Kembali Ke Demak

Thursday, July 20, 2006

BAB XVIII. Penyerangan

Angin siang menjelang sore memang agak aneh rasanya. Panas, kering, tapi kadang menyejukkan. Pokok-pokok jagung di ladang bergoyang-goyang sesuai arahan angin siang itu. Kerimbunan dedaunannya mendendangkan suara khas pedesaan. Hutan jati yang meranggas sebagai latar belakang ladang itu, kontras sekali jadinya pemandangan di desa Prigi itu.

Di sebuah rumah, seorang lelaki tampak sedang menyiapkan peralatan pertanian. Ada karung-karung berisi sampah dan kotoran hewan, ada alat penyemprot air, dan beberapa ember. Sesekali diaturnya barang-barang dalam larik-larik itu.

“Assalamu’alaikum pak Burhan” , sapa seseorang yang baru datang.
“Wa ‘alaikum salam, pak Tono. Bagaimana? Sudah berhasil mengembangkan stek-stek tanaman jati?”
“Wah, alhamdulillah pak. Berkat bimbingan pak Burhan, sekarang bibit-bibit stek itu saya pasarkan sampai ke Cepu segala lho”, jawab seseorang yang bernama Tono tersebut.
“Semakin maju saja usahanya, bagi-bagi dong ke kita?”, canda Burhanuddin.
“Ah, bukannya pak Burhan duluan yang memotivasi kami untuk bisa menyediakan bibit-bibit tanaman jati? Pastinya kami belum ada apa-apanya nih!”, Tono tertawa.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
“Pak Burhan, kali ini materi pelatihan kita apa?”
“Pemupukan alami, karena sekarang ini harga pupuk sudah sedemikian tinggi. Saya beberapa hari yang lalu mencari-cari pustaka mengenai cara pembuatan pupuk alami yang kandungannya kurang lebih sama dengan pupuk buatan”, jelasnya.
“Jika ini berhasil, kita bisa hemat banyak uang ya pak?”
“Idenya sih tidak ke arah situ pak, tapi bagaimana kita mampu mengadakan sendiri kebutuhan pertanian di daerah kita.”
“Pokoknya yang menguntungkan petani, pasti saya dukung!”, Tono menimpali sambil tertawa lagi.
“Yang lain koq belum datang ya?”, tanya Burhan.
“Paling-paling sebentar lagi”, jawab Tono sambil menawarkan sebungkus rokok kepada Burhan. Burhan menolaknya.
“Terimakasih, saya sudah tidak merokok lagi.”
“Hidup sehat ya pak?”
“Bisa dikatakan begitu, tapi lebih karena saya memang sudah tidak bisa merokok lagi sekarang. Setiap mau merokok, perut saya mual. Jadi ya, saya hentikan saja kebiasaan merokok itu.”

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, mulailah berdatangan anggota kelompok tani yang lain. Ada sekitar 12 orang berbaur dalam lapangan depan rumah Burhan.
“Baiklah, sepertinya akan saya mulai saja acara hari ini. Hari ini, kita akan mencoba sebuah metode sederhana pembuatan pupuk organik. Kenapa? Karena pembuatan pupuk ini benar-benar tidak menyertakan bahan kimiawi, dan hanya menggunakan organisme-organisme hidup di sekitar kita yang bersifat membantu pembusukan.”
“Oh, kita mau bikin kompos ya pak?”, tanya seseorang di antara mereka yang hadir.
“Lebih baiknya kita sebut saja sebagai pupuk organik. Daripada bingung.”
“Bahan dasarnya tetap kotoran ternak?”
”Baiklah, saya akan terangkan cara pembuatannya. Tetapi terlebih dulu, saya ingin sampaikan bahwa metode ini saya contoh dari seorang petani di Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung, yang bernama pak Sobandi.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau pupuknya kita beri nama beliau saja pak?”
“Tidak jadi soal, yang penting sekarang cara membuatnya. Ini kapan saya ngajarin ya? Berkomentar melulu dari tadi?”
“Maaf pak, silahkan”, kata beberapa orang dari kelompok petani itu.

Pada saat Burhan hendak memulai penjelasannya, datanglah Furqon.
“Assalamu ‘ alaikum, maaf nih telat..” Furqon mencari tempat duduk di antara kerumunan petani itu.
Sama-sama mereka menyahut, “Wa alaikum salam”
“Baik, sekarang saya mulai lagi ya. Seperti tadi saya katakan, bahwa metode pembuatan pupuk organik yang hendak saya ajarkan ini didapat dari petani lain di Bandung. Caranya adalah sebagai berikut; pertama, kita siapkan dahulu bahan media pengembangbiakan bakteri pembusuk. Bahan ini sangat mudah di dapat, yaitu air cucian beras. Kenapa kita gunakan air cucian beras? Mungkin karena di dalam air cucian beras ini masih tersisa pati dari beras yang dicuci. Pati ini berguna sebagai nutrisi dari mikroorganisme pembusuk tadi. Kita tampung air cucian beras ini di dalam sebuah drum bekas, yang kemudian di dalamnya kita isi juga dengan sayur-mayur dan buah-buahan busuk, sisa makanan, kotoran ternak, dan jenis sampah organik lain. Setelah didiamkan beberapa lama, air dan sampah organic ini akan membusuk. Nah, air ini bisa langsung disemprotkan pada tanah maupun bahan kompos lain seperti sampah organik dan pupuk kandang. Air tadi, mempercepat pembuatan kompos. Dalam waktu 15 hari kompos sudah bisa digunakan.”
Burhan menghela nafas sebentar. Kemudian dia meneruskan lagi perkataannya,”Jadi demikianlah cara pembuatan kompos atau pupuk organik ala pak Sobandi. Ada yang mau ditanyakan?”
“Jadi, tetap kompos ya pak?”, tanya seseorang.
“Kompos itu kan tidak mesti menggunakan pupuk kandang, bisa digunakan sampah-sampah organik lainnya. Seperti jerami padi, daripada dibakar, daun-daun kering, dan lain-lain.”
“Hasilnya akan tetap sama seperti pupuk kimia?”, tanya seseorang lainnya.
“Berdasarkan apa yang pak Sobandi lakukan selama ini, produksi padinya justru 100 kilogram lebih banyak dari beras yang dihasilkan dengan cara bertani anorganik atau menggunakan pupuk dan pestisida kimia”, jawab Burhan.
“Kalau begitu, sebaiknya kita juga mulai bertani secara organik”, seru Furqon.
“Kenapa tidak? Marilah kita mencoba membuat pupuk organik seperti yang sudah saya jelaskan. Saya sudah menyediakan beberapa jenis sampah organik, ada air cucian beras, ada juga kotoran hewan. Ayo siapa yang mau mempraktekkannya?”, tanya Burhan pada kelompok petani itu.

Mereka pun mulai mencoba melakukan seperti apa yang tadi sudah dijelaskan oleh Burhan. Furqon pun tampak sibuk dengan ember, air cucian beras, dan sampah-sampah organik. Burhan mengamatinya, kemudian mendekati Furqon.

“Mas Furqon, jika memang mas Furqon berniat untuk menjadikan sawah dan ladang mas sebagai lahan organik, saya akan mendukung.”
“Saya sih senang saja mencoba hal-hal baru, pak.”, jawab Furqon.
“Mungkin tidak usah secara langsung, sedikit demi sedikit saja mulai dirubah cara bertaninya.”
“Musim tanam nanti? Kita coba seperempat luasan sawah saya dulu bagaimana?”
“Wah, kita harus kerja keras nih mas Furqon.”
“Kan ada pak Burhan yang mendukung. Lagipula semua petani penggarap sawah saya kan sudah ikutan kelompok tani ini. Pasti mereka juga mau mendukung usul ini”, tegas Furqon.
“Baiklah, saya akan melihat hasil praktek bapak-bapak yang lain”, Burhan meninggalkan Furqon yang tengah sibuk mencampuri sampah-sampah itu ke dalam air cucian beras di dalam ember.

Dalam beberapa saat, Burhan yang sudah memperhatikan seluruh kegiatan peserta pelatihan pembuatan pupuk organik sore itu, kembali berbicara di hadapan mereka semua. Katanya.”Nampaknya semua peserta sudah memahami metode pembuatan pupuk alami ini. Besok kita akan melangkah lebih ke dalam metode pertanian organik lainnya yaitu pembuatan pestisida alami.”
“Jadi sudah cukup acaranya hari ini?”, tanya seseorang dari mereka.
“Saya rasa demikian, kecuali ada di antara bapak-bapak yang belum mengerti. Silahkan bertanya lagi, daripada pulang tapi tidak ada ilmu yang dibawa pulang”, jawab Burhan.
“Sepertinya memang sudah cukup, pak Burhan. Kami nanti akan coba di ladang dan sawah kami”, timpal seorang lain.
“Baiklah jika begitu, saya anggap pelatihan sore ini sudah cukup. Silahkan bapak-bapak bisa pulang dan mulai mempraktekkannya nanti. Wassalamu ‘alaikum”, ditutupnya pembicaraan sore ini oleh Burhan.

Kelompok petani itu pun membubarkan diri, tinggal Furqon dan Burhan yang tersisa. Biasanya memang demikian. Furqon selalu menyempatkan diri untuk bertanya lebih soal pertanian karena dia telah memberikan sebagian kepercayaan penggelolaan sawah dan ladangnya kepada Burhan.

“Bagaimana tampaknya panen nanti?”, Burhan memulai pembicaraan sambil membereskan alat-alat pertanian yang berantakan.
“Sepertinya bakal memuaskan pak. Semoga demikian seperti harapan kita semua”, Furqon semangat.
“Jika demikian adanya, nampaknya usaha kita tidak sia-sia. Melepaskan diri dari pengijon, kemudian membina petani penggarap hingga mereka mau ikut sebagai kelompok petani seperti ini, suatu usaha yang benar-benar memeras keringat lho”, Burhan bersungguh-sungguh.
“Tapi rasanya baru sebentar ya?”, Furqon jengah.
“Karena mas Furqon menikmati prosesnya”, jawab Burhan.
“Apa memang seperti itu? Jika kita menikmati setiap proses dari sesuatu, kita tidak merasa lama menunggu?”, Furqon mengajukan suatu pertanyaan.
“Menunggu, sepertinya ada filosofi dibalik kata itu. Apa ya? Kepastian atau ketidakpastian? Kehadiran atau penantian?”, Burhan balik bertanya.
“Ah, jangan bikin saya bingung, Pak. Saya rasa jika kita sedang makan dan kita menikmatinya memang tidak terasa waktu itu berlalu.”
“Kamu itu, bilang saja kalau kamu pengin nyicipin goreng tempe buatan istriku lagi. Ayo masuk!”, Burhan tertawa.
“Sekalian mau sholat Ashar juga, Pak”, Furqon pun ikut tertawa. Mereka berdua berjalan bersama masuk ke rumah Burhanuddin. Ketika hendak masuk, Furqon melihat sesosok orang yang berkelebat di ladang jagung. Deg! Hatinya berdegup.
“Ada orang, Pak!”, Furqon teriak tertahan.
“Mencurigakan sekali, lagi apa dia di ladang jagungku?”
“Apa perlu kita kejar?”
“Sebaiknya begitu, ayo cepat!”

Mereka berlari masuk ke dalam ladang jagung. Mencari-cari sosok yang tadi berkelebat seakan habis mengintip aktivitas Kelompok Tani itu. Dijelajahnya ladang jagung Burhan dengan seksama.

“Itu dia!”, teriak Burhan melihat seseorang yang berlari-lari masuk ke dalam hutan jati.
“Jangan – jangan pencuri Pak? Apa perlu kita minta bantuan warga?”
“Sudahlah, tidak usah dikejar lagi. Aku rasa malam ini harus begadang. Mungkin dia pencuri ternak.”
“Ya sudah, nanti malam aku mampir ke sini sama temanku anak mahasiswa itu. Biar ada teman diskusi juga.”
“Baiklah, terserah mas Furqon.”
“Kalau begitu, aku langsung pulang saja sehabis numpang sholat di rumah ya, Pak”, tegas Furqon.
“Silahkan. Mari kita kembali ke rumah.”

Furqon sebenarnya agak curiga, jangan-jangan Syaiful yang mengintai kegiatannya. Mungkin dulu waktu pertama kali bertemu, Syaiful tidak pernah sesungguhnya mempercayai dirinya. Sehingga ketika Furqon pulang ke Demak pun dia masih coba mengikuti. Tapi untuk apa? Furqon tidak mau mengotori hatinya dengan syak yang tidak-tidak.

***

Tiba di rumah, Furqon mencari Syaiful. Dia ingin mengetahui apakah benar bahwa orang yang mengintip kegiatan kelompol tani itu adalah orang yang menumpang di rumahnya. Masuk ke kamar tidurnya, dilihatnya Syaiful sedang tertidur. Nafasnya tampak teratur, meskipun berkeringat nafasnya tidak nampak tersengal-sengal. Berarti bukan dia yang telah dikejar tadi di ladang jagung pak Burhan. Lantas siapakah? Perlahan diguncang-guncangkan lengan Syaiful.
“Pak, eh mas Amir, bangun! Sudah mau maghrib, tidak baik tidur di waktu begini”.
Syaiful pun mulai terbangun. Mungkin dia sudah dilatih untuk tidur tidak terlalu nyenyak, sehingga gangguan sedikitpun dia bisa langsung terbangun.
“Ada apa mas Furqon?”
“Sudah hampir maghrib, tidak baik untuk tidur.”
“Oh. Maaf”, bisiknya.
Syaiful segera bangkit dari tempat tidur, “Maaf, saya kecapekan. Jadi tidak sadar sudah mau maghrib sekarang. Mas Furqon baru pulang darimana?”
“Saya dari tempat praktek pertanian, rumahnya pak Burhanuddin. Dia itu PPL yang ditugaskan di desa ini. Tempat para petani bertanya.”
“Oh gitu, kapan-kapan saya juga pengin kenalan dengan dia. Siapa tahu ada bahan lain yang bisa saya tulis.”
“Mas Amir, ada yang ingin saya tanyakan”, kata Furqon singkat.
“Apa itu mas Furqon? Kalau soal cerita lama, saya tidak akan cerita sama ibu. Saya ada disini justru merasa terbantu dengan perkenalan kita dulu, mas Furqon.”, tanya Syaiful.
“Bukan itu. Tadi di ladang jagung pak Burhan, ada orang yang seakan-akan mengintip kegiatan kelompok tani..”
“Mas Furqon mencurigai saya? Saya tidak akan melakukannya, sebab petani bukan target operasi saya.”
“Lalu sebenarnya siapa yang mas Amir cari di sini?”
“Seperti yang dikatakan oleh pak Mugiyono, kami menelisik kemungkinan adanya persembunyian teroris di desa Prigi ini.”
“Jadi sebenarnya memang ada atau tidak?”
“Belum dapat dikatakan, tugasku untuk menyelidiki saja.”
“Kira-kira mau tidak jika mas Amir aku ajak ke tempat pak Burhan malam ini? Dia kuatir jika yang mengintip itu adalah pencuri ternak.”
“Boleh saja, kapan kita berangkat?”
“Ba’da Isya saja.”
“Baiklah!”

Syaiful pamit untuk mandi, sementara Furqon menunggu giliran dengan membaca-baca buku pertanian. Tapi dia tidak dapat berkonsentrasi, pikirannya terganggu sejak kehadiran Syaiful. Sepertinya kembalinya dia ke desanya sudah tidak ada kesan lagi yang mendalam. Furqon mencoretkan sebuah puisi singkat;
Pesan

Dulu, pesanmu ; cahaya
meliputi cakrawala angan
- aku terbang

kini angin mendustakan arah
aku tersesat dalam gelap

Tak beberapa lama, terdengarlah alunan adzan maghrib. Suara pak Zaenal, guru smp di kecamatan yang baru saja pensiun melafadzkannya. Furqon hafal sekali cengkoknya, unik. Apalagi suaranya yang agak berat.

“Mas Furqon, ibu kemana?”, tanya Syaiful yang sudah mandi sambil mengibaskan rambutnya dengan handuk.
“Ibu biasanya pergi duluan ke mushola sejak Ashar tadi, sekalian pengajian.”
“Rajin ya?”
“Apalagi yang dicari, tinggal cari keridhoan Illahi.”
“Saya jadi ingat waktu mas Furqon ingin pulang dulu. Tapi saya lihat, keadaan mas Furqon biasa-biasa saja”, Syaiful mengingatkan Furqon pada tujuan pulangnya dulu. Hal yang baru saja menjadi pertanyaan bagi Furqon sendiri.
“Soal itu, saya akan jawab nanti. Sekarang saya mau mandi dan segera ke mushola”, Furqon menjawab sambil bergegas ke kamar mandi.
“Kalau begitu, saya pergi duluan saja ya ke mushola!”, teriak Syaiful.
“Silahkan, jangan lupa tutup pintunya!” jawab Furqon dari dalam kamar mandi.

Syaiful melangkahkan kakinya ke mushola, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Furqon. Nampaknya mushola di kampung itu memang tidak pernah sepi. Selalu saja ramai dikunjungi. Syaiful berpikir mungkin ustadz Arifin memang ustadz yang simpatik, sehingga pengajarannya mendapat banyak perhatian di kampung Furqon ini.

Tinggal beberapa langkah lagi, dia sudah tiba di halaman mushola itu. Iqomah telah diperdengarkan, orang-orang segera menata shaf rapat-rapat. Syaiful segera bergegas. Tiba-tiba “Bukkk!!!” Pandangannya berkunang-kunang, kemudian menggelap. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menghantam belakang kepalanya. Syaiful terjatuh pingsan.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home