BAB XVII. Amir
Perjalanan siang itu, memang sangat singkat. Betapa tidak, hari masih baru memasuki setengah umurnya ketika Furqon harus segera pulang kembali ke rumah. Hari itu jadwalnya berantakan sudah. Karena pertanyaan mengenai mimpinya, kemudian saat ini dia membawa luka pulang ke rumahnya. Betapa tidak? Pada akhirnya dia harus mengakui di hadapan ibunya bagaimana cara dia berkenalan dengan Syaiful Huda, tamu istimewanya kali ini.
Dia menghentikan mobil angkutan begitu sampai di daerah tempat tinggalnya. Sebuah gapura kampung berbentuk sepasang tugu berdasar jambangan limas adalah ucapan selamat datang. Kalau dipikir-pikir bentuknya seperti dua buah Tugu Monas yang gemuk. Dulu, setiap waktu tujuh belasan, Furqon sering menghiasinya dengan bendera plastik kecil-kecil dan lukisan gambar pahlawan Nasional. Diponegoro adalah tokoh yang paling sering dilukiskan wajahnya di tembok tugu itu. Furqon dahulu sempat mengidolakan beliau, karena dalam benaknya begitulah seharusnya pemimpin sejati negeri ini; seorang ulama, seorang bangsawan, seorang tokoh yang mau mati-matian membela kehormatan keluarga, juga pemikir strategi perang yang handal. Setelah dewasa baru dia mengerti, kenapa perlawanan Diponegoro tidaklah banyak mendapat dukungan. Mungkin semua orang juga sudah memaklumi, tapi setidaknya rasa bangga itu tetap ada.
Furqon berjalan di depan Syaiful. Seakan-akan dia tidak mau orang menyangka dia punya hubungan dekat dengan petugas kepolisian tersebut.
“Masjidnya masih jauh?”, tanya Syaiful.
“Oh iya, hampir saja saya lupa, di dekat sini adanya mushola”, tukas Furqon singkat.
Berbelok dari jalan utama ke arah kiri, Furqon mengajak Syaiful melintasi sebuah pemakaman kecil. Tak jauh dari situ, mushola tempat Furqon mengaji sudah terlihat. Tampaknya ustadz Arifin belum datang. Biasanya menjelang Dzuhur, dia sudah mengaji. Furqon menahan diri untuk mencarinya. Segera saja keduanya duduk di teras mushola itu. Syaiful menggeledah tas ranselnya. Diambilnya sebuah kaos, celana jeans dan sepasang sepatu kets. Rupanya dia tadi lupa mengganti seragam dinasnya juga sepatunya.
“Maaf Furqon, tadi saya lupa untuk memasang peralatan penyamaran saya”, katanya sambil tersipu.
“Ada-ada saja”, Furqon berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.
“Mudah-mudahan tidak ada yang curiga”, kata Syaiful lagi sambil melangkahkan kaki ke tempat wudlu.
Furqon masih tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika di dengarnya suara memanggil namanya dari kejauhan. Ustadz Arifin! Furqon makin bimbang, haruskah dia berterus terang tentang Syaiful? Ustadz Arifin semakin dekat.
“Kamu sama siapa mas Furqon?”
“Eh, anu..saya tadi sama seorang mahasiswa dari Jakarta yang hendak menyusun skripsi. Kebetulan tadi ketika saya ke sekolah, pak Sekdes menitipkan orang ini kepada saya.”
“Skripsi apa ya mas?”
“Wah, saya juga kurang tahu. Saya belum berkenalan banyak dengannya. Mungkin kita bisa tanyakan kepadanya nanti.”
“Sekarang dia kemana?”
“Dia lagi ganti baju di tempat wudlu.”
“Oh, kebetulan saya mau berwudlu, sebentar lagi kan Dzuhur. Ayo kita sholat bareng!”, ajak ustadz Arifin.
“Iya, ustadz. Aku juga mau sholat.”
Ustadz Arifin berjalan masuk ke dalam tempat wudlu diiringi oleh Furqon. Ketika hendak masuk, Syaiful sudah keluar. Ustadz Arifin tersenyum demikian juga dengan Syaiful. Ustadz Arifin sedikit terkejut, dilihatnya seorang pemuda menenteng sepasang sepatu boot hitam mengkilat dan baju seragam yang digulung. Dia tetap tersenyum sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh”, Syaiful mengulurkan tangan.
Mereka pun berjabat tangan.
“Temannya mas Furqon?”, tanya ustadz Arifin.
“Baru kenal tadi, saya Amir, mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saya mau numpang di rumah mas Furqon”, jelas Syaiful.
“Mau sholat dzuhur?”, tanya ustadz lagi.
“Iya, ma’muman ya pak”, pinta Syaiful.
Ustadz segera masuk ruang wudlu, Syaiful tersenyum kepada Furqon yang termangu. Rasanya makin banyak yang dia tidak bisa mengerti dalam kehidupannya.
Syaiful melangkah menuju tas ranselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di teras mushola. Dia kemudian tampak sibuk membenahi isi tas ransel dan memasukkan baju seragam serta sepatu PDL-nya. Sejenak waktu berselang, dia sudah masuk ke dalam mushola dan mengumandangkan adzan.
Furqon masih termangu di depan tempat wudlu, bahkan ketika ustadz Arifin sudah selesai berwudlu.
“Ayo mas, koq malah bengong?”
“A…Amir…”
“Kenapa dengan dia? Bukankah mas Furqon sudah mengenalnya?”
“Bu..bukan, saya baru tahu kalau dia ternyata sangat ramah dan mudah bergaul. Sebab dari tadi dia diam saja”, Furqon terbata-bata menutupi perasaannya.
“Oh, bagus kalau begitu. Ayo cepat, sudah ditunggu!”
Furqon pun masuk tempat wudlu. Tidak beberapa lama terdengarlah iqomah dan mereka bertiga melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
Selesai melakukan ibadah juga berdoa, ketiganya masih duduk di dalam ruang mushola yang sederhana itu. Siang yang tidak terik sebenarnya cukup membuat mata mengantuk, tetapi tidak bagi mereka. Entah euphoria apa yang tengah terjadi di dalam hati masing-masing. Ketiganya segera saja terlibat dalam sebuah diskusi sederhana, terutama karena hadirnya “Amir” di lingkungan mereka.
“Jadi mas Amir kuliah di universitas apa di Jakarta?”, tanya ustadz Arifin.
“Pak ustadz pernah ke Jakarta?”, Syaiful menjawab pertanyaan ustadz Arifin dengan pertanyaan juga.
“Dulu saya malah sempat tinggal di sana, di daerah sekitar Tanah Abang”, ustadz Arifin menjawab.
“Saya jauh dari situ pak ustadz, saya kuliah di Institut Tehnologi Budi Utama, di Klender”, jelas Syaiful.
“Oh, mahasiswa tehnik ya. Pantesan suka dengan atribut-atribut militer”, sindir ustadz Arifin.
Amir hampir tercekat mendengar pertanyaan ustadz Arifin. Tapi dia seorang petugas intelejen, soal beginian dia bisa dengan mudah kemudian.
“Biasalah anak muda, pak ustadz. Lagian tidak berbahaya bukan? Kecuali saya ikut-ikutan menyimpan dan menggunakan senjata,” jawabnya sambil ketawa.
“Sekedar buat gaya-gayaan saja lah pak ustadz”, sambungnya lagi.
“Saya tahu, terus apa yang mau diteliti di desa Prigi ini, mas Amir?”
“Saya mau meneliti pengaruh bentuk desain Masjid Demak terhadap rumah–rumah penduduk di Demak secara umum”
“Oh, jadi dari tehnik arsitektur?”
“Iya, pak ustadz”, jawab Amir sambil tersenyum.
“Lalu, maksudnya buat apa mas Amir?”, tanya Furqon yang sedari tadi diam.
“Tujuannya sih sederhana, alasannya karena Masjid Demak adalah karya monumental, sehingga pasti ada pengaruh secara psikologis terhadap rakyat Demak. Jadi, saya mau mengelompokkan dan mendokumentasikan beberapa komponen adaptasi dari Masjid Demak yang terdapat di rumah-rumah penduduk.”
“Hm..aku masih belum mengerti, fungsinya apa ya?”, lanjut Furqon lagi.
“Nantinya saya akan mengaitkannya dengan efek psikologis dari karya monumental yang menggabungkan antara budaya Hindu, Budha, dan Islam ini. Masih hipotesa saja sih, mungkin rumah orang yang leluhurnya penganut Hindu hanya akan mengadopsi komponen-komponen yang bernuansa Hindu saja. Contohnya seperti bentuk tiang yang disebut “Saka Majapahit.” Tapi secara umum sih saya melihatnya yang paling banyak diadopsi adalah bentuk menara Masjid yang khas bangunan jaman Majapahit itu, biasanya untuk pagar.”
“Wah…ternyata arsitektur itu rumit juga ya?”, kata Furqon sambil melongo.
“Kenyataannya, arsitektur itu menunjukkan pribadi suatu bangsa lho!”, tegas Amir.
“Semacam identitas ya mas Amir?”, tanya ustadz Arifin.
“Bisa dikatakan seperti itu. Siapa yang tidak kenal bentuk rumah Maroko, Yunani, Romawi, dan sebagainya.”
“Tapi di sini kebanyakan rumah ya seperti rumah orang Jawa pada umumnya mas”, sanggah Furqon.
“Oh begitu, tapi tidak mengapa, mungkin jika diperhatikan detailnya bisa saja saya menemukan keterkaitan tadi, tapi seandainya tidak ada keterkaitan pun saya sudah bisa jujur mengatakan bahwa hipotesa saya salah”, jawab Amir.
“Lha, memangnya tidak kenapa –kenapa kalau bikin hipotesa salah?”, tanya ustadz lagi.
“Saya ini apa lah, wajar jika buat suatu hipotesa kemudian salah, tapi itu juga sudah termasuk penelitian. Tidak semua penelitian itu berkorelasi positif terhadap suatu hipotesa.”
“Kalau para peneliti semuanya jujur seperti mas Amir, tidak ada lagi kasus-kasus lingkungan hidup ya”, kata Furqon sambil tertawa.
“Hahaha, bisa saja mas Furqon ini,” Amir dan ustadz Arifin pun tertawa.
“Lha itu kata pak Burhanuddin, sekarang ini banyak kerusakan lingkungan karena penelitian proyek-proyek pertambangan dan kehutanan sepertinya sudah tidak jujur lagi”, tambah Furqon.
“Mungkin hanya beberapa kasus saja, mas Furqon”, Amir mesem-mesem saja mendengar celoteh Furqon.
Siang itu sebelum akhirnya mereka berpisah, suasana cair sudah terjadi antara ketiganya. Akan tetap sebenarnya ustadz Arifin masih menyimpan tanda tanya mengenai atribut militer yang disembunyikan di dalam ransel Amir. Ustadz pun mulai berpikir – ada kasus apakah sehingga seorang petugas intel kepolisian menyusup ke desa Prigi.
Furqon dan Syaiful pamit dari pertemuan di mushola itu untuk pulang ke rumah. Hari sudah menjelang sore. Furqon teringat akan jadwalnya, biasanya jam 2 siang seperti ini dia sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat pak Burhan, mempelajari tetumbuhan.
Tiba di rumah disambut oleh ibu yang tampaknya terkejut karena ada kehadiran Amir. Dia mempersilahkan Amir duduk di teras, sementara Furqon permisi ke dalam kamarnya. Dia hendak membereskan kamar tidurnya untuk istirahat Amir.
“Anak ini siapa ya?”, tanya ibu kepada Amir.
“Saya ini seorang mahasiswa dari Jakarta, kebetulan tadi bertemu mas Furqon di Kantor Kepala Desa. Sama pak Sekdes, saya dititipkan di sini. Mohon maaf lho bu, merepotkan.”
“Ah, tidak mengapa. Sudah lama rasanya ibu tidak pernah melihat ada teman Furqon yang menginap di rumah ini. Rasanya baru kemarin dia itu duduk di SMP. Dulu dia itu aktif di Pramuka. Makanya banyak temannya bergantian menginap di sini. Apalagi waktu bapaknya masih ada. Seringkali mereka berkelana masuk ke dalam hutan”, kata ibu sambil menerawang.
“Oh begitu ya bu?”
“Terus kedatangan nak mahasiswa kemari itu apa?”
“Nama saya Amir, Bu. Kebetulan saya sedang dalam penelitian untuk tugas akhir.”
“Nak Amir pasti belum makan, makan dulu sana. Ibu tadi cuma sempat masak sayur asam dan goreng tempe, maklum makanan kampung.”
“Wah terimakasih nih, Bu. Tapi mas Furqonnya kemana ya bu?”, Amir sudah sangat lapar memang, tapi dia merasa risih karena tidak ada Furqon.
Ibu pun berteriak memanggil Furqon, “Furqon ..Furqon...”
Furqon menyahut dari dalam kamar, “Ya bu, sebentar. Sedang membereskan kamar tidur.”
Tak lama berselang, Furqon datang ke teras dimana Amir dan ibu menunggunya.
“Mas Amir, silahkan tasnya disimpan dulu di kamar saya”, kata Furqon.
“Iya, nak. Silahkan lho..”, ibu menimpali.
Amir pun permisi masuk, tas ranselnya ditaruhnya di sudut kamar. Kemudian ia keluar. Furqon memintanya mengikuti ke arah ruang makan. Furqon membuka tudung saji, mengendus bau harum masakan ibu.
“Wah, mantap sekali sambelnya!”, teriaknya.
Dia memandang Amir, dan dipersilahkannya duduk. Lalu, Furqon meletakkan piring kosong di hadapan Amir. Disorongkannya bakul nasi yang terbuat dari anyaman bambu.
“Ayo mas Amir. Silahkan dicicipi masakan ibu”, katanya.
“Terimakasih mas Furqon”, Amir menjawab dengan tenang.
Setelah mengambil nasi, mereka membanjirinya dengan sayur asam, lalu memegang sepotong tempe dan mengambil sesendok kecil sambal terasi. Nikmat sekali. Walaupun memang ada peribahasa “tidak boleh bicara ketika mulut penuh, tetapi yang terjadi memang sebuah kesunyian yang membahana. Tidak ada percakapan sama sekali. Ibu hanya memandangi saja. Furqon mencuri-curi pandang kepada Amir. Matanya seakan-akan bertanya kepada orang yang duduk di hadapannya. “Apakah yang telah kau bilang pada ibuku?” Amir kelihatan tidak menanggapi air muka dan tatapan mata dari Furqon. Bahkan berkali-kali sepertinya dia membuat isyarat kepada Furqon “Sudah tenang saja, rahasiamu akan tetap tersimpan rapi.”
Ibu tersenyum melihat mereka berdua, dipikirnya kedua anak muda itu sedang menikmati masakannya. Diambilnya sebuah sulaman tangan yang sudah lama ia kerjakan namun belum jadi. Sulaman tentang mimpinya, gambar pelataran Baitullah. Sebelum mulai menyulam, didekapnya sulaman itu dan matanya terpejam.
Tak beberapa lama, Furqon dan Amir sudah selesai makan. Furqon mendekati ibunya dan berkata,”Bu, saya mesti pergi lagi. Mau ke tempat pak Burhan.”
“Terus mas Amir bagaimana?”
“Biarkan dia beristirahat dahulu bu, dia kan baru datang dari Jakarta tadi subuh.”
“Oh ya sudah. Silahkan lho, mas Amir. Tidur saja di kamar Furqon.”
“Iya, bu. Tapi sehabis makan rasanya kurang enak jika saya tiduran. Mungkin saya mau keliling kampung ini dulu. Baru beristirahat”, kata Amir.
“Maaf ya mas Amir, saya tinggal sebentar”, Furqon berpamitan.
Furqon menyalami ibunya, lalu pergi ke luar rumah. Langkahnya sangat cepat, sehingga dalam hitungan menit saja sudah tidak kelihatan lagi dia.
“Bu, saya juga pamit mau jalan-jalan. Siapa tahu ada inspirasi yang berguna untuk skripsi saya”, Amir pun pamit kepada ibu.
“Baiklah, silahkan nak.”
***
Dia menghentikan mobil angkutan begitu sampai di daerah tempat tinggalnya. Sebuah gapura kampung berbentuk sepasang tugu berdasar jambangan limas adalah ucapan selamat datang. Kalau dipikir-pikir bentuknya seperti dua buah Tugu Monas yang gemuk. Dulu, setiap waktu tujuh belasan, Furqon sering menghiasinya dengan bendera plastik kecil-kecil dan lukisan gambar pahlawan Nasional. Diponegoro adalah tokoh yang paling sering dilukiskan wajahnya di tembok tugu itu. Furqon dahulu sempat mengidolakan beliau, karena dalam benaknya begitulah seharusnya pemimpin sejati negeri ini; seorang ulama, seorang bangsawan, seorang tokoh yang mau mati-matian membela kehormatan keluarga, juga pemikir strategi perang yang handal. Setelah dewasa baru dia mengerti, kenapa perlawanan Diponegoro tidaklah banyak mendapat dukungan. Mungkin semua orang juga sudah memaklumi, tapi setidaknya rasa bangga itu tetap ada.
Furqon berjalan di depan Syaiful. Seakan-akan dia tidak mau orang menyangka dia punya hubungan dekat dengan petugas kepolisian tersebut.
“Masjidnya masih jauh?”, tanya Syaiful.
“Oh iya, hampir saja saya lupa, di dekat sini adanya mushola”, tukas Furqon singkat.
Berbelok dari jalan utama ke arah kiri, Furqon mengajak Syaiful melintasi sebuah pemakaman kecil. Tak jauh dari situ, mushola tempat Furqon mengaji sudah terlihat. Tampaknya ustadz Arifin belum datang. Biasanya menjelang Dzuhur, dia sudah mengaji. Furqon menahan diri untuk mencarinya. Segera saja keduanya duduk di teras mushola itu. Syaiful menggeledah tas ranselnya. Diambilnya sebuah kaos, celana jeans dan sepasang sepatu kets. Rupanya dia tadi lupa mengganti seragam dinasnya juga sepatunya.
“Maaf Furqon, tadi saya lupa untuk memasang peralatan penyamaran saya”, katanya sambil tersipu.
“Ada-ada saja”, Furqon berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.
“Mudah-mudahan tidak ada yang curiga”, kata Syaiful lagi sambil melangkahkan kaki ke tempat wudlu.
Furqon masih tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika di dengarnya suara memanggil namanya dari kejauhan. Ustadz Arifin! Furqon makin bimbang, haruskah dia berterus terang tentang Syaiful? Ustadz Arifin semakin dekat.
“Kamu sama siapa mas Furqon?”
“Eh, anu..saya tadi sama seorang mahasiswa dari Jakarta yang hendak menyusun skripsi. Kebetulan tadi ketika saya ke sekolah, pak Sekdes menitipkan orang ini kepada saya.”
“Skripsi apa ya mas?”
“Wah, saya juga kurang tahu. Saya belum berkenalan banyak dengannya. Mungkin kita bisa tanyakan kepadanya nanti.”
“Sekarang dia kemana?”
“Dia lagi ganti baju di tempat wudlu.”
“Oh, kebetulan saya mau berwudlu, sebentar lagi kan Dzuhur. Ayo kita sholat bareng!”, ajak ustadz Arifin.
“Iya, ustadz. Aku juga mau sholat.”
Ustadz Arifin berjalan masuk ke dalam tempat wudlu diiringi oleh Furqon. Ketika hendak masuk, Syaiful sudah keluar. Ustadz Arifin tersenyum demikian juga dengan Syaiful. Ustadz Arifin sedikit terkejut, dilihatnya seorang pemuda menenteng sepasang sepatu boot hitam mengkilat dan baju seragam yang digulung. Dia tetap tersenyum sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh”, Syaiful mengulurkan tangan.
Mereka pun berjabat tangan.
“Temannya mas Furqon?”, tanya ustadz Arifin.
“Baru kenal tadi, saya Amir, mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saya mau numpang di rumah mas Furqon”, jelas Syaiful.
“Mau sholat dzuhur?”, tanya ustadz lagi.
“Iya, ma’muman ya pak”, pinta Syaiful.
Ustadz segera masuk ruang wudlu, Syaiful tersenyum kepada Furqon yang termangu. Rasanya makin banyak yang dia tidak bisa mengerti dalam kehidupannya.
Syaiful melangkah menuju tas ranselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di teras mushola. Dia kemudian tampak sibuk membenahi isi tas ransel dan memasukkan baju seragam serta sepatu PDL-nya. Sejenak waktu berselang, dia sudah masuk ke dalam mushola dan mengumandangkan adzan.
Furqon masih termangu di depan tempat wudlu, bahkan ketika ustadz Arifin sudah selesai berwudlu.
“Ayo mas, koq malah bengong?”
“A…Amir…”
“Kenapa dengan dia? Bukankah mas Furqon sudah mengenalnya?”
“Bu..bukan, saya baru tahu kalau dia ternyata sangat ramah dan mudah bergaul. Sebab dari tadi dia diam saja”, Furqon terbata-bata menutupi perasaannya.
“Oh, bagus kalau begitu. Ayo cepat, sudah ditunggu!”
Furqon pun masuk tempat wudlu. Tidak beberapa lama terdengarlah iqomah dan mereka bertiga melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
Selesai melakukan ibadah juga berdoa, ketiganya masih duduk di dalam ruang mushola yang sederhana itu. Siang yang tidak terik sebenarnya cukup membuat mata mengantuk, tetapi tidak bagi mereka. Entah euphoria apa yang tengah terjadi di dalam hati masing-masing. Ketiganya segera saja terlibat dalam sebuah diskusi sederhana, terutama karena hadirnya “Amir” di lingkungan mereka.
“Jadi mas Amir kuliah di universitas apa di Jakarta?”, tanya ustadz Arifin.
“Pak ustadz pernah ke Jakarta?”, Syaiful menjawab pertanyaan ustadz Arifin dengan pertanyaan juga.
“Dulu saya malah sempat tinggal di sana, di daerah sekitar Tanah Abang”, ustadz Arifin menjawab.
“Saya jauh dari situ pak ustadz, saya kuliah di Institut Tehnologi Budi Utama, di Klender”, jelas Syaiful.
“Oh, mahasiswa tehnik ya. Pantesan suka dengan atribut-atribut militer”, sindir ustadz Arifin.
Amir hampir tercekat mendengar pertanyaan ustadz Arifin. Tapi dia seorang petugas intelejen, soal beginian dia bisa dengan mudah kemudian.
“Biasalah anak muda, pak ustadz. Lagian tidak berbahaya bukan? Kecuali saya ikut-ikutan menyimpan dan menggunakan senjata,” jawabnya sambil ketawa.
“Sekedar buat gaya-gayaan saja lah pak ustadz”, sambungnya lagi.
“Saya tahu, terus apa yang mau diteliti di desa Prigi ini, mas Amir?”
“Saya mau meneliti pengaruh bentuk desain Masjid Demak terhadap rumah–rumah penduduk di Demak secara umum”
“Oh, jadi dari tehnik arsitektur?”
“Iya, pak ustadz”, jawab Amir sambil tersenyum.
“Lalu, maksudnya buat apa mas Amir?”, tanya Furqon yang sedari tadi diam.
“Tujuannya sih sederhana, alasannya karena Masjid Demak adalah karya monumental, sehingga pasti ada pengaruh secara psikologis terhadap rakyat Demak. Jadi, saya mau mengelompokkan dan mendokumentasikan beberapa komponen adaptasi dari Masjid Demak yang terdapat di rumah-rumah penduduk.”
“Hm..aku masih belum mengerti, fungsinya apa ya?”, lanjut Furqon lagi.
“Nantinya saya akan mengaitkannya dengan efek psikologis dari karya monumental yang menggabungkan antara budaya Hindu, Budha, dan Islam ini. Masih hipotesa saja sih, mungkin rumah orang yang leluhurnya penganut Hindu hanya akan mengadopsi komponen-komponen yang bernuansa Hindu saja. Contohnya seperti bentuk tiang yang disebut “Saka Majapahit.” Tapi secara umum sih saya melihatnya yang paling banyak diadopsi adalah bentuk menara Masjid yang khas bangunan jaman Majapahit itu, biasanya untuk pagar.”
“Wah…ternyata arsitektur itu rumit juga ya?”, kata Furqon sambil melongo.
“Kenyataannya, arsitektur itu menunjukkan pribadi suatu bangsa lho!”, tegas Amir.
“Semacam identitas ya mas Amir?”, tanya ustadz Arifin.
“Bisa dikatakan seperti itu. Siapa yang tidak kenal bentuk rumah Maroko, Yunani, Romawi, dan sebagainya.”
“Tapi di sini kebanyakan rumah ya seperti rumah orang Jawa pada umumnya mas”, sanggah Furqon.
“Oh begitu, tapi tidak mengapa, mungkin jika diperhatikan detailnya bisa saja saya menemukan keterkaitan tadi, tapi seandainya tidak ada keterkaitan pun saya sudah bisa jujur mengatakan bahwa hipotesa saya salah”, jawab Amir.
“Lha, memangnya tidak kenapa –kenapa kalau bikin hipotesa salah?”, tanya ustadz lagi.
“Saya ini apa lah, wajar jika buat suatu hipotesa kemudian salah, tapi itu juga sudah termasuk penelitian. Tidak semua penelitian itu berkorelasi positif terhadap suatu hipotesa.”
“Kalau para peneliti semuanya jujur seperti mas Amir, tidak ada lagi kasus-kasus lingkungan hidup ya”, kata Furqon sambil tertawa.
“Hahaha, bisa saja mas Furqon ini,” Amir dan ustadz Arifin pun tertawa.
“Lha itu kata pak Burhanuddin, sekarang ini banyak kerusakan lingkungan karena penelitian proyek-proyek pertambangan dan kehutanan sepertinya sudah tidak jujur lagi”, tambah Furqon.
“Mungkin hanya beberapa kasus saja, mas Furqon”, Amir mesem-mesem saja mendengar celoteh Furqon.
Siang itu sebelum akhirnya mereka berpisah, suasana cair sudah terjadi antara ketiganya. Akan tetap sebenarnya ustadz Arifin masih menyimpan tanda tanya mengenai atribut militer yang disembunyikan di dalam ransel Amir. Ustadz pun mulai berpikir – ada kasus apakah sehingga seorang petugas intel kepolisian menyusup ke desa Prigi.
Furqon dan Syaiful pamit dari pertemuan di mushola itu untuk pulang ke rumah. Hari sudah menjelang sore. Furqon teringat akan jadwalnya, biasanya jam 2 siang seperti ini dia sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat pak Burhan, mempelajari tetumbuhan.
Tiba di rumah disambut oleh ibu yang tampaknya terkejut karena ada kehadiran Amir. Dia mempersilahkan Amir duduk di teras, sementara Furqon permisi ke dalam kamarnya. Dia hendak membereskan kamar tidurnya untuk istirahat Amir.
“Anak ini siapa ya?”, tanya ibu kepada Amir.
“Saya ini seorang mahasiswa dari Jakarta, kebetulan tadi bertemu mas Furqon di Kantor Kepala Desa. Sama pak Sekdes, saya dititipkan di sini. Mohon maaf lho bu, merepotkan.”
“Ah, tidak mengapa. Sudah lama rasanya ibu tidak pernah melihat ada teman Furqon yang menginap di rumah ini. Rasanya baru kemarin dia itu duduk di SMP. Dulu dia itu aktif di Pramuka. Makanya banyak temannya bergantian menginap di sini. Apalagi waktu bapaknya masih ada. Seringkali mereka berkelana masuk ke dalam hutan”, kata ibu sambil menerawang.
“Oh begitu ya bu?”
“Terus kedatangan nak mahasiswa kemari itu apa?”
“Nama saya Amir, Bu. Kebetulan saya sedang dalam penelitian untuk tugas akhir.”
“Nak Amir pasti belum makan, makan dulu sana. Ibu tadi cuma sempat masak sayur asam dan goreng tempe, maklum makanan kampung.”
“Wah terimakasih nih, Bu. Tapi mas Furqonnya kemana ya bu?”, Amir sudah sangat lapar memang, tapi dia merasa risih karena tidak ada Furqon.
Ibu pun berteriak memanggil Furqon, “Furqon ..Furqon...”
Furqon menyahut dari dalam kamar, “Ya bu, sebentar. Sedang membereskan kamar tidur.”
Tak lama berselang, Furqon datang ke teras dimana Amir dan ibu menunggunya.
“Mas Amir, silahkan tasnya disimpan dulu di kamar saya”, kata Furqon.
“Iya, nak. Silahkan lho..”, ibu menimpali.
Amir pun permisi masuk, tas ranselnya ditaruhnya di sudut kamar. Kemudian ia keluar. Furqon memintanya mengikuti ke arah ruang makan. Furqon membuka tudung saji, mengendus bau harum masakan ibu.
“Wah, mantap sekali sambelnya!”, teriaknya.
Dia memandang Amir, dan dipersilahkannya duduk. Lalu, Furqon meletakkan piring kosong di hadapan Amir. Disorongkannya bakul nasi yang terbuat dari anyaman bambu.
“Ayo mas Amir. Silahkan dicicipi masakan ibu”, katanya.
“Terimakasih mas Furqon”, Amir menjawab dengan tenang.
Setelah mengambil nasi, mereka membanjirinya dengan sayur asam, lalu memegang sepotong tempe dan mengambil sesendok kecil sambal terasi. Nikmat sekali. Walaupun memang ada peribahasa “tidak boleh bicara ketika mulut penuh, tetapi yang terjadi memang sebuah kesunyian yang membahana. Tidak ada percakapan sama sekali. Ibu hanya memandangi saja. Furqon mencuri-curi pandang kepada Amir. Matanya seakan-akan bertanya kepada orang yang duduk di hadapannya. “Apakah yang telah kau bilang pada ibuku?” Amir kelihatan tidak menanggapi air muka dan tatapan mata dari Furqon. Bahkan berkali-kali sepertinya dia membuat isyarat kepada Furqon “Sudah tenang saja, rahasiamu akan tetap tersimpan rapi.”
Ibu tersenyum melihat mereka berdua, dipikirnya kedua anak muda itu sedang menikmati masakannya. Diambilnya sebuah sulaman tangan yang sudah lama ia kerjakan namun belum jadi. Sulaman tentang mimpinya, gambar pelataran Baitullah. Sebelum mulai menyulam, didekapnya sulaman itu dan matanya terpejam.
Tak beberapa lama, Furqon dan Amir sudah selesai makan. Furqon mendekati ibunya dan berkata,”Bu, saya mesti pergi lagi. Mau ke tempat pak Burhan.”
“Terus mas Amir bagaimana?”
“Biarkan dia beristirahat dahulu bu, dia kan baru datang dari Jakarta tadi subuh.”
“Oh ya sudah. Silahkan lho, mas Amir. Tidur saja di kamar Furqon.”
“Iya, bu. Tapi sehabis makan rasanya kurang enak jika saya tiduran. Mungkin saya mau keliling kampung ini dulu. Baru beristirahat”, kata Amir.
“Maaf ya mas Amir, saya tinggal sebentar”, Furqon berpamitan.
Furqon menyalami ibunya, lalu pergi ke luar rumah. Langkahnya sangat cepat, sehingga dalam hitungan menit saja sudah tidak kelihatan lagi dia.
“Bu, saya juga pamit mau jalan-jalan. Siapa tahu ada inspirasi yang berguna untuk skripsi saya”, Amir pun pamit kepada ibu.
“Baiklah, silahkan nak.”
***

0 Comments:
Post a Comment
<< Home