Kembali Ke Demak

Monday, July 24, 2006

BAB XX. Penemuan Amir

“Di mana kah kekasih hati dicari,
Jika tak padang dijelajahi,
tak hutan disinggahi.
Selama hati belum tersentuh,
tandanya masih jauh”

Sebuah pantun yang diingat oleh Furqon terngiang saat dia dan empat orang warga kampungnya mencari hilangnya Syaiful. Disibaknya ladang dan kebun tetangga sekitar. Tak lama waktu berselang, ramailah kampung itu. Berita hilangnya Amir segera menjadi kegemparan ; betapa tidak? Baru kali ini ada orang hilang di kampung itu. Belum lagi orang tersebut adalah pendatang, belum banyak orang yang kenal dengannya. Hal itu tentu saja membuat pencariannya agak merepotkan.

Malam itu di kampung Furqon, di desa Prigi tampak terang benderang. Puluhan obor menghiasi kekelaman malam. Tampak di sebuah bukit, ada rentetan obor yang menyala. Tanda bahwa ada rombongan orang yang sedang menyisir daerah di bukit itu untuk mencari. Salah seorang penduduk berinisiatif untuk menghubungi pihak Koramil, maka tidak dalam waktu yang lama, aparat TNI pun mulai bergabung dengan rombongan masyarakat itu.

Bahkan beberapa rombongan ada yang mulai mengarah ke sisi desa Prigi dekat Kali Tuntang yang biasanya jarang diinjak orang. Furqon masuk ke dalam rombongan yang menyisir masuk ke dalam rerimbunan hutan jati.

Malam itu bulan purnama, sinar bulan menerobos masuk hingga lantai hutan. Karena rimbunan dedaunan pokok jati memang sedang berguguran. Meranggas, menunggu hingga bersemi kembali. Keadaan itu membuat orang ramai bisa melihat sedikit lebih jelas benda-benda yang tergeletak di lantai hutan. Akan tetap sejauh ini, sosok Syaiful yang sedang menyamar sebagai Amir belum dapat diketemukan.

“Haruskah aku berterus terang bahwa Amir adalah Iptu Syaiful Huda, petugas intel kepolisian yang sedang menyamar?”, Furqon kebingungan.
“Jika hal itu dikuak, akan lebih banyak lagi pihak yang akan membantu pencarian. Tetapi aku yakin Syaiful tidak menginginkan itu, karena penyelidikannya bisa berantakan”, pikirnya kemudian. Furqon terpekur bersandar pada sebatang pohon jati. Tidak disadari bahwa rombongannya sudah pergi meninggalkannya ke arah ladang luas ke arah jalan raya. Dan ketika setetes minyak di obornya menetesi tangannya, barulah dia terperangah. Kaget.
“Lho, aku ditinggalkan?”, serunya pada kekosongan di dalam hutan. Suara orang yang memanggil-manggil nama Amir sudah terdengar sangat jauh dari tempatnya berdiri.

Tiba-tiba, dia mendengar suara daun-daun jati yang kering bergemertakan. Sepertinya ada orang yang sedang berjalan. Furqon melihat sosok yang berjalan payah. Seperti sedang menahan sakit yang amat sangat. Furqon pun segera mendekati sosok yang kemudian limbung dan terjatuh dekat dengannya.
“Pak Syaiful?”
Orang yang dipanggilnya cuma bisa merintih. Sekujur tubuhnya berlumur darah. Ketika Furqon memegang kepalanya, tangannya merasa sangat basah. Ah! Darah! Furqon sadar, jika tidak lekas ditutup pendarahannya, Syaiful bisa celaka. Furqon pun berteriak.
“Tolong…Tolong…Tolong!!!”

Waktu terasa sangat lama untuk menunggu sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan. Furqon menunggu bantuan dari beberapa orang untuk bisa mengangkat tubuh Syaiful sampai dia mendapat pertolongan pertama. Hal yang dipikirnya adalah bagaimana menghentikan pendarahan di bagian belakang kepala Syaiful. Tanpa berpikir panjang, diloloskannya kemeja yang dikenakannya. Dibebatkannya di kepala Syaiful. Syaiful mengerang. Disangganya kepala Syaiful di atas pahanya.
“Siapa yang melakukan ini?”, pikirnya, sebelum kembali dia berteriak minta tolong.
Syaiful tampaknya masih setengah sadar. Matanya berkerjap-kerjap, tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Furqon menyeka darah dari mukanya.
“Pak, sadar Pak!”
Diguncang-guncangkan tubuh Syaiful. Tampak bahwa Syaiful masih bernafas meski tersengal-sengal. Furqon kuatir, “Jangan-jangan dia sekarat. Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi!”, jeritnya.

Furqon kembali berteriak minta tolong, tak beberapa lama muncullah serombongan orang yang datang membantu.
“Amir sudah ditemukan!”, teriak seseorang.
“Kenapa dia? Ya ampun dia terluka!”, kata seseorang yang lain.
“Siapa yang melakukannya?”
Mulailah hutan jati yang sepi tadi menjadi ramai kembali. Furqon meminta beberapa orang untuk segera membopong tubuh Syaiful yang luka parah keluar dari hutan jati itu, ke arah tepi jalan. Sampai di tepi jalan, anggota TNI dari Koramil setempat yang telah ikut dalam pencarian tadi, mengambil alih tubuh itu untuk kemudian dibawa ke Puskesmas.
“Diketemukan di mana Furqon?”, tanya Budi Ketua Rukun Warga di tempat itu.
“Di dalam hutan jati, pak. Seseorang telah memukuli dan membawanya ke situ. Entah siapa.”
“Apakah dia punya musuh?”
“Dia itu baru datang siang ini, pak. Mana mungkin dia punya musuh? Lagipula, sedari siang dia tidur saja di rumah saya.”
“Wah, jadi mencurigakan ya?”
“Entahlah, mungkin pelakunya salah sasaran.”
“Ah, kamu koq bisa memprediksi hal semacam itu?”
“Tadi sore ada yang mengawasi saya ketika berada di tempat pak Burhan. Malam ini, rencananya saya dan Amir hendak mengawasi tempat pak Burhan.”
“Pak Burhan petugas PPL itu?”
“Benar, pak!”
“Sepertinya memang mencurigakan kejadian itu. Mungkin Furqon benar jika ada sangkut pautnya. Tetapi kira-kira siapa yang melakukannya?”
“Saya tadi sempat curiga dengan ustadz Arifin. Sebab dia tidak berada di sini ketika semua ini terjadi.”
“Aduh, jangan curiga begitu. Ustadz Arifin kan orang baik. Lagipula dia guru mengaji kamu sendiri, masakan dia berbuat seperti ini?”
Furqon hampir saja membocorkan rahasia penyamaran Syaiful untuk membela alasannya mencurigai ustadz Arifin. Tetapi dia kemudian sadar, jika dia melakukannya maka akan terjadi kepanikan lainnya. Sebab keberadaan Syaiful adalah untuk menguak keberadaan teroris. Dan itu bisa menimbulkan kecurigaan bahwa ustadz Arifin terkait dengan urusan terorisme. Ah, panjang dan cukup rumit masalah ini. Furqon kemudian menghela nafas.
“Saya cuma curiga, karena dia tidak berada di kampung ini pada waktu peristiwa ini terjadi. Sebab tadi siang ustadz Arifin sudah berkenalan dengan Amir juga”.
“Pikiranmu nampaknya semakin kacau. Jikalau mereka sudah berkenalan, tentunya ustadz tidak akan melakukan perbuatan seperti itu kepada Amir.”
“Ah, entahlah pak. Saya koq jadi pusing sendiri.”
Furqon melangkah menjauhi kerumunan dan pertanyaan dari Budi. Tapi kemudian, pundaknya ditepuk oleh Budi.
“Saya justru curiga dengan sikap kamu yang tiba-tiba jadi membingungkan ini. Ada rahasia apa yang sedang disembunyikan?”, tanyanya.
Furqon pun kaget. Dia tidak menyangka bahwa Budi bisa menebak kebingungannya. Tapi memang semuanya salah dia. Jika saja dia tidak mengeluarkan pernyataan bahwa dia mencurigai ustadz Arifin, pastinya pak Budi tidak akan mencurigai sikapnya.
“Pak Budi, saya ini bingung karena Amir itu dititipkan ke saya oleh pak Sekdes. Jadi keselamatan dia adalah tanggungjawab saya pribadi.”
“Kalau begitu, sekarang kita ke Puskesmas saja. Biar kamu bonceng saya dengan sepeda motor. Sekalian kita pergi ke tempat pak Sekdes untuk memberitahukan kejadian ini”.
Dalam segala kegundahan dan kegelisahan akan keadaan sahabatnya, Furqon pun berdo’a ;

Allah yang pada tanganNya terletak segala kuasa,
Aku berharap pasrah kepadaMu
Sembuhkanlah temanku
dan berilah hamba titik terang
kesalahan apa yang sebenarnya
sedang kutuai kabarnya?

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home