Kembali Ke Demak

Monday, July 24, 2006

BAB XXI. Cahaya Purnama

“Secara umum, kondisi pasien dalam keadaan baik. Lukanya memang cukup parah, tengkoraknya ada yang retak. Tetapi kondisi otaknya masih cukup baik. Saya kira dengan kondisi seperti ini, perlu dilakukan operasi untuk memperbaiki tulang-tulang tengkoraknya. Mungkin pagi ini kami kirim pasien ini ke Rumah Sakit di Kota”, demikian penjelasan dokter Anton tentang kondisi Amir.

Bapak Sekretaris Desa Maryono, Budi, dan Furqon tampak lega setelah mendengar hal itu. Sejurus berselang, dokter Anton meminta diri keluar ruangan. Budi pun keluar diikuti oleh Maryono. Lalu keduanya tampak berbincang serius. Furqon memandangi Syaiful yang terbujur di pembaringannya. Dia tampak sangat terpukul dengan kondisi sahabatnya, orang yang pernah mengentaskannya dari sebuah penjara.
“Jika ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu, katakanlah”, desisnya lirih.
Dan seakan mendengar, Syaiful membuka matanya. Demi dilihatnya Syaiful bangun dari pingsannya, Furqon tersenyum. Dia melihat Syaiful tampak hendak mengucapkan sesuatu. Didekatkannya telinga ke arah mulut Syaiful yang terbata-bata.
“Ha..ti ..ha..ti..lah...”
Demikianlah kata-kata yang dapat ia dengar. Furqon kemudian berpikir keras, “Siapakah yang sebenarnya telah melakukan teror atas kehidupannya?”

Sebelum dia berpikir banyak, Budi masuk.
“Furqon, sebaiknya kita bicara di luar. Ada sesuatu yang perlu saya tanyakan padamu.
“Apa itu pak?”, Furqon terperangah.
“Mari”, kata Budi tanpa basa-basi menarik tangan Furqon.
Sesampai di luar, Maryono juga masih menunggu.
“Aku masih penasaran soal apa yang kau ceritakan tadi di tepi hutan jati”, demikianlah Budi memulai pembicaraan.
“Sebenarnya siapakah Amir itu?”, tanyanya setelah itu.
“A..amir itu..”, Furqon tergagap, dilihatnya Maryono. Maryono pun memandanginya dengan tatapan yang aneh.
“Amir itu adalah nama samaran pak Syaiful”, jawabnya pendek.
“Aku tahu siapa Iptu Syaiful, tetapi kenapa dia menggunakan samaran sebagai Amir?”, tanya Maryono.
“Siang itu sebelum ke rumahku. Pak Syaiful mampir ke mushola dekat rumah. Di sanalah dia memperkenalkan diri sebagai Amir kepada ustadz Arifin.”
“Oh, begitu. Itu alasan kamu tadi mencurigai ustadz Arifin?”, desak Budi.
“Begitulah pak Budi, walaupun aku juga tidak percaya. Tetapi kejadian tadi siang membuat aku sempat berpikiran begitu.”
“Iptu Syaiful mungkin mencurigai Arifin!”, dengus Maryono.
“Mencurigai?”, Budi merasa bingung.
“Iptu Syaiful itu kan sedang mencari teroris. Mungkin Arifin sedang diselidikinya”, jelas Maryono kepada Budi.
“Tapi, mereka baru bertemu tadi siang”, ucap Furqon tak percaya.
“Mungkin saja Iptu Syaiful sudah mengantongi identitasnya”, Maryono membuat teori.
“Sudahlah, mungkin setelah dia sehat kita bisa menanyakan langsung kepadanya”, Furqon menyerah.
“Lalu bagaimana dengan ustadz Arifin?”, Budi kebingungan.
“Sebaiknya kita tangkap dia!”, desak Maryono.
“Apa buktinya pak Sekdes? Jangan main tangkap sembarangan, nanti keadaannya malah jadi kisruh!”, Furqon menyadarkan akan akibat gagasan Maryono.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan?”, Maryono bertanya-tanya.
“Jika besok ustadz Arifin pulang, aku akan menanyakan langsung kepadanya”, Furqon bertekad demikian karena yakin ustadz Arifin bukanlah pelakunya. Karena selama ini Furqon telah banyak belajar mengenai cinta Illahiah yang dicarinya selama ini dari ustadz muda tersebut. Meskipun tadinya dia curiga kepadanya, tetapi setelah dipikirnya kecurigaan itu sangatlah tidak beralasan.
“Kamu yakin Furqon?”
“Mudah-mudahan prasangkaku tidak terbukti”, air muka Furqon bersungguh-sungguh.
“Kami tunggu kabarnya secepatnya, tapi Furqon sebaiknya kamu berhati-hati”, kata Maryono.
“Aku juga akan berjaga-jaga jika hal itu benar adanya. Akan kukerahkan semua pemuda di kampung kita!”, Budi pun serius.
“Jangan dulu! Lebih baik biar aku yang bertanya sebagaimana selama ini sering terjadi seperti seorang murid dan guru”, jelas Furqon.
“Baiklah jika memang keinginan kamu begitu, yang jelas kami semua turut waspada”, Maryono sepertinya kuatir sekali.

Mereka pun akhirnya berpisah. Furqon kini menjaga Syaiful sendirian di Puskesmas. Hanya ada dokter jaga dan seorang perawat. Setelah melihat kondisi dari temannya, Furqon berjalan-jalan di ruang tunggu. Tak kuasa dia menahan gelisah, pada dokter jaga yang terkantuk-kantuk sambil mendengarkan siaran radio, dia pamit untuk keluar.

Tiba di luar, udara dirasakannya sangat dingin. Sarung yang sedari tadi dililitkan di pinggang, dirapatkan ke tubuhnya yang hanya mengenakan kaos dalam saja. Kemejanya tadi sudah digunakan untuk membebat luka di kepala Syaiful. Furqon menggigil kedinginan, dia pun ingin cepat-cepat masuk kembali ke dalam ruang tunggu Puskesmas.
“Furqon!”
Terdengar suara seseorang memanggilnya dengan kasar. Furqon menoleh kepada asal suara itu. Seseorang tengah berdiri di depan pintu halaman Puskesmas. Furqon terkejut, orang itu adalah orang yang sama yang mendatanginya untuk mengalahkan egonya sebagai seorang lelaki.
“Dewo?”
“Kau masih ingat siapa aku rupanya. Pasti kau juga masih ingat apa yang pernah aku katakan kepadamu, bukan?”
“Aku masih ingat. Ada urusan apa kamu mencariku?”
“Sebutkan satu alasan agar aku tidak jadi membunuhmu, Furqon!”
“Hah? Membunuhku? Bukankah aku sudah menepati janjiku untuk tidak pernah menemui istrimu lagi?”
“Ya, tapi kamu lupa? Beberapa hari yang lalu kamu sudah melakukannya lagi!”
“Demi Allah aku tidak pernah melakukannya!”, Furqon menjerit.
“Dasar bajingan kau! Pura-pura lupa telah mengganggu istri orang. Ini buktinya!”, Dewondaru memperlihatkan sebuah amplop surat. Katanya lagi, “Aku telah menemukan bukti bahwa kau masih menginginkan istriku! Dasar lelaki pengecut! Sekarang hadapilah aku”. Dewo melangkah semakin dekat pada tempat Furqon berdiri.

“Aku mohon agar engkau bersabar, Dewo. Aku hanya menulis sebuah surat perpisahan. Aku mengatakan kepadanya agar selalu mencintaimu dan setia kepadamu saja.”
“Jadi kamu bilang bahwa istriku tidak mencintaiku dan tidak setia kepadaku selama lima tahun ini?”
“Kamu salah sangka. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.”
“Kamu takut padaku?”
“Aku tidak pernah takut pada kematian, secepat apapun dia datang menghampiri.”
“Kenapa kau berpikir bahwa aku ingin membunuhmu?”
“Karena kau telah meremukkan tulang kepala sahabatku, dan itu mungkin kesalahan fatal bagimu saat ini.”
“Aku memang salah, tapi aku tidak akan menyesalinya. Sebab apa yang aku perjuangkan adalah tanggungjawabku sebagai seorang suami dan bapak dari anakku. Aku tidak ingin keluargaku diganggu. Istriku dan ibu dari anakku hendak direbut, aku takkan berdiam diri.”
“Bukankah aku pun sudah menjelaskan bahwa aku tidak mengganggu dia?”
“Apa buktinya? Yang ada kau mengirimkan surat cinta!”
“Aku tidak mengirimkan surat cinta, itu hanya sebuah surat perpisahaan belaka. Tak bisakah kamu membedakannya?”
“Sudahlah Furqon, aku tidak butuh segala macam alasan. Yang aku tahu, sejak pernikahanku hanya kau laki-laki yang ada dalam pikiran Suci selain aku!”
“Itu lah kenapa aku membuat surat perpisahan”.
“Baiklah, sekarang waktunya kamu juga menulis surat perpisahan untuk semua orang!”
Dewo mengeluarkan sebilah belati dan tangannya dengan sigap menangkap kerah kaos oblong Furqon.
Furqon bukanlah seorang yang penakut. Dia tetap tenang menghadapi sebilah belati kematian yang tajam. Benda itu kelihatan berkilat diterpa cahaya bulan purnama.
Furqon berbisik kepada Dewo, “Jika malam ini saat bulan purnama bertahta nyawaku melayang, maka setiap purnama tiba seluruh kampung di Desa Prigi ini akan bertahlil untukku.”
Dewo melotot. Ucapan Furqon seakan merendah semua niatnya. Jika dia berhasil membunuh Furqon, dia bakal menjadi musuh orang banyak di desa itu. Meskipun dia bukan penduduk Demak, tetapi alamat Suci ada di tempat Furqon. Orang bisa saja melacaknya. Dia merasa ucapan Furqon benar-benar mempersulit dirinya. Setiap purnama, ya setiap purnama, dosanya membunuh Furqon akan selalau dikenang! Dia menjadi ragu untuk melakukan niatannya. Sementara dari balik pintu yang seperempat terbuka, dia menangkap adanya sosok-sosok yang mengintip perbuatannya.
“Furqon mungkin malam ini adalah malam keberuntunganmu. Tapi ingat, meskipun aku tertangkap nanti, aku akan kembali untuk membunuhmu jika kau benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda istriku!”
“Dewo, sebaiknya kamu menyerahkan diri. Orang yang kamu pukuli adalah seorang petugas kepolisian”
Dewo mundur. Kepalan tangannya melemah, sebilah belati yang digunakan untuk mengancam nyawa Furqon jatuh. Berdenting-denting di lantai.
“Kamu menggertakku?”
“Aku tidak menggertak, silahkan masuk ke dalam.”
“Tidak! Tidak! Kamu pasti menipuku!”
“Dewo, aku tidak pernah menipumu. Dari awal pertemuan kita, aku sudah mengaku kalah. Ketika aku lari, kubuang semua kenanganku bersama Suci. Di setiap jejak langkahku kutempelkan semua memori tentangnya. Aku harap ketika aku berhenti berlari, semuanya telah terhapus debu dan angin. Hingga tak perlu lagi aku mengenang.”
“Berjanjilah Furqon! Berjanjilah!”, Dewo menghiba.
“Tak ada rasa iri di hatiku jika aku mengingat tentangmu dan dia. Aku sudah ikhlas.” Air mata mengalir dari kedua pipi Furqon.
“Asal kamu tahu Furqon, aku melakukan ini semua atas dasar tanggungjawabku sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Tak ragu aku melakukan apapun jika rumah tanggaku terganggu”, kata Dewo menegaskan maksudnya.
“Mungkin itu yang belum aku pahami, seperti kata ustadz tempo itu”, pikir Furqon mendengar kalimat Dewo.
“Furqon, aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?”
“Menyerahkan diri. Sebab itulah yang seharusnya.”
“Aku mengaku bersalah hendak membunuhmu, tapi soal itu adalah ketidaksengajaan. Tolonglah aku Furqon”, Dewo kembali menghiba.
“Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyerahkan dirimu jika kau masih tetap di sini”, Furqon tetap teguh pada pendiriannya untuk meminta Dewo menyerahkan diri.
“Bagaimana dengan Suci dan Auliya? Aku tak bisa meninggalkan mereka”, Dewo mulai menangis.
“Aku tidak bilang kalau aku hendak menahanmu, Dewo. Tetapi aku juga tidak akan mencegahmu untuk lari dari sini”, Furqon mengatakan hal itu pelan.
“Furqon, aku telah salah padamu. Cemburuku telah menyebabkan semua ini terjadi.”
“Aku kagum padamu, Dewo. Kau adalah laki-laki yang bertanggungjawab pada keluargamu. Aku belajar darimu”, Furqon memeluk Dewo.

Kedua lelaki itu berhadapan muka dengan muka. Mata mereka bertatapan erat. Sepertinya keduanya ingin mengungkapkan luka. Luka yang sama-sama dirasakan sebagai seorang laki-laki. Luka yang sama, yaitu luka dari sebuah cinta. Cinta sering digambarkan dengan sekuntum bunga mawar, indah tetapi berduri tajam. Mungkin kini hati mereka sudah tertoreh oleh duri-duri bunga mawar itu. Perih tetapi indah untuk dirasakan, sebab harumnya kelopak-kelopak mawar sudah tercium dalam nafas bathin mereka.

Malam purnama, dua orang lelaki yang terluka karena cinta sesaat terlupa pada keadaan. Sebab hati mereka masing-masing telah disinari oleh cahaya bulan yang terang. Furqon menangisi kemenangannya atas nyawanya sendiri yang pada akhirnya tidak dicabut malam itu. Dia juga menangisi bahwa akhirnya perjalanannya kembali ke Demak tidaklah sia-sia. Sebab di sini lah dia belajar keikhlasan. Dan dari keikhlasan itulah dia bisa memenangkan hati Dewo yang sejak mereka bertemu dilanda oleh rasa cemburu. Dewo menangis, dia tidak bisa melakukan niatnya untuk membunuh Furqon, tetapi dari Furqon lah dia tersadar. Selama ini dia telah salah menempuh langkah. Cinta dan tanggung jawab pada istri dan anaknya telah membutakan mata hatinya. Dia lupa bahwa di luar itu semua ada hal – hal lain yang perlu diperhatikan termasuk cinta sesama. Adalah Furqon yang menjadi korbannya saat ini, seharusnya dari dulu dia bisa merangkulnya menjadi teman. Hal lain yang paling diingatnya malam ini adalah Furqon telah menyadarkan betapa lalainya dia akan norma-norma kehidupan ini.

Furqon tersenyum, akhirnya dia tahu bagaimana seharusnya tanggungjawab seorang kepala rumah tangga diterapkan. Dia berjanji dalam hati, jika nanti dia mempunyai keluarga sendiri, dia akan menjaga keutuhan keluarganya dengan sepenuh hati. Teringat olehnya ustadz Arifin yang berkata kepadanya bahwa ada tanggungjawab yang belum bisa dia lakukan saat ini. Tetapi malam ini, Tuhan sudah membukakan mata dan hatinya pada tanggung jawab terakhir seorang anak manusia. Dengan tanggung jawab terakhir inilah, hidup seseorang sebagai manusia lengkap sudah. Kyai Mukhlas pernah berkhotbah, “Jagalah keluargamu dari api neraka”, mungkin gambaran inilah yang akhirnya dibukakan untuknya. Sebagai buah puzzle terakhir dari pertanyaannya mengenai cinta kepada Allah.

Furqon kembali tersenyum, dia merasa berhasil memaknai perjalanannya kembali ke kampung halamannya. Dalam pikirannya dia berteori ; Perwujudan cinta seorang anak manusia kepada Allah adalah melaksanakan seluruh tanggung jawabnya, yaitu ; tanggung jawab terhadap Allah dan Rasulnya, tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, tanggung jawab manusia terhadap masyarakatnya dan lingkungannya, dan yang paling penting dari semua itu adalah tanggung jawab terhadap keluarganya, sebab menjaga keluarga adalah melaksanakan semua tanggung jawab itu bersama-sama. Furqon kembali menitikkan air mata.

Dokter jaga Anton yang sedari tadi mengintip, memberanikan diri keluar. Demi melihat ada orang lain yang datang, Dewo dengan cepat berlari menjauh. Dokter Anton kaget, Furqon hanya terdiam.

“Siapakah dia Furqon?”, Dokter Anton bertanya.
“Masa lampau”, demikianlah jawaban dari Furgon.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Seperti yang dokter lihat, aku sehat”, Furqon menjawab sambil masuk ke dalam ruang tunggu Puskesmas. Dokter Anton pun mengikutinya. Dia tidak bisa bertanya-tanya lagi ketika dilihatnya Furqon membuka sarungnya, merebahkan dirinya di sebuah bangku. Lalu meringkuk, mencoba untuk tidur di sisa malam yang memang sudah sedemikian larut.

*TAMAT*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home