istriku! Dasar lelaki pengecut! Sekarang hadapilah aku”. Dewo melangkah semakin dekat pada tempat Furqon berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mohon agar engkau bersabar, Dewo. Aku hanya menulis sebuah surat perpisahan. Aku mengatakan kepadanya agar selalu mencintaimu dan setia kepadamu saja.”&lt;br /&gt;“Jadi kamu bilang bahwa istriku tidak mencintaiku dan tidak setia kepadaku selama lima tahun ini?”&lt;br /&gt;“Kamu salah sangka. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.”&lt;br /&gt;“Kamu takut padaku?”&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah takut pada kematian, secepat apapun dia datang menghampiri.”&lt;br /&gt;“Kenapa kau berpikir bahwa aku ingin membunuhmu?”&lt;br /&gt;“Karena kau telah meremukkan tulang kepala sahabatku, dan itu mungkin kesalahan fatal bagimu saat ini.”&lt;br /&gt;“Aku memang salah, tapi aku tidak akan menyesalinya. Sebab apa yang aku perjuangkan adalah tanggungjawabku sebagai seorang suami dan bapak dari anakku. Aku tidak ingin keluargaku diganggu. Istriku dan ibu dari anakku hendak direbut, aku takkan berdiam diri.”&lt;br /&gt;“Bukankah aku pun sudah menjelaskan bahwa aku tidak mengganggu dia?”&lt;br /&gt;“Apa buktinya? Yang ada kau mengirimkan surat cinta!”&lt;br /&gt;“Aku tidak mengirimkan surat cinta, itu hanya sebuah surat perpisahaan belaka. Tak bisakah kamu membedakannya?”&lt;br /&gt;“Sudahlah Furqon, aku tidak butuh segala macam alasan. Yang aku tahu, sejak pernikahanku hanya kau laki-laki yang ada dalam pikiran Suci selain aku!”&lt;br /&gt;“Itu lah kenapa aku membuat surat perpisahan”.&lt;br /&gt;“Baiklah, sekarang waktunya kamu juga menulis surat perpisahan untuk semua orang!”&lt;br /&gt;Dewo mengeluarkan sebilah belati dan tangannya dengan sigap menangkap kerah kaos oblong Furqon.&lt;br /&gt;Furqon bukanlah seorang yang penakut. Dia tetap tenang menghadapi sebilah belati kematian yang tajam. Benda itu kelihatan berkilat diterpa cahaya bulan purnama.&lt;br /&gt;Furqon berbisik kepada Dewo, “Jika malam ini saat bulan purnama bertahta nyawaku melayang, maka setiap purnama tiba seluruh kampung di Desa Prigi ini akan bertahlil untukku.”&lt;br /&gt;Dewo melotot. Ucapan Furqon seakan merendah semua niatnya. Jika dia berhasil membunuh Furqon, dia bakal menjadi musuh orang banyak di desa itu. Meskipun dia bukan penduduk Demak, tetapi alamat Suci ada di tempat Furqon. Orang bisa saja melacaknya. Dia merasa ucapan Furqon benar-benar mempersulit dirinya. Setiap purnama, ya setiap purnama, dosanya membunuh Furqon akan selalau dikenang! Dia menjadi ragu untuk melakukan niatannya. Sementara dari balik pintu yang seperempat terbuka, dia menangkap adanya sosok-sosok yang mengintip perbuatannya.&lt;br /&gt;“Furqon mungkin malam ini adalah malam keberuntunganmu. Tapi ingat, meskipun aku tertangkap nanti, aku akan kembali untuk membunuhmu jika kau benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda istriku!”&lt;br /&gt;“Dewo, sebaiknya kamu menyerahkan diri. Orang yang kamu pukuli adalah seorang petugas kepolisian”&lt;br /&gt;Dewo mundur. Kepalan tangannya melemah, sebilah belati yang digunakan untuk mengancam nyawa Furqon jatuh. Berdenting-denting di lantai.&lt;br /&gt;“Kamu menggertakku?”&lt;br /&gt;“Aku tidak menggertak, silahkan masuk ke dalam.”&lt;br /&gt;“Tidak! Tidak! Kamu pasti menipuku!”&lt;br /&gt;“Dewo, aku tidak pernah menipumu. Dari awal pertemuan kita, aku sudah mengaku kalah. Ketika aku lari, kubuang semua kenanganku bersama Suci. Di setiap jejak langkahku kutempelkan semua memori tentangnya. Aku harap ketika aku berhenti berlari, semuanya telah terhapus debu dan angin. Hingga tak perlu lagi aku mengenang.”&lt;br /&gt;“Berjanjilah Furqon! Berjanjilah!”, Dewo menghiba.&lt;br /&gt;“Tak ada rasa iri di hatiku jika aku mengingat tentangmu dan dia. Aku sudah ikhlas.” Air mata mengalir dari kedua pipi Furqon.&lt;br /&gt;“Asal kamu tahu Furqon, aku melakukan ini semua atas dasar tanggungjawabku sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Tak ragu aku melakukan apapun jika rumah tanggaku terganggu”, kata Dewo menegaskan maksudnya.&lt;br /&gt;“Mungkin itu yang belum aku pahami, seperti kata ustadz tempo itu”, pikir Furqon mendengar kalimat Dewo.&lt;br /&gt;“Furqon, aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?”&lt;br /&gt;“Menyerahkan diri. Sebab itulah yang seharusnya.”&lt;br /&gt;“Aku mengaku bersalah hendak membunuhmu, tapi soal itu adalah ketidaksengajaan. Tolonglah aku Furqon”, Dewo kembali menghiba.&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyerahkan dirimu jika kau masih tetap di sini”, Furqon tetap teguh pada pendiriannya untuk meminta Dewo menyerahkan diri.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan Suci dan Auliya? Aku tak bisa meninggalkan mereka”, Dewo mulai menangis.&lt;br /&gt;“Aku tidak bilang kalau aku hendak menahanmu, Dewo. Tetapi aku juga tidak akan mencegahmu untuk lari dari sini”, Furqon mengatakan hal itu pelan.&lt;br /&gt;“Furqon, aku telah salah padamu. Cemburuku telah menyebabkan semua ini terjadi.”&lt;br /&gt;“Aku kagum padamu, Dewo. Kau adalah laki-laki yang bertanggungjawab pada keluargamu. Aku belajar darimu”, Furqon memeluk Dewo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lelaki itu berhadapan muka dengan muka. Mata mereka bertatapan erat. Sepertinya keduanya ingin mengungkapkan luka. Luka yang sama-sama dirasakan sebagai seorang laki-laki. Luka yang sama, yaitu luka dari sebuah cinta. Cinta sering digambarkan dengan sekuntum bunga mawar, indah tetapi berduri tajam. Mungkin kini hati mereka sudah tertoreh oleh duri-duri bunga mawar itu. Perih tetapi indah untuk dirasakan, sebab harumnya kelopak-kelopak mawar sudah tercium dalam nafas bathin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam purnama, dua orang lelaki yang terluka karena cinta sesaat terlupa pada keadaan. Sebab hati mereka masing-masing telah disinari oleh cahaya bulan yang terang. Furqon menangisi kemenangannya atas nyawanya sendiri yang pada akhirnya tidak dicabut malam itu. Dia juga menangisi bahwa akhirnya perjalanannya kembali ke Demak tidaklah sia-sia. Sebab di sini lah dia belajar keikhlasan. Dan dari keikhlasan itulah dia bisa memenangkan hati Dewo yang sejak mereka bertemu dilanda oleh rasa cemburu. Dewo menangis, dia tidak bisa melakukan niatnya untuk membunuh Furqon, tetapi dari Furqon lah dia tersadar. Selama ini dia telah salah menempuh langkah. Cinta dan tanggung jawab pada istri dan anaknya telah membutakan mata hatinya. Dia lupa bahwa di luar itu semua ada hal – hal lain yang perlu diperhatikan termasuk cinta sesama. Adalah Furqon yang menjadi korbannya saat ini, seharusnya dari dulu dia bisa merangkulnya menjadi teman. Hal lain yang paling diingatnya malam ini adalah Furqon telah menyadarkan betapa lalainya dia akan norma-norma kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon tersenyum, akhirnya dia tahu bagaimana seharusnya tanggungjawab seorang kepala rumah tangga diterapkan. Dia berjanji dalam hati, jika nanti dia mempunyai keluarga sendiri, dia akan menjaga keutuhan keluarganya dengan sepenuh hati. Teringat olehnya ustadz Arifin yang berkata kepadanya bahwa ada tanggungjawab yang belum bisa dia lakukan saat ini. Tetapi malam ini, Tuhan sudah membukakan mata dan hatinya pada tanggung jawab terakhir seorang anak manusia. Dengan tanggung jawab terakhir inilah, hidup seseorang sebagai manusia lengkap sudah. Kyai Mukhlas pernah berkhotbah, “Jagalah keluargamu dari api neraka”, mungkin gambaran inilah yang akhirnya dibukakan untuknya. Sebagai buah puzzle terakhir dari pertanyaannya mengenai cinta kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon kembali tersenyum, dia merasa berhasil memaknai perjalanannya kembali ke kampung halamannya. Dalam pikirannya dia berteori ; Perwujudan cinta seorang anak manusia kepada Allah adalah melaksanakan seluruh tanggung jawabnya, yaitu ; tanggung jawab terhadap Allah dan Rasulnya, tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, tanggung jawab manusia terhadap masyarakatnya dan lingkungannya, dan yang paling penting dari semua itu adalah tanggung jawab terhadap keluarganya, sebab menjaga keluarga adalah melaksanakan semua tanggung jawab itu bersama-sama. Furqon kembali menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter jaga Anton yang sedari tadi mengintip, memberanikan diri keluar. Demi melihat ada orang lain yang datang, Dewo dengan cepat berlari menjauh. Dokter Anton kaget, Furqon hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah dia Furqon?”, Dokter Anton bertanya.&lt;br /&gt;“Masa lampau”, demikianlah jawaban dari Furgon.&lt;br /&gt;“Kamu tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;“Seperti yang dokter lihat, aku sehat”, Furqon menjawab sambil masuk ke dalam ruang tunggu Puskesmas. Dokter Anton pun mengikutinya. Dia tidak bisa bertanya-tanya lagi ketika dilihatnya Furqon membuka sarungnya, merebahkan dirinya di sebuah bangku. Lalu meringkuk, mencoba untuk tidur di sisa malam yang memang sudah sedemikian larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*TAMAT* &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115374513730989630?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115374513730989630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115374513730989630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115374513730989630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115374513730989630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xxi-cahaya-purnama.html' title='BAB XXI.  Cahaya Purnama'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115374499097860399</id><published>2006-07-24T05:40:00.000-07:00</published><updated>2006-07-24T05:43:11.236-07:00</updated><title type='text'>BAB XX.  Penemuan Amir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Di mana kah kekasih hati dicari,&lt;br /&gt;Jika tak padang dijelajahi,&lt;br /&gt;tak hutan disinggahi.&lt;br /&gt;Selama hati belum tersentuh,&lt;br /&gt;tandanya masih jauh”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pantun yang diingat oleh Furqon terngiang saat dia dan empat orang warga kampungnya mencari hilangnya Syaiful.  Disibaknya ladang dan kebun tetangga sekitar.  Tak lama waktu berselang, ramailah kampung itu.  Berita hilangnya Amir segera menjadi kegemparan ; betapa tidak?  Baru kali ini ada orang hilang di kampung itu.  Belum lagi orang tersebut adalah pendatang, belum banyak orang yang kenal dengannya.  Hal itu tentu saja membuat pencariannya agak merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu di kampung Furqon, di desa Prigi tampak terang benderang.  Puluhan obor menghiasi kekelaman malam.  Tampak di sebuah bukit, ada rentetan obor yang menyala.  Tanda bahwa ada rombongan orang yang sedang menyisir daerah di bukit itu untuk mencari.  Salah seorang penduduk berinisiatif untuk menghubungi pihak Koramil, maka tidak dalam waktu yang lama, aparat TNI pun mulai bergabung dengan rombongan masyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beberapa rombongan ada yang mulai mengarah ke sisi desa Prigi dekat Kali Tuntang yang biasanya jarang diinjak orang.  Furqon masuk ke dalam rombongan yang menyisir masuk ke dalam rerimbunan hutan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu bulan purnama, sinar bulan menerobos masuk hingga lantai hutan.  Karena rimbunan dedaunan pokok jati memang sedang berguguran.  Meranggas, menunggu hingga bersemi kembali.  Keadaan itu membuat orang ramai bisa melihat sedikit lebih jelas benda-benda yang tergeletak di lantai hutan.  Akan tetap sejauh ini, sosok Syaiful yang sedang menyamar sebagai Amir belum dapat diketemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haruskah aku berterus terang bahwa Amir adalah Iptu Syaiful Huda, petugas intel kepolisian yang sedang menyamar?”, Furqon kebingungan.&lt;br /&gt;“Jika hal itu dikuak, akan lebih banyak lagi pihak yang akan membantu pencarian.  Tetapi aku yakin Syaiful tidak menginginkan itu, karena penyelidikannya bisa berantakan”, pikirnya kemudian.  Furqon terpekur bersandar pada sebatang pohon jati.  Tidak disadari bahwa rombongannya sudah pergi meninggalkannya ke arah ladang luas ke arah jalan raya.  Dan ketika setetes minyak di obornya menetesi tangannya, barulah dia terperangah.  Kaget.&lt;br /&gt;“Lho, aku ditinggalkan?”, serunya pada kekosongan di dalam hutan.  Suara orang yang memanggil-manggil nama Amir sudah terdengar sangat jauh dari tempatnya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, dia mendengar suara daun-daun jati yang kering bergemertakan.  Sepertinya ada orang yang sedang berjalan.  Furqon melihat sosok yang berjalan payah.  Seperti sedang menahan sakit yang amat sangat.  Furqon pun segera mendekati sosok yang kemudian limbung dan terjatuh dekat dengannya.&lt;br /&gt;“Pak Syaiful?”&lt;br /&gt;Orang yang dipanggilnya cuma bisa merintih.  Sekujur tubuhnya berlumur darah.  Ketika Furqon memegang kepalanya, tangannya merasa sangat basah.  Ah! Darah!  Furqon sadar, jika tidak lekas ditutup pendarahannya, Syaiful bisa celaka.  Furqon pun berteriak.&lt;br /&gt;“Tolong…Tolong…Tolong!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terasa sangat lama untuk menunggu sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan.  Furqon menunggu bantuan dari beberapa orang untuk bisa mengangkat tubuh Syaiful sampai dia mendapat pertolongan pertama.  Hal yang dipikirnya adalah bagaimana menghentikan pendarahan di bagian belakang kepala Syaiful.  Tanpa berpikir panjang, diloloskannya kemeja yang dikenakannya.  Dibebatkannya di kepala Syaiful.  Syaiful mengerang.  Disangganya kepala Syaiful di atas pahanya.&lt;br /&gt;“Siapa yang melakukan ini?”, pikirnya, sebelum kembali dia berteriak minta tolong.&lt;br /&gt;Syaiful tampaknya masih setengah sadar.  Matanya berkerjap-kerjap, tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.  Furqon menyeka darah dari mukanya.&lt;br /&gt;“Pak, sadar Pak!”&lt;br /&gt;Diguncang-guncangkan tubuh Syaiful.  Tampak bahwa Syaiful masih bernafas meski tersengal-sengal.  Furqon kuatir, “Jangan-jangan dia sekarat.  Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi!”, jeritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon kembali berteriak minta tolong, tak beberapa lama muncullah serombongan orang yang datang membantu.&lt;br /&gt;“Amir sudah ditemukan!”, teriak seseorang.&lt;br /&gt;“Kenapa dia?  Ya ampun dia terluka!”, kata seseorang yang lain.&lt;br /&gt;“Siapa yang melakukannya?”&lt;br /&gt;Mulailah hutan jati yang sepi tadi menjadi ramai kembali.  Furqon meminta beberapa orang untuk segera membopong tubuh Syaiful yang luka parah keluar dari hutan jati itu, ke arah tepi jalan.  Sampai di tepi jalan, anggota TNI dari Koramil setempat yang telah ikut dalam pencarian tadi, mengambil alih tubuh itu untuk kemudian dibawa ke Puskesmas.&lt;br /&gt;“Diketemukan di mana Furqon?”, tanya Budi Ketua Rukun Warga di tempat itu.&lt;br /&gt;“Di dalam hutan jati, pak.  Seseorang telah memukuli dan membawanya ke situ.  Entah siapa.”&lt;br /&gt;“Apakah dia punya musuh?”&lt;br /&gt;“Dia itu baru datang siang ini, pak.  Mana mungkin dia punya musuh?  Lagipula, sedari siang dia tidur saja di rumah saya.”&lt;br /&gt;“Wah, jadi mencurigakan ya?”&lt;br /&gt;“Entahlah, mungkin pelakunya salah sasaran.”&lt;br /&gt;“Ah, kamu koq bisa memprediksi hal semacam itu?”&lt;br /&gt;“Tadi sore ada yang mengawasi saya ketika berada di tempat pak Burhan.  Malam ini, rencananya saya dan Amir hendak mengawasi tempat pak Burhan.”&lt;br /&gt;“Pak Burhan petugas PPL itu?”&lt;br /&gt;“Benar, pak!”&lt;br /&gt;“Sepertinya memang mencurigakan kejadian itu.  Mungkin Furqon benar jika ada sangkut pautnya.  Tetapi kira-kira siapa yang melakukannya?”&lt;br /&gt;“Saya tadi sempat curiga dengan ustadz Arifin.  Sebab dia tidak berada di sini ketika semua ini terjadi.”&lt;br /&gt;“Aduh, jangan curiga begitu.  Ustadz Arifin kan orang baik.  Lagipula dia guru mengaji kamu sendiri, masakan dia berbuat seperti ini?”&lt;br /&gt;Furqon hampir saja membocorkan rahasia penyamaran Syaiful untuk membela alasannya mencurigai ustadz Arifin.  Tetapi dia kemudian sadar, jika dia melakukannya maka akan terjadi kepanikan lainnya.  Sebab keberadaan Syaiful adalah untuk menguak keberadaan teroris.  Dan itu bisa menimbulkan kecurigaan bahwa ustadz Arifin terkait dengan urusan terorisme.  Ah, panjang dan cukup rumit masalah ini.  Furqon kemudian menghela nafas.&lt;br /&gt;“Saya cuma curiga, karena dia tidak berada di kampung ini pada waktu peristiwa ini terjadi.  Sebab tadi siang ustadz Arifin sudah berkenalan dengan Amir juga”.&lt;br /&gt;“Pikiranmu nampaknya semakin kacau.  Jikalau mereka sudah berkenalan, tentunya ustadz tidak akan melakukan perbuatan seperti itu kepada Amir.”&lt;br /&gt;“Ah, entahlah pak.  Saya koq jadi pusing sendiri.”&lt;br /&gt;Furqon melangkah menjauhi kerumunan dan pertanyaan dari Budi.  Tapi kemudian, pundaknya ditepuk oleh Budi.&lt;br /&gt;“Saya justru curiga dengan sikap kamu yang tiba-tiba jadi membingungkan ini.  Ada rahasia apa yang sedang disembunyikan?”, tanyanya.&lt;br /&gt;Furqon pun kaget.  Dia tidak menyangka bahwa Budi bisa menebak kebingungannya.  Tapi memang semuanya salah dia.  Jika saja dia tidak mengeluarkan pernyataan bahwa dia mencurigai ustadz Arifin, pastinya pak Budi tidak akan mencurigai sikapnya.&lt;br /&gt;“Pak Budi, saya ini bingung karena Amir itu dititipkan ke saya oleh pak Sekdes.  Jadi keselamatan dia adalah tanggungjawab saya pribadi.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, sekarang kita ke Puskesmas saja.  Biar kamu bonceng saya dengan sepeda motor.  Sekalian kita pergi ke tempat pak Sekdes untuk memberitahukan kejadian ini”.&lt;br /&gt;Dalam segala kegundahan dan kegelisahan akan keadaan sahabatnya, Furqon pun berdo’a ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allah yang pada tanganNya terletak segala kuasa,&lt;br /&gt;Aku berharap pasrah kepadaMu&lt;br /&gt;Sembuhkanlah temanku&lt;br /&gt;dan berilah hamba titik terang&lt;br /&gt;kesalahan apa yang sebenarnya&lt;br /&gt;sedang kutuai kabarnya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115374499097860399?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115374499097860399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115374499097860399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115374499097860399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115374499097860399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xx-penemuan-amir.html' title='BAB XX.  Penemuan Amir'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345243757669782</id><published>2006-07-20T20:25:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T20:28:36.420-07:00</updated><title type='text'>BAB XIX.  Siapakah Penanam Dendam?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Furqon telah selesai mandi, dia segera saja mengenakan sarung ingin ikut sholat berjamaah di mushola. Meskipun tahu dia sudah terlambat satu raka’at, setidaknya dia masih dapat ibadah jamaah. Untuk itu dia menyegerakan diri pergi ke mushola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hampir sampai di mushola, dia mendengar gemerisik semak-semak. Dia berhenti, tapi kemudian dianggapnya bahwa itu mungkin suara binatang saja. Furqon berlari ke mushola, karena raka’at ketiga hampir dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sholat, dicarinya ustadz Arifin dan juga Syaiful. Tapi dia heran, koq mereka tidak ada di mushola? Apa Syaiful tidak jadi sholat? Lalu kemanakah ustadz Arifin? Dia kebingungan sendiri.&lt;br /&gt;“Ada apa mas Furqon?”, pak Zaenal yang menjadi imam bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;“Eh..ustadz kemana ya?”&lt;br /&gt;“Emang tadi siang tidak ketemu?”&lt;br /&gt;“Ketemu tapi dia tidak bilang apa-apa. Memangnya dia kemana?”&lt;br /&gt;“Dia bilang kalau dia mau menghadiri pengajian di kota mas. Ada Tabligh Akbar malam ini. Mungkin besok baru pulang, sekalian menginap di rumah kyainya.”&lt;br /&gt;“Oh begitu, kalau pemuda mahasiswa yang menginap di rumahku pak Zaenal tahu?”&lt;br /&gt;“Pemuda yang mana ya? Tadi sih ibumu cerita kalau ada tamu menginap di rumahmu. Seorang mahasiswa dari Jakarta. Tapi sedari tadi aku belum melihatnya.”&lt;br /&gt;“Dia bilang mau ke mushola tadi. Tapi koq tidak ada ya?”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan tersesat, mas?”&lt;br /&gt;“Waduh, gimana ya? Padahal saya sudah janji mau ajak dia ke tempat pak Burhan malam ini.”&lt;br /&gt;“Nanti coba aku cari tahu. Siapa tahu dia tersesat. Tapi kalau dari rumah mas Furqon ke mushola bisa tersesat ya aneh. Kan jaraknya dekat, cuma tiga ratus meteran.”&lt;br /&gt;“Saya juga akan coba cari sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari mushola, Furqon mengajak beberapa orang untuk membantu mencari Amir. Kira-kira ada sepuluh orang lebih yang bergabung, Furqon membaginya menjadi tiga kelompok. Satu ke arah jalan raya, satu ke arah pinggiran sawah, dan satu lagi mencari di dalam kampung itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Byurrr!!!”, suara air diguyurkan ke atas kepala Syaiful. Dia pun tersadar, kepalanya masih terasa berat dan pandangannya masih berputar-putar.&lt;br /&gt;“Siapakah kamu?”, tanya Syaiful pada sosok yang tampak memegang kaleng kotor setelah menyiram kepalanya.&lt;br /&gt;Syaiful mencoba untuk berkonsentrasi, meskipun itu sangat sulit mengingat kondisi kepalanya yang terluka dan keseimbangannya pun terganggu. Diingatnya suasana tempat dimana dia kini berada. Seperti tanah lapang terbuka. Tidak. Tampak banyak bayang-bayang pepohonan. Hutan jati. Ya, dia telah diseret masuk ke dalam hutan jati. Siapakah yang menyeretnya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu masih diam saja. Hanya memperhatikan sosok Syaiful yang terhuyung-huyung ketika mencoba berdiri. Kemudian hanya terdengar dengus nafasnya, dan sebuah kata rutukan, “Sialan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, orang tersebut pergi meninggalkan dirinya. Syaiful kebingungan. Sekarang fokusnya bukan siapa orang yang telah melakukan kesalahan terhadapnya, tetapi bagaimanakah dia bisa kembali. Karena pusing yang teramat sangat, jatuhlah ia. Kemudian ia merangkak untuk mencari jalan keluar dari hutan jati itu. Sementara, samar-samar dia melihat orang yang telah menganiayanya pergi ke arah persawahan. Syaiful berpikir, dia harus berjalan atau merangkak ke arah orang itu pergi, karena pasti dia akan kembali ke perkampungan. Satu hal lagi yang kemudian terlintas adalah mungkin bukan dia sebenarnya sasaran kemarahan orang itu, tetapi Furqon. Ada masalah apakah Furqon? Sehingga nampaknya ada yang sangat dendam terhadap dirinya. Sebelum dia banyak berpikir, Syaiful kembali pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345243757669782?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345243757669782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345243757669782' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345243757669782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345243757669782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xix-siapakah-penanam-dendam.html' title='BAB XIX.  Siapakah Penanam Dendam?'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345147898978922</id><published>2006-07-20T20:09:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T21:05:52.896-07:00</updated><title type='text'>BAB XVIII.  Penyerangan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Angin siang menjelang sore memang agak aneh rasanya. Panas, kering, tapi kadang menyejukkan. Pokok-pokok jagung di ladang bergoyang-goyang sesuai arahan angin siang itu. Kerimbunan dedaunannya mendendangkan suara khas pedesaan. Hutan jati yang meranggas sebagai latar belakang ladang itu, kontras sekali jadinya pemandangan di desa Prigi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah rumah, seorang lelaki tampak sedang menyiapkan peralatan pertanian. Ada karung-karung berisi sampah dan kotoran hewan, ada alat penyemprot air, dan beberapa ember. Sesekali diaturnya barang-barang dalam larik-larik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum pak Burhan” , sapa seseorang yang baru datang.&lt;br /&gt;“Wa ‘alaikum salam, pak Tono. Bagaimana? Sudah berhasil mengembangkan stek-stek tanaman jati?”&lt;br /&gt;“Wah, alhamdulillah pak. Berkat bimbingan pak Burhan, sekarang bibit-bibit stek itu saya pasarkan sampai ke Cepu segala lho”, jawab seseorang yang bernama Tono tersebut.&lt;br /&gt;“Semakin maju saja usahanya, bagi-bagi dong ke kita?”, canda Burhanuddin.&lt;br /&gt;“Ah, bukannya pak Burhan duluan yang memotivasi kami untuk bisa menyediakan bibit-bibit tanaman jati? Pastinya kami belum ada apa-apanya nih!”, Tono tertawa.&lt;br /&gt;Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;“Pak Burhan, kali ini materi pelatihan kita apa?”&lt;br /&gt;“Pemupukan alami, karena sekarang ini harga pupuk sudah sedemikian tinggi. Saya beberapa hari yang lalu mencari-cari pustaka mengenai cara pembuatan pupuk alami yang kandungannya kurang lebih sama dengan pupuk buatan”, jelasnya.&lt;br /&gt;“Jika ini berhasil, kita bisa hemat banyak uang ya pak?”&lt;br /&gt;“Idenya sih tidak ke arah situ pak, tapi bagaimana kita mampu mengadakan sendiri kebutuhan pertanian di daerah kita.”&lt;br /&gt;“Pokoknya yang menguntungkan petani, pasti saya dukung!”, Tono menimpali sambil tertawa lagi.&lt;br /&gt;“Yang lain koq belum datang ya?”, tanya Burhan.&lt;br /&gt;“Paling-paling sebentar lagi”, jawab Tono sambil menawarkan sebungkus rokok kepada Burhan. Burhan menolaknya.&lt;br /&gt;“Terimakasih, saya sudah tidak merokok lagi.”&lt;br /&gt;“Hidup sehat ya pak?”&lt;br /&gt;“Bisa dikatakan begitu, tapi lebih karena saya memang sudah tidak bisa merokok lagi sekarang. Setiap mau merokok, perut saya mual. Jadi ya, saya hentikan saja kebiasaan merokok itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka sedang berbincang-bincang, mulailah berdatangan anggota kelompok tani yang lain. Ada sekitar 12 orang berbaur dalam lapangan depan rumah Burhan.&lt;br /&gt;“Baiklah, sepertinya akan saya mulai saja acara hari ini. Hari ini, kita akan mencoba sebuah metode sederhana pembuatan pupuk organik. Kenapa? Karena pembuatan pupuk ini benar-benar tidak menyertakan bahan kimiawi, dan hanya menggunakan organisme-organisme hidup di sekitar kita yang bersifat membantu pembusukan.”&lt;br /&gt;“Oh, kita mau bikin kompos ya pak?”, tanya seseorang di antara mereka yang hadir.&lt;br /&gt;“Lebih baiknya kita sebut saja sebagai pupuk organik. Daripada bingung.”&lt;br /&gt;“Bahan dasarnya tetap kotoran ternak?”&lt;br /&gt;”Baiklah, saya akan terangkan cara pembuatannya. Tetapi terlebih dulu, saya ingin sampaikan bahwa metode ini saya contoh dari seorang petani di Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung, yang bernama pak Sobandi.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, bagaimana kalau pupuknya kita beri nama beliau saja pak?”&lt;br /&gt;“Tidak jadi soal, yang penting sekarang cara membuatnya. Ini kapan saya ngajarin ya? Berkomentar melulu dari tadi?”&lt;br /&gt;“Maaf pak, silahkan”, kata beberapa orang dari kelompok petani itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Burhan hendak memulai penjelasannya, datanglah Furqon.&lt;br /&gt;“Assalamu ‘ alaikum, maaf nih telat..” Furqon mencari tempat duduk di antara kerumunan petani itu.&lt;br /&gt;Sama-sama mereka menyahut, “Wa alaikum salam”&lt;br /&gt;“Baik, sekarang saya mulai lagi ya. Seperti tadi saya katakan, bahwa metode pembuatan pupuk organik yang hendak saya ajarkan ini didapat dari petani lain di Bandung. Caranya adalah sebagai berikut; pertama, kita siapkan dahulu bahan media pengembangbiakan bakteri pembusuk. Bahan ini sangat mudah di dapat, yaitu air cucian beras. Kenapa kita gunakan air cucian beras? Mungkin karena di dalam air cucian beras ini masih tersisa pati dari beras yang dicuci. Pati ini berguna sebagai nutrisi dari mikroorganisme pembusuk tadi. Kita tampung air cucian beras ini di dalam sebuah drum bekas, yang kemudian di dalamnya kita isi juga dengan sayur-mayur dan buah-buahan busuk, sisa makanan, kotoran ternak, dan jenis sampah organik lain. Setelah didiamkan beberapa lama, air dan sampah organic ini akan membusuk. Nah, air ini bisa langsung disemprotkan pada tanah maupun bahan kompos lain seperti sampah organik dan pupuk kandang. Air tadi, mempercepat pembuatan kompos. Dalam waktu 15 hari kompos sudah bisa digunakan.”&lt;br /&gt;Burhan menghela nafas sebentar. Kemudian dia meneruskan lagi perkataannya,”Jadi demikianlah cara pembuatan kompos atau pupuk organik ala pak Sobandi. Ada yang mau ditanyakan?”&lt;br /&gt;“Jadi, tetap kompos ya pak?”, tanya seseorang.&lt;br /&gt;“Kompos itu kan tidak mesti menggunakan pupuk kandang, bisa digunakan sampah-sampah organik lainnya. Seperti jerami padi, daripada dibakar, daun-daun kering, dan lain-lain.”&lt;br /&gt;“Hasilnya akan tetap sama seperti pupuk kimia?”, tanya seseorang lainnya.&lt;br /&gt;“Berdasarkan apa yang pak Sobandi lakukan selama ini, produksi padinya justru 100 kilogram lebih banyak dari beras yang dihasilkan dengan cara bertani anorganik atau menggunakan pupuk dan pestisida kimia”, jawab Burhan.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, sebaiknya kita juga mulai bertani secara organik”, seru Furqon.&lt;br /&gt;“Kenapa tidak? Marilah kita mencoba membuat pupuk organik seperti yang sudah saya jelaskan. Saya sudah menyediakan beberapa jenis sampah organik, ada air cucian beras, ada juga kotoran hewan. Ayo siapa yang mau mempraktekkannya?”, tanya Burhan pada kelompok petani itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun mulai mencoba melakukan seperti apa yang tadi sudah dijelaskan oleh Burhan. Furqon pun tampak sibuk dengan ember, air cucian beras, dan sampah-sampah organik. Burhan mengamatinya, kemudian mendekati Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Furqon, jika memang mas Furqon berniat untuk menjadikan sawah dan ladang mas sebagai lahan organik, saya akan mendukung.”&lt;br /&gt;“Saya sih senang saja mencoba hal-hal baru, pak.”, jawab Furqon.&lt;br /&gt;“Mungkin tidak usah secara langsung, sedikit demi sedikit saja mulai dirubah cara bertaninya.”&lt;br /&gt;“Musim tanam nanti? Kita coba seperempat luasan sawah saya dulu bagaimana?”&lt;br /&gt;“Wah, kita harus kerja keras nih mas Furqon.”&lt;br /&gt;“Kan ada pak Burhan yang mendukung. Lagipula semua petani penggarap sawah saya kan sudah ikutan kelompok tani ini. Pasti mereka juga mau mendukung usul ini”, tegas Furqon.&lt;br /&gt;“Baiklah, saya akan melihat hasil praktek bapak-bapak yang lain”, Burhan meninggalkan Furqon yang tengah sibuk mencampuri sampah-sampah itu ke dalam air cucian beras di dalam ember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa saat, Burhan yang sudah memperhatikan seluruh kegiatan peserta pelatihan pembuatan pupuk organik sore itu, kembali berbicara di hadapan mereka semua. Katanya.”Nampaknya semua peserta sudah memahami metode pembuatan pupuk alami ini. Besok kita akan melangkah lebih ke dalam metode pertanian organik lainnya yaitu pembuatan pestisida alami.”&lt;br /&gt;“Jadi sudah cukup acaranya hari ini?”, tanya seseorang dari mereka.&lt;br /&gt;“Saya rasa demikian, kecuali ada di antara bapak-bapak yang belum mengerti. Silahkan bertanya lagi, daripada pulang tapi tidak ada ilmu yang dibawa pulang”, jawab Burhan.&lt;br /&gt;“Sepertinya memang sudah cukup, pak Burhan. Kami nanti akan coba di ladang dan sawah kami”, timpal seorang lain.&lt;br /&gt;“Baiklah jika begitu, saya anggap pelatihan sore ini sudah cukup. Silahkan bapak-bapak bisa pulang dan mulai mempraktekkannya nanti. Wassalamu ‘alaikum”, ditutupnya pembicaraan sore ini oleh Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok petani itu pun membubarkan diri, tinggal Furqon dan Burhan yang tersisa. Biasanya memang demikian. Furqon selalu menyempatkan diri untuk bertanya lebih soal pertanian karena dia telah memberikan sebagian kepercayaan penggelolaan sawah dan ladangnya kepada Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana tampaknya panen nanti?”, Burhan memulai pembicaraan sambil membereskan alat-alat pertanian yang berantakan.&lt;br /&gt;“Sepertinya bakal memuaskan pak. Semoga demikian seperti harapan kita semua”, Furqon semangat.&lt;br /&gt;“Jika demikian adanya, nampaknya usaha kita tidak sia-sia. Melepaskan diri dari pengijon, kemudian membina petani penggarap hingga mereka mau ikut sebagai kelompok petani seperti ini, suatu usaha yang benar-benar memeras keringat lho”, Burhan bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;“Tapi rasanya baru sebentar ya?”, Furqon jengah.&lt;br /&gt;“Karena mas Furqon menikmati prosesnya”, jawab Burhan.&lt;br /&gt;“Apa memang seperti itu? Jika kita menikmati setiap proses dari sesuatu, kita tidak merasa lama menunggu?”, Furqon mengajukan suatu pertanyaan.&lt;br /&gt;“Menunggu, sepertinya ada filosofi dibalik kata itu. Apa ya? Kepastian atau ketidakpastian? Kehadiran atau penantian?”, Burhan balik bertanya.&lt;br /&gt;“Ah, jangan bikin saya bingung, Pak. Saya rasa jika kita sedang makan dan kita menikmatinya memang tidak terasa waktu itu berlalu.”&lt;br /&gt;“Kamu itu, bilang saja kalau kamu pengin nyicipin goreng tempe buatan istriku lagi. Ayo masuk!”, Burhan tertawa.&lt;br /&gt;“Sekalian mau sholat Ashar juga, Pak”, Furqon pun ikut tertawa. Mereka berdua berjalan bersama masuk ke rumah Burhanuddin. Ketika hendak masuk, Furqon melihat sesosok orang yang berkelebat di ladang jagung. Deg! Hatinya berdegup.&lt;br /&gt;“Ada orang, Pak!”, Furqon teriak tertahan.&lt;br /&gt;“Mencurigakan sekali, lagi apa dia di ladang jagungku?”&lt;br /&gt;“Apa perlu kita kejar?”&lt;br /&gt;“Sebaiknya begitu, ayo cepat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlari masuk ke dalam ladang jagung. Mencari-cari sosok yang tadi berkelebat seakan habis mengintip aktivitas Kelompok Tani itu. Dijelajahnya ladang jagung Burhan dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dia!”, teriak Burhan melihat seseorang yang berlari-lari masuk ke dalam hutan jati.&lt;br /&gt;“Jangan – jangan pencuri Pak? Apa perlu kita minta bantuan warga?”&lt;br /&gt;“Sudahlah, tidak usah dikejar lagi. Aku rasa malam ini harus begadang. Mungkin dia pencuri ternak.”&lt;br /&gt;“Ya sudah, nanti malam aku mampir ke sini sama temanku anak mahasiswa itu. Biar ada teman diskusi juga.”&lt;br /&gt;“Baiklah, terserah mas Furqon.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, aku langsung pulang saja sehabis numpang sholat di rumah ya, Pak”, tegas Furqon.&lt;br /&gt;“Silahkan. Mari kita kembali ke rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon sebenarnya agak curiga, jangan-jangan Syaiful yang mengintai kegiatannya. Mungkin dulu waktu pertama kali bertemu, Syaiful tidak pernah sesungguhnya mempercayai dirinya. Sehingga ketika Furqon pulang ke Demak pun dia masih coba mengikuti. Tapi untuk apa? Furqon tidak mau mengotori hatinya dengan syak yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah, Furqon mencari Syaiful. Dia ingin mengetahui apakah benar bahwa orang yang mengintip kegiatan kelompol tani itu adalah orang yang menumpang di rumahnya. Masuk ke kamar tidurnya, dilihatnya Syaiful sedang tertidur. Nafasnya tampak teratur, meskipun berkeringat nafasnya tidak nampak tersengal-sengal. Berarti bukan dia yang telah dikejar tadi di ladang jagung pak Burhan. Lantas siapakah? Perlahan diguncang-guncangkan lengan Syaiful.&lt;br /&gt;“Pak, eh mas Amir, bangun! Sudah mau maghrib, tidak baik tidur di waktu begini”.&lt;br /&gt;Syaiful pun mulai terbangun. Mungkin dia sudah dilatih untuk tidur tidak terlalu nyenyak, sehingga gangguan sedikitpun dia bisa langsung terbangun.&lt;br /&gt;“Ada apa mas Furqon?”&lt;br /&gt;“Sudah hampir maghrib, tidak baik untuk tidur.”&lt;br /&gt;“Oh. Maaf”, bisiknya.&lt;br /&gt;Syaiful segera bangkit dari tempat tidur, “Maaf, saya kecapekan. Jadi tidak sadar sudah mau maghrib sekarang. Mas Furqon baru pulang darimana?”&lt;br /&gt;“Saya dari tempat praktek pertanian, rumahnya pak Burhanuddin. Dia itu PPL yang ditugaskan di desa ini. Tempat para petani bertanya.”&lt;br /&gt;“Oh gitu, kapan-kapan saya juga pengin kenalan dengan dia. Siapa tahu ada bahan lain yang bisa saya tulis.”&lt;br /&gt;“Mas Amir, ada yang ingin saya tanyakan”, kata Furqon singkat.&lt;br /&gt;“Apa itu mas Furqon? Kalau soal cerita lama, saya tidak akan cerita sama ibu. Saya ada disini justru merasa terbantu dengan perkenalan kita dulu, mas Furqon.”, tanya Syaiful.&lt;br /&gt;“Bukan itu. Tadi di ladang jagung pak Burhan, ada orang yang seakan-akan mengintip kegiatan kelompok tani..”&lt;br /&gt;“Mas Furqon mencurigai saya? Saya tidak akan melakukannya, sebab petani bukan target operasi saya.”&lt;br /&gt;“Lalu sebenarnya siapa yang mas Amir cari di sini?”&lt;br /&gt;“Seperti yang dikatakan oleh pak Mugiyono, kami menelisik kemungkinan adanya persembunyian teroris di desa Prigi ini.”&lt;br /&gt;“Jadi sebenarnya memang ada atau tidak?”&lt;br /&gt;“Belum dapat dikatakan, tugasku untuk menyelidiki saja.”&lt;br /&gt;“Kira-kira mau tidak jika mas Amir aku ajak ke tempat pak Burhan malam ini? Dia kuatir jika yang mengintip itu adalah pencuri ternak.”&lt;br /&gt;“Boleh saja, kapan kita berangkat?”&lt;br /&gt;“Ba’da Isya saja.”&lt;br /&gt;“Baiklah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful pamit untuk mandi, sementara Furqon menunggu giliran dengan membaca-baca buku pertanian. Tapi dia tidak dapat berkonsentrasi, pikirannya terganggu sejak kehadiran Syaiful. Sepertinya kembalinya dia ke desanya sudah tidak ada kesan lagi yang mendalam. Furqon mencoretkan sebuah puisi singkat;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pesan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dulu, pesanmu ; cahaya&lt;br /&gt;meliputi cakrawala angan&lt;br /&gt;- aku terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini angin mendustakan arah&lt;br /&gt;aku tersesat dalam gelap&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama, terdengarlah alunan adzan maghrib. Suara pak Zaenal, guru smp di kecamatan yang baru saja pensiun melafadzkannya. Furqon hafal sekali cengkoknya, unik. Apalagi suaranya yang agak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Furqon, ibu kemana?”, tanya Syaiful yang sudah mandi sambil mengibaskan rambutnya dengan handuk.&lt;br /&gt;“Ibu biasanya pergi duluan ke mushola sejak Ashar tadi, sekalian pengajian.”&lt;br /&gt;“Rajin ya?”&lt;br /&gt;“Apalagi yang dicari, tinggal cari keridhoan Illahi.”&lt;br /&gt;“Saya jadi ingat waktu mas Furqon ingin pulang dulu. Tapi saya lihat, keadaan mas Furqon biasa-biasa saja”, Syaiful mengingatkan Furqon pada tujuan pulangnya dulu. Hal yang baru saja menjadi pertanyaan bagi Furqon sendiri.&lt;br /&gt;“Soal itu, saya akan jawab nanti. Sekarang saya mau mandi dan segera ke mushola”, Furqon menjawab sambil bergegas ke kamar mandi.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, saya pergi duluan saja ya ke mushola!”, teriak Syaiful.&lt;br /&gt;“Silahkan, jangan lupa tutup pintunya!” jawab Furqon dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful melangkahkan kakinya ke mushola, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Furqon. Nampaknya mushola di kampung itu memang tidak pernah sepi. Selalu saja ramai dikunjungi. Syaiful berpikir mungkin ustadz Arifin memang ustadz yang simpatik, sehingga pengajarannya mendapat banyak perhatian di kampung Furqon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal beberapa langkah lagi, dia sudah tiba di halaman mushola itu. Iqomah telah diperdengarkan, orang-orang segera menata shaf rapat-rapat. Syaiful segera bergegas. Tiba-tiba “Bukkk!!!” Pandangannya berkunang-kunang, kemudian menggelap. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menghantam belakang kepalanya. Syaiful terjatuh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345147898978922?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345147898978922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345147898978922' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345147898978922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345147898978922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xviii-penyerangan.html' title='BAB XVIII.  Penyerangan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345118683225706</id><published>2006-07-20T20:05:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T20:12:14.020-07:00</updated><title type='text'>BAB XVII.  Amir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Perjalanan siang itu, memang sangat singkat. Betapa tidak, hari masih baru memasuki setengah umurnya ketika Furqon harus segera pulang kembali ke rumah. Hari itu jadwalnya berantakan sudah. Karena pertanyaan mengenai mimpinya, kemudian saat ini dia membawa luka pulang ke rumahnya. Betapa tidak? Pada akhirnya dia harus mengakui di hadapan ibunya bagaimana cara dia berkenalan dengan Syaiful Huda, tamu istimewanya kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghentikan mobil angkutan begitu sampai di daerah tempat tinggalnya. Sebuah gapura kampung berbentuk sepasang tugu berdasar jambangan limas adalah ucapan selamat datang. Kalau dipikir-pikir bentuknya seperti dua buah Tugu Monas yang gemuk. Dulu, setiap waktu tujuh belasan, Furqon sering menghiasinya dengan bendera plastik kecil-kecil dan lukisan gambar pahlawan Nasional. Diponegoro adalah tokoh yang paling sering dilukiskan wajahnya di tembok tugu itu. Furqon dahulu sempat mengidolakan beliau, karena dalam benaknya begitulah seharusnya pemimpin sejati negeri ini; seorang ulama, seorang bangsawan, seorang tokoh yang mau mati-matian membela kehormatan keluarga, juga pemikir strategi perang yang handal. Setelah dewasa baru dia mengerti, kenapa perlawanan Diponegoro tidaklah banyak mendapat dukungan. Mungkin semua orang juga sudah memaklumi, tapi setidaknya rasa bangga itu tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon berjalan di depan Syaiful. Seakan-akan dia tidak mau orang menyangka dia punya hubungan dekat dengan petugas kepolisian tersebut.&lt;br /&gt;“Masjidnya masih jauh?”, tanya Syaiful.&lt;br /&gt;“Oh iya, hampir saja saya lupa, di dekat sini adanya mushola”, tukas Furqon singkat.&lt;br /&gt;Berbelok dari jalan utama ke arah kiri, Furqon mengajak Syaiful melintasi sebuah pemakaman kecil. Tak jauh dari situ, mushola tempat Furqon mengaji sudah terlihat. Tampaknya ustadz Arifin belum datang. Biasanya menjelang Dzuhur, dia sudah mengaji. Furqon menahan diri untuk mencarinya. Segera saja keduanya duduk di teras mushola itu. Syaiful menggeledah tas ranselnya. Diambilnya sebuah kaos, celana jeans dan sepasang sepatu kets. Rupanya dia tadi lupa mengganti seragam dinasnya juga sepatunya.&lt;br /&gt;“Maaf Furqon, tadi saya lupa untuk memasang peralatan penyamaran saya”, katanya sambil tersipu.&lt;br /&gt;“Ada-ada saja”, Furqon berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan tidak ada yang curiga”, kata Syaiful lagi sambil melangkahkan kaki ke tempat wudlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon masih tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika di dengarnya suara memanggil namanya dari kejauhan. Ustadz Arifin! Furqon makin bimbang, haruskah dia berterus terang tentang Syaiful? Ustadz Arifin semakin dekat.&lt;br /&gt;“Kamu sama siapa mas Furqon?”&lt;br /&gt;“Eh, anu..saya tadi sama seorang mahasiswa dari Jakarta yang hendak menyusun skripsi. Kebetulan tadi ketika saya ke sekolah, pak Sekdes menitipkan orang ini kepada saya.”&lt;br /&gt;“Skripsi apa ya mas?”&lt;br /&gt;“Wah, saya juga kurang tahu. Saya belum berkenalan banyak dengannya. Mungkin kita bisa tanyakan kepadanya nanti.”&lt;br /&gt;“Sekarang dia kemana?”&lt;br /&gt;“Dia lagi ganti baju di tempat wudlu.”&lt;br /&gt;“Oh, kebetulan saya mau berwudlu, sebentar lagi kan Dzuhur. Ayo kita sholat bareng!”, ajak ustadz Arifin.&lt;br /&gt;“Iya, ustadz. Aku juga mau sholat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Arifin berjalan masuk ke dalam tempat wudlu diiringi oleh Furqon. Ketika hendak masuk, Syaiful sudah keluar. Ustadz Arifin tersenyum demikian juga dengan Syaiful. Ustadz Arifin sedikit terkejut, dilihatnya seorang pemuda menenteng sepasang sepatu boot hitam mengkilat dan baju seragam yang digulung. Dia tetap tersenyum sambil mengucap salam.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum!”&lt;br /&gt;“Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh”, Syaiful mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;Mereka pun berjabat tangan.&lt;br /&gt;“Temannya mas Furqon?”, tanya ustadz Arifin.&lt;br /&gt;“Baru kenal tadi, saya Amir, mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saya mau numpang di rumah mas Furqon”, jelas Syaiful.&lt;br /&gt;“Mau sholat dzuhur?”, tanya ustadz lagi.&lt;br /&gt;“Iya, ma’muman ya pak”, pinta Syaiful.&lt;br /&gt;Ustadz segera masuk ruang wudlu, Syaiful tersenyum kepada Furqon yang termangu. Rasanya makin banyak yang dia tidak bisa mengerti dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Syaiful melangkah menuju tas ranselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di teras mushola. Dia kemudian tampak sibuk membenahi isi tas ransel dan memasukkan baju seragam serta sepatu PDL-nya. Sejenak waktu berselang, dia sudah masuk ke dalam mushola dan mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon masih termangu di depan tempat wudlu, bahkan ketika ustadz Arifin sudah selesai berwudlu.&lt;br /&gt;“Ayo mas, koq malah bengong?”&lt;br /&gt;“A…Amir…”&lt;br /&gt;“Kenapa dengan dia? Bukankah mas Furqon sudah mengenalnya?”&lt;br /&gt;“Bu..bukan, saya baru tahu kalau dia ternyata sangat ramah dan mudah bergaul. Sebab dari tadi dia diam saja”, Furqon terbata-bata menutupi perasaannya.&lt;br /&gt;“Oh, bagus kalau begitu. Ayo cepat, sudah ditunggu!”&lt;br /&gt;Furqon pun masuk tempat wudlu. Tidak beberapa lama terdengarlah iqomah dan mereka bertiga melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai melakukan ibadah juga berdoa, ketiganya masih duduk di dalam ruang mushola yang sederhana itu. Siang yang tidak terik sebenarnya cukup membuat mata mengantuk, tetapi tidak bagi mereka. Entah euphoria apa yang tengah terjadi di dalam hati masing-masing. Ketiganya segera saja terlibat dalam sebuah diskusi sederhana, terutama karena hadirnya “Amir” di lingkungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi mas Amir kuliah di universitas apa di Jakarta?”, tanya ustadz Arifin.&lt;br /&gt;“Pak ustadz pernah ke Jakarta?”, Syaiful menjawab pertanyaan ustadz Arifin dengan pertanyaan juga.&lt;br /&gt;“Dulu saya malah sempat tinggal di sana, di daerah sekitar Tanah Abang”, ustadz Arifin menjawab.&lt;br /&gt;“Saya jauh dari situ pak ustadz, saya kuliah di Institut Tehnologi Budi Utama, di Klender”, jelas Syaiful.&lt;br /&gt;“Oh, mahasiswa tehnik ya. Pantesan suka dengan atribut-atribut militer”, sindir ustadz Arifin.&lt;br /&gt;Amir hampir tercekat mendengar pertanyaan ustadz Arifin. Tapi dia seorang petugas intelejen, soal beginian dia bisa dengan mudah kemudian.&lt;br /&gt;“Biasalah anak muda, pak ustadz. Lagian tidak berbahaya bukan? Kecuali saya ikut-ikutan menyimpan dan menggunakan senjata,” jawabnya sambil ketawa.&lt;br /&gt;“Sekedar buat gaya-gayaan saja lah pak ustadz”, sambungnya lagi.&lt;br /&gt;“Saya tahu, terus apa yang mau diteliti di desa Prigi ini, mas Amir?”&lt;br /&gt;“Saya mau meneliti pengaruh bentuk desain Masjid Demak terhadap rumah–rumah penduduk di Demak secara umum”&lt;br /&gt;“Oh, jadi dari tehnik arsitektur?”&lt;br /&gt;“Iya, pak ustadz”, jawab Amir sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Lalu, maksudnya buat apa mas Amir?”, tanya Furqon yang sedari tadi diam.&lt;br /&gt;“Tujuannya sih sederhana, alasannya karena Masjid Demak adalah karya monumental, sehingga pasti ada pengaruh secara psikologis terhadap rakyat Demak. Jadi, saya mau mengelompokkan dan mendokumentasikan beberapa komponen adaptasi dari Masjid Demak yang terdapat di rumah-rumah penduduk.”&lt;br /&gt;“Hm..aku masih belum mengerti, fungsinya apa ya?”, lanjut Furqon lagi.&lt;br /&gt;“Nantinya saya akan mengaitkannya dengan efek psikologis dari karya monumental yang menggabungkan antara budaya Hindu, Budha, dan Islam ini. Masih hipotesa saja sih, mungkin rumah orang yang leluhurnya penganut Hindu hanya akan mengadopsi komponen-komponen yang bernuansa Hindu saja. Contohnya seperti bentuk tiang yang disebut “Saka Majapahit.” Tapi secara umum sih saya melihatnya yang paling banyak diadopsi adalah bentuk menara Masjid yang khas bangunan jaman Majapahit itu, biasanya untuk pagar.”&lt;br /&gt;“Wah…ternyata arsitektur itu rumit juga ya?”, kata Furqon sambil melongo.&lt;br /&gt;“Kenyataannya, arsitektur itu menunjukkan pribadi suatu bangsa lho!”, tegas Amir.&lt;br /&gt;“Semacam identitas ya mas Amir?”, tanya ustadz Arifin.&lt;br /&gt;“Bisa dikatakan seperti itu. Siapa yang tidak kenal bentuk rumah Maroko, Yunani, Romawi, dan sebagainya.”&lt;br /&gt;“Tapi di sini kebanyakan rumah ya seperti rumah orang Jawa pada umumnya mas”, sanggah Furqon.&lt;br /&gt;“Oh begitu, tapi tidak mengapa, mungkin jika diperhatikan detailnya bisa saja saya menemukan keterkaitan tadi, tapi seandainya tidak ada keterkaitan pun saya sudah bisa jujur mengatakan bahwa hipotesa saya salah”, jawab Amir.&lt;br /&gt;“Lha, memangnya tidak kenapa –kenapa kalau bikin hipotesa salah?”, tanya ustadz lagi.&lt;br /&gt;“Saya ini apa lah, wajar jika buat suatu hipotesa kemudian salah, tapi itu juga sudah termasuk penelitian. Tidak semua penelitian itu berkorelasi positif terhadap suatu hipotesa.”&lt;br /&gt;“Kalau para peneliti semuanya jujur seperti mas Amir, tidak ada lagi kasus-kasus lingkungan hidup ya”, kata Furqon sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Hahaha, bisa saja mas Furqon ini,” Amir dan ustadz Arifin pun tertawa.&lt;br /&gt;“Lha itu kata pak Burhanuddin, sekarang ini banyak kerusakan lingkungan karena penelitian proyek-proyek pertambangan dan kehutanan sepertinya sudah tidak jujur lagi”, tambah Furqon.&lt;br /&gt;“Mungkin hanya beberapa kasus saja, mas Furqon”, Amir mesem-mesem saja mendengar celoteh Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu sebelum akhirnya mereka berpisah, suasana cair sudah terjadi antara ketiganya. Akan tetap sebenarnya ustadz Arifin masih menyimpan tanda tanya mengenai atribut militer yang disembunyikan di dalam ransel Amir. Ustadz pun mulai berpikir – ada kasus apakah sehingga seorang petugas intel kepolisian menyusup ke desa Prigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon dan Syaiful pamit dari pertemuan di mushola itu untuk pulang ke rumah. Hari sudah menjelang sore. Furqon teringat akan jadwalnya, biasanya jam 2 siang seperti ini dia sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat pak Burhan, mempelajari tetumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah disambut oleh ibu yang tampaknya terkejut karena ada kehadiran Amir. Dia mempersilahkan Amir duduk di teras, sementara Furqon permisi ke dalam kamarnya. Dia hendak membereskan kamar tidurnya untuk istirahat Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak ini siapa ya?”, tanya ibu kepada Amir.&lt;br /&gt;“Saya ini seorang mahasiswa dari Jakarta, kebetulan tadi bertemu mas Furqon di Kantor Kepala Desa. Sama pak Sekdes, saya dititipkan di sini. Mohon maaf lho bu, merepotkan.”&lt;br /&gt;“Ah, tidak mengapa. Sudah lama rasanya ibu tidak pernah melihat ada teman Furqon yang menginap di rumah ini. Rasanya baru kemarin dia itu duduk di SMP. Dulu dia itu aktif di Pramuka. Makanya banyak temannya bergantian menginap di sini. Apalagi waktu bapaknya masih ada. Seringkali mereka berkelana masuk ke dalam hutan”, kata ibu sambil menerawang.&lt;br /&gt;“Oh begitu ya bu?”&lt;br /&gt;“Terus kedatangan nak mahasiswa kemari itu apa?”&lt;br /&gt;“Nama saya Amir, Bu. Kebetulan saya sedang dalam penelitian untuk tugas akhir.”&lt;br /&gt;“Nak Amir pasti belum makan, makan dulu sana. Ibu tadi cuma sempat masak sayur asam dan goreng tempe, maklum makanan kampung.”&lt;br /&gt;“Wah terimakasih nih, Bu. Tapi mas Furqonnya kemana ya bu?”, Amir sudah sangat lapar memang, tapi dia merasa risih karena tidak ada Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pun berteriak memanggil Furqon, “Furqon ..Furqon...”&lt;br /&gt;Furqon menyahut dari dalam kamar, “Ya bu, sebentar. Sedang membereskan kamar tidur.”&lt;br /&gt;Tak lama berselang, Furqon datang ke teras dimana Amir dan ibu menunggunya.&lt;br /&gt;“Mas Amir, silahkan tasnya disimpan dulu di kamar saya”, kata Furqon.&lt;br /&gt;“Iya, nak. Silahkan lho..”, ibu menimpali.&lt;br /&gt;Amir pun permisi masuk, tas ranselnya ditaruhnya di sudut kamar. Kemudian ia keluar. Furqon memintanya mengikuti ke arah ruang makan. Furqon membuka tudung saji, mengendus bau harum masakan ibu.&lt;br /&gt;“Wah, mantap sekali sambelnya!”, teriaknya.&lt;br /&gt;Dia memandang Amir, dan dipersilahkannya duduk. Lalu, Furqon meletakkan piring kosong di hadapan Amir. Disorongkannya bakul nasi yang terbuat dari anyaman bambu.&lt;br /&gt;“Ayo mas Amir. Silahkan dicicipi masakan ibu”, katanya.&lt;br /&gt;“Terimakasih mas Furqon”, Amir menjawab dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengambil nasi, mereka membanjirinya dengan sayur asam, lalu memegang sepotong tempe dan mengambil sesendok kecil sambal terasi. Nikmat sekali. Walaupun memang ada peribahasa “tidak boleh bicara ketika mulut penuh, tetapi yang terjadi memang sebuah kesunyian yang membahana. Tidak ada percakapan sama sekali. Ibu hanya memandangi saja. Furqon mencuri-curi pandang kepada Amir. Matanya seakan-akan bertanya kepada orang yang duduk di hadapannya. “Apakah yang telah kau bilang pada ibuku?” Amir kelihatan tidak menanggapi air muka dan tatapan mata dari Furqon. Bahkan berkali-kali sepertinya dia membuat isyarat kepada Furqon “Sudah tenang saja, rahasiamu akan tetap tersimpan rapi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tersenyum melihat mereka berdua, dipikirnya kedua anak muda itu sedang menikmati masakannya. Diambilnya sebuah sulaman tangan yang sudah lama ia kerjakan namun belum jadi. Sulaman tentang mimpinya, gambar pelataran Baitullah. Sebelum mulai menyulam, didekapnya sulaman itu dan matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama, Furqon dan Amir sudah selesai makan. Furqon mendekati ibunya dan berkata,”Bu, saya mesti pergi lagi. Mau ke tempat pak Burhan.”&lt;br /&gt;“Terus mas Amir bagaimana?”&lt;br /&gt;“Biarkan dia beristirahat dahulu bu, dia kan baru datang dari Jakarta tadi subuh.”&lt;br /&gt;“Oh ya sudah. Silahkan lho, mas Amir. Tidur saja di kamar Furqon.”&lt;br /&gt;“Iya, bu. Tapi sehabis makan rasanya kurang enak jika saya tiduran. Mungkin saya mau keliling kampung ini dulu. Baru beristirahat”, kata Amir.&lt;br /&gt;“Maaf ya mas Amir, saya tinggal sebentar”, Furqon berpamitan.&lt;br /&gt;Furqon menyalami ibunya, lalu pergi ke luar rumah. Langkahnya sangat cepat, sehingga dalam hitungan menit saja sudah tidak kelihatan lagi dia.&lt;br /&gt;“Bu, saya juga pamit mau jalan-jalan. Siapa tahu ada inspirasi yang berguna untuk skripsi saya”, Amir pun pamit kepada ibu.&lt;br /&gt;“Baiklah, silahkan nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345118683225706?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345118683225706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345118683225706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345118683225706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345118683225706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xvii-amir.html' title='BAB XVII.  Amir'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345105455492563</id><published>2006-07-20T20:00:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T20:04:14.663-07:00</updated><title type='text'>BAB XVI.  Rendevouz</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pagi hari, sebelum belajar ilmu pertanian, Furqon menyempatkan diri pergi ke rumah ustadz Arifin.  Pikirannya sudah buntu ingin cepat mengungkap tanda tanya yang sedari tadi malam berputar-putar memenjarakan dirinya dalam labirin kerinduan akan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum!”&lt;br /&gt;“Wa alaikum salam, tumben pagi-pagi sekali mas Furqon, ada apa?”&lt;br /&gt;“Begini ustadz, tadi malam saya mimpi aneh sekali.  Terlebih ada persoalan yang memang belum saya temukan jawabannya.  Makanya saya datang ke sini, untuk …”&lt;br /&gt;“Mencari jawaban?  Saya ini hanya seorang ustadz, lagipula persoalan apalagi yang mas Furqon pikirkan hingga bermimpi begitu?”&lt;br /&gt;“Saya itu masih bingung menghubungkan antara hubungan vertikal antara kita dengan ALLAH dan hubungan horizontal antar sesama.  Lalu dimanakah letak cinta terhadap ALLAH?  Kemudian tadi malam saya mimpi, diminta memberikan laporan tentang perjalanan saya mencari cinta terhadap ALLAH itu.”&lt;br /&gt;“Wah, memang cukup berat pertanyaan mas ini.  Apakah kita mau membahasnya sekarang, atau nanti setelah mas pulang dari tempat pak Burhan?”&lt;br /&gt;“Jadi ustadz tahu jawabannya?”&lt;br /&gt;“Saya tidak bisa menjawabnya, sebab nanti mas Furqon sendiri lah yang bisa menyim-pulkannya.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, sekarang saja ustadz berikan penjelasan kepada saya.”&lt;br /&gt;“Sampai lupa, silahkan duduk dulu.  Sambil minum teh ya? Kebetulan saya belum sempat sarapan…”&lt;br /&gt;Lalu keduanya duduk di teras, ustadz Arifin masuk ke dalam sebentar untuk menyiapkan teh manis untuk mereka berdua.  Tak beberapa lama, ustadz Arifin membawa talam berisi dua cangkir teh manis dan sepiring ubi goreng.&lt;br /&gt;“Waduh ustadz jangan repot-repot begini, saya jadi tidak enak.”&lt;br /&gt;“Kebetulan kemarin habis Kemisan, ada yang bawain singkong.  Ya sudah aku goreng saja tadi pagi. Ayo silahkan…”&lt;br /&gt;(Kemisan adalah tradisi setiap minggu di hari kamis dengan memberikan bantuan kepada guru ngaji, entah berupa uang atau sembako; sebagai tanda terima kasih).&lt;br /&gt;“Begini mas Furqon, kita hidup sebagai manusia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar sebagai khalifah di muka bumi ini.  Pertama, tanggung jawab yang berkenaan dengan akidah atau agama; yaitu tanggung jawab terhadap ALLAH dan Rasulnya.  Pada bagian ini, manusia adalah hamba yang tugasnya bertaqwa dan menjalankan syariat agama.  Kedua, tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bertanggungjawab sepenuhnya atas segala tindakan dan pemikirannya, juga rohaninya.  Dan yang ketiga adalah tanggung jawab manusia terhadap masyarakatnya dan lingkungannya.  Dalam hal ini, termasuk juga kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”&lt;br /&gt;“Lalu hubungannya dengan cinta terhadap ALLAH?”&lt;br /&gt;“Apakah mas Furqon tidak bisa melihatnya?”&lt;br /&gt;“Yang ustadz bahas tadi hanyalah tanggung jawab, lalu dimana letaknya cinta?”&lt;br /&gt;“Jika mas Furqon menikah, apakah mas mencintai pasangan mas sebelumnya?”&lt;br /&gt;“Tentu saja! Harus itu!”&lt;br /&gt;“Kemudian di dalam pernikahan itu, apakah mas sebagai suami punya tanggung jawab? Demikian juga dengan istri yang mencintai suami, dia juga punya tanggung jawab bukan?”&lt;br /&gt;“Ya, benar…”&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana mas Furqon?”&lt;br /&gt;“Saya mengerti sekarang, cinta adalah dasar dari tanggung jawab itu semua.  Baik dalam hubungan vertikal maupun hubungan horizontal.  Jadi sebenarnya cinta terhadap ALLAH tidak perlu dicari?”&lt;br /&gt;“Saya tidak mengatakan begitu mas Furqon, tapi mungkin sebenarnya adalah kita harus melaksanakan semua perintahNYA dan menjauhi semua laranganNYA semata-mata karena cinta kita kepadaNYA.  Bukankah itu lebih indah?”&lt;br /&gt; “Jadi sebenarnya dulu, ketika saya menyatakan bahwa saya ingin mencari cinta Illahiah itu salah?”&lt;br /&gt;“Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu salah atau benar mas Furqon, tapi coba lihatlah dengan sudut pandang yang lain.  Mungkin di situ kita bisa lebih menikmati hidup ini.”&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“DIA telah mencintai kita sebelum kita berusaha mencintaiNYA.  Jadi, selama kita hidup tetap nyalakanlah api cintaNYA dengan cara membalas cintaNYA melalui semua yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita harapkan dengan seluruh tanggung jawab kita sebagai hambaNYA.”&lt;br /&gt;“Astagfirullah, berarti selama ini saya keliru!”&lt;br /&gt;“Sudah dapat yang hendak mas Furqon tuliskan untuk temannya?”&lt;br /&gt;“Wah, ternyata memang sudah tepat pagi-pagi ini saya bertemu dengan ustadz.”&lt;br /&gt;“Saya tidak menggurui lho mas Furqon, mas sendiri yang menyimpulkan jawaban.”&lt;br /&gt;“Waduh, saya sangat berterimakasih ustadz!”&lt;br /&gt;“Jangan buru-buru pergi, cicipin dulu singkong gorengnya lho…”&lt;br /&gt;“Iya, iya, ustadz. Terimakasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menyomot sebuah singkong goreng, lalu dengan sabar mengunyahnya.  Ustadz Arifin menyeruput tehnya dengan senyuman berarti atas pertanyaan-pertanyaan Furqon tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Furqon pun pamit.  Dia hendak ke tempat pak Burhanuddin.  Kali ini untuk ilmu yang lain, yaitu ilmu tentang pertanian.  Tanggung jawab yang harus dia penuhi untuk lingkungannya, memenuhi kebutuhan hidup orang lain dengan sayur mayur dan tanaman-tanaman lainnya, setidaknya demikian.  Pada saat Furqon hendak mengayuh, ustadz berkata pelan, “Ada tanggung jawab yang belum bisa kita lakukan, yaitu tanggung jawab terhadap keluarga kita sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon tertegun sejenak.  Lekat dia tatap ustadz Arifin yang tersenyum.  Hatinya merasa ditembak, dia ternyata juga harus memikirkan mengenai pernikahan dan membentuk keluarga sendiri.  Dulu dia pernah mendengar ungkapan “Setidaknya separuh dari agama telah dilengkapi jika kita menikah”, dia sekarang berpikir “Benarkah demikian adanya?”  Dia susah menangkap arti senyum ustadz Arifin, sebab ustadz muda itu juga belum menikah.  Dia sungkan membalas dengan kata, diulasnya selembar senyuman dan anggukan tanda setuju.  Nanti sore dia harus membahasnya sampai tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun bergegas pergi menuju SD dekat kantor kepala desa, hari sudah siang.  Dia bisa terlambat membahas soal-soal ujian dengan teman-teman dan gurunya.  Setiba di jalan raya dia menunggu mobil angkutan pedesaan.  Hanya itulah satu-satunya transportasi di desanya.  Sebenarnya dia mampu untuk membeli sebuah sepeda motor bekas, tapi dipikirnya daripada untuk membeli itu, lebih baik untuk modal berladang saja.  Siapa tahu musim panen nanti dia bisa mulai menabung untuk berangkat haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sepeda motor melaju, penumpangnya dua orang.  Polisi!  Pemandangan yang sangat jarang di desa yang aman tentram.  Biasanya kalau ada apa-apa, mereka lebih cepat melapor kepada markas KORAMIL daripada Pos Polisi yang letaknya di dekat pasar besar kecamatan Kebon Agung.  Jarang juga ada patroli polisi di desa ini.  Sebab Prigi adalah desa yang tenang, tidak pernah ada kejadian yang menggemparkan di desa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok polisi yang dibonceng sepertinya sangat akrab di ingatannya.  Cuma sekarang dia agak berjanggut dan rambutnya sedikit panjang.  Di belakang sepeda motor polisi itu sudah menyusul mobil angkutan pedesaan.  Segera saja dilambaikan tangan untuk menghentikannya.  Rasa penasaran masih membayang di wajahnya ketika dia memasuki kabin penumpang, hampir saja kepalanya terbentur pintu.  Orang-orang di dalam mobil angkutan melihatnya dengan pandangan yang aneh.  Mungkin hendak menertawainya.  Tapi, sudahlah…yang penting kepalanya tidak jadi terbentur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandangnya lekat sepeda motor yang melaju di depan mobil angkutan pedesaan itu.  Dia berusaha betul untuk mengenali sosok polisi yang membonceng dan menyandang sebuah ransel agak besar.  Angkutan terhenti, karena seorang bapak berbaju batik menghentikannya.  Polisi bermotor itu sudah tidak kelihatan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, terlihatlah kantor Kepala Desa Prigi, sebentar lagi SDN Prigi I tempat dia menjalani pendidikan persamaan SMU-nya.  Furqon segera meminta sopir untuk berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya menyeberang jalan terhenti.  Dilihat dua orang Polisi yang sedang berbincang-bincang dengan bapak Sekretaris Desa.  Pemandangan itu tidak menyurutkan langkahnya, sudah ditepis keingintahuannya pada polisi yang berjenggot itu.  Mungkin saja déjà vu, soalnya dia memang pernah sempat mendekam dalam tahanan kantor kepolisian dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menyeberang dengan tenang, dan terus pergi ke arah SDN Prigi I.  Rasanya dia sudah sangat terlambat.  Sekolah sedang sepi karena musim liburan, akan tetapi dari dalam terdengar suara orang dewasa sedang bercanda.  Nampaknya kelasnya sudah dimulai.  Furqon terus melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, ada suara yang pernah dikenalnya berseru kepadanya.  “Furqon!  Furqon!”  Dia menghentikan langkah.  Astaga!  Benarkah dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menoleh ke arah suara itu berasal.  Seorang polisi dengan jenggot, rambutnya sedikit panjang.  Polisi itu berteriak sambil melambaikan tangan kepadanya.  Terpaku, ragu-ragu, dan kaget, menjadi satu.  Siapakah polisi itu?  Apakah benar dia mengenalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Furqon, dipanggil koq diam saja?”, kata pak Sekdes.  Furqon meletakkan jari telunjuk di dadanya, seakan belum percaya jika dia yang dipanggil berulang kali siang itu.  Dia baru sadar begitu kedua orang yang berada di teras kantor Kepala Desa Prigi itu mengangguk dan melambaikan tangan kepadanya.  Masih belum yakin, ditengok arah di belakangnya. Tidak ada siapa-siapa, berarti memang benar dirinyalah yang dimaksud oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon masih dalam kebingungan berjalan menjauhi ruang-ruang kelas yang ditujunya.  Kebimbangan menyeretnya menemui tiga orang yang berdiri di teras kantor Kepala Desa, kumis baplang pak Sekdes yang mulai memutih, jenggot polisi yang tidak wajar, dan kacamata yang dipakai oleh seorang polisi yang lain yang agak diturunkan letaknya, kelihatan semakin dekat.  Yang jelas suasana hatinya mirip saat dia digelandang masuk ke mobil patroli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa pak Sekdes?”&lt;br /&gt;“Aku juga tidak tahu, cuma pak Polisi ini sepertinya mengenalmu”, kata pak Sekdes sambil menunjuk polisi yang berjengot itu.&lt;br /&gt;Furqon menatap pada mata petugas polisi itu, dia berusaha keras untuk mengenalinya.  Dia yang dipandanginya tertawa.&lt;br /&gt;“Ternyata, penyamaranku sangat bagus bukan?”, katanya.&lt;br /&gt;Mendengar suaranya, Furqon ragu-ragu mencoba menebaknya.&lt;br /&gt;“Benarkah ini pak Syaiful?”&lt;br /&gt;“Sudah lupakah engkau padaku, Furqon?”&lt;br /&gt;“Ya ampun pak, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkirim kabar!”&lt;br /&gt;“Baik, baik, Furqon.  Kenalkan ini Bripka Mugiyono”, katanya sambil memperkenalkan pada petugas polisi yang berkacamata.&lt;br /&gt;“Selamat siang pak Furqon”, sapanya.&lt;br /&gt;“Wah, jangan dipanggil “pak” dong, saya merasa belum pantas”, pinta Furqon padanya.&lt;br /&gt;“Sudah lama kenal dengan Iptu Syaiful?  Sepertinya kalian cukup akrab”, kata Mugiyono.&lt;br /&gt;“Furqon ini dulu karyawan dari perusahaan tempat kakak saya bekerja”, jelas Syaiful tiba-tiba pada Mugiyono dan pak Sekdes, dia sepertinya tahu Furqon berat hati untuk menceritakan perkenalan mereka dulu.&lt;br /&gt;Furqon sempat menahan nafas, sebab dia masih merahasiakan bahwa dirinya dulu pernah ditahan Polisi selama satu malam.  Mendengar penjelasan Syaiful tentang dirinya, dia tersenyum kembali.&lt;br /&gt;“Kalau saya tidak bertemu pak Syaiful, saya juga tidak bisa bekerja di perusahaan itu”, Furqon menambahkan penjelasan Syaiful.&lt;br /&gt;“Wah, beruntung sekali ya kamu mas!”, kata pak Sekdes sembari menepuk-nepuk punggun Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sekdes mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya.  Seorang pelayan segera dimintanya membuatkan tiga gelas teh manis untuk mereka.  Bripka Mugiyono kemudian memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;“Pak Kepala Desa sedang tidak di tempat, pak Sekdes?”&lt;br /&gt;“Oh, kebetulan beliau itu sedang mengikuti kaderisasi di Jakarta, sudah seminggu ini dia pergi.”&lt;br /&gt;“Kaderisasi?”&lt;br /&gt;“Istilahnya begitu, tapi sebenarnya semacam simposium mengenai pelaksanaan otonomi daerah, pak.”&lt;br /&gt;“Oh begitu.  Begini pak, kedatangan kami ke desa ini, karena menurut banyak pihak, desa Prigi ini sangatlah aman.  Angka kriminalitasnya rendah, dan penduduknya juga tidak banyak yang melakukan aktivitas keluar desa.  Berdasarkan hal-hal seperti itulah, maka kami hendak melakukan penyisiran terhadap desa ini.  Kenapa?  Karena kondisi seperti desa inilah yang biasanya dijadikan tempat persembunyian para teroris.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sekdes dan Furqon terperanjat.  Baru kali ini dia mendengar kemungkinan masuknya teroris ke desa mereka.&lt;br /&gt;“Teroris?”&lt;br /&gt;“Tenang saja pak, sejauh ini kami memang belum mempunyai informasi yang cukup berarti mengenai kemungkinan tersebut.  Tapi setidaknya tidak ada salahnya kita mencoba membersihkan lingkungan desa ini dari hal-hal seperti itu”, tambah Syaiful kalem.&lt;br /&gt;“Lalu apa yang harus kami lakukan pak?”, tanya Furqon.&lt;br /&gt;“Jangan melakukan apa-apa, biarkan saja kami yang bekerja.  Hanya saja kami perlu kerja sama dari seluruh masyarakat di sini untuk melaporkan hal-hal yang sekiranya mencurigakan”, jelas Mugiyono.&lt;br /&gt;“Oh iya, Furqon.  Bolehkah aku menumpang di rumahmu?”, Syaiful memandang tajam pada Furqon.&lt;br /&gt;“Tentu saja pak, dengan senang hati”, meski begitu dalam hatinya masih ragu apalagi jika ibunya menanyakan bagaimanakah mereka bertemu.&lt;br /&gt;“Pak Mugi akan menginap dimana?”, tanya pak Sekdes.&lt;br /&gt;“Kalau saya sih orang Demak asli, pak”,jawabnya.&lt;br /&gt;“Oh maaf, maaf.  Saya tidak memperhatikan.  Biasalah pak, orang kampung kalau sudah kedatangan Polisi jadinya bingung”, pak Sekdes baru menyadari kekeliruannya, dia tidak membaca tanda – tanda yang terpasang di baju dinas Mugiyono.&lt;br /&gt;“Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, saya mau ke sekolah dulu pak”, pinta Furqon.&lt;br /&gt;“Lho, mas Furqon ini bagaimana sih? Kan pak Syaiful mau langsung ke tempat mas Furqon, bukan begitu pak?”, kata pak Sekdes.&lt;br /&gt;“Betul pak”, tandas Syaiful.  Lalu lanjutnya,”Bisa sekarang mas Furqon?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon berpikir, ada apakah gerangan?  Semuanya serba tiba-tiba.  Tadi malam dia bermimpi tentang pak Theo, sekarang dia bertemu dengan Syaiful.  Terbata-bata, dia mengiyakan permintaan Syaiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari pak Sekdes, saya permisi dulu”, ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;“Iya, iya, hati-hati mas Furqon.  Silahkan pak Syaiful”, jawab pak Sekdes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mugiyono menuruti langkah mereka, dari belakang.  Pak Sekdes sedikit bingung, antara tetap duduk dan meneruskan obrolan dengan Bripka Mugiyono atau menuruti langkah mereka semua.  Tapi nampaknya Bripka Mugiyono tidak lagi ingin mengatakan apa-apa, karena dia sudah berada di depan pintu ruangan.  Akhirnya ia pun mengikuti langkah mereka keluar, padahal dalam hatinya dia ingin mengupas tujuan para polisi itu menyisir desa yang damai ini.  Kemudian dia menatap pada Furqon, mungkin lewatnyalah dia bisa mendapatkan sejumlah informasi yang berarti nanti.  Apalagi salah satu petugas polisi itu menginap di tempat Furqon.  Maka keluarlah mereka dari pintu kantor Kepala Desa.  Beberapa pegawai kantor Kepala Desa berbisik-bisik.  Nampaknya mereka juga ikut bingung dengan kedatangan anggota polisi itu.  Mugiyono pamit mengambil sepeda motornya, sementara Furqon dan Syaiful menuju ke tepi jalan untuk menunggu angkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih pak Sekdes, minta tolong sampaikan pesan saya kepada pak Lurah, juga mengenai Iptu Syaiful yang akan tinggal bersama mas Furqon itu.  Mohon dibantu”, demikian pesan Mugiyono sebelum menstater sepeda motornya.  Pak Sekdes mengiyakan dengan anggukan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon dan Syaiful melambaikan tangan kepadanya begitu Mugiyono, kemudian mereka menganggukkan kepala sebagai tanda perpisahan kepada pak Sekdes yang melambaikan tangan kepada mereka berdua juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertungguan itu Furqon tidak berani membuka percakapan, Syaiful hanya tersenyum melihat tingkah kikuknya.&lt;br /&gt;“Apakah kira-kira saya tidak menyusahkanmu?”, tanyanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;Furqon terperanjat, dia tidak mengira orang yang pernah membantunya menyatakan rasa sungkan kepadanya.&lt;br /&gt;“Tentu saja tidak pak, justru saya yang bingung bagaimana harus menjamu bapak di rumah saya yang sederhana.”&lt;br /&gt;“Sebenarnya kamu bingung karena itu atau bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada orang-orang di sekitarmu tentang kehadiranku di sini?”&lt;br /&gt;“Bagaimana ya pak?  Pertama itu, kedua juga saya merasa tidak nyaman dengan masa lalu saya itu.”&lt;br /&gt;“Begini Furqon, saya tidak akan menyinggung mengenai hal itu.  Bahkan saya memintamu untuk merahasiakan saya sebagai petugas kepolisian.  Di sini saya akan memperkenal diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.”&lt;br /&gt;“Begitu yah?”&lt;br /&gt;“Tapi nanti saya ceritakan di rumah saja.  Saya ingin bertemu dengan sosok ibu yang kamu rindukan dahulu.”&lt;br /&gt;“Baiklah pak”&lt;br /&gt;Sebuah mobil angkutan pedesaan berhenti.  Mereka berdua segera masuk ke dalamnya.  Di dalam mobil itu, Furqon masih membisu sementara tatapannya melekat pada sosok Syaiful Huda yang terlihat diam sambil mengamati para penumpang.  Sepertinya mereka juga bertanya – tanya.&lt;br /&gt;“Aduh, aku koq jadi lupa!”, teriak Syaiful tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Kenapa pak?”&lt;br /&gt;“Ah, tidak apa-apa, apakah di dekat rumah mas Furqon ada masjid atau mushola?”&lt;br /&gt;“Ada pak, kenapa memang?”&lt;br /&gt;“Ya sudah, nanti kita berhenti dulu di sana.”&lt;br /&gt;“Pak Syaiful mau sholat?”&lt;br /&gt;Syaiful tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan pedesaan memang sangat lengang, tidak banyak sepeda motor yang lalu lalang, sepeda juga.  Orang-orang tampak berjalan kaki pulang dari sawah dan ladang.  Desa Prigi cukup sejuk hingga udara siang itu dirasa tidak begitu panas.  Ingin rasanya Syaiful tinggal di tempat seperti ini.  Prigi menawarkan kedamaian, sedangkan Jakarta adalah kota tempat bekerja keras melawan polusi dan kekejaman.  Apalagi dia dulu sempat bergabung di Unit Reserse.  Dia sudah merasakan perlawanan dari kemiskinan, kejahatan juga keputusasaan.  Seperti dulu, dia menemukan Furqon di lembah putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon mengusap wajahnya, rasanya dia tidak bisa lagi percaya dengan kenyataan yang terjadi di hari ini.  Sepertinya dia kembali bermimpi kembali pada masa lima tahun yang lalu, sebuah déjà vu!  Tapi mungkin tidak, karena déjà vu tidak seperti ini, perasaan ini lebih tepatnya seperti sebuah rendevouz.&lt;br /&gt; ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345105455492563?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345105455492563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345105455492563' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345105455492563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345105455492563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xvi-rendevouz.html' title='BAB XVI.  Rendevouz'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345076365486289</id><published>2006-07-20T19:57:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:59:23.753-07:00</updated><title type='text'>BAB XV.  Pertanyaan Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari-hari Furqon sekarang sudah terjadwal rapi, pagi-pagi dia belajar bertani dengan Burhanuddin, menjelang siang dia sudah membedah kitab-kitab agama bersama ustadz Arifin, dan sorenya dia berada di bangku kelas SD dekat Kantor Kepala Desa, mempersiapkan diri untuk menjadi setara dengan siswa Sekolah Menengah Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, dia teringat akan Syaiful Huda, polisi yang pernah menangkapnya juga pada kakaknya Hasan Ali. Mungkinkah mereka masih mengingat dia? Mungkin saja. Tapi yang jelas pertemuan dengan kedua orang tersebut telah menyimpangkan jalannya sedemikian jauh hingga akhirnya dia kembali berada di dekat orang yang disayanginya dan juga dekat dengan impiannya meraih cinta Illahiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah dia sudah mencapai kedekatan dengan cinta Illahiah? Setidaknya dia menurutkan kata ibunya; dimana dia sudah bisa mengkaji ilmu agama dengan serius, demikian pula dengan ilmu pengetahuan, juga ilmu bercocok tanam untuk kelangsungan hidup. Kata ibu ; “Hidup itu mencari keseimbangan belaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful Huda menurut pandangan Furqon sudah melakukan keseimbangan hidup ; tugasnya sebagai polisi adalah tugas yang penting – menjaga kehidupan bermasyarakat supaya berjalan tanpa gangguan. Tapi yang penting, Furqon sudah melihat bahwa Syaiful Huda juga tidak melupakan tugas-tugasnya sebagai hamba ALLAH. Demikian pula dengan kakaknya Hasan Ali, dia pemegang keputusan siapa yang bisa masuk dalam tim kerja perusahaan tempat dia bekerja. Tanggungjawabnya juga sangat besar, siapa tahu ada orang yang ditolak kerja di situ kemudian menanam dendam di hatinya. Tapi itulah kehidupan, tidak ada orang yang tidak mendapatkan tanggung jawab. ALLAH menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini karena hanya dia-lah yang mengatakan “iya” saat diminta menanggung kepercayaan atas bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada pak Theo, seseorang pemilik perusahaan yang merasakan betapa berat tanggung jawabnya berkenaan dengan nasib para karyawannya. Setiap hari dia selalu menangis dalam doa-nya, karena merasa terbebani oleh rasa tanggung jawab itu. Furqon pun kembali berpikir, apakah yang menjadi tanggung jawabnya sekarang ini? Rumah, sawah, dan ladang peninggalan almarhum ayahnya sedang dirawat dengan baik. Cinta ibu kepadanya pun telah dipulihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara orang lain dia rasakan punya tanggungjawab yang berat. Apakah dia harus mencari jawaban atas rasa penasaran itu? Mungkin dia harus menanyakan lagi pada ibu? Segera dia bangkit dari duduknya; dan dilihat ke dalam kamar ibu. Tampak ibu sedang tidur dengan tenang. Perlahan didekatinya sosok yang sedang berbaring itu, diambilnya selembar kain panjang untuk menyelimutinya. Ibu tampak tersenyum dalam tidurnya. Senyum yang begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah ini jawabannya? Ibu adalah tanggung jawabku sebagai seorang anak!” Furqon mulai mengambil sekeping puzzle yang dari tadi terserak di benaknya. Setidaknya ada langkah penyatuan untuk menyelesaikan pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menyelimuti ibu, Furqon masuk ke dalam kamarnya. Tidak segera tidur memang, cuma berbaring dengan pikiran masih menerawang. Pencarian alasan adalah awal kegelisahan, dan bathin yang gelisah adalah tanda kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara jengkerik dan tonggerek mengalun pelan, desah angin dirasakan melinukan tulang. Mungkin hendak kemarau, demikian pikirnya. Berarti ladang sudah saatnya disiapkan. Mulai besok dia akan meminta petani-petani penggarap menggaru ladang. Sambil mencari kantuk atas dera pikirannya, Furqon menuliskan sebuah puisi lagi di dalam kepalanya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam kelam yang jatuh&lt;br /&gt;karena mengingatMu,&lt;br /&gt;Aku temukan cahaya berpendar di hatiku,&lt;br /&gt;kupungut dia,&lt;br /&gt;kutempelkan di dahi,&lt;br /&gt;rasanya aku tak perlu lagi mencari,&lt;br /&gt;cahayaMu akan menuntun,&lt;br /&gt;sebuah pencarian jawaban&lt;br /&gt;; cintaku&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia mulai menata sebuah mimpi dalam tidurnya. Rembulan adalah kemegahan malam, tanpanya tak indah sebuah istana yang bercahaya. Malam ini cahaya telah menembusi kamar Furqon bahkan masuk dalam celah selimutnya. Berpendar penuh gemerlap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpinya dia bertemu dengan pak Theo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Theo tampak tersenyum padanya, lalu dia memperlihatkan sebuah pena. Pena itu tidak bertinta hitam seperti biasanya, tapi abu-abu. Katanya, “Sudah saatnya kamu mulai menuliskan hasil pencarianmu. Bukankah dulu aku bilang, kamu harus memberitahukan kepadaku?”&lt;br /&gt;“Lalu kenapa tintanya tidak hitam pak?”&lt;br /&gt;“Ada apa dengan warna kelabu, warna bisa macam-macam. Tergantung hatimu. Bukankah ada kebiasaan jika marah – kau tuliskan dengan tinta merah ; jika kau sedang senang – tuliskan dengan tinta biru ; lalu hitam ; untuk menulis pesan – pesan penting. Aku tidak memintamu menulis dengan perasaan itu, sebab pencarian adalah keraguan dan harapan.”&lt;br /&gt;“Apakah berarti saya harus menulis sebuah buku?”&lt;br /&gt;“Aku tidak perlu itu, yang penting apapun bentuknya, intinya kamu sudah menyampaikan hasil pencarianmu. Jika nantinya kamu membuat sebuah buku, ataupun hanya sebuah puisi, aku tetap akan senang menerimanya.”&lt;br /&gt;“Baiklah pak, aku akan buat itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menerima pena itu, lalu pak Theo pun segera berlalu. Furqon terjaga dari mimpinya, dia memang tadi mengingat pak Theo, tapi dia telah melupakan bahwa dia dulu pernah berjanji hendak memberitahukan hasil pencariannya kepada dia. Tapi apakah dia sudah selesai melakukan pencarian? Dulu dia hendak mencari cinta Illahiah ; sekarang dia hanya merasakan ketenangan. Lalu bagaimana dia menyatakannya? Furqon kembali bangkit dari ranjang, berjalan ke arah meja. Dipungutnya sebuah buku tulis, dan sebuah pena. Ah, siapa yang menaruh pena baru ini? Rasa-rasanya dia baru melihatnya. Dia mencoba menulis apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu-abu? Ternyata tintanya abu-abu, persis seperti pena yang ada dalam mimpinya. Pena pemberian pak Theo. Dia sangat kaget, kenapa bisa begitu? Mimpinya seolah nyata. Dia merasa ngeri karenanya. Astaga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia melihat sebuah kotak bersampul coklat, telah dibuka. Rupanya bekas sebuah paket yang sudah ditampakkan isinya. Dari sampulnya dia membaca ; Untuk teman yang sedang menuai kegelisahan. Dari sahabatmu, Theo. Sungguh suatu paralelisme yang sedang terjadi. Jangan-jangan mimpinya memang suatu kenyataan. Mungkin ibu penasaran pada kotak itu tadi siang, tapi beliau lupa menyampaikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mulai mencari, jangan-jangan di dalam kotak itu masih ada pesan atau surat. Bolak-balik diaduk-aduknya kotak itu, ternyata memang tidak ada apa-apa lagi. Yah, mungkin memang sudah saatnya dia harus melaporkan urusan pencariannya kepada pak Theo. Sebab Furqon pun merasa rindu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja dibukanya lembaran kosong pada buku tulis yang telah disiapkannya. Coretan pertama hendak dimulai. Tapi tentang apa? Dia pun masih bingung, coba-coba diingatnya segala peristiwa yang telah berkenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dia ingat adalah pertentangan bathinnya belaka, saat itu dia masih bingung. Bagaimanakah ia bisa menuliskan cara mendapatkan cinta illahiah, karena kemudian yang dia temukan selanjutnya adalah bagaimana sebaiknya menjalankan kehidupan sebagai anak manusia. Bahkan dia sendiri belum bisa mempertelakan dua pernyataan itu, dan apa hubungannya antar keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon berpikir keras. Tangannya gemetar saat memegang pena itu, keringatnya menitik di dahi. Ah, kenapa dia harus membuat laporan? Bukankah pak Theo sudah bukan siapa-siapa dia lagi? Furqon melemah. Akhirnya dia kembali ke tempat tidurnya. Dia membaringkan diri, namun tetap tidak bisa terpejam. Jiwanya seakan-akan melayang menembus awan, mencari jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah hidup memang demikian adanya, terus mencari jawaban dari setiap pertanyaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345076365486289?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345076365486289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345076365486289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345076365486289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345076365486289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xv-pertanyaan-kehidupan.html' title='BAB XV.  Pertanyaan Kehidupan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345048396645768</id><published>2006-07-20T19:51:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:54:44.040-07:00</updated><title type='text'>BAB XIV.  Akhiran yang Manis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari-hari selanjutnya bagi Furqon adalah keceriaan, kehidupannya berubah tiap waktu.  Pagi hari setelah sholat subuh, dia mengaji.  Agak siang sedikit dia bertemu dan mencatat kegiatan yang dilakukannya bersama Burhan si penyuluh pertanian lapangan.  Sorenya dia pulang dan bersiap-siap pergi ke mushola untuk mengaji.  Sepulang Isya, barulah dia pulang ke rumah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikirannya tidak lagi terbebani oleh cintanya kepada Suci.  Cinta itu sudah kandas dalam pelukan laut yang tenang.  Terdampar pada pulau sunyi yang damai.  Seperti bahtera Nuh yang konon diam di gunung tinggi di Asia Tengah, dia sudah tidak punya arti secara fisik bagi kehidupan, tetapi secara rohani benda itu telah mengajarkan banyak sekali arti tentang hubungan orang antar orang dan hubungan orang dengan Tuhannya.  Bahtera Nuh adalah lambang pengasingan Nuh dari kaum kerabatnya.  Juga lambang ketaatan Dia akan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diharapkannya surat balasan dari Blora.  Surat-surat yang ingin sekali dia baca setiap hari adalah surat-surat untuk kehidupannya, untuk pengharapannya.  Surat mengenai tanaman, pupuk dan obat-obatan yang setiap hari dia baca dari lembar-lembar penyuluhan pak Burhan.  Surat-surat mengenai pahala, dosa, kisah-kisah penuh hikmah dari kitab suci yang setiap hari ingin dia habiskan berjam-jam dalam pengajian.  Surat-surat perbincangannya dengan sang ibu mengenai kehidupan dan tokoh-tokoh di kampung halaman.  Surat-surat dari alam yang selalu mengajarkan ketaat kepada perintah Tuhan.  Semuanya adalah surat-surat penting yang dicatat dalam agenda abadinya di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu, apakah kamu sekarang sudah tenang Furqon?", tanya ustadz Arifin suatu ketika.&lt;br /&gt;"Rasanya saya hanya bisa tenang jika saya sudah mendapatkan jaminan bahwa saya ini masuk surga."&lt;br /&gt;"Itu hal yang sangat berat memang, bahkan seorang Nabiyullah saja tidak bisa menjanjikan saudara-saudaranya untuk bersama dirinya nanti di sana."&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana saya bisa meyakinkan diri saya sendiri?"&lt;br /&gt;"Kita hanya bisa pasrah saja pada keputusanNYA.  Sebab DIA lah Sang Hakim Agung kita pada akhirnya."&lt;br /&gt;pada akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada akhirnya, kita menyerah kalahhanya bisa pasrah, berharap pada do'a - do'ayang terangkat dari hamparan sajadah,dari  tangan-tangan tengadah,bahkan dari hati terbelah,semoga mencapai hujahkita ; kaffah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita tidak bisa yakin bahwa kita akan masuk surga?”&lt;br /&gt;“Bukan begitu, kalau masalah yakin itu masalah hati sendiri-sendiri, tapi setidaknya berpikirlah bukan tentang Neraka dan Surga, tetapi kepada ALLAH lah kita harus yakin.  Jika kita berharap pada Surga saja, maka yang kita lakukan adalah pamrih untuk mendapatkannya.  Yang kita harapkan sesungguhnya adalah ke-ridho-anNYA untuk menjadikan kita dipandang mulia di hadapanNYA.”&lt;br /&gt;“Jadi surga itu adalah hadiah?”&lt;br /&gt;“Bisa dibilang begitu, akan tetapi sebenar-benarnya tempat kembali adalah hadiratNYA.  Bukankah roh yang ada pada diri kita adalah roh milikNYA?”&lt;br /&gt;“Waktu itu ustadz bilang kita tidak boleh membicarakan mengenai roh, kenapa tiba-tiba ustadz mengatakan hal itu?”&lt;br /&gt;“Yah, memang sebenarnya kita dibatasi untuk tidak membicarakan mengenai roh, sebab roh adalah rahasia milikNYA yang abadi.  Akan tetapi kita harus sadar bahwa kita hidup karena roh yang ditiupkan olehNYA.”&lt;br /&gt;“Baiklah, saya hanya yakin saja kalau pada waktunya nanti saya akan kembali kepada pemilik saya.”&lt;br /&gt;“Yakin saja tidak cukup, berbuatlah baik dan jangan langgar larangan-laranganNYA.  Jalankan ibadahmu dengan sepenuh hati mengharapkan hal itu.  Jangan harapkan dengan penuh surgamu, karena jika kamu di tanganNYA pada saat kembali nanti, sudah pasti surgalah hadiahmu.”&lt;br /&gt;“Baiklah ustadz, saya mengerti sedikit mengenai hal ini.  Setidaknya saya akan tetap ingat akan kewajiban saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keduanya berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing.  Mushola menjadi kembali sepi.  Rembulan yang tidak penuh bulat menyambut perjalanan pulang mereka.  Suara jengkerik dan orong-orong terdengar seperti orkestra yang mengiringi.  Ustadz Arifin berpamitan ketika dia sampai di gang ke arah rumahnya.  Rumahnya memang tidak begitu jauh dari mushola.  Furqon akhirnya melangkah sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu, ketika sedang bermain dengan anaknya, Suci mendengar suara pintu rumahnya diketuk.  Karena siang itu sepi, Suci agak kuatir.  Diintipnya sosok yang nampak baying-bayangnya dari balik tirai jendela.  Ternyata Seno, bapaknya.  Sudah lama dia tidak berkunjung ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa pak?”&lt;br /&gt;“Ndak ada apa-apa, cuma pengin main saja.  Toh sudah lama aku ndak ketemu sama gendhuk Auliya.  Kangen.”&lt;br /&gt;“Ya sudah, ayo masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seno masuk, kemudian menghampiri Auliya yang sedang asyik bermain boneka.  Meskipun belum jelas bicaranya, Auliya mulai mengkomunikasikan beberapa patah kata.  Seno tampak mencandai cucunya.  Suci termangu.&lt;br /&gt;“Mau dibuatin teh pak? Atau sekalian makan siang?”&lt;br /&gt;“Ndak usah repot-repot, kalau bapak lapar, bapak ambil sendiri.”&lt;br /&gt;Seno makin kelihatan asyik bercanda dengan Auliya.  Beberapa kali, Auliya tertawa tergelak-gelak.  Suci kelihatan sangat kikuk.  Sejak pernikahannya, hubungan antara dia dan bapaknya menjadi agak sulit.&lt;br /&gt;Lalu, setelah mengembalikan Auliya ke tangan Suci, Seno berkata,”Kamu masih punya hubungan dengan pemuda dari Demak itu Suci?”&lt;br /&gt;“Pemuda dari Demak? Furqon? Ada apa dengannya?”&lt;br /&gt;“Kemarin, ada surat dari dia.  Bapak tidak ingin rumahtanggamu terganggu karena dia.  Bapak minta maaf, surat itu sudah bapak baca.  Isinya…”&lt;br /&gt;Suci buru-buru memotong pembicaraan bapaknya.&lt;br /&gt;“Apa isinya? Di mana suratnya?”&lt;br /&gt;“Kamu masih mencintainya?”&lt;br /&gt;“Bukan, bukan itu maksudnya.  Tapi aku hanya ingin tahu kabarnya saja!”, ketus Suci.&lt;br /&gt;“Ini suratnya”, Seno mengulurkan sebuah amplop putih yang diambilnya dari saku celananya.&lt;br /&gt;“Terimakasih”, kata Suci singkat sambil mengambil amplop tersebut.  Auliya ingin juga merebut amplop itu dari tangan ibunya.  Suci cepat-cepat menaruhnya di atas meja.&lt;br /&gt;“Aku minta kamu tidak memikirkannya lagi, Ndhuk”, Seno menghela nafas.&lt;br /&gt;“Aku tahu bahwasanya aku adalah istri orang, Pak.  Tidak perlu diragukan cinta dan kesetiaanku kepada suamiku”, Suci menimpali pernyataan Seno dengan ketus lagi.&lt;br /&gt;Seno kembali menghela nafas.  Anaknya memang keras kepala.&lt;br /&gt;“Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu”, lanjut Seno.&lt;br /&gt;“Lho, pak.  Katanya mau makan siang?”&lt;br /&gt;“Tidak usah, siapkan saja makan siang untuk suamimu.  Terus itu, sebaiknya tidak perlu kaubaca suratnya.  Lebih baik langsung dibuang saja.”&lt;br /&gt;“Ayolah pak, makan siang dulu.”&lt;br /&gt;“Tidak usah.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, tolong jagain Auliya sebentar.  Ijinkan saya membaca surat itu”, pinta Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Auliya berpindah tangan.  Suci segera membuka amplop, dan membaca isi surat itu.  Tak beberapa lama terdengar dia menghela nafas.&lt;br /&gt;“Kenapa?”, tanya Seno.&lt;br /&gt;“Ini yang saya harapkan sejak lama, lebih baik dia melupakan saya selama-lamanya.  Jalan hidupnya masihlah panjang.”&lt;br /&gt;“Lalu?”, Seno kembali bertanya.&lt;br /&gt;“Boleh saya balas surat ini?”&lt;br /&gt;“Sebaiknya tidak usah, tapi terserah kamu, Ndhuk.”&lt;br /&gt;“Aku ingin membalasnya, pak.”&lt;br /&gt;“Segeralah tulis balasannya, nanti biar bapak yang memposkannya.”&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar ya, pak”, pinta Suci lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suci masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sebuah buku tulis dan pena.  Siang ini, segala masa lalu harus tersimpan rapi sebagai jenazah pahlawan saja.  Mereka sama-sama terluka karena cinta ini, mereka sama-sama pernah merasakan bahagianya.  Jika ingin diakhiri, maka perlu upacara istimewa dengan penganugerahan pangkat anumerta layaknya.  Suci tersenyum sendiri.  Sebelum menulis, terlihat dia berdoa.  Entah apa yang diucapkannya,&lt;br /&gt;Seno hanya memperhatikan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama, Suci sudah melipat-lipat kertas suratnya.  Kemudian dicarinya amplop pada tumpukan kertas di meja kerja suaminya.  Dapat!  Dia segera mengisinya, dan menuliskan kata-kata penanda pada sebuah surat.  Nama dan Alamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, diangsurkannya surat itu ke tangan bapaknya.&lt;br /&gt;“Terimakasih ya pak!”&lt;br /&gt;“Sama-sama, tapi apa yang kautulis untuknya?”&lt;br /&gt;“Aku menuliskan kata-kata perpisahan saja.”&lt;br /&gt;“Sudah begitu saja?”&lt;br /&gt;“Ya!”, jawab Suci mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon masuk ke dalam rumahnya, setelah berucap salam.  Sang ibu membukakan pintu, Furqon mencium tangan ibunya.&lt;br /&gt; “Ada kabar apa nak?  Tampaknya kamu masih gelisah.”&lt;br /&gt;“Tidak ada bu, barusan berbincang mengenai surga dan neraka saja.  Tentu saja saya ingin masuk surga tentunya nanti jika saya kembali ke hadirat Illahi.”&lt;br /&gt;“Kalau orang seperti kita tidak usah mikirin hal seperti itu.  Hidup lurus, suci, bersih di dunia sajalah.  Berbuat baik terhadap sesama, dan jangan pernah mengingkari nikmatnya.  Itulah kunci hidup kita setiap hari.”&lt;br /&gt;“Ibu tidak mengharap surga?”&lt;br /&gt;“Tentu saja ibu juga berharap akan surga, akan tetapi sebaiknyalah kita sering-sering memohon ampun kepadaNYA saja atas segala dosa dan salah yang kita lakukan.”&lt;br /&gt;Ibu mengangsurkan segelas air putih, kemudian berkata lagi kepada Furqon.&lt;br /&gt;“Ini ada surat, kelihatannya dari Blora.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menerima surat dari ibunya, dan mulai menyobek sampulnya.  Benar dari Blora, rupanya Suci membalas suratnya!  Isinya sangat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saat hujan membasuh kotaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu sang pengembara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti perasaanmu, dan dengan berat hati aku harus mengakui bahwa itu semua yang terjadi adalah hak dirimu.  Aku tidak bisa mengungkapkan cinta, karena bagiku ini dunia hanya ada buat buah hatiku saja.  Pikiran dan jiwaku sudah tergadai dengan kecintaanku padanya.  Perbuatlah apa yang ingin kaulakukan.  Aku adalah bagian kelam baying-bayang hitam sejarahmu, bukannya merah jambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini hanya ada dunia kecil, duniamu masih sangatlah luas terbentang.  Pencarian tetap menjadi pencarian, apa yang kau dapatkan dulu hanyalah semu.  Berjuanglah demi masa depanmu, hanya itu yang bisa aku utarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penebar gelisah yang dirundung resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB :  Aku bukanlah Sinta yang mampu menjaga kesucian hatiku senantiasa pada Sri Rama; aku adalah Banowati yang tergoda.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Apa isinya, nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia ikhlas aku melupakannya, bu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu teringat pada cerita Garudea, sang pemberani yang mencoba menantang kelaliman dunia cinta.  Keikhlasannya untuk menolong Sinta yang diculik Rahwana telah memotong sayap-sayapnya dan menghujamkan tubuhnya ke atas tanah kering.  Dia memilih mati sebagai ksatria.  Semoga Suci yang ikhlas tidak bernasib sama, ibu memilih berdoa agar Suci bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagiakan dia dengan do’amu, nak”&lt;br /&gt;“Apa yang harus aku lakukan lagi, bu?”&lt;br /&gt;“Ibarat burung kakaktua, duniamu terbuka tetapi kakimu terikat dengan rantai.  Sekarang rantaimu sudah terlepas.  Kamu bisa terbang bebas memilih pohon kenari yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;“Tapi aku belum ingin menikah.”&lt;br /&gt;“Aku tidak membicarakan masalah pernikahan, kamu bebas untuk memperkaya khasanah bathinmu dengan apa saja yang benar sekarang, mungkin saatnya kamu berada dan berlarian di ladang pengharapan.”&lt;br /&gt;“Ladang pengharapan?”&lt;br /&gt;“Aku dengar dari omongan pak Kuwu (kepala daerah di bawah Kepala Desa-pen.) akan ada pendaftaran siswa persamaan sekolah menengah.  Ada baiknya kamu melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di situ.  Bukan apa – apa, tapi setidaknya dengan bekal ijazah itu kamu bisa lebih mengerti akan dunia di tempat lain, di kesempatan yang lain.  Kamu juga bisa membuka wawasan selangkah lagi.”&lt;br /&gt;“Aku? Sekolah lagi?”&lt;br /&gt;“Kenapa tidak?”  Ibu berkata sambil pergi menuju kamar tidurnya.&lt;br /&gt;“Iya, kenapa tidak?  Aku memang ingin melanjutkan pendidikanku dulu, sekarang ada kesempatan untuk itu.  Usia tidak menjadi pembatas, bahkan dia malu karena tidak bisa sekolah menengah atas dulu.” pikir Furqon setelah ibunya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon pun bertekad untuk masuk ke sekolah persamaan itu.  Langkahnya semakin lebar, senyumnya pun mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sepertiga malam yang terakhir, Furqon bangun.  Dilaksanakannya sholat tahajud dan dengan rasa ikhlas yang penuh dia mendoakan mantan kekasihnya dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ALLAH, aku sungguh sangat berterimakasih bahwasanya Engkau telah membimbing jalanku untuk pulang ke kampung halamanku dan menyelesaikan segala persoalan yang telah menjadi kabut di hatiku.  Sekarang tinggal keinginanku yang menggebu untuk mendapatkan cintaMU, semoga Engkau juga berkenan menunjukkan jalan untukku  Aku juga mendoakan semoga Suci dan suaminya serta anaknya kau berkati menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Juga ibuku, semoga Engkau mau memberikah berkah umur panjang dan ketenangan hati, jika mungkin berikan kami jalan untuk bisa mengunjungi Baitullah, RumahMU.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345048396645768?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345048396645768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345048396645768' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345048396645768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345048396645768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xiv-akhiran-yang-manis.html' title='BAB XIV.  Akhiran yang Manis'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345025974925512</id><published>2006-07-20T19:49:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:50:59.980-07:00</updated><title type='text'>BAB XIII.  Surat Dari Demak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kali ini dengan hati yang terbuka, tangan Furqon menggenggam sebuah pena dengan segenap pikiran.  Alasan dia untuk tidak datang ke kota Blora adalah demi menjaga perasaan.  Pertama, perasaannya karena selama ini dia sudah kalah.  Dia tidak ingin menambah malu untuk disandang pulang ke kampung halaman.  Rasanya sudah cukup dia tidak dapat berjalan tegak demi menceritakan kisah - kisah cintanya.  Kedua, dia menjaga juga perasaan Suci jika dia datang ke tempatnya, dia takut Suci akan mendapatkan aib.  Aib berupa omongan orang lain ataupun tindakan kasar dari suami yang mencintainya.&lt;br /&gt;Sebelum menulis surat itu dia berdoa ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang menyebarkan cinta,&lt;br /&gt;hatiku tak mampu bicara&lt;br /&gt;biarkanlah aku mengalirkan kesunyian,&lt;br /&gt;membawa semua kabar dan kegembiraan,&lt;br /&gt;menyentuhnya dengan kemesraan.&lt;br /&gt;Meskipun dalam hatiku ragu,&lt;br /&gt;tapi biarkanlah kali ini aku mendapat jawaban,&lt;br /&gt;cintanya sudah berlalu, ataukah masih menyala?&lt;br /&gt;Setidaknya kali ini, aku ingin menyampaikan kepedihan,&lt;br /&gt;kepada kekasihku dalam kenangan,&lt;br /&gt;aku ingin memendam semua kenangan,memadamkan api cinta kehidupan,&lt;br /&gt;dan pergi menjauh selamanya.&lt;br /&gt;Aku mohon padaMU Tuhan,&lt;br /&gt;jangan biarkan dia menangis lagi karenaku...&lt;br /&gt;amien,&lt;br /&gt;Lalu, mengalirlah tulisan-tulisan bermakna dalam.  Mungkin bagi orang lain tidak, tapi baginya menyakitkan.  Cinta kali ini harus menemui kematian.  Bukan badannya tapi jiwanya.&lt;br /&gt;= = =&lt;br /&gt;Demak, awal musim panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarau panjang telah berlalu, setidaknya begitu kata ibu.  Kali ini aku datang dengan membawa butiran tangis kepadanya.  Sedapat mungkin aku mencoba menyeka air matanya agar dia tidak menangis lagi mendengar pengembaraanku yang sia-sia.  Tapi rupanya ibu tabah, dan aku tetap kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku menuntaskan pekerjaan, menyambut dengan bahagia seperti anak - anak sekolah berlari - lari di taman.  Bagimu mungkin bukan sesuatu yang indah di dengar.  Karena aku yakin engkau telah lama melakukannya, membaca dengan tuntas ayat - ayat Tuhan.  Malamnya kami mengadakan selamatan.  Ustadz muda di kampungku mengatakan bahwa aku harus mempelajari dan mempraktekkan suatu ilmu langka.  Ilmu ikhlas namanya.  Nah ini yang ingin aku mulai lakukan, dan dalam kesempatan ini aku ingin mengabarkan kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kita pernah berjanji, untuk mengikatkan diri pada kesetiaan.  Meskipun badai besar telah menenggelamkan biduk dan memporakporandakan dermaga, tetapi dalam langit hikmahku janji itu masih sering terbayang.  Aku tidak menyalahkanmu pada kisah - kisah dahulu.  Sesungguhnya aku sadar bahwa itu semua ujian untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari dari kenyataan.  Keangkuhan menuntunku pada pengembaraan.  Sekali kalah yang terjadi adalah kalah.  Tidak berubah.  Padahal tidak!  Aku telah buta!  Buta karena cinta yang mendera, membuat aku berjalan seperti di dalam tanah.  Aku menjadikan semuanya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya di akhir musim tanam aku sadar, aku harus mengatakan kabar itu kepadamu.  Karena bagiku engkau adalah pohon yang tenang, laut yang dalam, dan gunung yang diam.  Tempat dimana aku bisa teriak tanpa jawaban.  Jiwa dimana aku selalu berkelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keikhlasan sudah datang, pintu-pintu maaf sepertinya sudah terbuka.  Tingkap-tingkap langit tanpa awan.  Cahaya matahari memasuki hatiku dengan nyaman.  Aku ingin mengatakan dengan jelas tanpa halangan.  Aku ingin tidak mengingatmu senantiasa.  Bisakah kau memahaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah cinta menjadi cinta saja.  Bukan bagian hidup kita, tapi cinta menjadi cinta abadi tanpa harus dikenang.  Aku memang mencintaimu, tapi biarlah itu menjadi rahasia yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapanku kepadamu sekarang, pahamilah bahwa dunia sudah berubah.  Aku pun demikian.  Terseret dalam arus kehidupan dan tidak akan pernah sama.  Aku berubah mengikuti matahari bersinar dan bulan yang temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini yang terpanjat hanyalah doa, kepada semua orang-orang tercinta.  Apalah gunanya hidup tanpa memandang derita tanpa bisa memetik hikmahnya?  Semoga kehidupan kita berdua seperti butiran mutiara.  Terangkat dalam kemuliaan setelah terbenam dalam penderitaan dunianya.  Aku berharap sungguh bisa menjumpai kebahagiaanmu dengan kebahagiaanku jua.  Mungkin pada saatnya, entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari orang yang pernah berujar salam padamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon.&lt;br /&gt;= = =&lt;br /&gt;Menangis?  hanya bathinnya saja.  Air mata bukanlah hak hidup seorang wanita saja.  Dirinya hanya bisa menahannya.  Di dadanya ada lubang sebesar kepalan tangan.  Angin pegunungan dan sawah bisa melaluinya.  Darahnya berdesir dengan nada kehidupan.  Lega rasanya memuati selembar kertas dengan kata-kata.&lt;br /&gt;Dilipatnya surat itu dan segera dimasukkan ke dalam amplop putih yang sudah dibubuhi perangko.  Setidaknya dia merasakan aman.  Furqon melangkah ke luar rumah untuk selanjutnya mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju balai desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, tadi saya banyak berdiskusi dengan ustadz Arifin.” Furqon memulai pembicaraan siang ini dengan sang ibu.&lt;br /&gt;"Apa yang kamu bicarakan dengan ustadz muda itu?  Adakah yang bisa menjadikan engkau mengerti?"&lt;br /&gt;"Ini masalah penghidupan, bu.  Masalah sawah dan ladang kita.  Selama ini, seperti yang ibu ceritakan, masalah sawah dan ladang ibu sewakan pada petani-petani penggarap.  Mereka mengambil bagian yang tidak seberapa, karena hasilnya kemudian dijual kepada pengijon.  Kasihan mereka bu.."&lt;br /&gt;"Lantas, apa yang bisa kamu lakukan?  Apakah kamu ingin membebaskan mereka dari pengijon?  Tidak bisa nak..Mereka terlalu kuat menembusi tulang belulang kita sampai keropos sumsum ini."&lt;br /&gt;"Itulah yang tadi kami bahas bu.  Kebetulan salah seorang kerabat ustadz adalah seorang petugas koperasi.  Koperasi itu membeli hasil sawah dan ladang masyarakat dengan tidak membebani atau mengurangi dari harga pasar. Dengan menjual hasil kita kepada Koperasi, koperasi juga bisa membantu permodalan kita."&lt;br /&gt;"Tapi, untuk panen musim datang, kita sudah dapat hasil penjualan yang kita gunakan untuk menanam dan memupukinya."&lt;br /&gt;"Kata ustadz Arifin, mungkin pengelolaan musim tanam selanjutnya baru bisa dilaksanakan."&lt;br /&gt;"Pengelolaan?  Bukannya kamu tadi bilang cuma masalah jual beli?"&lt;br /&gt;"Berbicara masalah sawah dan ladang, tidak melulu soal jual beli ibu.  Kita harus menyelaraskan mulai dari awal hingga akhir.  Termasuk para pekerjanya, kita juga harus memperhatikan nasibnya!"&lt;br /&gt;"Ustadz itu tahu mengenai pertanian?"&lt;br /&gt;"Bukan dia bu, tapi pak Burhanuddin.  Dia itu PPL di kecamatan, baru kemarin sore aku dikenalkan dengan dia.  Saya, ustadz Arifin dan beliau sepakat untuk menangani sawah dan ladang ibu dengan tidak melupakan atau meninggalkan orang-orang yang sejak dulu terlibat."&lt;br /&gt;"Maksudnya apa?"&lt;br /&gt;"Saya akan menggunakan sistem syariah untuk bagi hasil usaha sawah dan ladang kita bu. Masalah apa dan bagaimana cara menanam sesuatu, saya harus belajar banyak dari pak Burhan."&lt;br /&gt;"Oh begitu? Ini baru rencana atau kamu sudah tidak ingin membicarakannya dengan ibu?"&lt;br /&gt;"Saya cuma berangan jika ibu tidak mengijinkan, akan tetapi saya tahu bahwa ibu adalah orang yang bijaksana makanya saya yakin ibu pasti setuju."&lt;br /&gt;"Kamu ini Furqon, dari dulu tidak pernah berubah.  Seandainya ayahmu masih ada, pasti dia bangga padamu, karena anaknya berkemauan keras dan mau bertanggung jawab."&lt;br /&gt;"Jadi ibu setuju?"&lt;br /&gt;"Hidup ibu ini hanya tinggal sebentar, tidak tahu kapan tapi kematianku rasanya tidak sangat dekat dengan kematianmu yang masih muda itu.  Apa yang ada sekarang ini adalah hak untuk kamu anak sulungku satu-satunya."&lt;br /&gt;Furqon sangat bangga dengan ibunya, dipeluknya ibunya dan tersungkur dia di pangkuannya.  Lalu dia berisak, "Ibu, kenapa dari dulu aku tidak pernah tahu betapa memperhatikannya ibu terhadap nasib anakku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu beranak itu larut dalam harapan.  Setidaknya kedua orang itu merasakan bahwa angin pedesaan dan cuaca hari itu mendukung terbangnya doa dan harapan pada singgasana Sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345025974925512?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345025974925512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345025974925512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345025974925512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345025974925512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xiii-surat-dari-demak.html' title='BAB XIII.  Surat Dari Demak'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115345008212797185</id><published>2006-07-20T19:43:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:48:02.356-07:00</updated><title type='text'>BAB XII.  Keikhlasan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Siang itu, selesai menunaikan ibadah sholat dhuhur, Furqon dan ibunya duduk satu meja untuk makan siang.  Nasi putih mengepul, ikan asin, sayur lodeh, tempe dan tahu juga masih hangat.  Sebuah kendi berisi air putih menambah segarnya suasana.  Furqon tersenyum pada ibunya yang mengambilkan nasi pada piringnya.  Setelah mengucapkan basmallah, keduanya kemudian mulai dengan kesibukannya meramu nasi dan lauknya untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kegiatan itu, sang ibu mulai penasaran dengan cerita yang dibawa pulang masuk ke dalam kehidupannya kembali oleh sang anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duhai anakku, sekiranya apakah yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanmu?  Mungkin ibu yang sudah tua ini bisa mengerti tentang rasa gelisahmu yang sudah sejak lama engkau sandang sebagai beban bathinmu seorang diri.  Ibu hanyalah orang tua biasa, hidup dalam kesepian dan kesendirian.  Dunia bagiku hanyalah sebatas dapur dan sawah serta ladang, Tak ada panen tak ada pasar, jika itu terjadi ibu merambahi warung tetangga untuk bisa sekedar makan.  Masalah pertanian tidak juga ibu mengerti, hanya orang sewaan dan paman-pamanmu saja yang mengurusnya.  Ibu hanya tahu bahwa setiap tahun ibu punya hasil panen yang sering ditebak oleh para pengijon untuk ditukar uang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adalah cinta yang membara dalam dada, begitu menyiksa sehingga aku kalah.  Kota besar hanyalah kiasan yang tidak nyata.  Kehidupan sama saja dimana-mana.  Jika aku ingin makan, aku harus bekerja.  Maafkanlah anakmu ini, bu.  Bendera kemenangan yang ingin aku pancangkan untuk menghiasi rumah kita ini telah patah tongkatnya.  Bahkan aku tidak sanggup menjahitnya.  Impianmu yang dulu aku janjikan untuk bisa naik haji hanyalah janji manisku saja.  Sekiranya ada banyak dosa yang terbawa dalam hidupku, aku tidak akan menyalahkan impian itu, karena aku sendirilah yang harus menanggungnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibadah haji adalah tugas jika kita mampu, tidak perlu dipaksakan begitu.  Aku sudah tua, dan aku rasa itu bukan masaku.  Jika engkau mau dan mampu, biarlah engkau saja yang lalu.  Setidaknya ibu punya harapan, bahwa pada saatnyalah anak ibu jadi batu.  Batu bukan sekedar batu hiasan, tapi batu penjuru.  Biarkanlah setiap orang memujimu pada waktumu itu.  Sekarang ibu sudah senang, karena dalam kehidupanku anakku mau mengerti akan keadaanku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ampunilah aku ibu, ternyata impianku menjadi beban ibu jua.  Tapi kini aku hanya pasrah dengan hari-hariku.  Setidaknya aku masih punya ibu yang mencintaiku.  Kini aku pulang dengan harapan baru, menemukan cinta Tuhanku. Agar aku bisa merasa bahagia di dunia ini.  Apakah ada yang ibu tahu, dari keinginanku itu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan ini seperti bara api.  Kadang nyalanya memukau hidupmu, tapi kamu lupa akan panasnya.  Yang kau inginkan adalah hidup suci, hidup tanpa ada cinta lagi selain cintaNYA.  Tapi seperti sarang laba-laba, titik hidupmu ada dan berkaitan dengan titik-titik yang lain.  Hidup suci tidak bisa tercapai, tanpa kau mengasihi dan mengampuni.  Sebab jiwamu masih ada di dunia ini, dosa menjadi kotoran jika kau terjatuh dalam nafsu duniawi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lantas bagaimanakah aku mendasari hidupku?  Apakah aku harus menjauh dari kehidupan saat ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari apakah engkau ingin berlari?  Singa – singa jagad senantiasa berlari dan menerkam meskipun kamu tidak sadar akan langkahnya.  Lebih baik engkau duduk dan berdoa, sebab dengan perlindunganNYA lah kehidupanmu akan terjaga.  Bumi berputar tetap di porosnya meskipun dia mengelilingi matahari, jiwamu akan berguncang dan hatimu akan bergetar meskipun tatap matamu tetap mengarah kepadaNYA.  Apalah gunanya berlari dari kehidupan ini?  Tinggallah dalam kemahmu bahkan perluaslah itu, berkembanglah dari pasir dan bintang.  Carilah kehidupan seperti para Nabi, melayani dan berbakti kepada sesama karena DIA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah cintaku pada wanita bisa mengotori hatiku?  Aku ingin hatiku seputih kapas bukan kapuk randu.  Agar Tuhan memandangku serupa berlian diantara kaca.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku adalah wanita, tidakkah kau mencintaiku?  Aku ibumu, tapi juga seorang wanita.  Wanita menyimpan sejarah panjang dalam dosa dan keberhasilan.  Serupa Hawa yang memakan buah pengetahuan, aku lah dia.  Kau kubentuk dengan air susuku dan doa-doa siang dan malam.  Walau pada akhirnya kau menjadi anak kampung ini dengan sejuta fantasinya, aku adalah salah satu pembentukmu.  Lingkunganku adalah lingkunganmu, jika kau berlari kau akan meninggalkan aku.  Akankah kau meninggalkan ibumu ?  Jika Tuhan yang kau cari, maka aku tidak perlu kau cari sudah datang sendiri.  Aku mendahului langkahNYA hanya karena ikatan darahku padamu.  Setidaknya aku berlaku begitu karena Tuhan memberi restu.  Apakah kau tidak menginginkan restuku?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika demikian adanya, apakah yang dapat ibu berikan lagi padaku agar aku bisa merasakan tanganNYA menyentuh dahiku dan membangunkan aku dari segala mimpi yang meresahkan hati, bahkan mengguncang pikirku?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anakku, apalah sejatinya diriku?  Aku juga bentukan tanganNYA.  Hanya jika engkau beredar dalam duniamu maka engkau akan menorehkan namamu.  Aku ibumu hanya bisa berujar banyaklah engkau menyimak kehidupanmu agar senantiasa menangkap suaraNYA yang bergetar.  Dalam dadamu dia bersuara jika engkau mampu mendengarnya.  Aku adalah ibumu, tugasku hanya menghantarmu sampai dunia ini.  Duniamu? Carilah dengan hatimu jua!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adalah wanita dengan cinta, menarikku demikian dalam.  Aku terjebak antara nafsu hingga aku lari seperti ini.  Suratan apakah yang harus terjadi?  Ibu adalah wanita, dan sebenarnya bukan tugasmu kepadaku untuk mengatakannya, tapi aku membutuhkan pikiranmu untuk menduganya.  Langkah apalagi yang harus aku lakukan untuk merubahnya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wanita dengan cinta adalah rahasia.  Kadang padanya kita harus banyak bertanya, karena keinginannya adalah dunia, bahkan lebih jauh dari itu.  Tuhan menciptakannya sebagai teman bermain dalam taman.   Padahal dalam taman itu telah banyak Dia berikan keindahan dan permainan.  Mengapa Adam merasa kesepian?  Wanita adalah rahasia cintanya.  Temukanlah dahulu rahasianya baru kau akan merasakan cintanya.  Sudahkah kau menorehkan luka?  Atau kau menganggap dia sebagai berhala?  Sampai akhirnya kau melupakan duniaNYA?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furqon :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Haruskah aku menjumpainya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hanya kau yang mampu menjawabnya.  Sebab aku wanita dengan duniaku sendiri, dunia wanita bukan dunia yang paralel sejati.  Dia adalah kekasihmu, maka kaulah yang harus menyelaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergulir sepertinya melambat.  Furqon merenungi percakapan dengan ibunya.  Dia menjadi sadar bahwa ini semua adalah dunia yang diciptakannya.  Jadilah dia tuan dalam dunianya sendiri.  Dan tuan harus bertemu Tuhan pada akhirnya, untuk menjawab semua persoalan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak di kampung halamannya, Furqon makin giat beribadah.  Setiap hari dia bertandang di mushola yang tidak jauh dari rumahnya.  Seorang ustadz muda bernama Arifin kerap menjadi lawannya jika berdiskusi.  Tak jarang dia kemudian larut dalam bacaan ayat –ayat suci Al Quran setelah ba’da Isya, menyemarakkan suara kesunyian malam.&lt;br /&gt;“Jadi mas Furqon ini merasa kalau dia masih mencintai mas?  Sehingga kemudian mas merasa bahwa hal itu membuat mas susah untuk menjalin kemesraan dengan ALLAH?  Sungguh itu berarti cinta dunia telah menghalangi pemandangan mas Furqon selama ini.”&lt;br /&gt;“Tadinya saya merasa begitu.  Tapi kini setelah saya pikir-pikir, bahwa saya tetap harus punya kehidupan di samping saya menjaga kehidupan saya di akhirat kelak.”&lt;br /&gt;“Jadi mas sudah sadar bahwa cinta mas terhadap dia harus dialihkan?”&lt;br /&gt;“Saya tidak bermaksud demikian, saya hanya ingin mendapatkan kepastian dari dirinya supaya saya mempunyai cinta-cinta yang lain, terutama cinta Tuhan.”&lt;br /&gt;“Lalu, apa yang akan mas lakukan sekarang ini?”&lt;br /&gt;“Tadinya saya berharap bisa menjumpainya, akan tetapi saya pikir mungkin lebih baik saya hanya menuliskan pikiran saya kepadanya.  Jika saya bertandang ke sana, saya pasti akan menemukan banyak kesulitan.  Dan itu sama sekali tidak membantu apapun pada kepentingan saya bukan?  Belum lagi tuduhan yang akan membuat dia semakin sengsara karenanya.  Saya tidak ingin dia terluka karena pikiran saya.”&lt;br /&gt;“Sebenarnya, mas Furqon masih mencintainya bukan? Karena saya meihat bahwa pikiran mas masih terpecah olehnya.”&lt;br /&gt;“Aku justru ingin menghilangkan kenyataan bahwa aku pernah mencintainya.  Selama ini cinta antara aku dan dia telah membuatnya sengsara.  Untuk itu, aku ingin terakhir kalinya meminta kepadanya untuk melupakan semuanya.  Seperti mengosongkan bejana.”&lt;br /&gt;“Otak manusia dipenuhi oleh jutaan sel memori.  Dan setiap sel memori itu dapat menyimpan beratus-ratus kenangan sepanjang hidupnya.  Jika manusia ingin melupakan suatu peristiwa yang pernah terjadi, bukan begitu caranya!”&lt;br /&gt;“Adakah hal lain yang belum aku ketahui?”, Furqon terperangah pada pernyataan ustadz Arifin.&lt;br /&gt;“Salah satu ilmu yang paling langka di dunia ini mas.  Ilmu ini sangatlah penting bagi kesehatan jiwa, hati dan pikiran.  Tanpa ilmu ini manusia akan binasa, bukan saja secara jasmani, tetapi juga rohaninya.  Melalui ilmu inilah mas akan mampu merasakan cinta yang nyata dari Tuhan.  Jika mas mampu mengamalkan ilmu ini, maka hidup mas akan berubah 180o dari keadaan sekarang.  Jika pada saat ini mas ini selalu menuntut ke-Maha-an Sang Kuasa, maka setelah mas mempunyai ilmu ini mas akan mulai memperhatikan kepada sesama terutama yang membutuhkan.  Maukah mas memahami ilmu ini?”&lt;br /&gt;“Ya ustadz, sejauh ini kakiku sudah melangkah.  Jauh-jauh aku memang berkeinginan menimba ilmu yang bisa aku amalkan agar aku mampu meraih cinta Illahi.  Tidakkah aku merasa dahaga mendengarkan apa yang telah engkau katakan?”&lt;br /&gt;“Setelah mas nanti khatam membaca Al Qur’an, lakukanlah ini.  Mas adakan semampunya suatu upacara sederhana.  Buatlah makanan yang enak dalam jumlah banyak.  Kira-kira 100 buah banyaknya.  Kemudian buatlah undangan kepada panti asuhan di sebelah sekolah dasar itu.  Undanglah anak-anak di situ untuk datang ke mushala ini menikmati masakan yang telah mas sediakan.  Bersediakah mas melakukannya?”&lt;br /&gt;“Ustadz, apapun itu akan saya lakukan untuk mendapatkan ilmu yang tadi dibicarakan.”, tegas Furqon pada ustadz Arifin.  Ustadz Arifin hanya manggut-manggut dan tersenyum simpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harinya tiba, menjelang khatam membaca Al Qur’an Furqon telah menyiapkan masakan ibunya sebanyak seratus bungkus.  Tadi pagi dia telah mengunjungi panti asuhan satu-satunya di desa itu.  Sekarang selepas maghrib, setelah orang – orang berdoa, mereka telah berada di dalam mushalla.  Furqon dan ustadz Arifin berada di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.  Saudara – saudara sekalian, dan anak - anak dari Yayasan Al Hidayah pada kesempatan kali ini kita sama-sama hendak melakukan tasyakuran atas khatamnya bacaan Al Qur’an dari saudara kita Furqon.  Ini bukannya untuk riya tetapi sekedar ikut berbahagia.  Kemudian hendaknya menjadikan sebagai contoh bahwasanya jika kita mempunyai kehendak untuk semakin dekat dengan ALLAH, maka sebaiknyalah kita memperhatikan sesama juga dengan semakin baik.  Sebelum menikmati hidangan yang ada, kami serahkan waktunya kepada yang sahibul hajat yakni saudara Furqon untuk melakukan pembacaan Juz’amma sebagai bacaan-bacaan terakhir untuk mengkhatamkan Al Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalunlah ayat-ayat Al Qur’an dari mulut Furqon.  Membaca surat demi surat dengan bacaan yang sudah semakin tartil dan lancar. Peluhnya yang bertetesan membasahi dahi berulang kali disekanya dengan sapu tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesailah sudah bacaannya ketika Furqon membacakan surat An Naas, dilanjutkan dengan doa selesai membaca Al Qur’an yang dipimpin oleh ustadz Arifin dan diteruskan dengan doa – doa pendek.  Setelah itu muadzin menyerukan adzan untuk sama-sama melakukan sholat Isya berjamaah.  Barulah setelah kembali berdoa, orang-orang mulai membagikan makanan.  Malam itu mushola kampung itu menjadi ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ustadz, lalu manakah dari bagian prosesi yang telah saya lakukan ini yang bisa saya ambil ilmunya?”&lt;br /&gt;“Apakah engkau benar-benar tidak memperhatikan hal – hal yang terjadi di sekelilingmu malam ini mas Furqon?”&lt;br /&gt;“Demi ALLAH, saya belum mengetahuinya.”&lt;br /&gt;“Jadi aku perlu menjelaskan kepadamu?”&lt;br /&gt;“Begitulah ustadz, karena saya tidak memahami sedikitpun.  Jikalau benar adanya ini semua bukan tipuan belaka, tentunya aku akan sangat bahagia.”&lt;br /&gt;“Tidak ada alasan bagimu untuk tidak berbahagia malam ini Furqon.  Semua yang terjadi ada hikmahnya.  Ibumu dan kamu sudah melakukan ilmu yang aku dulu pernah aku ceritakan kepadamu.  Hanya mungkin tujuan melakukannya yang perlu dirubah.”&lt;br /&gt;“Aku benar – benar bingung, ustadz.”&lt;br /&gt;“Apakah kamu dan ibumu benar – benar tulus memasak semua hidangan ini?”&lt;br /&gt;“Kami tulus melakukannya.”&lt;br /&gt;“Apakah kalian tahu tujuannya?”&lt;br /&gt;“Untuk acara khataman aku tentunya, sebagai hidangan buat para undangan.”&lt;br /&gt;“Siapakah undangan itu?”&lt;br /&gt;“Anak –anak panti asuhan, ustadz.”&lt;br /&gt;“Apakah mereka termasuk orang yang beruntung di dunia ini?”&lt;br /&gt;“Mereka sangat dekat dengan kemalangan.”&lt;br /&gt;“Jadi?”&lt;br /&gt;“Aku harus lebih memperhatikan mereka yang dekat dengan kemalangan?”&lt;br /&gt;“Betul sekali, tapi harus dengan segala ketulusan.”&lt;br /&gt;“Ikhlas?”&lt;br /&gt;“Benar sekali mas Furqon!  Itulah ilmu yang pernah saya katakan kepada anda.”&lt;br /&gt;“Lalu, intinya bagaimana?”&lt;br /&gt;“Seperti yang saya katakan dalam pembukaan acara tadi, jika kita ingin semakin dekat dengan ALLAH maka kita juga harus ikhlas membantu orang – orang yang perlu dibantu.  Kita tidak akan bisa merasakan cinta ALLAH jika dalam diri kita tidak pernah terbersit sedikitpun cinta kepada sesama.  ALLAH selalu menekankan hubungan vertikal dan horizontal, bukan?  Tapi kedua hubungan itu sejatinya tidak pernah terpisahkan.  Ibnu Arabi pernah mengatakan dalam bukunya Fusus Al Hikam “Kadang-kadang hamba Tuhan ingin berlaku seperti Tuhannya, tentunya. Seringnya hamba Tuhan berlaku seperti selayaknya seorang hamba.  Ketika dia berlaku seperti hamba, sebenarnya mereka itu telah berbuat sebagaimana Tuhan.  Tetapi ketika mereka berlaku seperti Tuhan, sesungguhnya mereka dalam keadaan yang menyedihkan.”  Sebab itulah hubungan manusia dengan manusia satu sama lain selalu berhubungan juga dengan hubungan manusia dengan Tuhannya.  Manusia tidak berhak menjadi Tuhan bagi manusia yang lainnya.  Seperti halnya para Nabi dan Rasul yang diutus untuk menyelamatkan umat manusia karena kecintaan mereka terhadap ALLAH semata.”&lt;br /&gt;“Saya takut mendengarkan inti persoalan tadi.  Sepertinya selama ini saya benar – benar egois dalam menjalani hidup saya.”&lt;br /&gt;“Waktu masih berjalan.  Sebagaimana kita membubuhkan tanda tanya pada sebuah kertas kosong, lama kelamaan tanda itu bisa menghilang.  Waktu bisa membuat kita semakin dewasa, tetapi waktu juga bisa membuat kita semakin terlena.  Bangunlah dan songsonglah setiap pagi dengan doa – doa baru demi harapan-harapan baru. Tetapi janganlah lupa bahwa kita berhubungan dengan semua manusia di setiap waktu kita.”&lt;br /&gt;“Terima kasih Ustadz, saya sudah mengerti bahwa saya tidak bisa hidup tanpa manusia yang lain.  Dan saya juga tidak bisa menemukan cinta Illahi seorang diri.”&lt;br /&gt;Bulan menggelayut dalam dekapan malam.  Furqon memohon diri pada ustadz Arifin.  Kini fikirannya sangat tenang.  Dia sudah sedikit terbuka pada langkah yang ada di depannya.  Sekarang dia hendak merumuskan langkah apa yang akan dilakukannya untuk meyakinkan dirinya bahwa Suci tidak lagi mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115345008212797185?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115345008212797185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115345008212797185' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345008212797185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115345008212797185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xii-keikhlasan.html' title='BAB XII.  Keikhlasan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344979542369743</id><published>2006-07-20T19:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:43:15.630-07:00</updated><title type='text'>BAB XI.  Cinta Seorang Ibu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini bagian yang susah untuk diungkapkan. Betapa jarak telah mengikis kenangan-kenangan indah dan harapan antara ibu dan anak. Sudah lima tahun terbilang setidaknya mengaburkan tatapan mata sang Ibu karena anaknya telah lama tidak pulang. Terbayang cerita dalam kitab suci, Yaqub yang menjadi buta karena kehilangan anak terkasih. Sedemikian sedih dirinya setiap malam menangisi perpisahan. Tapi siapakah Yaqub dalam cerita ini? apakah aku si anak hilang atau ibu ? Furqon memikirkannya dalam-dalam sepekat malam yang membayang. Masih untung dia tidak membayangkan bahwa dia adalah Yunus yang sembrono di hadapan Tuhan. Sehingga hari-harinya tidak kesepian di dalam petualangannya. Atau mungkin iya? Karena selama ini dia memang merasakan kesepian yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kemarin-kemarin dia tidak pergi menghilang, mungkin ceritanya lain. Meski tanpa pamitan yang resmi, dia tidak pernah sedikitpun berpikir dan berniat menjatuhkan nama keluarganya ketika dia pergi ke Jakarta. Justru dia sangat berkeinginan untuk membahagiakan ibunya itu. Harapannya waktu itu dengan dia mencari pekerjaan di Ibukota maka dia bisa paling tidak mengumpulkan uang untuk mewujudkan niatnya memberangkatkan ibadah haji sang ibu. Tapi harapan tinggal harapan, setelah sekian lama sampai kepulangannya tidaklah cukup hasil yang terkumpul untuk membuktikan niatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya dipercepat, sudah tidak sabar ia ketika melihat pagar rumahnya. Tampak rumahnya sangat sepi. Lampu teplok yang dulu menghiasi serambinya telah berubah menjadi lampu neon. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya bermain-main antara bahagia, gembira, sedih, atau terbuang. Dia sangat kalut jika pada akhir kenyataanya nanti dia dianggap oleh orang yang melahirkannya ke dunia sebagai anak durhaka.&lt;br /&gt;“Tok, tok, tok!”&lt;br /&gt;“Assalamu ‘alaikum!”, sapanya.&lt;br /&gt;Terdengar dari dalam suara langkah-langkah yang sarat.&lt;br /&gt;“Wa alaikum salam. Siapa ya?”&lt;br /&gt;Jantung Furqon berdebar kencang. Saat ini seperti anak sekolah menunggu pengumuman hasil ujian nasional. Tidak, ini lebih lagi. Mungkin seperti calon mahasiswa membaca hasil ujian penerimaan mahasiswa baru? Ini lebih seru. Lebih hampir persisnya seperti ketika kita melihat wajah sang maut.&lt;br /&gt;“Ibu!!! Ini aku, Furqon bu!”&lt;br /&gt;“Ya ALLAH! Kamu pulang, nak?”&lt;br /&gt;“Iya bu. Aku pulang untuk mengurus ibu. Maafkan aku bu, sudah sangat besar dosaku telah menelantarkan ibu selama ini. Maafkan aku bu!”&lt;br /&gt;“Ibu tidak apa-apa. Ibu senang kamu mau pulang untuk kembali berkumpul dengan ibu.”&lt;br /&gt;"Kemana saja kamu selama ini nak? Ibu selalu merindukanmu!"&lt;br /&gt;"Aku menggembara ke Jakarta bu, aku ingin menjadi orang yang lebih baik di sana. Tapi ternyata aku hanyalah orang kalah. Dan sekarang aku pulang, tanpa membawa apa-apa."&lt;br /&gt;"Sudahlah nak, yang penting kamu sehat dan selamat. Itu sudah cukup bagiku."&lt;br /&gt;Furqon menangis dalam pelukan ibunya. Dunia seakan membela dirinya saja ketika dengan damainya ibu memeluk anaknya. Sang ibu juga mulai menangis menumpahkan kerinduan hatinya. Rasanya malam itu ada perhelatan akbar dalam hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Furqon pergi ke bagian belakang untuk mandi membersihkan diri. Sang ibu buru-buru menyiapkan teh hangat dan makan malam. Setelah selesai mandi dan makan malam, Furqon duduk di beranda. Teh panas mengepul mengusir sedikit hawa dingin di kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu tersenyum, hatinya senang karena hari-harinya nanti tidak akan kesepian lagi. Furqon yang melihat ibunya tersenyum menjadi damai. Ternyata gambaran bahwa kekurangajarannya akan dibalas dengan menyakitkan oleh ibunya tidaklah menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;“Terimakasih Tuhan, ternyata samudera maaf ibuku masih tidak bertepian.”, gumamnya.&lt;br /&gt;Karena hari sudah larut, ibu pamit untuk berangkat tidur terlebih dahulu.&lt;br /&gt;“Sudah ngantuk nak, besok-besok saja ceritanya ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon memandangi rembulan. Baginya wajah ibunya sudah hilang dari sisi sang rembulan. Ianya menjadi larut dan nyata. Tadi dia menyambutnya dengan tersenyum, meskipun Furqon tidak tahu apakah senyum itu senyum kebahagiaan atau kepedihan. Namun senyum itu telah melarutkan hatinya dalam lembah ketenangan jiwa. Tidak ada gelisah. Memang benar ternyata ungkapan “maafnya ALLAH tergantung juga dari maafnya orang tua ; ridho ALLAH juga sinkron dengan ridho orang tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon kembali mengingat sepotong hadits Nabiyullah yang pernah diajarkan kepadanya ;“Siapa saja yang menggembirakan hati ibu dan bapaknya, Tuhan juga akan menggembirakan mereka dan siapa saja yang membuat ibu bapa mereka marah, Tuhan juga akan murka terhadap mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia bersiasat, “Jika begitu cinta terhadap orang tua tidak akan membuat ALLAH itu cemburu kepadaku.” Demikian pikirannya berkata-kata. Ah, jadi ruwet juga masalah cinta, tapi setidaknya dia sudah membuktikan bahwa kepulangannya untuk mencari cinta illahiahnya sudah mendatangkan hasil yaitu mengembalikan hubungan silaturahmi antara dirinya sebagai anak dan ibunya. Padahal hubungan seperti ini tidak selayaknya dapat terputus kapan pun jua. Furqon tetap memandangi rembulan di teras rumahnya. Terasa begitu dekat seumpama dia berada di tengah pelataran. Ia pun kembali menuliskan puisi di kepalanya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bulan di Pelataran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bulan di pelataran rumah tersenyum ramah&lt;br /&gt;lebih ramah rasanya dari malam – malam yang lalu&lt;br /&gt;bahkan di malam yang ke seribu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan di pelataran rumah terasa lebih indah&lt;br /&gt;padahal ada hari yang rembulannya cerah&lt;br /&gt;tapi sekarang tidak ada warna merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan menyinari hatiku&lt;br /&gt;seperti ibuku tersenyum padaku.&lt;br /&gt;apakah Tuhan menjadikan dewi bulan yang melahirkan aku?&lt;br /&gt;biarkan aku saja yang merasa begitu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Belum jenak dia melamun, terdengar suara ibunya. "Jangan lupa sholat isya sebelum tidur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini Suci mencoba menidurkan anaknya, Auliya. Dipandanginya dekat dan lekat wajah anaknya yang sedang tertidur lelap. Dia menciumi pipi anaknya dengan gemas. Tak puas-puas rasanya menumpahkan kasih dan sayang sebagai seorang ibu kepada anaknya. Suaminya sudah sedari tadi berangkat kerja. Kegiatannya sebagai seorang istri sementara telah tuntas. Kali ini dia lebih memposisikan dirinya sebagai seorang ibu. Ibu adalah sosok paling mulia di muka bumi ini karena cinta kasihnya tidak pernah berbatas untuk anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auliya, itu nama pertama anaknya. Kenapa Suci memberikan nama itu? Auliya dalam bahasa arab berarti orang yang ditinggikan atau dimuliakan. Dia ingin anaknya nanti tidak akan seperti dirinya yang pernah menjadi orang yang direndahkan. Pertukaran pernikahan dirinya dengan Thole Dewandaru adalah karena masalah pinjaman orang tuanya. Dia pernah direndahkan lebih dari sekedar nilai hutang ayahnya. Kadang dia berpikir bahwa dirinya tidak lebih dari sekedar alat tukar selain uang waktu itu. Perasaan tahun - tahun pertama dia dalam pernikahannya bagaikan di neraka. Bagaimana tidak? Dia harus merelakan dirinya digauli oleh lelaki yang menikahinya gara-gara hutang orang tuanya. Dia merelakan bagian kewanitaannya yang paling rahasia dimasuki oleh nafsu birahi orang yang belum dikenalnya dengan baik. Orang itu hanya mengenalnya sebagai gadis cantik anak peminjam modal darinya. Apakah dia menikmati setiap malamnya? Apakah Suci harus menjawabnya? Setidaknya setiap kali dia berbaring, tempat tidurnya yang empuk dan luas itu bagaikan ranjang penuh duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta? Apakah saat ini dia memang mencintai lelaki itu? Ataukah cintanya telah hilang menjadi kewajiban belaka? Apakah benar cinta itu adalah kebiasaan? Ataukah cinta itu adalah penerimaan yang seluas samudera? Pertanyaan tentang cinta membuat dia memberikan nama Sita kepada anaknya. Sita atau Sinta adalah tawanan cinta sejati dalam dunia ini dalam Kisah Ramayana. Tubuhnya mungkin pernah dijamah oleh Rahwana, tetapi hatinya tidak! Maka dari itu, Sinta perlu dibakar secara fisik untuk menghilangkan ketidaksucian badaniahnya, tapi dia selamat karena memang hatinya tulus mencintai Rama. Ini hanya hipotesanya belaka. Kadang, Suci merasa seperti itu. Dia membiarkan saja tubuhnya digauli oleh suaminya, tetapi hatinya telah pergi bersama Furqon. Tetapi sekarang dia menyadari bahwa cinta itu bisa berubah. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis kontemporer menuliskan bahwa cinta adalah perangkap, karena kadang kita tidak menyadari sisi gelapnya. Jadi apakah saat ini Suci tengah terperangkap oleh sisi gelap dari cinta? Mungkin. Tapi sebagai istri dan sebagai orang Jawa, Suci tidak menutupi bahwa sebagian bunga-bunga hitam dari cinta telah bermekaran, dalam pandangannya bunga itu kadang menampakkan warna pelangi. Yah, selama ini akhirnya dia bisa menerima Thole sebagai lelakinya. Suci tidak mau terjerumus dalam zinah hati. Thole adalah suaminya yang sah secara agama, sedang Furqon adalah bagian masa lalunya. Biarlah sekarang dia merasakan sisi gelap cintanya menjadi terang, seterang pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menarik nafas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Memang benar, Furqon adalah bagian dari masa lalunya. Mungkin seperti banyak orang bilang "Tuhan akan menemukan kita dengan orang-orang yang salah, sampai akhirnya kita bisa menyadari siapakah orang yang benar-benar menjadi jodoh kita." Apakah Furqon harus dijadikan sebagai bagian dari orang - orang yang salah yang pernah bertemu dengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, Furqon adalah lelaki dengan wajah yang manis. Tubuhnya tegap, tangannya kuat. Suci dulu sering membayangkan tangan-tangan itu membungkus dirinya dengan sebuah pelukan. Jika itu terjadi dia akan membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapannya. Sebab dia tahu bahwa Furqon akan memberikan kedamaian dalam hatinya. Belum lagi dengan komentar-komentarnya yang dalam tentang arti kehidupan yang tengah mereka jalani. Suci ingin sekali menjadi bagian dari kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Furqon adalah lelaki dengan kehidupan yang sederhana, jauh dari kemewahan yang bisa dia jagakan untuk menjamin kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya nanti, tapi bukankah cinta tidak melihat materi? Tapi bagi kebanyakan orang materi duniawi menjadi pertimbangan seorang dara untuk melabuhkan hatinya. Apakah ini berlaku untuk semuanya? Suci tidak bisa menjawabnya. Cuma memang waktu itu dia menyangsikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dia memikirkan Furqon lagi ya? Padahal itu sudah hampir lima tahun berselang. Sudahlah, mungkin saat ini dia memang sedang tidak ada kegiatan sehingga melamun. Buru-buru dia menurunkan anaknya di tempat tidur. Dipandanginya wajah anaknya sekali lagi, sebelum dia turun. Auliya nampak tersenyum. Diperhatikannya dengan seksama senyum anaknya itu. Aduh! Kenapa caranya tersenyum mirip dengan senyum seseorang yang sedari tadi dilamunkannya? Aku tidak mau memikirkan dia lagi! Gerutunya dalam hati. Sekarang dia bergegas untuk menyiapkan masakan makan siang untuk suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selintas Bayang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;selintas bayangan menggodaku&lt;br /&gt;serupa kamu, tapi saru&lt;br /&gt;aku sudah meninggalkanmu&lt;br /&gt;di halaman belakang buku biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selintas bayangan kembali padaku&lt;br /&gt;setidaknya aku sudah tahu&lt;br /&gt;sudah lama aku&lt;br /&gt;memendam rasa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selintas kamu menjumpai aku&lt;br /&gt;sampai beribu-ribu kali pun aku tetap begitu&lt;br /&gt;cinta bukanlah sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika aku tidak menginginkan itu!&lt;br /&gt;hanya ada satu kata yang dapat aku ungkapkan ;&lt;br /&gt;maaf...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344979542369743?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344979542369743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344979542369743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344979542369743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344979542369743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-xi-cinta-seorang-ibu.html' title='BAB XI.  Cinta Seorang Ibu'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344963729962198</id><published>2006-07-20T19:39:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T20:19:34.096-07:00</updated><title type='text'>BAB X.  Karma Seorang Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Adakah karma dalam kehidupan seseorang? Selama ini kita berpikiran bahwa karma adalah buah akibat dari tindakan kita di masa lalu, padahal sesungguhnya karma adalah bahasa Sanskrit dari kamma dari bahasa Pali. Karma adalah perbuatan itu sendiri. Dalam sebuah kamus elektronik (wikipedia) disebutkan bahwa "karma / kamma ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral).” Jadi setiap manusia pasti mempunyai karma, karena kita hidup dan berkehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana seharusnya karma seorang anak? Durhaka dalam ajaran Buddha akan menyebabkan kelahiran yang kekal di alam neraka. Jadi, karma seorang anak yang sejati adalah menjauhkan, dari timur sampai ke barat, dari gunung sampai ke tubir laut yang paling dalam, sifat dan perbuatan durhaka kepada orangtuanya. Jika dia tidak ingin seumur hidupnya jatuh di dalam neraka. Menjauhkan berarti tidak juga pernah terlintas di alam pikiran, tidak pernah diucapkan, apalagi sampai dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon pingsan, dalam ketidaksadarannya itulah dia menemukan kesadaran sepenuhnya. Selama ini yang dia lakukan hanyalah pemuasan atas keinginannya sendiri. Dia lupa pada karmanya sebagai seorang anak. Memang dalam perjalanan hidupnya, anak (apalagi laki-laki) kebanyakan melepaskan diri sepenuhnya dari orangtua setelah dia beranjak dewasa. Akan tetapi anak tetaplah anak, dia haruslah selalu ingat akan rahim ibunya, dan belaian ayahnya. Di dunia belahan barat, anak menjadi individu bebas ketika ia berusia 18 tahun. Di mana pada usia tersebut, biasanya, dia sudah coba-coba untuk mencari nafkah sendiri. Tak ayal lagi rasa hormat terhadap orangtua di dunia mereka menjadi semakin berkurang seiring pertambahan usia si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sini lebih parah lagi, biasanya anak baru bisa mandiri setelah mereka menyelesaikan kuliahnya dan memasuki dunia bekerja. Sayangnya kemudian setelah mereka menemukan posisi yang lumayan, gaji yang besar, dan akhirnya berkeluarga, banyak juga yang kemudian mengurangi porsi hormatnya kepada orangtua sendiri. Beberapa kasus malah menunjukkan gejala yang aneh, anak yang tidak bisa mandiri sampai dia berkeluarga sendiri malah sama sekali tidak menaruh hormat pada orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon siuman, di sekelilingnya sudah banyak orang berkerumun. Segera saja dia ingat akan beberapa barang bawaannya. Setelah memeriksa bahwa tidak ada yang memanfaatkan kesempitannya, Furqon bangkit.&lt;br /&gt;"Kenapa sampai pingsan?", tanya seorang tukang becak.&lt;br /&gt;"Jangan-jangan belum makan ya?", kata seseorang yang lain.&lt;br /&gt;"Maaf, saya telah merepotkan. Terimakasih yang sudah membantu saya. Saya sudah tidak kenapa-napa lagi koq. Terimakasih."&lt;br /&gt;Furqon kembali melangkah. Dalam pikirannya yang terpenting adalah sesegera mungkin ia sampai di terminal bus antar kota yang akan membawanya 21 kilometer ke arah timur kota Semarang ini. Segera saja dipanggilnya sebuah taksi.&lt;br /&gt;Akhirnya Furqon sampai di bangku belakang sebuah bus antar kota Semarang – Demak. Cukup padat penumpangnya. Sebelah Furqon seorang ibu tua. Mengingatkannya pada sosok ibunya yang mungkin sedang menantinya. Hati Furqon makin miris. Dia memperhatikan dengan seksama sosok ibu tersebut. Meskipun takut dikira hendak berbuat yang tidak-tidak, Furqon mencoba membuka percakapan.&lt;br /&gt;“Pulang ke Demak bu?”&lt;br /&gt;“Iya, aku mau pulang, anak sendiri mau pulang atau hanya main-main melancong?”&lt;br /&gt;“Saya juga mau pulang ke Desa Prigi, Kebon Agung.”&lt;br /&gt;“Oh, kalau saya di Donorojo. Dari mana anak ini?”&lt;br /&gt;“Saya dari Jakarta, sudah lama tidak pulang ke Demak.”&lt;br /&gt;“Ya begitu toh, nak. Sering-sering pulang jengguk orangtua.”&lt;br /&gt;“Iya bu, ini juga dalam rangka pulang seterusnya.”&lt;br /&gt;“Ndak’ kembali lagi ke Jakarta?”&lt;br /&gt;“Tidak bu, saya sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jakarta.”&lt;br /&gt;“Membangun desa sendiri itu lebih baik.”&lt;br /&gt;“Saya malah tidak berpikiran seperti itu, yang penting bagi saya ketemu ibu saya dan kembali menata kehidupan saya di desa.”&lt;br /&gt;“Bawa oleh-oleh apa dari Jakarta?”, tanya ibu tua itu dengan tersenyum. Furqon tidak mengerti maksud senyuman ibu itu. Tapi mungkin dia cuma bercanda.&lt;br /&gt;“Tidak bawa apa-apa bu, yang penting selamat.”&lt;br /&gt;“Seharusnya sudah lama tidak pulang, sekalinya pulang bawa sesuatu yang bikin senang ibu dong”, lanjut ibu tua itu.&lt;br /&gt;“Ibu saya tidak pernah berpikiran seperti itu. Saya ini anak yang hilang.”&lt;br /&gt;“Saya jadi ingat perumpamaan anak yang hilang. Ada seorang anak yang telah meminta bapaknya menjual hartanya dan membaginya dengan kakak sulungnya. Kemudian dia pergi ke kota lain untuk berfoya-foya. Ketika hartanya habis, dia pergi ke suatu peternakan dan bekerja sebagai pemberi makan babi. Karena laparnya, dia memakan makanan babi itu. Akibatnya, dia diusir oleh pemilik peternakan. Dalam keadaan hati yang hancur dia ingat rumah bapaknya. Dan dia kembali ke rumah bapaknya. Ternyata bapaknya menyambutnya dengan luar biasa. Dia berlari dan memeluk anak yang hilang itu. Kemudian dia menjamu anaknya itu dengan makan malam yang luar biasa juga, sampai membuat iri kakak sulungnya.”&lt;br /&gt;“Wah, cerita yang menarik. Dapat dari mana cerita itu?”&lt;br /&gt;“Itu ada di dalam Injil. Intinya mengenai pertobatan.”&lt;br /&gt;“Apakah maksud ibu saya harus bertobat kepada ibu saya?”&lt;br /&gt;“Bertobatlah kepada ALLAH, minta maaflah kepada ibumu, itu oleh-oleh yang paling dihargai olehnya.”&lt;br /&gt;“Terimakasih atas nasehatnya. Saya memang sudah bertekad untuk melakukan pertobatan setibanya nanti di rumah saya. Rasanya sudah sekian lama saya mengarungi padang pasir, dan inilah saatnya saya menemukan sumur yang tidak pernah kering.”&lt;br /&gt;“Saya juga mempunyai anak yang kerja di kota, di Semarang ini. Makanya saya sering pergi ke sini untuk menjenguk cucu. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi seorang ibu seperti saya kecuali menikmati masa tua dengan cucu-cucu.”&lt;br /&gt;“Kenapa tidak diantar oleh anak dan menantu, bu?”&lt;br /&gt;“Bukan tugas seorang anak untuk mengantar jemput ibunya, demikian juga menantu. Apalagi menantu kan tetap orang lain, meskipun kita sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Tetap saja ada bedanya.”&lt;br /&gt;“Jadi tugas anak apa bu?”&lt;br /&gt;“Anak mempunyai tugas sendiri, sebagai individu yang bebas namun terikat. Seperti Gibran mengatakan “Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.” Jadi mereka mempunyai tugas untuk masa depannya sendiri.”&lt;br /&gt;“Jadi orang tua tidak boleh mengambil apapun dari anaknya?”&lt;br /&gt;“Apa yang akan diambil orang tua dari anaknya? Semua yang dimiliki anak adalah hasil ukiran orang tuanya. Meskipun dia berhasil menjadi “orang” karena kerja kerasnya, tapi “talenta”nya didapat dari doa-doa orang tuanya. Seperti dikatakan lebih lanjut dari puisi Gibran “Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian” maka dari itu, anak tidak bisa lepas dari orang tuanya. Cuma biasanya anak tidak pernah mengetahuinya.”&lt;br /&gt;Obrolan mereka berhenti saat terlihat tulisan pada gerbang kota “DEMAK BERAMAL : Bersih, Elok, Rapi, Anggun, Maju, Aman, Lestari..” Bus yang mereka tumpangi telah menghantar mereka pada tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon sangat menikmati nasehat si ibu tua itu. Hatinya tenang, meskipun dia belum tahu apa reaksi ibunya jika mengetahui dia kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344963729962198?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344963729962198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344963729962198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344963729962198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344963729962198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-x-karma-seorang-anak.html' title='BAB X.  Karma Seorang Anak'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344953376877927</id><published>2006-07-20T19:33:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:38:53.970-07:00</updated><title type='text'>BAB IX.  Lagi, Bicara tentang Cinta</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jalaludin Rumi pernah menulis “Kegiatan cinta adalah membuat jendela di dalam hati, supaya dada ini diterangi oleh keindahan Sang Kekasih.  Memandang dengan penuh keintiman pada wajah Sang Kekasih tercinta.(Mathnawi VI: 3095-3097).”  Berbekal pada keyakinan seperti ini, Furqon telah menciptakan lubang-lubang di lapisan ozon kesemrawutan hatinya.  Dia sangat berharap sinar-sinar Illahiah sesegera mungkin dapat menyerbunya dan menawannya.  Pada kepulangannya, dan harapan bertemu seseorang yang bisa menuntunnya mencari makna cinta Illahiah ini adalah bukti bahwa jendela di hatinya sedemikian terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta sudah sampai di Stasiun Tawang.  Bunyi derit rem membangunkan orang-orang yang terlelap.  Kemudian keramaian terjadi lagi.  Berbondong-bondong kuli angkut memasuki gerbong – gerbong menawarkan jasa.  Sementara para penumpang bergegas mengangkuti barang-barangnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di kota besar ini, sebagai orang Demak, Furqon merasa dirinya ikut berjasa.  Beberapa ratus tahun yang lalu, Semarang adalah sebuah daratan alluvial yang di sebut orang sebagai Pulau Tirang.  Kemudian hutan di pulau itu dibabat oleh Pangeran Made Pandan dan putranya Raden Pandan Arang, untuk kemudian didirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam.  Nama kota ini diambil dari munculnya pohon asam jawa yang buahnya jarang (arang) di sekitar pesantren tersebut.  Sehingga kemudian tempat Pangeran Made Pandan dan Raden Pandan Arang menjadi Semarang.  Pada masa Raden Pandan Arang yang kemudian berjuluk Pandan Arang II inilah Semarang kemudian mencapai puncak kejayaan dan berkembang pesat menjadi sebuah kabupaten.  Pada masa tuanya, Pandan Arang II pergi ke selatan Jawa Tengah menyepi hingga meninggalnya di bukit yang diberi nama Jabalkat di daerah Klaten.  Karena jasanya dalam menyiarkan Islam, beliau mendapat julukan Sunan Tembayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menunaikan sholat di mushola stasiun, Furqon pergi ke warung nasi.  Dia ingin mengisi perutnya, dan minum segelas air teh manis hangat.&lt;br /&gt;“Mau kemana mas?”, sapa seorang pemuda.&lt;br /&gt;“Saya mau pulang ke Demak.”, jawabnya kalem.&lt;br /&gt;“Baru pulang dari Jakarta?”, tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Begitulah, tapi karena gagal maka saya pulang lagi”, tukas Furqon sebelum pemuda itu mulai bertanya tentang pekerjaan dan lain-lain.&lt;br /&gt;“Jaman sekarang susah ya mas cari kerja di Jakarta?”  Pemuda itu membandel dengan tetap menghujani Furqon pertanyaan dan pertanyaan.&lt;br /&gt;“Yah, begitulah.  Kalau sampeyan dari mana dan mau kemana?”&lt;br /&gt;“Saya juga dari Jakarta, saya pulang kampung karena istri saya mau melahirkan katanya.”&lt;br /&gt;“Oh sudah berkeluarga, anak keberapa?”&lt;br /&gt;“Baru yang pertama, makanya saya agak gelisah.”&lt;br /&gt;“Koq gak dibawa ke Jakarta istrinya?”&lt;br /&gt;“Wah repot mas, saya di sana cuma kerja sebagai tukang sayur, masakan saya mau bawa istri ke sana.  Kasihan dia, kontrakan saya cuma satu kamar saja.”&lt;br /&gt;“Saya juga begitu, tapi saya belum punya keluarga.”&lt;br /&gt;“Cepat-cepat deh mas berkeluarga, Sunnah Rasul juga toh? Kalau tidak salah ada istilah menikah itu berarti menyempurnakan separuh dari agamanya.”&lt;br /&gt;“Iya, tapi saya belum ketemu jodoh saya.”&lt;br /&gt;“Jangan terlalu pilih-pilih mas, yang penting seiman, baik, jujur.  Masalah cantik atau tidak cantik adalah bagaimana kita memandangnya saja.”&lt;br /&gt;“Weleh, sampeyan ini bisa saja…”&lt;br /&gt;“Lho iya toh mas, kata saya cantik belum tentu kata mas cantik, demikian sebaliknya.”&lt;br /&gt;“Jadi apa definisi cantik?”&lt;br /&gt;“Cantik itu adanya di hati mas, kalau hati kita bilang pas ya itu cantik.”&lt;br /&gt;“Pas ‘gimana toh?”&lt;br /&gt;“Marem gitu kalau melihatnya mas.” (marem = nikmat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon tersenyum sambil menyeruput teh manisnya.&lt;br /&gt;Si tukang sayur kembali berfilosofi, katanya “Kadang kita bicara cinta itu karena rupa saja.  Rupa itu bisa kecantikan, kekayaan, kedudukan, atau apalah pernak-pernik duniawi.”&lt;br /&gt;Furqon mengerenyitkan dahinya.&lt;br /&gt;“Iya mas, gara-gara rupa timbullah yang namanya bosan, jenuh, kemudian menjadi pertikaian, perceraian, dan perselingkuhan.  Bahaya kan mas?”, tegasnya setengah memaksakan kehendak.&lt;br /&gt;“Lalu kita kalau mencintai harus bagaimana?”&lt;br /&gt;“Cinta itu harus tulus mas, cinta itu memberi, tapi juga meminta.  Mungkin bukan meminta kita dicintai kembali, tapi meminta kesadaran pasangan kalau kita itu memang mencintainya.”&lt;br /&gt;“Wah, hebat kamu bisa berfilosofi tentang cinta.”&lt;br /&gt;“Maklum mas, saya kan tukang sayur.” Katanya sambil memesan makanannya.&lt;br /&gt;“Apa hubungannya tukang sayur dan filosofi cinta?”&lt;br /&gt;“Tukang sayur kan keliling kampung. Sering sekali mendengarkan para pembantu rumah tangga menggosipkan masalah rumah tangga majikannya.  Jadinya saya kemudian belajar dan menyimak setiap persoalan rumah tangga yang terjadi, dan merenungkan apa kira-kira sebab dan akibatnya.  Jika berakibat buruk, saya memikirkan antisipasinya.”&lt;br /&gt; “Lalu, apakah kamu tahu seperti apa sebenarnya cinta yang sebenar-benarnya?”&lt;br /&gt;Sambil menerima pesanannya, dia mengernyitkan dahi dan berpikir.&lt;br /&gt;“Cinta sejati? Cinta sebenar-benarnya cinta adalah cinta kepada ALLAH mas, tidak ada yang lain.  Kalau cinta yang itu saya tidak menguasainya, jangan bertanya kepada saya .”&lt;br /&gt;“Ya sudah dimakan dulu makanannya nanti keburu dingin!”&lt;br /&gt;Kemudian keduanya tenggelam dalam pikiran dan makanannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perpisahannya dengan tukang sayur itu, Furqon makin merasa terbebani hatinya dengan kata-kata Cinta Illahi.  Sesegera mungkin dia ingin tiba di rumah dan membagi cerita dan keinginannnya dengan orang terdekatnya, yaitu ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu sebelum dia merasa runtuh, dia pernah bercita-cita ingin membahagiakan ibunya dengan meng-haji-kan beliau.  Tapi kemudian dunia berkata lain, dia harus merangkak ke dasar-dasar kehidupan fana ini demi harta yang tidak seberapa.  Segera saja keinginan itu menjadi debu dalam kenangan masa sekolahnya.  “Maafkan anakmu ini, bu” jeritnya dalam hati.  Saat ini dia juga terbayang-bayang dengan pencariannya yaitu cinta Illahiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cinta Illahiah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mencari di dasar bumi,&lt;br /&gt;menari pada gelisahmu,&lt;br /&gt;hati yang terilhami&lt;br /&gt;pada cinta kepadaMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedekat nadi di penyangga kepala&lt;br /&gt;demikian pula dari jantung&lt;br /&gt;Engkau ada berjanji&lt;br /&gt;Lalu kenapa aku harus mencari?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seperti tak puas anak beruang mengunyah batang-batang kayu lapuk; mencari rayap berbau manis.  Cinta ini begitu menyiksa, hingga rasanya ingin kau obrak-abrik dunia!  Tapi jika kau sadar sebenarnya sinarNYA selalu menerangi hati.  Tetapi rimbunnya belantara dan tebalnya salju membuat kau menggigil sendiri dalam ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menangis di senja itu, tanpa air mata mengalir.  Hatinya telah hancur lebur.  Namun saat itu, justru terjadi lubang besar yang mengangga di dalamnya.  Dan sinar-sinar cinta yang kuat telah mengalir seperti air bah.  Furqon pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344953376877927?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344953376877927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344953376877927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344953376877927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344953376877927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-ix-lagi-bicara-tentang-cinta.html' title='BAB IX.  Lagi, Bicara tentang Cinta'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344917097378108</id><published>2006-07-20T19:28:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:32:51.103-07:00</updated><title type='text'>BAB VIII.  Pencemburu yang baik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Thole Dewandaru, nama yang diberikan kepadanya mempunyai arti yang lugas.  Thole itu sebutan untuk anak lelaki, dan Dewandaru adalah nama sejenis tumbuhan kayu yang konon kabarnya adalah tongkat Sang Rama ketika mengembara ke Tanah Jawa.  Nama latinnya Eugenia uniflora L.  Biasa juga disebut dengan Belimbing Belanda.  Tumbuhan perdu ini banyak di temui di pulau Karimun Jawa, di laut utara Jawa.  Selain kayunya, daunnya juga digunakan sebagai obat diare.  Entah karena mitos tongkat Sang Rama itulah kayu Dewandaru juga termasuk jenis kayu yang dicari.  Mungkin ketika Thole Dewandaru lahir, orang tuanya mengharapkan dia bisa menjadi seseorang yang mempunyai jiwa dan hati yang lurus seperti Sang Rama, atau mungkin juga diharapkan dia menjadi pujaan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah memang, karena kemudian Thole menjadi seorang pemuda yang gagah dan mempunyai pemikiran yang maju di desanya.  Beberapa kali dia menjabat sebagai ketua pemuda desa (dulu bernama Karang Taruna).  Dalam kepemimpinannya pemuda – pemudi desa mampu membuat kerajinan tangan dari sisa-sisa kayu jati yang kemudian di”ekspor” ke kota Yogyakarta dan Bali.  Usahanya lumayan maju, sehingga dia pun mulai menjadi seorang yang terpandang.  Bagi orang lain mungkin mereka akan mengutuki dirinya kaya karena bapaknya juga orang berada, tapi Thole tidak pernah mendompleng keberadaan bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada gula, ada semut.  Pepatah itu berlaku kemudian, hingga kini.  Thole yang baik hati pun sering dimintai “tolong” oleh orang – orang di desanya bila mereka membutuhkan uang.   Suatu saat ada seorang penjual sate yang meminjam demi menambah modal usahanya.  Meskipun Thole sudah menolak karena lebih baik dia pergi ke bank, akan tetapi menurut bapak itu lebih suka pinjam kepada tetangga sendiri.  Bahkan ketika dia mengiming-imingi akan dikenalkan dengan anak gadisnya yang cantik, Thole sudah menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya berubah setelah dia mengamati tenyata benar Seno benar-benar perlu tambahan modal, tapi yang lebih membuat perubahan itu adalah ternyata anak Seno itu memang cantik.  Thole pun akhirnya sering mampir ke warung sate Seno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebenarnya tidak menyukai cara seperti ini.  Tetapi seorang pemuda menghalangi perasaannya.  Ketika pak Seno menawarkan untuk menggantikan pinjamannya dengan anaknya Suci yang ditaksirnya, Thole tidak kuasa menolaknya.  Dalam hatinya dia turut merasakan kehancuran cinta Suci terhadap Furqon.  Akan tetapi egonya memilih untuk memaksa Suci mencintainya seorang.  Thole ingin Suci membuang semua kenangan tentang Furqon.  Teorinya mengatakan jika Suci sudah membuang halaman buku hariannya tentang mantan kekasihnya, maka otomatis mulai hari itu Suci sudah menuliskan namanya di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thole pernah membaca teori bejana,”Jika ingin menggantikan air di dalam bejana dengan anggur, bukan langsung diisi begitu saja, karena rasanya akan bercampur.  Buang airnya, keringkan bejananya kemudian isilah dengan anggur, niscaya tidak hambar rasa anggur itu.”  Tapi kadang Thole merasa kasihan dan ragu-ragu, bagaimana caranya membuat bejana itu kering?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir empat tahun perkawinannya dengan Suci, Thole kadang masih mempunyai pikiran yang negative yang mengatakan bahwa Suci masih mencintai Furqon.  Beberapa kali dia mendesak Suci dengan pertanyaan tentang Furqon, akan tetapi Suci tidak pernah dapat menjawabnya.  Suci memang telah kehilangan dia.  Apalagi dengan adanya Auliya Sita Prahapsari, anak hasil perkawinannya, Suci semakin sibuk dengan dunianya.  Dunia seorang ibu, seorang istri, dan seorang wanita yang tidak bisa diam, selalu sibuk bekerja.  Suci kadang membantu bapaknya di warung, kadang membantu Thole di perusahaan kerajinan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini Thole memperhatikan dengan sangat wajah cantik istrinya.  Dia sangat bangga bisa mendapatkan Suci dan “membebaskannya” dari tangan Furqon.&lt;br /&gt;“Bu..”&lt;br /&gt;“Ada apa pak?”&lt;br /&gt;“Apakah jauh dalam lubuk hatimu kamu masih mencintai Furqon?”&lt;br /&gt;“Sudahlah, pak.  Itu sudah masa lalu.  Bagiku, sekarang adalah memikirkan kamu, anak kita, dan masa depannya.”&lt;br /&gt;“Jadi, kamu mencintaiku bu?”&lt;br /&gt;Suci tidak menjawab.  Dia hanya menundukkan kepala dan tersipu.&lt;br /&gt;“Rasanya tak perlu dijawab itu.”  Ucapnya sambil lalu.&lt;br /&gt;Thole menangkap tangan kekasihnya, lalu menatap pada matanya yang sendu.&lt;br /&gt;“Aku cemburu jika kamu masih memikirkan hal-hal yang lain.”&lt;br /&gt;“Aku sudah mencintaimu dari lama, beberapa saat setelah pernikahan kita.”&lt;br /&gt;“Jadi kamu merasa terpaksa ketika menikah denganku?”, tanya Thole dengan rasa menyesal.&lt;br /&gt;“Sesuatu yang akhirnya aku sesali, karena sekarang aku merasa bahagia denganmu.”, kata Suci terbata-bata.&lt;br /&gt;Wajah Thole sumringah.  Dia sangat senang mendengarnya.  Ternyata usahanya tidak sia-sia selama ini.  Dia selalu berusaha menjadi suami yang baik bagi Suci.  Thole membuktikan cintanya.&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu, Suci, sebelum aku sadar bahwa kau telah mengikat hatiku erat dalam tatapan matamu.”&lt;br /&gt;“Aku tidak mau kamu terlalu cemburu kepadaku, pak.  Furqon biar bagaimanapun tidak bisa lepas dari ingatanku.  Sel-sel otakku telah menelannya.  Akan tetapi bukan berarti aku ingin mengingatnya sepanjang hidupku.”&lt;br /&gt;“Aku memang cemburu padanya.  Sebagai seorang pemuda sederhana, dia berhasil membuatmu jatuh cinta.  Sedangkan aku cukup berhasil dan kaya, namun mencintaiku adalah hal yang sulit bagimu saat itu.”&lt;br /&gt;“Cinta tidak pernah memandang harta dan tahta, tetapi cinta mempunyai jalannya sendiri.  Bahkan pada sungai kematian bermuara, kita tidak pernah tahu kemana lagi cinta membawa kita.”&lt;br /&gt;“Cintaku telah membuatku buta, dalam biji mataku harusnya ada kamu dan aku saja.”&lt;br /&gt;“Bukankah sekarang sudah demikian adanya?”&lt;br /&gt;“Bayangan Furqon mencumbu dirimu masih sering bermain dalam otakku.”&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah melakukan perbuatan seperti itu.  Aku dan Furqon lebih banyak bicara ketika berjumpa.  Tak pernah sekalipun kami berkasih mesra seperti yang kau duga.”&lt;br /&gt;“Entahlah, dalam pikiran liarku semua yang berbaiksangka telah tiada.”&lt;br /&gt;“Kau memang pencemburu yang sempurna, pak.  Hatimu buta jika melakukannya.”&lt;br /&gt;“Dan pencemburu ini adalah suamimu, bu.”&lt;br /&gt;“Aku menjadi wanita yang paling berbahagia.  Betapa tidak? Seorang suami sangat mencintaiku dan selalu mencemburuiku, padahal aku sudah menjadi tua dan berdebu.”&lt;br /&gt;“Kamu selalu menjadi jantung hatiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian keduanya tertawa lepas.  Kemudian buru-buru menyembunyikan tawa, karena takut membuat Auliya terbangun.  Bulan masih jauh membayang, tapi sore itu terasa indah.  Angin menghembus panas, merontokkan daun-daun jati yang mengering.  Sambit memeluk tubuh suaminya, Suci berkata, “Seorang pencemburu yang baik akan mendapat cinta termanis.”&lt;br /&gt;Thole hanya tersenyum.  Istilah pencemburu tidak selalu berkonotasi negatif?  Hanya Suci yang bisa menjawab pertanyaannya.  Tapi sudah cukup hari ini dengan tanda tanya, saatnya Thole menemukan oase di tengah gurun kecemburuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon terkejut ketika seorang kondektur kereta api meminta tiket darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344917097378108?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344917097378108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344917097378108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344917097378108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344917097378108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-viii-pencemburu-yang-baik.html' title='BAB VIII.  Pencemburu yang baik'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344889250420211</id><published>2006-07-20T19:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T20:25:05.693-07:00</updated><title type='text'>BAB VII.  Bicara Cinta?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sesaat sebelum sampai di Alas Roban, panas di dalam kereta semakin merajalela. Mungkin karena hujan yang sudah lama tidak turun di daerah ini, atau karena banyaknya orang yang berada dalam satu gerbong ini. Banyak orang berkipas-kipas dengan alat seadanya. Para pedagang makin menggila, mereka terus menerus meneriakkan nama dagangan mereka tanpa kenal lelah. Dunia sempit dalam gerbong kereta api semakin rusuh. Keringat, tangis bayi dan anak-anak bercampur dengan suara para pedagang, pengamen, dan peminta-minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon-pohon jati berbaris seperti shaf-shaf orang sholat. Bayangannya seragam, coklat di bawah, hijau di atas. Mungkin menandakan beginilah sebenarnya jika kita sedang menghadap Illahi di padang mahsyar. Seragam. Tapi sekarang bayangan itu seperti menghina. Saat ini, kita masing-masing menjunjung tinggi agama dan sebagian dosa tanah lumpur kotor kita sisihkan di bagian bawah. Furqon pun tersenyum sambil membuat perumpamaan itu di otaknya. Sudah menjadi keinginan kita semua berderet dalam keadaan suci bersih tanpa kotoran, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum yang sama terkembang di bibirnya beberapa tahun lalu ketika Furqon membuat pengakuan penyerahan hati dan cintanya kepada Suciati. Senyum ketika Suci menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Senyum yang melambangkan kemenangan. Tapi, apakah itu benar-benar sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian gelap terasa. Udara dingin mengalir dari sisi-sisi jendela yang terbuka. Syamsudin, teman seperjalanan yang sedari tadi tidur menguap. Mulutnya dimonyong-monyongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimpi apa mas?”, tanya Furqon yang masih mengembangkan senyumnya.&lt;br /&gt;“Yang jelas tidak bertemu bidadari!”, gerutunya.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan masih mikirin si bencong tadi?”, ledek Furqon.&lt;br /&gt;“Najis deh aku mikirinnya…”, katanya sambil meliukkan badan.&lt;br /&gt;Syam lalu mengambil air minum dan segera meneguknya.&lt;br /&gt;“Baca bismillah dulu, nanti ‘kesenggruk’ ”, Furqon masih mesem-mesem.&lt;br /&gt;“Eghgh…Ahak ..Ahak …!!!”&lt;br /&gt;“Sialan, dari tadi ngeledek mulu nih”, sumpah serapah Syam pada Furqon.&lt;br /&gt;“Bukan, cuma mengingatkan koq…”&lt;br /&gt;“Mengingatkan apa? ’Gitu aja koq diingatkan! Sudah tahu! Sudah paham!”&lt;br /&gt;“Sudah dilaksanakan belum?”, Furqon makin menjadi.&lt;br /&gt;“Ya sudah, (aku bacanya) dalam hati!”&lt;br /&gt;“Begini lho, saya dari tadi itu pengin ngomong-ngomong sama kamu, tapi kamu tidur saja.”&lt;br /&gt;“Ngomong ya ngomong, nunggu sebentar kenapa? Kan jadinya saya tersedak!”&lt;br /&gt;“Iya maaf, maaf.”&lt;br /&gt;“Apa sih sebenarnya yang mau diomongin?”&lt;br /&gt;“Begini, saya ini pengin belajar mengenai cinta. Kira-kira tahu tidak guru atau kyai yang mumpuni dalam hal ini di tempat kamu?”&lt;br /&gt;“Cinta? Apanya yang mau dipelajari dari cinta?”&lt;br /&gt;“Banyak mas, kata Kahlil Gibran ; “Apabila cinta memanggilmu ikutlah dengannya.. Walaupun jalan yang akan kalian lalui terjal dan berliku.. Dan bila sayap - sayapnya datang merengkuhmu.. Pasrah dan menyerahlah.. Meskipun pedang yang tersembunyi di balik sayapnya akan melukaimu.. Dan jika dia bicara kepadamu.. Percayalah.. Walaupun ucapannya akan membuyarkan mimpi - mimpimu.. Bagai angin utara yang memporakporandakan taman.. Sebagaimana ia menumbuhkan kuncup dedaunanmu.. Maka ia juga akan memotong akar - akarmu.. Cinta tidak memiliki atau dimiliki.. Karena cinta telah cukup untuk cinta...(Sayap-sayap Patah)” Jadi aku itu ingin mencari cinta yang sejati, begitu.”&lt;br /&gt;“Cinta sejati? Cinta sejati itukan cuma cinta kepada Illahi!”&lt;br /&gt;“Benar, jadi mas tahu guru atau kyai yang mengajar cinta Illahiah?”&lt;br /&gt;“Sebentar, saya pikir-pikir dulu. Kyai yang mengajar cinta Illahiah?”, Syamsudin berpikir keras. “Dahulu sih ada seorang ulama yang cukup “njawani” di tempat saya, tapi setelah saya sering merantau ya tidak pernah tahu lagi kabarnya.”&lt;br /&gt;“Siapa mas? Barangkali saya masih bisa mencarinya!”&lt;br /&gt;“Lha wong tempatnya saja saya tidak tahu koq. Saya cuma dengar namanya saja.”&lt;br /&gt;‘Wah, aku kirain mas-nya ini tahu benar.”&lt;br /&gt;“Tapi setahu saya, semua guru ataupun kyai pasti mengajarkan cinta Illahiah lho!”&lt;br /&gt;“Mungkin benar pendapat mas, tapi saya ingin bertemu dengan seorang guru atau kyai yang benar-benar mantap di hati saya untuk mengajarkan cinta Illahiah.”&lt;br /&gt;“Mas, sebenarnya yang mau dicari apa? Guru, kyai, atau cinta Illahi yang mas kejar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Syamsudin menusuk relung hati Furqon yang paling dalam. Seakan-akan menjatuhkan hatinya jauh ke dalam jurang tanpa dasar. Furqon hanya bisa tersenyum sebagai balasan.&lt;br /&gt;Pada hari ini memang banyak sekali orang-orang yang seharusnya menjadi panutan malah menjadi tontonan, karena nyatanya kemudian mereka saling menjatuhkan demi ketenaran atau kekuasaan. Tapi hal itu tidak menjadikan pengikutnya mawas diri, malah kemudian mereka menjadi lebih dari sekedar mencari ilmu dari sang tokoh. Mereka kemudian menjadi semacam penjaga gratisan buat sang tokoh. Mereka mau disuruh beradu dengan pendukung ataupun murid dari tokoh lain. Bukan karena agama atau ilmu, tapi karena membela nama baik sang tokoh. Nama baik? Mungkin bukan lagi. Sebuah pepatah ramalan Jawa kemudian terbersit oleh Furqon ; “sesuk mben ana tuntunan dadi tontonan, lan tontonan dadi tuntunan” (Tokoh masyarakat menjadi bahan pembicaraan saja ; sementara tayangan-tayangan khayalan kemudian menjadi contoh atau teladan dalam kehidupan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon kembali merenung. Jadi apakah yang akan dia lakukan selanjutnya setelah dia tiba di kampungnya? Mencari seorang tokoh agama? Atau mencari arti Cinta Illahiahnya?&lt;br /&gt;Pohon – pohon jati di luar sana tetap tegak berdiri berderet – deret seperti orang sholat. Dari keremangan hutan, sinar matahari menerobos memberikan sedikit cahaya. Furqon membayangkan itu sebagai sinar kebenaran Illahi yang menerobos kepahitan demi kepahitan di dalam hidupnya. Furqon menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa kamu jadi diam begitu?”, Ucapan Syamsudin membuyarkan angannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344889250420211?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344889250420211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344889250420211' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344889250420211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344889250420211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-vii-bicara-cinta.html' title='BAB VII.  Bicara Cinta?'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344855414194161</id><published>2006-07-20T19:19:00.000-07:00</published><updated>2006-07-23T21:35:23.410-07:00</updated><title type='text'>BAB VI.  Dalam Gerbong Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menguap, serta meliukkan badan memperdengarkan suara gemeretak tulang punggung adalah perbuatan yang mengasyikkan setelah lelah mengaji dan berdoa. Bukan suatu hal yang tabu bukan? Itulah yang Furqon lakukan sebelum dia bersiap membuat segelas teh hangat dan semangkok mie instant untuk sarapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meniup-niup teh yang masih panas, Furqon mengingat-ingat hal-hal yang dahulu pernah dipelajarinya mengenai hubungan dengan Tuhan. Salah satu syair terkenal karya Sheikh Abdul Qadir Jaelani yang dia ingat adalah Fayuz E Yazdani. Beliau mengatakan " Jika kamu benar-benar tulus mencari ikatan dengan Tuhan, maka carilah dia dalam hatimu dan tinggalkanlah dunia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sekarang merasa keputusannya sudah bulat, syair itu membuat dia yakin akan langkahnya. Meninggalkan kehidupan di kota metropolitan ini, dan kembali ke kampung halamannya untuk kembali menggali makna kedekatan manusia dan Tuhan. Akan tetapi satu-satunya hal yang ingin dia lakukan juga adalah menyadarkan Suciati untuk menerima cinta suaminya setulus hatinya. Karena sebelum dia melarikan diri ke Jakarta ini, Ia masih menangkap isyarat bahwa Suciati masih belum bisa ikhlas akan perjodohannya dan masih mencintai dirinya. Cinta manusia mengikat dirinya untuk bisa mendapatkan cinta Illahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta segitiga; pasti menimbulkan iri disalah satu pihak. Pak Theo pernah berkata kepada dirinya. Tuhan itu pencemburu! Dia menyebutkan bahwa di kitab Keluaran pasal 34 ayat 14 Tuhan berfirman ; "Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada ALLAH lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah ALLAH yang cemburu.” Furqon jadi berpikir apakah ia harus benar-benar mengorbankan seluruh cintanya dari semua kehidupan duniawi yang dijalaninya kemudian seluruh cintanya diberikan bulat-bulat kepada Sang Kekasih Sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mansyur dulu pernah menyitir hadist Rasulullah riwayat Ahmad dan Muslim yang mengatakan "Sesungguhnya ALLAH cemburu dan orang beriman pun cemburu. ALLAH akan cemburu apabila seseorang melakukan apa yang di haramkan." Furqon jadi takut jika dia dicemburui oleh Tuhannya karena dia masih memikirkan cinta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, rupanya memang harus itu yang dia lakukan. Segera ia berkemas, semua pakaiannya yang memang tidak seberapa masuk ke dalam tasnya. Dari semalam dia sudah berpamitan kepada pemilik rumah petakannya, jadi sekarang dia tinggal mengembalikan kunci rumah itu.&lt;br /&gt;Siang sudah mulai merambat menaikkan matahari di puncak singgasananya. Udara sudah sesak dengan polusi. Furqon dengan mantap melangkah menuju stasiun kereta api yang memang tidak terlalu jauh dari rumah petak kontrakannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang mengantri, Furqon menatap sepasang mata yang melihat pada dirinya. Sosok seorang yang belum begitu tua, namun terlihat arif. Mungkin dia dahulu adalah seorang tentara, atau mungkin seorang pegawai negara yang disiplin. Rambutnya tersisir rapi, kumisnya juga tercukur tidak berantakan menutupi mulut. Sorot matanya teduh berwibawa, namun tegas. Furqon memberanikan diri berkenalan dengan bapak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siang pak, saya Furqon dan saya hendak pulang ke Demak, kalau bapak mau pergi kemana?" tanyanya memecah kebisuan.&lt;br /&gt;"Selamat siang, saya mau ke Semarang."&lt;br /&gt;"Oh berarti kita searah ya pak, mudah-mudahan saya bisa banyak mengobrol dengan bapak." Furqon tersenyum.&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa? Saya tidak suka terlalu banyak ngomong yang tidak jelas." Tukasnya.&lt;br /&gt;"Maaf pak, tapi saya melihat kalau bapak ini penuh dengan pengalaman yang mungkin bisa dibagi. Oh ya siapa tadi nama bapak?"&lt;br /&gt;"Suwandi" Katanya sambil menjabat tangan Furqon.&lt;br /&gt;"Ada keperluan apa pak ke Semarang, Liburan atau dinas?"&lt;br /&gt;"Pulang, dan kamu?"&lt;br /&gt;"Sama pak, pulang. Rasanya saya sudah cukup mengembara di belantara ibukota ini, dan saya merasa saya harus pulang ke kampung halaman."&lt;br /&gt;"Sudah nikah?" Selidik Suwandi.&lt;br /&gt;"Belum pak, mungkin setelah di kampung saja saya mencari jodoh saya."&lt;br /&gt;"Oh begitu, kenapa merasa sudah cukup mencari penghasilan di Jakarta?"&lt;br /&gt;"Begini pak, saya tergelitik oleh pertanyaan untuk apa sebenarnya saya hidup sampai mengembara ke sini. Setelah saya merenung, jawabannya saya harus kembali saja ke kampung halaman saya."&lt;br /&gt;"Hehehe, mas Furqon ini lucu. Kita hidup ini ya mengisi kehidupan ini. Tujuannya tetap sama saja ibadah kepada ALLAH."&lt;br /&gt;"Wah benar perkiraan saya, saya harus ngobrol dengan pak Suwandi ini!" Furqon tertawa.&lt;br /&gt;"Ya, ya, ya ...boleh saja."&lt;br /&gt;"Pernah membaca Bagawath Githa?"&lt;br /&gt;"Apa pak? Bagawath Githa? bukankah itu sempalan dari kitab Mahabarata?"&lt;br /&gt;"Boleh dibilang seperti itu, sudah pernah membacanya? Kitab itu pernah diterjemahkan oleh Amir Hamzah, sastrawan Melayu - Islam kita yang terkenal."&lt;br /&gt;"Secara langsung tidak, tapi saya pernah mendengar beberapa orang membicarakan mengenai esensinya."&lt;br /&gt;"Oh, ya? Apa saja yang dapat mas Furqon tangkap dari omongan mereka?"&lt;br /&gt;"Intinya saja mungkin pak, secara persis saya tidak bisa menelakannya. Tapi katanya itu adalah wejangan Sang Krishna kepada Arjuna yang merasa bingung karena dia harus berperang melawan saudaranya sendiri."&lt;br /&gt;"Iya itu. Tapi kalau kita bisa mengambil sudut pandang lain dari cerita itu, maka kita bisa mempelajari apa arti dari kita hidup di dunia ini." Suwandi berkata kembali.&lt;br /&gt;Furqon terdiam. Suwandi melanjutkan kata-katanya,” Salah satu poin penting yang paling saya ingat adalah bahwa untuk mencapai suatu tujuan yang mulia, ada dua cara yaitu melalui pengetahuan dan melalui karya nyata."&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;"Seperti yang saya bilang, hidup ini tetap harus berusaha bukan?"&lt;br /&gt;“Apakah berarti tidak boleh mengucilkan diri dari kehidupan?”, tanya Furqon lagi.&lt;br /&gt;“Seperti seorang sufi?”, Suwandi balas bertanya.&lt;br /&gt;“Adakah?”, Furqon makin bingung.&lt;br /&gt;“Dalam Bagawath Githa, diajarkan cara-cara menjadi ksatria.  Ada enam prinsip seorang ksatria, yaitu ; keberanian, pemecahan masalah,ketahanan, menolak untuk menyerah dan mundur dari medan peperangan, bersikap baik, dan mempunyai watak pemimpin.  Juga digambarkan tentang keseimbangan alam semesta.  Antara sifat baik – buruk, penjahat – ksatria.  Tetapi juga diajarkan untuk menyeimbangkannya, bahwa kita kadang harus pandai memanfaatkan celah di antara kebaikan dan keburukan demi suatu tujuan yang mulia sifatnya.  Dalam hal ini, Arjuna disadarkan oleh Sang Krishna bahwa dia harus tidak ragu-ragu membunuh kakaknya sendiri dengan cara apapun.  Karena jika Adipati Karna tetap menjadi panglima perang Kaurawa, maka seluruh dinasti Barata akan dikuasai oleh sifat-sifat yang buruk.”&lt;br /&gt;“Lalu apa hubungannya dengan mengisi kehidupan atau menjauhinya?”, Furqon garuk-garuk kepala karena bingungnya.&lt;br /&gt;“Sebaiknya mas baca saja ‘deh’ bukunya, sebab saya juga kurang bisa menjelaskan.  Mas Furqon bisa saja hidup sebagaimana seorang ksatria di dalam dunia ini, tetapi jika mas Furqon ingin seperti para Sufi juga tidak salah.  Asal tujuannya untuk mencapai kesempurnaan hidup dan keabadian jiwa di swargaloka nanti.  Dua hal itu hanya merupakan jalan saja.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Silahkan!", teriak petugas tiket membuyarkan obrolan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon masih tidak mengerti omongan Suwandi mengenai Bagawath Githa. Seandainya dia memiliki buku itu, bahkan dia berpikir seandainya dia bisa menemui orang yang bisa mengajarinya tentang arti sesungguhnya dari kitab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian terjebak dalam kesemrawutan di stasiun kereta api. Membeli tiket, menunggu di peron dan ketika keretanya datang, mereka segera bergegas masuk ke dalam gerbong.&lt;br /&gt;Furqon masih tetap ingin bisa mengobrol dengan Suwandi, dia terus mencari-carinya di dalam gerbong kereta api. Sambil mencari, dia melihat begitu banyak orang yang berdesakan di dalam gerbong itu. Miniatur kehidupan dengan tujuan yang lebih pendek, sampai ke kota tujuan. Kereta api mengingatkan dia pada perjalanan hidup, hidup harus sampai kepada tujuannya. Dengan seorang masinis yang mengatur perjalanan itu, selayaknya Tuhan di dalam kehidupan kita. Pikirannya sedikit terbuka, ternyata kita bisa mempelajari kehidupan kita di dalam setiap bentuk kehidupan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia tidak perlu mencari Suwandi lagi. Ia bisa mengobrol dengan siapa saja di dalam gerbong ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam Gerbong Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;apakah kita akan bermain sepanjang perjalanan&lt;br /&gt;atau sekedar melihat pemandangan dari jendela?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam perjalanan panjang ini&lt;br /&gt;sebenarnya kita menitipkan nyawa kita&lt;br /&gt;pada seseorang yang tidak kita kenal&lt;br /&gt;atau mungkin kita mengenalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerbong kehidupan terus berjalan&lt;br /&gt;meskipun kita mati di dalamnya&lt;br /&gt;lebih kompleks kah ia dari hidup kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah kita akan bermain sepanjang perjalanan&lt;br /&gt;dan menitipkan nyawa kita pada seseorang yang tidak kita kenal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya suara membosankan yang akan kita dengar&lt;br /&gt;jika kita tidak mempunyai pandangan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapakah masinis kita?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dari balik jendela, Furqon melepas pandang. Pohon, sawah, ladang, sungai, hutan kecil, kota kecil, rumah -rumah kumuh, bergiliran masuk ke dalam matanya. Kemudian semuanya berbaur menjadi satu masuk ke dalam labirin di otaknya. Seperti dongeng tentang labirin, maka minatour di dalam otaknya kemudian mengejar-ngejar semua itu dan meremukkannya dengan palu godamnya. Perlahan kumpulan imaji itu menjelma menjadi pertanyaan baru siang itu. Kenapa harus ada kemiskinan dan kekayaan. Jurang yang membedakan antara Demak dan Jakarta. Demak kota kecil - Jakarta kota besar. Demak penuh dengan petani - Jakarta dengan pengusaha. Ya, ada kaya ada miskin, lalu kenapa? Ingat dia akan percakapan Ayub dan tiga orang teman-nya tentang musibah yang menimpanya. Ayub bersikeras bahwa musibah adalah ujian. Namun ternyata Tuhan menegurnya. Musibah bukan sekedar ujian kata-NYA. Hanya Tuhan yang tahu semua rahasia, manusia hanya bisa mengetahui hikmahnya jika sudah dilihatkan sebuah jawaban lain. Jadi miskin itu apa dan kaya itu apa? padahal jelas tertulis di hadapan Tuhan semua sama. Ternyata kaya dan miskin hanya perasaan manusia saja. Tapi benarkah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaksikannya para penumpang yang berjubel dalam gerbong kereta itu, nampak wajah-wajah penderitaan terpampang sebagai topeng mereka hari itu. Entah karena suasana siang yang panas, atau karena perjalananan ini? Yang jelas keringat tampaknya adalah hasil pertama perjalanan mereka menuju kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon cuma tersenyum getir. Mungkin mereka di kampungnya dibangga-banggakan oleh keluarganya. Sementara di Jakarta mereka hanya hidup sekedarnya saja. Dan perjalanan ini seumpama jalan ke surga. Betapa tidak? Nanti mereka di kampung dijamu bagai raja, atau panglima yang habis bertempur. Sementara bagi dia, perjalanan ini seperti ke neraka. Dia masih sendiri di Jakarta, sendiri pula di kampung halaman. Tidak ada senyum menyambutnya, mungkin rumahnya penuh dengan tikus dan sarang laba-laba. Dia tidak pernah tahu apa nanti jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar lantunan ayat - ayat suci Al Qur'an. Nadanya terdengar memilukan. Ditingkahi dengan suara kelontang kaleng rombeng dan suara tongkat diketokkan pada lantai gerbong. Rupanya ada seorang pengemis tua yang buta. Beberapa orang langsung merogoh kantongnya dan memberinya sekedarnya.&lt;br /&gt;"Kenapa sih harus jualan ayat Al Qur'an untuk mengemis?", ujar seorang bapak yang duduk di sebelah Furqon.&lt;br /&gt;"Apakah itu berarti jualan ayat Al Qur'an pak? Saya cuma iri saja sama dia, bisa menghafalkan Al Qur'an dalam kondisi buta" ,Furqon menanggapinya.&lt;br /&gt;"Kalau menurut saya, dia sudah menjual ayat - ayat suci", tukas beliau.&lt;br /&gt;"Setahu saya sih pak, kalau yang dimaksud dengan menjual ayat itu ilustrasinya seperti ini pak, misal bapak lagi ada masalah, terus datang ke seorang ulama, kemudian ulama itu memberikan nasehat pada bapak, lalu dia menyitir beberapa ayat ataupun hadist misalnya untuk memecahkan masalah bapak. Dan pada akhirnya dia meminta imbalan untuk itu. Itulah yang disebut menjual ayat suci pak." Kembali Furqon menanggapinya.&lt;br /&gt;"Bagi saya sama saja."&lt;br /&gt;"Saya tidak bisa menilai juga sih pak, biarkan dia yang menjawab bila dia dekat ke sini, bagaimana?" , Furqon memberi ide padanya.&lt;br /&gt;Obrolan mereka terhenti. Tatapan mereka kini terpaku pada pengemis buta tua yang semakin dekat pada bangku mereka. Furqon mengeluarkan uang sepuluh ribu, sementara si bapak sebelahnya tidak bergeming. Mukanya masam.&lt;br /&gt;Sambil mengumandangkan ayat - ayat Al Qur'an pengemis buta tua itu menyorongkan kalengnya ke muka Furqon. Furqon menangkap tangannya dan berdiri.&lt;br /&gt;"Kek, aku akan memberimu sepuluh ribu rupiah, akan tetapi jawablah pertanyaan dari saudara saya ini. Katanya Kakek ini telah menjual ayat - ayat Al Qur'an. Benarkah begitu?"&lt;br /&gt;Muka si kakek pengemis buta itu tampak tegang. Mulutnya bergerak-gerak seakan-akan hendak menumpahkan seluruh isi hatinya.&lt;br /&gt;"Siapakah engkau menanyakan hal semacam itu kepadaku? Sudah berhari-hari aku tidak makan kau juga tidak akan ambil peduli. Lalu kenapa kau anggap aku ini salah? Ayat Al Quran adalah do'a, do'a bagi siapa saja yang mau mendengarnya. Apalagi orang yang berhati dengki kepada sesama seperti yang bicara seperti itu kepadaku. Ayat Al Qur'an adalah obat, obat bagi siapa saja yang sedang sakit - terutama engkau yang sakit hati. Aku tidak pernah berfikiran kotor seperti itu. Aku mendo'akan siapa saja yang mendengar aku membaca ayat-ayat itu. Kalau mereka memberikan aku uang, pasti bukan karena lantunan bacaan itu, tapi karena melihat aku sebagai orang tua yang buta. Lalu kenapa kau anggap aku salah???"&lt;br /&gt;Tangannya bergerak ke arah kaleng, dijumputnya uang yang terletak paling atas lalu dilemparkannya.&lt;br /&gt;"Aku tidak membutuhkan uang yang kau berikan karena kau menganggap aku menjual ayat -ayat Al Qur'an!"&lt;br /&gt;Furqon menangkap uang itu dan memasukkannya kembali ke dalam kalengnya. Dan dengan lirih dia berkata, "Maafkan saudara saya, tapi terimalah pemberianku karena engkau orang baik, kek."&lt;br /&gt;Ternyata memang tidak semua yang kelihatan salah itu salah, dan yang kelihatan benar itu benar di dunia ini. Anggapan, itulah kuncinya. Cuma apakah anggapan harus dijadikan landasan setiap kita bertindak? Seperti halnya yang sekarang menjadi fenomena yaitu masalah pornografi dimana sebagian pihak berpendapat itu porno dan sebagian yang lain mengatakan itu tidak porno. Apakah hidup semua seperti itu? seperti tank top kah? Yang Furqon tahu agama menyarankan kita menundukkan pandangan jika bertemu dengan hal-hal yang tidak baik. Berkali - kali Rasulullah SAW diriwayatkan sering memalingkan muka, dan cuma sekali beliau ditegur langsung karena memalingkan muka terhadap orang yang matanya picak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi otaknya berhenti berpikir, terdengar irama lagu dangdut dari sebuah tape dengan suara penyanyi yang sangat aneh. Dari arah suara itu terdengar pula suara - suara orang tertawa. Sepertinya hal yang lucu sedang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya seorang pengamen waria! Disandangnya sebuah tape karaoke, sepatu hak tinggi bersol tebal, hampir setebal make-up riasan wajahnya. Konde besar, perut besar, dada bidang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon hanya berdehem kepada bapak di sebelah duduknya. Ia ingin mengajaknya beradu argumentasi mengenai fenomena yang terjadi di gerbong kereta siang ini. Rupanya si bapak hanya melirik dan menutup mukanya dengan topi. Pura-pura tidur. Trik lama untuk menghindari pengamen. Furqon cuma tertawa.&lt;br /&gt;"Mari kita berdiskusi tentang waria. Urusan "ngasih" uang biar saya saja."&lt;br /&gt;"Waria itu ya 'gak papa'. Jalan hidup manusia yang tidak normal, gitu aja."&lt;br /&gt;"Kalau saya tidak setuju dengan mereka. Beberapa orang mengatakan mereka mempunyai kelainan kromosom dan lain sebagainya. Tapi bagi saya itu tetap penyakit kejiwaan, dan seharusnya mereka mau berubah. Sebab Tuhan menciptakan manusia hanya dua jenis, lelaki dan wanita. Tidak pernah diciptakan mahluk yang mempunyai berkelamin jantan tetapi bersifat betina atau sebaliknya. Cacing yang hemafrodit mempunyai dua kelamin yang pada saatnya mereka memilih apakah dia mau bersifat jantan atau betina dan itu berlaku seterusnya."&lt;br /&gt;"Jadi kesimpulanmu?"&lt;br /&gt;"Dia tetap laki-laki!"&lt;br /&gt;"Meskipun sudah operasi plastik?"&lt;br /&gt;"Meskipun begitu!"&lt;br /&gt;"Jadi salah?"&lt;br /&gt;"Iya, dalam pandangan agama tetap salah, laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan. Rasulullah SAW pernah mencirikan kedatangan kiamat dengan tanda laki-laki menjadi perempuan bukan?"&lt;br /&gt;"Itukan pandangan agama."&lt;br /&gt;"Saya cuma bisa bilang begitu, karena saya tidak bisa tentang pandangan Tuhan terhadap mereka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua ikut tertawa pada saat si waria melenggak - lenggok sambil menyanyi. Dengan "kenes"-nya dia meminta uang kepada penumpang. Yang tidak memberi, ditowelnya dengan manja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Penghiburan dalam kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tanpa syak atau prasangka&lt;br /&gt;Engkau datang meski aku tidak sadar&lt;br /&gt;aku tidur dalam lamunan&lt;br /&gt;menyangka Engkau jauh dijangkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah nikmati saja anggurmu&lt;br /&gt;sedikit bukan untuk melenakan&lt;br /&gt;melainkan sebagai tanda kehadiran&lt;br /&gt;dari Dia yang menjadi penghiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa syak atau prasangka&lt;br /&gt;dalam kehidupan ada penghiburan&lt;br /&gt;sedikit bukan untuk melenakan&lt;br /&gt;supaya kita sadar bahwa Engkau telah datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;; sebagai penghiburan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rona senja mulai membayang. Sebentar lagi sampai ke Pemalang, kurang lebih tiga jam lagi akan sampai Semarang. Hati Furqon bergetar. Hari ini bagai hari pembangkitan. Menunggu diperlihatkan Kitab Kehidupan. Dalam hatinya dia tahu bahwa semua ini pasti ada jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344855414194161?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344855414194161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344855414194161' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344855414194161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344855414194161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-vi-dalam-gerbong-kehidupan.html' title='BAB VI.  Dalam Gerbong Kehidupan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344830026289668</id><published>2006-07-20T19:13:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:18:20.266-07:00</updated><title type='text'>BAB V.  Awal Sebuah Pencarian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada hari yang telah dipikirkannya, Furqon menghadap kepada Hasan.  Niatnya untuk pulang kampung sudah bulat.  Kali Tuntang yang jernih menggemercikkan kerinduan di dalam jiwanya, basah dan gelisah hatinya.  Mengerucut seperti pucuk menara Mesjid Demak dan berundak-undak.&lt;br /&gt;"Sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi ya keinginanmu untuk pulang kampung ke Demak ya Qon?" Hasan tersenyum melihat wajah polos Furqon.&lt;br /&gt;"Benar pak, rasanya memang saya tidak cocok berada di sini.  Kalau dalam lirik lagu barat bilangnya "not belongs to me" pak!" Kekeh Furqon.&lt;br /&gt;"Wah, wah, rupanya kamu juga sudah terimbas gaya hidup metropolis.  Dikit-dikit ngomong pake bahasa Inggris."&lt;br /&gt;"People's change, pak! Hehehe..." Furqon kembali tertawa.  "Bagaimana pak, sudah dapat kan pengganti saya? Saya kasihan sama Saman."&lt;br /&gt;"Kalau kamu kasihan mendingan kamu tidak buru-buru pulang Qon.  Lagipula kamu sendiri kan tahu kalau semua orang di sini, termasuk pak Theo, baik-baik semua sama kamu dan Saman."&lt;br /&gt;"Saya juga ada keinginan untuk bertahan di sini pak, tapi rasanya saya sudah bulat untuk kembali ke kampung halaman saya.  Lagipula ada hal yang sulit saya bicarakan yang selama ini mengganggu pikiran saya, dan saya ingin semua itu harus berakhir."&lt;br /&gt;"Ya sudahlah, lebih cepat kamu selesaikan, kalau kamu mau kembali, kita bisa pertimbangkan Qon."  Hasan Ali menegaskan.  "Urusan perempuan, Qon?" Selidiknya.&lt;br /&gt;"Dibilang tidak ya iya, dibilang iya ya tidak pak ..bingung saya pak!"  Furqon tiba-tiba merasa hal aneh terjadi.  Kerinduan.  Ya, kerinduan yang datang tiba-tiba.  Bukan rasa rindu kepada kampung halamannya, bukan rasa rindu kepada keluarganya, bukan pula rasa rindu kepada Suciati.  Suciati? Apakah Furqon masih menginginkan dia? Atau Furqon masih menyimpan rindu dendam kepadanya?&lt;br /&gt;"Pak Theo menitipkan ini, beliau bilang beliau tidak dapat ikut ke Demak seperti keinginannya waktu itu", Hasan memberikan sebuah amplop kepada Furqon.&lt;br /&gt;"Apa isinya pak? Saya tidak mengharapkan apa-apa dari beliau, pesangon saya sudah cukup untuk bisa pulang ke kampung", tukasnya.&lt;br /&gt;"Hehehe, saya tidak tahu menahu soal itu.  Kamu cari tahu sendiri, ya.  Masalah pengganti kamu, kamu tidak perlu kuatir.  Mansyur sudah mencarikannya, anaknya juga baik koq."&lt;br /&gt;"Baiklah pak, kalau begitu saya pamit.  Terimakasih banyak atas bantuan bapak selama ini.  Salam saya untuk pak Syaiful."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, acara kantor yang tidak resmi terjadi.  Beberapa orang menitikkan air mata.  Memang Furqon adalah mantan napi.  Tapi kelakuannya selama hampir lima tahun membuat orang melupakan latar belakangnya.  Furqon terkenal sebagai office boy yang cekatan, ramah dan baik.  Maka tidak heran hampir semua orang di kantor itu terkejut dengan rencananya yang tiba-tiba itu.  Salah satu karyawan di tempat Furqon menanyakan kepadanya alasan kepulangan Furqon kembali ke Demak ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mencari Apakah Kamu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dalam hati&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;dalam bimbang&lt;br /&gt;dalam segala ketidakmapanan jiwa,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;resah dan berpikir merdeka&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;dalam hati&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;dalam bayang&lt;br /&gt;dalam rindu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;serta mimpi&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kemanakah jasad hidup ini pergi?&lt;br /&gt;Orang tidak pernah mencari mati&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Lalu katakanlah kemana engkau pergi?&lt;br /&gt;atau setidaknya&lt;br /&gt;katakanlah kepadaku&lt;br /&gt;mencari apakah kamu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah, dibukanya amplop pemberian pak Theo.  Isinya sebuah surat, sejumlah uang, dan sebuah foto.  Foto siapakah itu?  Di belakang foto itu ada tulisan.  Muhammad Iqbal, Penyair dari Pakistan.  Lalu di bagian bawah tertulis sebuah syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Taklukan dunia dengan kekuatan kemandirian,&lt;br /&gt;Dan pecahkan teka -teki alam semesta;&lt;br /&gt;akrablah dengan pantainya, seperti lautan,&lt;br /&gt;tetapi hindarilah berselancar di sekitar kedalaman yang tak bertepi.&lt;br /&gt;(Baal-i-Jibreel : Muhammad Iqbal)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin, pemberian saya tidak berarti.  Tapi yang saya ingin pastikan adalah bahwa kamu benar - benar pergi untuk mencari kedalaman ilmu pengetahuan tentang Dia.  Saya tidak bisa ikut serta karena saya pun akan melakukan hal yang serupa.  Meskipun kita beda agama, akan tetapi saya mendukung pencarian kamu.  Pergunakanlah uang itu untuk bekal pengembaraanmu."  Demikian isi surat dari pak Theo untuk Furqon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa ada foto itu? Muhammad Iqbal siapakah dia? Apakah dia sangat berarti di dunia ini?  Taklukkan dunia dengan kekuatan kemandirian? Entahlah, Furqon masih tidak mengerti.  Apakah pak Theo menyuruhnya untuk mempelajari siapa orang itu?  Tetapi tidak ada salahnya jika ia mencoba mencari tahu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Muhammad Iqbal! Dia itu seorang penyair, pejuang, dan pemikir Islam dari Pakistan.  Bukunya yang terkenal adalah Rekonstruksi Pemikiran Relijius dalam Islam yang diterbitkan tahun 1930." cerita seorang mahasiswa yang ditemuinya disebuah toko buku terkenal.  Siang itu Furqon mencoba mencari tahu siapakah orang di dalam foto yang diberikan oleh pak Theo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang pujangga lain, Ali Shariati mengatakan bahwa petuah Muhammad Iqbal yang terkenal adalah "Milikilah hati seperti Yesus, pemikiran seperti Socrates, dan kekuatan seperti seorang Kaisar, tetapi semuanya dalam satu orang, satu bentukan kemanusiaan, berdasarkan satu spirit, untuk mencapai satu tujuan.” tambah si mahasiswa itu.&lt;br /&gt;"Pantesan!" kata Furqon.&lt;br /&gt;"Pantesan apa?" tanya si mahasiswa heran.&lt;br /&gt;"Yang memberitahu saya soal penyair itu adalah orang Kristen, sementara petuahnya itu menyangkut soal Yesus.” Furqon menjelaskan.&lt;br /&gt;"Mungkin, tapi mungkin tidak demikian maksudnya.  Penyair sufi terkenal Khalil Gibran adalah seorang Kristen.  Tapi banyak muslim yang terinspirasi olehnya.”&lt;br /&gt;"Apakah maksudnya saya itu diminta mempelajari Ke-sufi-an?"&lt;br /&gt;"Wah, mas ini penyair ya?" tanya si mahasiswa.&lt;br /&gt;"Bukan, bukan saya hanya seorang pecinta puisi saja."&lt;br /&gt;"Bagus dong mas, sudah berapa buku diterbitkan?"&lt;br /&gt;"Waduh, saya ini bukan penyair koq .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon buru-buru pergi dari tempat itu, kemudian ia menanyakan kepada penjaga toko apakah ia bisa mendapatkan buku Rekonstruksi Pemikiran Relijius dalam Islam.  Tampaknya memang ia sedang beruntung, meskipun ia tidak mendapatkan buku yang dimaksud tapi ia mendapatkan sebuah buku yang membahas mengenai hal itu.  Buru-buru ia pulang menuju kontrakannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam itu ia termenung, pikirannya lelah.  Selepas maghrib setelah mengaji ia sudah mulai melahap buku itu.  Rupanya ia semakin hilang sebelum perjalanan pulangnya dimulai, ia telah tenggelam.  Buku itu menenggelamkan dia dalam pemikiran ajaib.  Pembebasan tetapi juga keterikatan.  Berdekatan dengan Tuhan secara bebas namun tetap terikat denganNYA.  Setiap ia memikirkannya, seakan-akan jiwanya mulai bebas, bersamaan dengan itu raganya seakan melakukan perjalanan menuju kepada keterasingan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup - sayup terdengar petikan gitar anak-anak muda di depan gang.  Mereka menyanyikan sebuah lagu lama dari Bimbo ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku jauh - Engkau jauh&lt;br /&gt;aku dekat - Engkau dekat&lt;br /&gt;hati adalah cermin&lt;br /&gt;tempat pahala dan dosa berpadu ....&lt;br /&gt;( Tuhan - Bimbo )&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama, jam berdentang menandakan pukul 12 malam.  Furqon tersadar bahwa ia belum melakukan sholat Isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344830026289668?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344830026289668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344830026289668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344830026289668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344830026289668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-v-awal-sebuah-pencarian.html' title='BAB V.  Awal Sebuah Pencarian'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344801954746988</id><published>2006-07-20T19:09:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:13:39.556-07:00</updated><title type='text'>BAB IV.  Tangisan Rindu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hampir lima tahun berlalu, Furqon akhirnya diterima bekerja di tempat itu.  Pagi ini dia bersiap - siap berangkat bekerja.  Pagi seperti biasa di kota Jakarta, asap kendaraan dari tadi sudah mengepul di mana - mana.  Suara klakson dan teriakan kernet angkutan saling bersahutan.  Di bangku belakang sopir metromini, Furqon termenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisikan Hujan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;dalam deras hujan pagi tadi&lt;br /&gt;di dalam laju kencang metromini&lt;br /&gt;di bangku belakang kemudi&lt;br /&gt;sayup kudengar bisikan menyentuh hati&lt;br /&gt;"masihkah kau ingat Aku hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas memang, kalau tidak mengantuk ya pasti melamun.  Kebanyakan masyarakat kota jakarta yang masih menggunakan angkutan umum pasti begitu.  Karena dipaksa bangun pagi supaya tidak terlambat ke tempat kerja, maka sebagian besar pasti tidur di perjalanan.  Bagi yang tidak bisa tidur, mereka menatap ke jalan memperhatikan mobil - mobil pribadi yang lewat kemudian mulai melamun memikirkan apakah mereka akan diberi kesempatan dan rejeki untuk dapat memiliki dan mengendarai mobil pribadi sendiri.  Furqon yakin dalam hati mereka ingin berteriak kepada Tuhan, mempertanyakan nasibnya.  Dalam guncangan metromini, Furqon sempat memikirkan sebuah puisi ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teriak dalam diam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Teriakkan penderitaanmu dalam diam&lt;br /&gt;tanpa kata, tanpa suara&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Teriaklah&lt;br /&gt;penderitaanmu hanya dalam diam&lt;br /&gt;tanpa kata, tanpa suara&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Lebih baik diam&lt;br /&gt;karena teriak hanya membuat engkau menderita&lt;br /&gt;ada kata tanpa suara&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Jika derita terdiam&lt;br /&gt;kau tak perlu teriak&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;jika derita teriak&lt;br /&gt;kau perlu diam&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;adakah suara tanpa kata?&lt;br /&gt;itu teriakan derita&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(mahluk memang selalu mengeluh)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Furqon pun kadang ingin begitu, tapi dia sadar akan kemampuannya.  Hal yang paling dipikirkannya adalah keinginan dia untuk dapat kembali ke kampung halamannya.  Ya, kembali ke Demak.  Itu satu-satunya cara agar dia terbebas dari semua teka - teki yang selalu berkecamuk dalam hidupnya.  Dia ke Jakarta karena merasa harapannya sirna, tapi ternyata di sini pun dia masih sering berperang bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah Furqon di kantor, segera ia menuju bagian belakang untuk mengambil sapu, ember dan kain lap.&lt;br /&gt;"Telat Furqon, aku sudah menyapu, mengepel dan membersihkan meja karyawan." Saman menyapanya ketika ia melihat Furqon tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;"Waduh, terus apa yang bisa aku bantu sekarang?"&lt;br /&gt;"Siapkan saja minuman untuk para karyawan, aku tadi belum sempat masak air."&lt;br /&gt;"Baiklah kalau begitu, aku siapkan memasak air dan menata gelas-gelasnya. Tapi nanti bantuin bawanya ya, Man."&lt;br /&gt;"Iya, iya cepat sana!" Saman pun pergi mengambil gelas-gelas.  Furqon bergegas mengambil panci dan mulai mengisi air.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama, semua gelas sudah diisi.  Karyawan sudah mulai berdatangan.  Furqon dan Mansyur pun segera mengantarkan minuman ke meja masing-masing karyawan.&lt;br /&gt;"Qon, Pak Theo minta dibuatkan teh manis tuh.", ujar Saman saat melihat Furqon datang dari ruangan lain.&lt;br /&gt;"Emang beliau sudah datang? pagi sekali beliau datang.  Pasti mau ada meeting penting ya?"&lt;br /&gt;"Sudah cepat buatin tehnya, nanti beliau marah lagi."&lt;br /&gt;"Iya, iya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theo adalah direktur sekaligus pemilik perusahaan itu.  Orangnya cukup bersahaja, namun tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok...Tok...Tok!”&lt;br /&gt;Furqon pelan-pelan mengetuk pintu ruangan Theo.  Furqon termanggu di pintu, sebab tidak ada jawaban dari dalam ruangan.  Dia bingung apa yang harus dilakukannya.  Nanti dipikirnya dia tidak sopan jika langsung menerobos masuk ke ruangan itu.  Akhirnya dia mencoba menguping suara - suara di balik pintu itu.  Dia mendengar suara isak tangis dari dalam ruangan.  Ia terkejut.  Dia menjadi semakin takut.  Perlahan dia membuka pintu.  Tampak olehnya Theo sedang menangis tersedu-sedu.  Tanpa bermaksud mengganggu dia segera saja meletakkan minuman di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theo tersenyum.  Furqon semakin bingung.  Dia ragu-ragu untuk bertanya, akan tetapi keinginan dia untuk bertanya lebih besar daripada keinginan untuk memendamnya.&lt;br /&gt;"Ada apa pak? Kenapa bapak menangis?"&lt;br /&gt;"Apakah seorang pria tidak boleh menangis, Qon?"&lt;br /&gt;"Saya tidak mengatakan itu pak, cuma saya heran kenapa seorang pria seperti bapak bisa menangis.  Pasti masalahnya sangat besar ya pak?"&lt;br /&gt;"Mungkin bagi orang lain tidak, tapi bagi saya masalah saya ini besar."&lt;br /&gt;"Kalau boleh saya tahu, masalah apa pak?"&lt;br /&gt;"Saya menangisi keadaan saya, sebagai seorang yang bergelimang harta dan kekuasaan, saya dekat sekali dengan dosa.  Sudah lama saya tidak merasa begitu akrab dengan Sang Pencipta.  Bukan berarti saya jarang berdoa atau pergi ke gereja.  Tapi hati saya merasa masih jauh dariNYA.  Hal itulah yang saya tangisi Qon..."&lt;br /&gt;"Masalah besar itu pak...bagi saya perasaan saya jauh dari DIA adalah masalah yang besar.  Mungkin itu juga yang sedang saya rasakan selama ini."&lt;br /&gt;"Terus, apa yang akan kamu lakukan?"  Tanya Theo.&lt;br /&gt;"Entahlah pak, saya juga lagi bingung, apa yang sedang saya pikirkan dan apa yang hendak saya lakukan.  Cuma dalam pikiran saya, saya ingin pulang ke kampung halaman saya."&lt;br /&gt;"Apa yang bisa kamu lakukan di kampung halaman kamu?"&lt;br /&gt;"Mungkin saya akan menemui guru ngaji saya untuk bertanya."&lt;br /&gt;"Hm, mungkin juga berarti saya perlu pergi bertemu para pendeta.  Kalau kamu mau pulang, tolong kasih tahu saya, mungkin Hasan bisa mencari pengganti kamu sementara, juga saya mungkin ingin tahu apa yang akan kamu lakukan setelah di kampung."&lt;br /&gt;"Pak Theo mau ikut saya?"&lt;br /&gt;"Mungkin, karena tidak mungkin saya meninggalkan kantor terlalu lama."&lt;br /&gt;Theo kemudian memberikan secarik kertas pada Furqon.&lt;br /&gt;"Ini yang tadi saya lakukan, mungkin tidak berarti apa-apa bagi kamu, tapi karena tadi kamu menanyakannya maka aku memberitahukan secara detail kepadamu.  Bacalah, karena aku tahu kamu juga suka menulis puisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon menerima kertas itu, dan menyimpannya.  Kemudian meminta diri keluar dari ruangan.  Setelah menyimpan nampan di rak piring, dia mengambil kertas pemberian pak Theo dan mulai membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sudah Sepatutnya Aku Menangis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah sepatutnya aku menangis&lt;br /&gt;ketika kusaksikan dalam hatiku&lt;br /&gt;ada takut pada yang fana&lt;br /&gt;selalu menggebu&lt;br /&gt;tragis!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sudah sepatutnya aku menangis&lt;br /&gt;pada saat engkau mengetuk hatiku&lt;br /&gt;aku tidak memandangmu&lt;br /&gt;bukan karena malu&lt;br /&gt;harga dirikulah yang menepis!&lt;br /&gt;sadis!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sudah sepatutnya aku menangisi&lt;br /&gt;kehidupanku yang tampak terisi&lt;br /&gt;tapi sebenarnya tidak berisi&lt;br /&gt;sama sekali&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Perhiasan dunia membuat aku gelap mata&lt;br /&gt;tak kukejar lagi jalan ke surga&lt;br /&gt;sampai akhirnya terlena&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Aku sudah membuang tenaga,&lt;br /&gt;harta, dan usia&lt;br /&gt;sia – sia&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Seandainya KAU berada disini&lt;br /&gt;duhai Sang Kekasih Hati&lt;br /&gt;aku yakin sekali&lt;br /&gt;KAU tak mau melihatku&lt;br /&gt;karena ucapanku padamu dulu&lt;br /&gt;"aku cinta pada-MU"&lt;br /&gt;semuanya semu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sebagai pengelana&lt;br /&gt;aku hampir tidak mengenali lagi&lt;br /&gt;jalanku untuk kembali&lt;br /&gt;padamu duhai Sang Kekasih Hati&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Apakah Engkau akan menerimaku&lt;br /&gt;pada saat kuketuk pintu rumah-Mu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan Furqon pun mulai menangis, entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya.  Tapi tekadnya sekarang sudah bulat, ia harus kembali.  Kembali ke Demak, kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344801954746988?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344801954746988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344801954746988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344801954746988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344801954746988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-iv-tangisan-rindu.html' title='BAB IV.  Tangisan Rindu'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344773821602890</id><published>2006-07-20T19:07:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T19:08:58.220-07:00</updated><title type='text'>BAB III.  Penantian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Blora dengan kesunyiannya, jauh dari gambaran sebuah kota kabupaten yang ramai. Sebuah kota antara. Tidak gunung, tidak juga laut. Hutan - hutan jatinya banyak, tapi sudah banyak pula yang telah lama menjadi korban penjarahan kayu dan pembalakan liar. Meskipun Jepara terkenal dengan ukirannya, tapi sesungguhnya Blora lah tempat kayu jati yang bagusnya. Bukit - bukit kapur konon memperkokoh struktur kayu jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blora memang tidak begitu jauh dari Demak, Jepara, dan Cepu, serta Probolinggo. Maka tidaklah mengherankan sering terjadi roman antara orang Demak, Jepara, Cepu dan Blora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suciati, anak seorang penjual sate sapi khas Blora tidaklah sedang menanti datangnya jodoh ketika pada suatu sore seorang pemuda dari Demak makan di warungnya.&lt;br /&gt;Tak ada banyak perkataan ketika pembicaraan itu mulai.&lt;br /&gt;"Yu, Satenya Yu ..."&lt;br /&gt;"Monggo Mas .."&lt;br /&gt;Sehabis Suci menyorongkan piring nasi, sambal, kecap, dan potongan tomat - bawang merah - cabe rawit, kepada pemuda itu, maka pemuda itu hanya terdiam sambil sepintas melirik padanya dan tersenyum.&lt;br /&gt;"Bukan orang sini ya mas?"&lt;br /&gt;"Saya orang Demak Yu, lagi coba-coba cari pekerjaan ke sini ..Siapa tahu ada.."&lt;br /&gt;"Demak kan lebih ramai dibandingkan Blora, mas ...koq cari pekerjaan disini sih?"&lt;br /&gt;"Aku dengar disini banyak penebangan kayu jati Yu ..aku pengin kerja itu, katanya uangnya banyak."&lt;br /&gt;"Ah, Mas belum tahu kalau pekerjaan itu sudah banyak makan korban?"&lt;br /&gt;"Korban apa Yu?"&lt;br /&gt;"Polisi Kehutanan sedang gencar-gencarnya mengadakan operasi penangkapan oknum-oknum penebangan liar, Mas." Suciati melanjutkan, "Memangnya Mas ini benar-benar belum punya pekerjaan ya?"&lt;br /&gt;"Ya ada sih Yu, aku ini tukang ukiran juga."&lt;br /&gt;"Nah, itu ...bukannya sudah bagus kerjaan itu?"&lt;br /&gt;"Iya sih, cuma aku lagi pengin cari tambahan modal buat ke Jakarta."&lt;br /&gt;"Lho, ngapain ke Jakarta Mas?"&lt;br /&gt;"Ada orang buka bengkel ukir di Jakarta Selatan, dia minta majikanku disini kirim orang untuk memperlihatkan keunikan ukiran Demak sekalian mengawasi tukang ukir di bengkel ukirnya di daerah Jakarta Selatan"&lt;br /&gt;"Wah bagus dong itu..."&lt;br /&gt;"Iya, tapi majikanku di sini melarang aku untuk ke sana, alasannya kalau aku ke sana pasti orang Jakarta itu tidak pesan lagi ukiran ke dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah awal perkenalannya dengan Furqon tiga tahun yang lalu, kemudian mereka sering berkirim kabar melalui surat. Tapi petaka, setidaknya bagi dirinya, terjadi ketika seorang anak Lurah melamarnya untuk menjadi istrinya. Suci tidak dapat terhindar dari keterikatan anak - orang tua - dan harta. Orang tuanya lebih memilih pada Thole Dewondaru, yang punya perkebunan tembakau dan kopi dibandingkan dengan Furqon yang hanya seorang Tukang Ukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suciati hanya termanggu ketika duduk di pelaminan. Furqon tidak lagi mengirimkan kabar semenjak Suci menceritakan bahwa dia dilamar oleh Mas Dewo.&lt;br /&gt;Selang seminggu dia menikah, dia terkejut. Sosok Furqon muncul di warung sate bapaknya. Diam, tidak berkata-kata. Hanya menikmati makannya. Suci tercekat, tak ada kata yang bisa diucap. Dewo yang ketika itu menjemputnya kaget melihat istrinya terbengong-bengong.&lt;br /&gt;"Ada apa Suci?"&lt;br /&gt;"Hhhh ..tidak ada apa-apa Mas.."&lt;br /&gt;“Kamu seperti orang linglung!"&lt;br /&gt;Dewo menatap ke arah mana istrinya menatap lama tadi. Dilihatnya seorang pemuda yang cukup ganteng sedang menikmati sate sapi.&lt;br /&gt;“Siapa dia?"&lt;br /&gt;"Gak tahu mas.."&lt;br /&gt;"Jangan bohong kamu Suci!" Dewo sedikit menghardik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon terperanjat, kemudian dia berdehem.&lt;br /&gt;"Maaf mas, bukannya saya tidak sopan, tapi boleh saya jelaskan kejadiannya?"&lt;br /&gt;"Kamu apakan istriku?"&lt;br /&gt;"Begini Mas, Saya Furqon, saya dulu kekasih Mbak Suci ini."&lt;br /&gt;"Oh gitu.., Asal Mas tahu saja, Suci ini sudah menjadi istri sah saya! Awas kalau Mas macam-macam dengan dia."&lt;br /&gt;"Saya tidak bermaksud apa-apa koq."&lt;br /&gt;"Sudahlah ..pergi sana, dan jangan kembali lagi!!!"&lt;br /&gt;Dewo mengusir Furqon.&lt;br /&gt;Tanpa melirik lagi, Furqon segera berlari menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pulang, dalam benaknya terdengarlah sebuah lagu ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lagu Kekalahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Puing hatiku berserak&lt;br /&gt;ketika engkau berpaling dariku&lt;br /&gt;ingin aku teriak&lt;br /&gt;tapi tak ada suara, lidahku kelu&lt;br /&gt;Pada siapa aku berkesah?&lt;br /&gt;jika kekasih pun berlalu&lt;br /&gt;hati ini gelisah&lt;br /&gt;karena dirimu menjauh&lt;br /&gt;Kunyanyikan lagu kekalahan&lt;br /&gt;kekalahan atas cintamu&lt;br /&gt;walau aku ingin mengejar&lt;br /&gt;langkahmu sudah tak terukur&lt;br /&gt;jauh dari hatiku&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Putus cinta membawa Furqon pada keputusan nekadnya untuk pergi ke Jakarta. Tapi putus cinta membawa Suci pada ketaatannya menjadi istri dan seorang ibu dari anaknya. Memang anak itu berasal dari Dewo orang yang tidak ia cintai, tapi anak itu adalah bagian tubuhnya yang keluar dengan rasa pasrah pada Gusti ALLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintanya pada Furqon memang tidak membuatnya buta, justru cintanya pada Furqon membuat dia bisa melihat bagaimana seharusnya manusia menaruh impiannya setinggi-tingginya pada bintang dan memasrahkannya pada Tuhan untuk mewujudkan atau menggagalkannya. Karena Tuhan diatas segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sudah berlalu dan entah mengapa malam tadi Suci bermimpi melihat Furqon. Apakah dia akan kembali ke Demak? atau ini hanya karena di hati yang paling dalam dia pernah mencintai pemuda itu? Teringat dia akan sebuah puisi yang pernah dituliskan oleh Furqon untuknya, dulu puisi itu dituliskan dengan angan-angan bahwa dia akan menantikan Furqon yang mengembara untuk mempersiapkan hari indah mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Menanti&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku menanti, bukan untukmu&lt;br /&gt;tapi untuk berita&lt;br /&gt;berita apa yang engkau bawa kepadaku?&lt;br /&gt;bagaimanakah kota besar?&lt;br /&gt;apakah dia sombong kepadamu?&lt;br /&gt;atau engkau tidak bisa bergaul dengannya?&lt;br /&gt;Tak mengapa kita terpisah&lt;br /&gt;aku sudah rela&lt;br /&gt;pada cinta yang kandas&lt;br /&gt;tapi aku belum rela&lt;br /&gt;karena kau belum berbagi kisah hidupmu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan Suci terhenti isak tangis anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344773821602890?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344773821602890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344773821602890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344773821602890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344773821602890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-iii-penantian.html' title='BAB III.  Penantian'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344759568119262</id><published>2006-07-20T19:05:00.000-07:00</published><updated>2006-07-23T20:19:02.680-07:00</updated><title type='text'>BAB II.  Pedang Penajam Pikir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada waktu itu hanya sehari memang Furqon menginap di balik jeruji tahanan polisi. Tapi hampir sama seperti malam ini, dia tidak bisa tidur. Di antara bunyi dengkur penghuni lain, denging suara nyamuk, dan hentakan sepatu bot yang menandakan si empunya terkantuk-kantuk, dia masih bergulat dengan pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;demi kebebasanku&lt;br /&gt;aku rela berada disini&lt;br /&gt;dalam ruang sempit berjeruji&lt;br /&gt;karena aku tahu engkau Guru&lt;br /&gt;ada dalam hatiku&lt;br /&gt;membebaskan aku dalam kesempitan ini&lt;br /&gt;merontokkan jeruji kebebalanku&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jam terus berdetak maju, sesekali ditepuknya nyamuk yang menyambangi telinganya. Dia tidak mengantuk, dan tidak menyesali keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga tidak merasa terganggu dengan riuh rendahnya suara orang-orang yang baru masuk digiring sekawanan polisi. Ada yang teriak mengaduh, ada yang menjerit dan meronta-ronta, tapi tak satupun terdengar meminta ampun dosanya. Sungguh mengherankan memang. Tapi itu kenyataan. Yang terdengar malah sumpah serapah dan makian serta kata-kata yang menyalahkan kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang diantaranya memandang tajam kepadanya, seakan-akan dia hendak menelan Furqon bulat-bulat dalam bola matanya. Tapi Furqon tidak ciut, dia hanya memandang kosong pada jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada tatapan matamu itu&lt;br /&gt;aku tahu&lt;br /&gt;jiwamu tiada disitu&lt;br /&gt;hatimu telah pergi menjauh&lt;br /&gt;karena tak kudapati cahayaMu&lt;br /&gt;walau setitik lampu&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang usaha sang pendatang baru mengusiknya, dengan keras dia menghardik Furqon yang sedang duduk di sudut ruang tahanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, Kenapa kamu melihat ke arah aku? Aku tidak suka kamu melihat seperti itu padaku! Sudah minggir saja kamu dari tempat itu, aku mau duduk di situ!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furqon segera berdiri, ditepiskannya debu yang menempel di celananya. Dengan sigap dia menyambut tangan sang tahanan baru, segera disalaminya dan dengan tegas dia mengucapkan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat datang di ruang tunggu penderitaan ini, terserah anda kalau ingin lebih lama di sini! Anda belum tahu saya kan?", lirih diucapkan namun tegas di telinga sang tahanan baru.&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Furqon, sang tahanan baru termangu. Furqon segera buru-buru menambahkan "Silahkan saudara ambil tempat duduk saya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi merasa digertak seperti itu, sang tahanan baru mengkeret, dia pun dengan pelan berkata "Terimakasih pak, saya di sini saja duduknya" diraihnya selembar kertas koran usang yang terserak di lantai dan dikibas-kibaskannya untuk membersihkan lantai itu. Kemudian ia pun meletakkan pantatnya duduk di lantai ruang tahanan yang dingin dan kusam. Tak lama kemudian dia sudah melamun. Entah melamunkan apa, yang jelas mukanya tak nampak sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat seperti ini Furqon ingat pada masa lalunya, sewaktu ia masih sering mengaji pada Kyai Mukhlisin. Malam menjelang subuh, sewaktu dia beritikaf di mesjid, dia sering dibangunkan beliau untuk melakukan sholat tahajud. Kemudian beliau sesenggukan menangis ketika membacakan surah - surah tentang neraka. Furqon sering bengong mengalami hal ini. Suasananya sama, sepi dan dingin. Tapi auranya berbeda! Di waktu lampau, aura di ruangan yang sepi dan dingin adalah aura yang menyejukkan jiwa. Membawa hati pada awan-awan putih yang sepertinya turun dan mengangkat dirinya jauh menembus kegelapan malam di desa Prigi, Kebon Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini aura yang dia rasakan di malam yang sepi dan dingin ini adalah aura merah panas hitam yang menyesakkan. Hawa amarah jelas ada di ruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kematian api suci&lt;br /&gt;kurasakan di tempat ini&lt;br /&gt;duh Gusti...&lt;br /&gt;aku tobat dan berjanji tidak akan lagi&lt;br /&gt;melangkah di tempat sunyi&lt;br /&gt;jauh dari cintamu yang sejati&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Subuh menjelang, Syaiful yang tidur di ruang jaga terbangun oleh pengeras suara yang mengumandangkan adzan subuh di mesjid dekat kantornya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata masih mengantuk dia berjalan ke arah belakang. Mushola berada dekat dengan ruang tahanan. Lewati ruang tahanan dia melihat masih banyak orang yang tidak bisa tertidur di dalamnya. Beberapa pasang mata menatapnya geram karena mungkin pemiliknya dendam padanya. Dia hanya tersenyum kecut melihatnya.&lt;br /&gt;Ketika hampir menuju pintu mushola dia mendengar namanya dipanggil.&lt;br /&gt;"Pak Syaiful..."&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;Dilihatnya si penjudi kampung itu berdiri dan menatapnya tajam.&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;"Bapak mau sholat subuh? saya ingin sholat subuh berjama'ah boleh kah?"&lt;br /&gt;"Bagaimana bisa? Aku tidak akan mengeluarkan kamu dari situ!"&lt;br /&gt;"Badan saya memang berada di dalam sini, sementara ini.  Tetapi hati saya tidak"&lt;br /&gt;"Sudahlah, aku mau segera sholat!"&lt;br /&gt;"Bapak ucapkan saja keras-keras bacaannya.  Nanti saya mengikuti di sini"&lt;br /&gt;"Terserah kamu lah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah mengapa, permintaan Furqon yang sangat mengejutkan itu membebani pikirannya.  Dan akhirnya, dia menurutinya. Ketika sholat, Syaiful membaca dengan keras bacaan sholatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat, Syaiful menemui Furqon lagi.&lt;br /&gt;"Kamu masih ingat untuk sholat? Kenapa tadi malam kamu berjudi?"&lt;br /&gt;"Saya berjudi itu karena terpaksa saja, pak!"&lt;br /&gt;"Ada-ada saja kamu, terpaksa berjudi?"&lt;br /&gt;Syaiful tertawa.&lt;br /&gt;"Pernah tidak dalam hidup bapak, bapak melakukan perjudian?"&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;"Bertaruh pak"&lt;br /&gt;"Ya, mungkin pernah!"&lt;br /&gt;"Tadi malam itu lah yang saya lakukan pak"&lt;br /&gt;"Tapi dengan berjudi?"&lt;br /&gt;"Saya sudah tidak mempunyai pilihan pak. Uang saya untuk modal usaha banyak berkurang karena merugi di usaha lain, tadi malam saya cuma mengandalkan keahlian saya bermain kartu untuk menambah modal saya"&lt;br /&gt;"Halah, alasan klasik!"&lt;br /&gt;"Saya belum pernah melakukan itu sebelumnya pak!"&lt;br /&gt;"Terus apa rencanamu setelah keluar nanti?"&lt;br /&gt;"Saya tetap cari jalan untuk berjualan lagi pak."&lt;br /&gt;"Memangnya sudah ada jalan untuk modalnya?"&lt;br /&gt;"Belum pak, mungkin saya perlu kerja dulu"&lt;br /&gt;"Kamu pendatang?"&lt;br /&gt;"Iya pak, saya dari Demak"&lt;br /&gt;"Pulang sajalah, daripada kamu di sini lontang-lantung"&lt;br /&gt;"Saya melarikan diri dari masalah saya di kampung, pak"&lt;br /&gt;Syaiful melotot tajam pada Furqon.&lt;br /&gt;"Kamu membunuh seseorang? mencuri atau .."&lt;br /&gt;"Saya patah hati pak"&lt;br /&gt;Syaiful kembali tertawa. Para penghuni tahanan yang lain tampak sudah mulai bangun dan mengeliatkan badan, ada beberapa orang yang mulai terganggu dengan suara tawa Syaiful.&lt;br /&gt;"Masakan cuma gara-gara patah hati, kamu tidak mau pulang kampung?"&lt;br /&gt;"Suaminya yang mau membunuh saya pak"&lt;br /&gt;"Oh..Jadi kamu pacaran sama istri orang?"&lt;br /&gt;"Bukan pak, tapi dia akhirnya nikah sama orang lain"&lt;br /&gt;"Kenapa suaminya mau membunuh kamu?"&lt;br /&gt;"Karena Suci tidak tulus hati mencintai suaminya itu"&lt;br /&gt;“Oh pacarmu namanya Suci, pasti cantik ya sampai-sampai kamu begitu mencintainya.”&lt;br /&gt;“Cantik menurut saya, tapi belum tentu menurut bapak kan? Saya masih menduga bahwa dia belum bisa mencintai suaminya, makanya saya masih sering memikirkannya.”&lt;br /&gt;"Tahu apa kamu soal cinta? Sebentar lagi dia juga pasti mencintai suaminya. Wanita itu memang suka jaga gengsi soal perasaan cintanya. Tapi lambat laun pasti dia bakal jatuh hati pada lelaki yang penuh perhatian pada dirinya."&lt;br /&gt;"Sepertinya bapak paham sekali soal cinta."&lt;br /&gt;"Tidak, cuma fenomenanya begitu."&lt;br /&gt;"Jadi saya harus bagaimana pak?"&lt;br /&gt;"Kembali ke Demak itu lebih baik daripada kamu di sini tidak jelas pekerjaanmu!"&lt;br /&gt;"Nanti saja pak, saya ingin berusaha dulu."&lt;br /&gt;"Kamu bisa apa?"&lt;br /&gt;"Wah, tadinya ya saya jualan batik pak.  Tetapi dengan kondisi seperti ini, pekerjaan apa saja akan saya ambil untuk mencari modal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful hanya menghela nafas dan dia pamit untuk bersiap pulang. Siang sudah menjelang. Furqon hanya menatap punggung Syaiful yang dengan cepat berjalan menuju ke depan. Di dalam fikirannya hanyalah dia ingin segera mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tatapan matamu, Sang Kekasih Hati&lt;br /&gt;meruntuhkan hatiku&lt;br /&gt;tak kuasa aku melangkah lagi&lt;br /&gt;semuanya jadi layu&lt;br /&gt;akal, jiwa, dan diri&lt;br /&gt;seakan membatu&lt;br /&gt;saat engkau menatap tepat di hati&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran pedang lidah telah menyayat hati kedua pria itu, menajamkan fikiran mereka akan satu sama lain. Syaiful berpikir bahwa sejatinya Furqon itu orang baik, sebaliknya Furqon juga berfikiran bahwa di balik kata-kata Syaiful yang kadang tajam mengandung kebaikan untuk siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344759568119262?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344759568119262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344759568119262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344759568119262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344759568119262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-ii-pedang-penajam-pikir.html' title='BAB II.  Pedang Penajam Pikir'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31432957.post-115344748323983640</id><published>2006-07-20T19:02:00.000-07:00</published><updated>2006-07-21T04:35:49.766-07:00</updated><title type='text'>BAB I.  Penjara Hati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sudah 5 tahun telah berlalu semenjak Furqon bertemu dengan Syaiful Huda, seorang polisi yang berusaha menangkapnya di arena perjudian kecil di gang sempit di pinggiran kali Cisadane, namun Furqon masih mengenangnya. Bukan dendam. Kata-kata Syaiful membuat dirinya merasa tertampar dan terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu itu punya otak gak ? Sudah miskin malah cari jalan masuk bui!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya dia tidak terima ada yang mengolok-olok dia begitu rupa, karena ia berjudi karena ingin bebas dari kemiskinan. Dia saat itu tidak dalam posisi yang bisa membantah. Pikirannya cuma tertuju pada borgol dan sel tahanan serta keisengan-keisengan kecil yang akan diterimanya nanti di tahanan. Dia bukan pembunuh dan koruptor kakap yang biasanya disegani oleh sesama penghuni tahanan nantinya. Dia cuma seorang penjudi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga sebenarnya tidak terima diolok-olok sebagai orang yang tidak mempunyai otak, bisa kualat nanti!  Karena Tuhan selalu menciptakan manusia lengkap semua organnya.  Lagi pula Furqon dulu jago matematika di sekolahnya, dan pernah menjadi wakil sekolah ke kejuaraan cerdas cermat di tingkat karesidenan Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia terdampar lagi di sini, di dalam kamarnya yang sempit. Terpenjara dalam pikiran-pikirannya sendiri. Terkungkung dalam keinginan yang tidak tentu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Hari ini, lima tahun yang lalu&lt;br /&gt;aku berada di bawah jurang kekelaman&lt;br /&gt;apakah Engkau melihatku?"&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlahan dia menorehkan isi hatinya itu pada selembar kertas, entah mengapa malam ini dia mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. Mungkin karena malam ini malam begitu sunyi di perkampungan kumuh itu. Biasanya ada canda tawa para pemuda yang sesekali ditingkahi dengan suara gitar yang fals menyanyikan lagu-lagu populer. Mereka sangat aktif menggoda buruh-buruh wanita yang terkantuk-kantuk pulang malam, atau pramuniaga toko yang sedikit centil tapi suka menjaga gengsi. Yang menggoda tertawa terbahak-bahak, yang digoda kadang tersipu malu dan berlari kecil menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini begitu sunyinya, sampai-sampai bunyi meteran listrik di tetangga dapat terdengar olehnya. Lamat-lamat suara siaran pertandingan sepak bola terdengar di gardu ronda, tapi tidak terdengar suara orang-orang yang meronda. Mungkin mereka asyik tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dia senang karena Syaiful memberikan pekerjaan setelah dia lepas dari tahanan. Memang bukan suatu pekerjaan yang bagus, tapi rasanya cukup untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Untungnya dia bukan seorang perokok, jadi gajinya jika sekedar untuk sarapan, makan malam dan sedikit menabung buat modal pulang kampung sudah cukup lah. Untungnya lagi, dia dapat jatah makan siang di tempat kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaiful mau menolong dia untuk bekerja sebagai office boy di kantor kakaknya, karena selama di tahanan Furqon menunjukkan sikap yang baik. Tapi memang saat itu siangnya setelah dilepas, Furqon memberanikan diri bertanya baik-baik pada Syaiful mengenai peluang kerja. Setiap minggu, Furqon menyengajakan diri untuk bertemu dengan Syaiful. Ia mencari dan menanyakan kembali peluang kerja yang pernah dimintanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung lah penantiannya tidak terlalu lama.  Kira-kira dua bulan semenjak dia menanyakan hal itu, Syaiful dengan ramah memperkenalkannya pada Hasan Ali kakaknya yang menjadi seorang manajer personalia di sebuah perusahaan periklanan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Furqon yang gigih memang menggambarkan betapa dia ambisius jika sedang berharap mengenai sesuatu.  Termasuk pada cita-citanya yang tinggi ketika ingin menjadi seorang insinyur pertanian. Selepas SMP, dia ingin melanjutkan sekolahnya ke SMU favorit di kota Demak.  Lantaran bapaknya - pak Mansyur - meninggal dunia, dia terpaksa mengubur cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi office boy selama 5 tahun ini membuatnya semakin sabar.  Karena selama dia bekerja di situ, banyak orang yang bersikap &lt;em&gt;bossy&lt;/em&gt; terhadapnya. Untungnya, Furqon hanya memandang mereka dari tips yang diberikan kepadanya saja. Jadi tidak pernah ucapan atau tindakan mereka yang masuk ke dalam hatinya.  Pikirnya "Tidak mengapa jika sementara ini uang adalah raja bagi pelayanannya".  Sepanjang orang tersebut tidak menginjak harga dirinya sebagai seorang laki-laki dan hamba Tuhan, dia tidak akan mengeluh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada banyak omongan dari guru dan orang-orang tua kepadanya dulu, yang akhir-akhir ini, banyak dipakainya di dalam melakukan pekerjaannya.&lt;br /&gt;"Senyumlah kepada mereka, karena senyum itu ibadah."&lt;br /&gt;"Jika orang merendahkan kamu, sesungguhnya dia lah yang rendah daripadamu, karena itu jangan diambil tindakan apapun padanya."&lt;br /&gt;"Jika engkau menjadi pelayan, layanilah mereka dengan sepenuh hati, karena tidak selamanya engkau akan jadi pelayan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Furqon memikirkan sesuatu.  Siang tadi, dia melihat dengan jelas sosok pimpinan perusahaan tempa dia bekerja sedang menangis sedih ketika berdoa. Entah dia berdoa karena kesedihannya atau dia berdoa untuk menghilangkan kesedihannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kenapa orang yang kelihatannya bahagia, sejahtera dan selalu gembira harus menangis ketika berdoa?", pikirnya.  Kemudian pikirannya pun sambung menyambung, "Apakah kebahagian dunia ini memang benar-benar semu? Ataukah dunia ini memang penuh dengan kesedihan?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, dia pun memikirkan bahwa 5 tahun adalah waktu yang lama untuk baru menyadari hal-hal yang belum pernah terlintas di pikirannya selama ini.  Furqon pun mulai memikirkan di mana kah letak sebuah kebahagiaan?  Lalu, kenapa harus ada kesedihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temannya sesama office boy di kantornya sering berkelakar hal-hal yang berhubungan dengan kebahagiaan. Misalnya komentar mereka tentang para koruptor yang di penjara, mereka sering mengatakan "Koruptor itu belum tentu bisa tertawa seperti kita sekarang.  Tetapi, mereka bisa makan enak setiap hari di penjara!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;atau "Kita sekarang ini masih bisa makan sambil tertawa, tetapi mereka, para koruptor itu, sekarang bisa makan dan tertawa senang di Singapura.  Padahal kita semua tahu dari berita di koran dan televisi kalau mereka sedang menjalani hukuman di Pulau Nusa Kambangan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi pikiran soal kebahagiaan semu, kesedihan semu atau hal-hal semacam itu sedang melanda pikiran Furqon malam hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dicoretnya sehelai kertas dengan pensil 2B yang hampir setengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Kalau malam ini aku bertanya kepadaMU,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;  apakah Engkau akan menjawab?&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ibu-ibu yang pulang dari pasar juga bunyi  "terompet genggam" tukang roti yang melalui gang di samping rumah membuat dia teringat bahwa satu jam lagi dia harus berangkat ke kantor. Terhuyung-huyung dia berjalan menuju kamar mandi. Semalaman ini hatinya terasa dipenjarakan oleh butir-butir pertanyaan mengenai kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan dia bersenandung kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kekasihku, kepadamu lah aku menitipkan hatiku&lt;br /&gt;jagalah itu, jangan sampai aku memintanya kembali...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31432957-115344748323983640?l=kembali-ke-demak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/feeds/115344748323983640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31432957&amp;postID=115344748323983640' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344748323983640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31432957/posts/default/115344748323983640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kembali-ke-demak.blogspot.com/2006/07/bab-i-penjara-hati.html' title='BAB I.  Penjara Hati'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
