BAB XVI. Rendevouz
Pagi hari, sebelum belajar ilmu pertanian, Furqon menyempatkan diri pergi ke rumah ustadz Arifin. Pikirannya sudah buntu ingin cepat mengungkap tanda tanya yang sedari tadi malam berputar-putar memenjarakan dirinya dalam labirin kerinduan akan jawaban.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa alaikum salam, tumben pagi-pagi sekali mas Furqon, ada apa?”
“Begini ustadz, tadi malam saya mimpi aneh sekali. Terlebih ada persoalan yang memang belum saya temukan jawabannya. Makanya saya datang ke sini, untuk …”
“Mencari jawaban? Saya ini hanya seorang ustadz, lagipula persoalan apalagi yang mas Furqon pikirkan hingga bermimpi begitu?”
“Saya itu masih bingung menghubungkan antara hubungan vertikal antara kita dengan ALLAH dan hubungan horizontal antar sesama. Lalu dimanakah letak cinta terhadap ALLAH? Kemudian tadi malam saya mimpi, diminta memberikan laporan tentang perjalanan saya mencari cinta terhadap ALLAH itu.”
“Wah, memang cukup berat pertanyaan mas ini. Apakah kita mau membahasnya sekarang, atau nanti setelah mas pulang dari tempat pak Burhan?”
“Jadi ustadz tahu jawabannya?”
“Saya tidak bisa menjawabnya, sebab nanti mas Furqon sendiri lah yang bisa menyim-pulkannya.”
“Kalau begitu, sekarang saja ustadz berikan penjelasan kepada saya.”
“Sampai lupa, silahkan duduk dulu. Sambil minum teh ya? Kebetulan saya belum sempat sarapan…”
Lalu keduanya duduk di teras, ustadz Arifin masuk ke dalam sebentar untuk menyiapkan teh manis untuk mereka berdua. Tak beberapa lama, ustadz Arifin membawa talam berisi dua cangkir teh manis dan sepiring ubi goreng.
“Waduh ustadz jangan repot-repot begini, saya jadi tidak enak.”
“Kebetulan kemarin habis Kemisan, ada yang bawain singkong. Ya sudah aku goreng saja tadi pagi. Ayo silahkan…”
(Kemisan adalah tradisi setiap minggu di hari kamis dengan memberikan bantuan kepada guru ngaji, entah berupa uang atau sembako; sebagai tanda terima kasih).
“Begini mas Furqon, kita hidup sebagai manusia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar sebagai khalifah di muka bumi ini. Pertama, tanggung jawab yang berkenaan dengan akidah atau agama; yaitu tanggung jawab terhadap ALLAH dan Rasulnya. Pada bagian ini, manusia adalah hamba yang tugasnya bertaqwa dan menjalankan syariat agama. Kedua, tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bertanggungjawab sepenuhnya atas segala tindakan dan pemikirannya, juga rohaninya. Dan yang ketiga adalah tanggung jawab manusia terhadap masyarakatnya dan lingkungannya. Dalam hal ini, termasuk juga kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”
“Lalu hubungannya dengan cinta terhadap ALLAH?”
“Apakah mas Furqon tidak bisa melihatnya?”
“Yang ustadz bahas tadi hanyalah tanggung jawab, lalu dimana letaknya cinta?”
“Jika mas Furqon menikah, apakah mas mencintai pasangan mas sebelumnya?”
“Tentu saja! Harus itu!”
“Kemudian di dalam pernikahan itu, apakah mas sebagai suami punya tanggung jawab? Demikian juga dengan istri yang mencintai suami, dia juga punya tanggung jawab bukan?”
“Ya, benar…”
“Jadi bagaimana mas Furqon?”
“Saya mengerti sekarang, cinta adalah dasar dari tanggung jawab itu semua. Baik dalam hubungan vertikal maupun hubungan horizontal. Jadi sebenarnya cinta terhadap ALLAH tidak perlu dicari?”
“Saya tidak mengatakan begitu mas Furqon, tapi mungkin sebenarnya adalah kita harus melaksanakan semua perintahNYA dan menjauhi semua laranganNYA semata-mata karena cinta kita kepadaNYA. Bukankah itu lebih indah?”
“Jadi sebenarnya dulu, ketika saya menyatakan bahwa saya ingin mencari cinta Illahiah itu salah?”
“Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu salah atau benar mas Furqon, tapi coba lihatlah dengan sudut pandang yang lain. Mungkin di situ kita bisa lebih menikmati hidup ini.”
“Maksudnya?”
“DIA telah mencintai kita sebelum kita berusaha mencintaiNYA. Jadi, selama kita hidup tetap nyalakanlah api cintaNYA dengan cara membalas cintaNYA melalui semua yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita harapkan dengan seluruh tanggung jawab kita sebagai hambaNYA.”
“Astagfirullah, berarti selama ini saya keliru!”
“Sudah dapat yang hendak mas Furqon tuliskan untuk temannya?”
“Wah, ternyata memang sudah tepat pagi-pagi ini saya bertemu dengan ustadz.”
“Saya tidak menggurui lho mas Furqon, mas sendiri yang menyimpulkan jawaban.”
“Waduh, saya sangat berterimakasih ustadz!”
“Jangan buru-buru pergi, cicipin dulu singkong gorengnya lho…”
“Iya, iya, ustadz. Terimakasih.”
Furqon menyomot sebuah singkong goreng, lalu dengan sabar mengunyahnya. Ustadz Arifin menyeruput tehnya dengan senyuman berarti atas pertanyaan-pertanyaan Furqon tadi.
Tak lama kemudian, Furqon pun pamit. Dia hendak ke tempat pak Burhanuddin. Kali ini untuk ilmu yang lain, yaitu ilmu tentang pertanian. Tanggung jawab yang harus dia penuhi untuk lingkungannya, memenuhi kebutuhan hidup orang lain dengan sayur mayur dan tanaman-tanaman lainnya, setidaknya demikian. Pada saat Furqon hendak mengayuh, ustadz berkata pelan, “Ada tanggung jawab yang belum bisa kita lakukan, yaitu tanggung jawab terhadap keluarga kita sendiri.”
Furqon tertegun sejenak. Lekat dia tatap ustadz Arifin yang tersenyum. Hatinya merasa ditembak, dia ternyata juga harus memikirkan mengenai pernikahan dan membentuk keluarga sendiri. Dulu dia pernah mendengar ungkapan “Setidaknya separuh dari agama telah dilengkapi jika kita menikah”, dia sekarang berpikir “Benarkah demikian adanya?” Dia susah menangkap arti senyum ustadz Arifin, sebab ustadz muda itu juga belum menikah. Dia sungkan membalas dengan kata, diulasnya selembar senyuman dan anggukan tanda setuju. Nanti sore dia harus membahasnya sampai tuntas.
Dia pun bergegas pergi menuju SD dekat kantor kepala desa, hari sudah siang. Dia bisa terlambat membahas soal-soal ujian dengan teman-teman dan gurunya. Setiba di jalan raya dia menunggu mobil angkutan pedesaan. Hanya itulah satu-satunya transportasi di desanya. Sebenarnya dia mampu untuk membeli sebuah sepeda motor bekas, tapi dipikirnya daripada untuk membeli itu, lebih baik untuk modal berladang saja. Siapa tahu musim panen nanti dia bisa mulai menabung untuk berangkat haji.
Sebuah sepeda motor melaju, penumpangnya dua orang. Polisi! Pemandangan yang sangat jarang di desa yang aman tentram. Biasanya kalau ada apa-apa, mereka lebih cepat melapor kepada markas KORAMIL daripada Pos Polisi yang letaknya di dekat pasar besar kecamatan Kebon Agung. Jarang juga ada patroli polisi di desa ini. Sebab Prigi adalah desa yang tenang, tidak pernah ada kejadian yang menggemparkan di desa ini.
Sosok polisi yang dibonceng sepertinya sangat akrab di ingatannya. Cuma sekarang dia agak berjanggut dan rambutnya sedikit panjang. Di belakang sepeda motor polisi itu sudah menyusul mobil angkutan pedesaan. Segera saja dilambaikan tangan untuk menghentikannya. Rasa penasaran masih membayang di wajahnya ketika dia memasuki kabin penumpang, hampir saja kepalanya terbentur pintu. Orang-orang di dalam mobil angkutan melihatnya dengan pandangan yang aneh. Mungkin hendak menertawainya. Tapi, sudahlah…yang penting kepalanya tidak jadi terbentur.
Dipandangnya lekat sepeda motor yang melaju di depan mobil angkutan pedesaan itu. Dia berusaha betul untuk mengenali sosok polisi yang membonceng dan menyandang sebuah ransel agak besar. Angkutan terhenti, karena seorang bapak berbaju batik menghentikannya. Polisi bermotor itu sudah tidak kelihatan lagi.
Tak lama, terlihatlah kantor Kepala Desa Prigi, sebentar lagi SDN Prigi I tempat dia menjalani pendidikan persamaan SMU-nya. Furqon segera meminta sopir untuk berhenti.
Langkahnya menyeberang jalan terhenti. Dilihat dua orang Polisi yang sedang berbincang-bincang dengan bapak Sekretaris Desa. Pemandangan itu tidak menyurutkan langkahnya, sudah ditepis keingintahuannya pada polisi yang berjenggot itu. Mungkin saja déjà vu, soalnya dia memang pernah sempat mendekam dalam tahanan kantor kepolisian dulu.
Furqon menyeberang dengan tenang, dan terus pergi ke arah SDN Prigi I. Rasanya dia sudah sangat terlambat. Sekolah sedang sepi karena musim liburan, akan tetapi dari dalam terdengar suara orang dewasa sedang bercanda. Nampaknya kelasnya sudah dimulai. Furqon terus melangkah.
Tiba-tiba, ada suara yang pernah dikenalnya berseru kepadanya. “Furqon! Furqon!” Dia menghentikan langkah. Astaga! Benarkah dia?
Dia menoleh ke arah suara itu berasal. Seorang polisi dengan jenggot, rambutnya sedikit panjang. Polisi itu berteriak sambil melambaikan tangan kepadanya. Terpaku, ragu-ragu, dan kaget, menjadi satu. Siapakah polisi itu? Apakah benar dia mengenalnya?
“Mas Furqon, dipanggil koq diam saja?”, kata pak Sekdes. Furqon meletakkan jari telunjuk di dadanya, seakan belum percaya jika dia yang dipanggil berulang kali siang itu. Dia baru sadar begitu kedua orang yang berada di teras kantor Kepala Desa Prigi itu mengangguk dan melambaikan tangan kepadanya. Masih belum yakin, ditengok arah di belakangnya. Tidak ada siapa-siapa, berarti memang benar dirinyalah yang dimaksud oleh mereka.
Furqon masih dalam kebingungan berjalan menjauhi ruang-ruang kelas yang ditujunya. Kebimbangan menyeretnya menemui tiga orang yang berdiri di teras kantor Kepala Desa, kumis baplang pak Sekdes yang mulai memutih, jenggot polisi yang tidak wajar, dan kacamata yang dipakai oleh seorang polisi yang lain yang agak diturunkan letaknya, kelihatan semakin dekat. Yang jelas suasana hatinya mirip saat dia digelandang masuk ke mobil patroli.
“Ada apa pak Sekdes?”
“Aku juga tidak tahu, cuma pak Polisi ini sepertinya mengenalmu”, kata pak Sekdes sambil menunjuk polisi yang berjengot itu.
Furqon menatap pada mata petugas polisi itu, dia berusaha keras untuk mengenalinya. Dia yang dipandanginya tertawa.
“Ternyata, penyamaranku sangat bagus bukan?”, katanya.
Mendengar suaranya, Furqon ragu-ragu mencoba menebaknya.
“Benarkah ini pak Syaiful?”
“Sudah lupakah engkau padaku, Furqon?”
“Ya ampun pak, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkirim kabar!”
“Baik, baik, Furqon. Kenalkan ini Bripka Mugiyono”, katanya sambil memperkenalkan pada petugas polisi yang berkacamata.
“Selamat siang pak Furqon”, sapanya.
“Wah, jangan dipanggil “pak” dong, saya merasa belum pantas”, pinta Furqon padanya.
“Sudah lama kenal dengan Iptu Syaiful? Sepertinya kalian cukup akrab”, kata Mugiyono.
“Furqon ini dulu karyawan dari perusahaan tempat kakak saya bekerja”, jelas Syaiful tiba-tiba pada Mugiyono dan pak Sekdes, dia sepertinya tahu Furqon berat hati untuk menceritakan perkenalan mereka dulu.
Furqon sempat menahan nafas, sebab dia masih merahasiakan bahwa dirinya dulu pernah ditahan Polisi selama satu malam. Mendengar penjelasan Syaiful tentang dirinya, dia tersenyum kembali.
“Kalau saya tidak bertemu pak Syaiful, saya juga tidak bisa bekerja di perusahaan itu”, Furqon menambahkan penjelasan Syaiful.
“Wah, beruntung sekali ya kamu mas!”, kata pak Sekdes sembari menepuk-nepuk punggun Furqon.
Pak Sekdes mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya. Seorang pelayan segera dimintanya membuatkan tiga gelas teh manis untuk mereka. Bripka Mugiyono kemudian memulai pembicaraan.
“Pak Kepala Desa sedang tidak di tempat, pak Sekdes?”
“Oh, kebetulan beliau itu sedang mengikuti kaderisasi di Jakarta, sudah seminggu ini dia pergi.”
“Kaderisasi?”
“Istilahnya begitu, tapi sebenarnya semacam simposium mengenai pelaksanaan otonomi daerah, pak.”
“Oh begitu. Begini pak, kedatangan kami ke desa ini, karena menurut banyak pihak, desa Prigi ini sangatlah aman. Angka kriminalitasnya rendah, dan penduduknya juga tidak banyak yang melakukan aktivitas keluar desa. Berdasarkan hal-hal seperti itulah, maka kami hendak melakukan penyisiran terhadap desa ini. Kenapa? Karena kondisi seperti desa inilah yang biasanya dijadikan tempat persembunyian para teroris.”
Pak Sekdes dan Furqon terperanjat. Baru kali ini dia mendengar kemungkinan masuknya teroris ke desa mereka.
“Teroris?”
“Tenang saja pak, sejauh ini kami memang belum mempunyai informasi yang cukup berarti mengenai kemungkinan tersebut. Tapi setidaknya tidak ada salahnya kita mencoba membersihkan lingkungan desa ini dari hal-hal seperti itu”, tambah Syaiful kalem.
“Lalu apa yang harus kami lakukan pak?”, tanya Furqon.
“Jangan melakukan apa-apa, biarkan saja kami yang bekerja. Hanya saja kami perlu kerja sama dari seluruh masyarakat di sini untuk melaporkan hal-hal yang sekiranya mencurigakan”, jelas Mugiyono.
“Oh iya, Furqon. Bolehkah aku menumpang di rumahmu?”, Syaiful memandang tajam pada Furqon.
“Tentu saja pak, dengan senang hati”, meski begitu dalam hatinya masih ragu apalagi jika ibunya menanyakan bagaimanakah mereka bertemu.
“Pak Mugi akan menginap dimana?”, tanya pak Sekdes.
“Kalau saya sih orang Demak asli, pak”,jawabnya.
“Oh maaf, maaf. Saya tidak memperhatikan. Biasalah pak, orang kampung kalau sudah kedatangan Polisi jadinya bingung”, pak Sekdes baru menyadari kekeliruannya, dia tidak membaca tanda – tanda yang terpasang di baju dinas Mugiyono.
“Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, saya mau ke sekolah dulu pak”, pinta Furqon.
“Lho, mas Furqon ini bagaimana sih? Kan pak Syaiful mau langsung ke tempat mas Furqon, bukan begitu pak?”, kata pak Sekdes.
“Betul pak”, tandas Syaiful. Lalu lanjutnya,”Bisa sekarang mas Furqon?”
Furqon berpikir, ada apakah gerangan? Semuanya serba tiba-tiba. Tadi malam dia bermimpi tentang pak Theo, sekarang dia bertemu dengan Syaiful. Terbata-bata, dia mengiyakan permintaan Syaiful.
“Mari pak Sekdes, saya permisi dulu”, ujarnya kemudian.
“Iya, iya, hati-hati mas Furqon. Silahkan pak Syaiful”, jawab pak Sekdes.
Mugiyono menuruti langkah mereka, dari belakang. Pak Sekdes sedikit bingung, antara tetap duduk dan meneruskan obrolan dengan Bripka Mugiyono atau menuruti langkah mereka semua. Tapi nampaknya Bripka Mugiyono tidak lagi ingin mengatakan apa-apa, karena dia sudah berada di depan pintu ruangan. Akhirnya ia pun mengikuti langkah mereka keluar, padahal dalam hatinya dia ingin mengupas tujuan para polisi itu menyisir desa yang damai ini. Kemudian dia menatap pada Furqon, mungkin lewatnyalah dia bisa mendapatkan sejumlah informasi yang berarti nanti. Apalagi salah satu petugas polisi itu menginap di tempat Furqon. Maka keluarlah mereka dari pintu kantor Kepala Desa. Beberapa pegawai kantor Kepala Desa berbisik-bisik. Nampaknya mereka juga ikut bingung dengan kedatangan anggota polisi itu. Mugiyono pamit mengambil sepeda motornya, sementara Furqon dan Syaiful menuju ke tepi jalan untuk menunggu angkutan.
“Terimakasih pak Sekdes, minta tolong sampaikan pesan saya kepada pak Lurah, juga mengenai Iptu Syaiful yang akan tinggal bersama mas Furqon itu. Mohon dibantu”, demikian pesan Mugiyono sebelum menstater sepeda motornya. Pak Sekdes mengiyakan dengan anggukan kepala.
Furqon dan Syaiful melambaikan tangan kepadanya begitu Mugiyono, kemudian mereka menganggukkan kepala sebagai tanda perpisahan kepada pak Sekdes yang melambaikan tangan kepada mereka berdua juga.
Dalam pertungguan itu Furqon tidak berani membuka percakapan, Syaiful hanya tersenyum melihat tingkah kikuknya.
“Apakah kira-kira saya tidak menyusahkanmu?”, tanyanya tiba-tiba.
Furqon terperanjat, dia tidak mengira orang yang pernah membantunya menyatakan rasa sungkan kepadanya.
“Tentu saja tidak pak, justru saya yang bingung bagaimana harus menjamu bapak di rumah saya yang sederhana.”
“Sebenarnya kamu bingung karena itu atau bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada orang-orang di sekitarmu tentang kehadiranku di sini?”
“Bagaimana ya pak? Pertama itu, kedua juga saya merasa tidak nyaman dengan masa lalu saya itu.”
“Begini Furqon, saya tidak akan menyinggung mengenai hal itu. Bahkan saya memintamu untuk merahasiakan saya sebagai petugas kepolisian. Di sini saya akan memperkenal diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.”
“Begitu yah?”
“Tapi nanti saya ceritakan di rumah saja. Saya ingin bertemu dengan sosok ibu yang kamu rindukan dahulu.”
“Baiklah pak”
Sebuah mobil angkutan pedesaan berhenti. Mereka berdua segera masuk ke dalamnya. Di dalam mobil itu, Furqon masih membisu sementara tatapannya melekat pada sosok Syaiful Huda yang terlihat diam sambil mengamati para penumpang. Sepertinya mereka juga bertanya – tanya.
“Aduh, aku koq jadi lupa!”, teriak Syaiful tiba-tiba.
“Kenapa pak?”
“Ah, tidak apa-apa, apakah di dekat rumah mas Furqon ada masjid atau mushola?”
“Ada pak, kenapa memang?”
“Ya sudah, nanti kita berhenti dulu di sana.”
“Pak Syaiful mau sholat?”
Syaiful tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Furqon.
Jalanan pedesaan memang sangat lengang, tidak banyak sepeda motor yang lalu lalang, sepeda juga. Orang-orang tampak berjalan kaki pulang dari sawah dan ladang. Desa Prigi cukup sejuk hingga udara siang itu dirasa tidak begitu panas. Ingin rasanya Syaiful tinggal di tempat seperti ini. Prigi menawarkan kedamaian, sedangkan Jakarta adalah kota tempat bekerja keras melawan polusi dan kekejaman. Apalagi dia dulu sempat bergabung di Unit Reserse. Dia sudah merasakan perlawanan dari kemiskinan, kejahatan juga keputusasaan. Seperti dulu, dia menemukan Furqon di lembah putus asa.
Furqon mengusap wajahnya, rasanya dia tidak bisa lagi percaya dengan kenyataan yang terjadi di hari ini. Sepertinya dia kembali bermimpi kembali pada masa lima tahun yang lalu, sebuah déjà vu! Tapi mungkin tidak, karena déjà vu tidak seperti ini, perasaan ini lebih tepatnya seperti sebuah rendevouz.
***
“Assalamu’alaikum!”
“Wa alaikum salam, tumben pagi-pagi sekali mas Furqon, ada apa?”
“Begini ustadz, tadi malam saya mimpi aneh sekali. Terlebih ada persoalan yang memang belum saya temukan jawabannya. Makanya saya datang ke sini, untuk …”
“Mencari jawaban? Saya ini hanya seorang ustadz, lagipula persoalan apalagi yang mas Furqon pikirkan hingga bermimpi begitu?”
“Saya itu masih bingung menghubungkan antara hubungan vertikal antara kita dengan ALLAH dan hubungan horizontal antar sesama. Lalu dimanakah letak cinta terhadap ALLAH? Kemudian tadi malam saya mimpi, diminta memberikan laporan tentang perjalanan saya mencari cinta terhadap ALLAH itu.”
“Wah, memang cukup berat pertanyaan mas ini. Apakah kita mau membahasnya sekarang, atau nanti setelah mas pulang dari tempat pak Burhan?”
“Jadi ustadz tahu jawabannya?”
“Saya tidak bisa menjawabnya, sebab nanti mas Furqon sendiri lah yang bisa menyim-pulkannya.”
“Kalau begitu, sekarang saja ustadz berikan penjelasan kepada saya.”
“Sampai lupa, silahkan duduk dulu. Sambil minum teh ya? Kebetulan saya belum sempat sarapan…”
Lalu keduanya duduk di teras, ustadz Arifin masuk ke dalam sebentar untuk menyiapkan teh manis untuk mereka berdua. Tak beberapa lama, ustadz Arifin membawa talam berisi dua cangkir teh manis dan sepiring ubi goreng.
“Waduh ustadz jangan repot-repot begini, saya jadi tidak enak.”
“Kebetulan kemarin habis Kemisan, ada yang bawain singkong. Ya sudah aku goreng saja tadi pagi. Ayo silahkan…”
(Kemisan adalah tradisi setiap minggu di hari kamis dengan memberikan bantuan kepada guru ngaji, entah berupa uang atau sembako; sebagai tanda terima kasih).
“Begini mas Furqon, kita hidup sebagai manusia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar sebagai khalifah di muka bumi ini. Pertama, tanggung jawab yang berkenaan dengan akidah atau agama; yaitu tanggung jawab terhadap ALLAH dan Rasulnya. Pada bagian ini, manusia adalah hamba yang tugasnya bertaqwa dan menjalankan syariat agama. Kedua, tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bertanggungjawab sepenuhnya atas segala tindakan dan pemikirannya, juga rohaninya. Dan yang ketiga adalah tanggung jawab manusia terhadap masyarakatnya dan lingkungannya. Dalam hal ini, termasuk juga kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”
“Lalu hubungannya dengan cinta terhadap ALLAH?”
“Apakah mas Furqon tidak bisa melihatnya?”
“Yang ustadz bahas tadi hanyalah tanggung jawab, lalu dimana letaknya cinta?”
“Jika mas Furqon menikah, apakah mas mencintai pasangan mas sebelumnya?”
“Tentu saja! Harus itu!”
“Kemudian di dalam pernikahan itu, apakah mas sebagai suami punya tanggung jawab? Demikian juga dengan istri yang mencintai suami, dia juga punya tanggung jawab bukan?”
“Ya, benar…”
“Jadi bagaimana mas Furqon?”
“Saya mengerti sekarang, cinta adalah dasar dari tanggung jawab itu semua. Baik dalam hubungan vertikal maupun hubungan horizontal. Jadi sebenarnya cinta terhadap ALLAH tidak perlu dicari?”
“Saya tidak mengatakan begitu mas Furqon, tapi mungkin sebenarnya adalah kita harus melaksanakan semua perintahNYA dan menjauhi semua laranganNYA semata-mata karena cinta kita kepadaNYA. Bukankah itu lebih indah?”
“Jadi sebenarnya dulu, ketika saya menyatakan bahwa saya ingin mencari cinta Illahiah itu salah?”
“Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu salah atau benar mas Furqon, tapi coba lihatlah dengan sudut pandang yang lain. Mungkin di situ kita bisa lebih menikmati hidup ini.”
“Maksudnya?”
“DIA telah mencintai kita sebelum kita berusaha mencintaiNYA. Jadi, selama kita hidup tetap nyalakanlah api cintaNYA dengan cara membalas cintaNYA melalui semua yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita harapkan dengan seluruh tanggung jawab kita sebagai hambaNYA.”
“Astagfirullah, berarti selama ini saya keliru!”
“Sudah dapat yang hendak mas Furqon tuliskan untuk temannya?”
“Wah, ternyata memang sudah tepat pagi-pagi ini saya bertemu dengan ustadz.”
“Saya tidak menggurui lho mas Furqon, mas sendiri yang menyimpulkan jawaban.”
“Waduh, saya sangat berterimakasih ustadz!”
“Jangan buru-buru pergi, cicipin dulu singkong gorengnya lho…”
“Iya, iya, ustadz. Terimakasih.”
Furqon menyomot sebuah singkong goreng, lalu dengan sabar mengunyahnya. Ustadz Arifin menyeruput tehnya dengan senyuman berarti atas pertanyaan-pertanyaan Furqon tadi.
Tak lama kemudian, Furqon pun pamit. Dia hendak ke tempat pak Burhanuddin. Kali ini untuk ilmu yang lain, yaitu ilmu tentang pertanian. Tanggung jawab yang harus dia penuhi untuk lingkungannya, memenuhi kebutuhan hidup orang lain dengan sayur mayur dan tanaman-tanaman lainnya, setidaknya demikian. Pada saat Furqon hendak mengayuh, ustadz berkata pelan, “Ada tanggung jawab yang belum bisa kita lakukan, yaitu tanggung jawab terhadap keluarga kita sendiri.”
Furqon tertegun sejenak. Lekat dia tatap ustadz Arifin yang tersenyum. Hatinya merasa ditembak, dia ternyata juga harus memikirkan mengenai pernikahan dan membentuk keluarga sendiri. Dulu dia pernah mendengar ungkapan “Setidaknya separuh dari agama telah dilengkapi jika kita menikah”, dia sekarang berpikir “Benarkah demikian adanya?” Dia susah menangkap arti senyum ustadz Arifin, sebab ustadz muda itu juga belum menikah. Dia sungkan membalas dengan kata, diulasnya selembar senyuman dan anggukan tanda setuju. Nanti sore dia harus membahasnya sampai tuntas.
Dia pun bergegas pergi menuju SD dekat kantor kepala desa, hari sudah siang. Dia bisa terlambat membahas soal-soal ujian dengan teman-teman dan gurunya. Setiba di jalan raya dia menunggu mobil angkutan pedesaan. Hanya itulah satu-satunya transportasi di desanya. Sebenarnya dia mampu untuk membeli sebuah sepeda motor bekas, tapi dipikirnya daripada untuk membeli itu, lebih baik untuk modal berladang saja. Siapa tahu musim panen nanti dia bisa mulai menabung untuk berangkat haji.
Sebuah sepeda motor melaju, penumpangnya dua orang. Polisi! Pemandangan yang sangat jarang di desa yang aman tentram. Biasanya kalau ada apa-apa, mereka lebih cepat melapor kepada markas KORAMIL daripada Pos Polisi yang letaknya di dekat pasar besar kecamatan Kebon Agung. Jarang juga ada patroli polisi di desa ini. Sebab Prigi adalah desa yang tenang, tidak pernah ada kejadian yang menggemparkan di desa ini.
Sosok polisi yang dibonceng sepertinya sangat akrab di ingatannya. Cuma sekarang dia agak berjanggut dan rambutnya sedikit panjang. Di belakang sepeda motor polisi itu sudah menyusul mobil angkutan pedesaan. Segera saja dilambaikan tangan untuk menghentikannya. Rasa penasaran masih membayang di wajahnya ketika dia memasuki kabin penumpang, hampir saja kepalanya terbentur pintu. Orang-orang di dalam mobil angkutan melihatnya dengan pandangan yang aneh. Mungkin hendak menertawainya. Tapi, sudahlah…yang penting kepalanya tidak jadi terbentur.
Dipandangnya lekat sepeda motor yang melaju di depan mobil angkutan pedesaan itu. Dia berusaha betul untuk mengenali sosok polisi yang membonceng dan menyandang sebuah ransel agak besar. Angkutan terhenti, karena seorang bapak berbaju batik menghentikannya. Polisi bermotor itu sudah tidak kelihatan lagi.
Tak lama, terlihatlah kantor Kepala Desa Prigi, sebentar lagi SDN Prigi I tempat dia menjalani pendidikan persamaan SMU-nya. Furqon segera meminta sopir untuk berhenti.
Langkahnya menyeberang jalan terhenti. Dilihat dua orang Polisi yang sedang berbincang-bincang dengan bapak Sekretaris Desa. Pemandangan itu tidak menyurutkan langkahnya, sudah ditepis keingintahuannya pada polisi yang berjenggot itu. Mungkin saja déjà vu, soalnya dia memang pernah sempat mendekam dalam tahanan kantor kepolisian dulu.
Furqon menyeberang dengan tenang, dan terus pergi ke arah SDN Prigi I. Rasanya dia sudah sangat terlambat. Sekolah sedang sepi karena musim liburan, akan tetapi dari dalam terdengar suara orang dewasa sedang bercanda. Nampaknya kelasnya sudah dimulai. Furqon terus melangkah.
Tiba-tiba, ada suara yang pernah dikenalnya berseru kepadanya. “Furqon! Furqon!” Dia menghentikan langkah. Astaga! Benarkah dia?
Dia menoleh ke arah suara itu berasal. Seorang polisi dengan jenggot, rambutnya sedikit panjang. Polisi itu berteriak sambil melambaikan tangan kepadanya. Terpaku, ragu-ragu, dan kaget, menjadi satu. Siapakah polisi itu? Apakah benar dia mengenalnya?
“Mas Furqon, dipanggil koq diam saja?”, kata pak Sekdes. Furqon meletakkan jari telunjuk di dadanya, seakan belum percaya jika dia yang dipanggil berulang kali siang itu. Dia baru sadar begitu kedua orang yang berada di teras kantor Kepala Desa Prigi itu mengangguk dan melambaikan tangan kepadanya. Masih belum yakin, ditengok arah di belakangnya. Tidak ada siapa-siapa, berarti memang benar dirinyalah yang dimaksud oleh mereka.
Furqon masih dalam kebingungan berjalan menjauhi ruang-ruang kelas yang ditujunya. Kebimbangan menyeretnya menemui tiga orang yang berdiri di teras kantor Kepala Desa, kumis baplang pak Sekdes yang mulai memutih, jenggot polisi yang tidak wajar, dan kacamata yang dipakai oleh seorang polisi yang lain yang agak diturunkan letaknya, kelihatan semakin dekat. Yang jelas suasana hatinya mirip saat dia digelandang masuk ke mobil patroli.
“Ada apa pak Sekdes?”
“Aku juga tidak tahu, cuma pak Polisi ini sepertinya mengenalmu”, kata pak Sekdes sambil menunjuk polisi yang berjengot itu.
Furqon menatap pada mata petugas polisi itu, dia berusaha keras untuk mengenalinya. Dia yang dipandanginya tertawa.
“Ternyata, penyamaranku sangat bagus bukan?”, katanya.
Mendengar suaranya, Furqon ragu-ragu mencoba menebaknya.
“Benarkah ini pak Syaiful?”
“Sudah lupakah engkau padaku, Furqon?”
“Ya ampun pak, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkirim kabar!”
“Baik, baik, Furqon. Kenalkan ini Bripka Mugiyono”, katanya sambil memperkenalkan pada petugas polisi yang berkacamata.
“Selamat siang pak Furqon”, sapanya.
“Wah, jangan dipanggil “pak” dong, saya merasa belum pantas”, pinta Furqon padanya.
“Sudah lama kenal dengan Iptu Syaiful? Sepertinya kalian cukup akrab”, kata Mugiyono.
“Furqon ini dulu karyawan dari perusahaan tempat kakak saya bekerja”, jelas Syaiful tiba-tiba pada Mugiyono dan pak Sekdes, dia sepertinya tahu Furqon berat hati untuk menceritakan perkenalan mereka dulu.
Furqon sempat menahan nafas, sebab dia masih merahasiakan bahwa dirinya dulu pernah ditahan Polisi selama satu malam. Mendengar penjelasan Syaiful tentang dirinya, dia tersenyum kembali.
“Kalau saya tidak bertemu pak Syaiful, saya juga tidak bisa bekerja di perusahaan itu”, Furqon menambahkan penjelasan Syaiful.
“Wah, beruntung sekali ya kamu mas!”, kata pak Sekdes sembari menepuk-nepuk punggun Furqon.
Pak Sekdes mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya. Seorang pelayan segera dimintanya membuatkan tiga gelas teh manis untuk mereka. Bripka Mugiyono kemudian memulai pembicaraan.
“Pak Kepala Desa sedang tidak di tempat, pak Sekdes?”
“Oh, kebetulan beliau itu sedang mengikuti kaderisasi di Jakarta, sudah seminggu ini dia pergi.”
“Kaderisasi?”
“Istilahnya begitu, tapi sebenarnya semacam simposium mengenai pelaksanaan otonomi daerah, pak.”
“Oh begitu. Begini pak, kedatangan kami ke desa ini, karena menurut banyak pihak, desa Prigi ini sangatlah aman. Angka kriminalitasnya rendah, dan penduduknya juga tidak banyak yang melakukan aktivitas keluar desa. Berdasarkan hal-hal seperti itulah, maka kami hendak melakukan penyisiran terhadap desa ini. Kenapa? Karena kondisi seperti desa inilah yang biasanya dijadikan tempat persembunyian para teroris.”
Pak Sekdes dan Furqon terperanjat. Baru kali ini dia mendengar kemungkinan masuknya teroris ke desa mereka.
“Teroris?”
“Tenang saja pak, sejauh ini kami memang belum mempunyai informasi yang cukup berarti mengenai kemungkinan tersebut. Tapi setidaknya tidak ada salahnya kita mencoba membersihkan lingkungan desa ini dari hal-hal seperti itu”, tambah Syaiful kalem.
“Lalu apa yang harus kami lakukan pak?”, tanya Furqon.
“Jangan melakukan apa-apa, biarkan saja kami yang bekerja. Hanya saja kami perlu kerja sama dari seluruh masyarakat di sini untuk melaporkan hal-hal yang sekiranya mencurigakan”, jelas Mugiyono.
“Oh iya, Furqon. Bolehkah aku menumpang di rumahmu?”, Syaiful memandang tajam pada Furqon.
“Tentu saja pak, dengan senang hati”, meski begitu dalam hatinya masih ragu apalagi jika ibunya menanyakan bagaimanakah mereka bertemu.
“Pak Mugi akan menginap dimana?”, tanya pak Sekdes.
“Kalau saya sih orang Demak asli, pak”,jawabnya.
“Oh maaf, maaf. Saya tidak memperhatikan. Biasalah pak, orang kampung kalau sudah kedatangan Polisi jadinya bingung”, pak Sekdes baru menyadari kekeliruannya, dia tidak membaca tanda – tanda yang terpasang di baju dinas Mugiyono.
“Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, saya mau ke sekolah dulu pak”, pinta Furqon.
“Lho, mas Furqon ini bagaimana sih? Kan pak Syaiful mau langsung ke tempat mas Furqon, bukan begitu pak?”, kata pak Sekdes.
“Betul pak”, tandas Syaiful. Lalu lanjutnya,”Bisa sekarang mas Furqon?”
Furqon berpikir, ada apakah gerangan? Semuanya serba tiba-tiba. Tadi malam dia bermimpi tentang pak Theo, sekarang dia bertemu dengan Syaiful. Terbata-bata, dia mengiyakan permintaan Syaiful.
“Mari pak Sekdes, saya permisi dulu”, ujarnya kemudian.
“Iya, iya, hati-hati mas Furqon. Silahkan pak Syaiful”, jawab pak Sekdes.
Mugiyono menuruti langkah mereka, dari belakang. Pak Sekdes sedikit bingung, antara tetap duduk dan meneruskan obrolan dengan Bripka Mugiyono atau menuruti langkah mereka semua. Tapi nampaknya Bripka Mugiyono tidak lagi ingin mengatakan apa-apa, karena dia sudah berada di depan pintu ruangan. Akhirnya ia pun mengikuti langkah mereka keluar, padahal dalam hatinya dia ingin mengupas tujuan para polisi itu menyisir desa yang damai ini. Kemudian dia menatap pada Furqon, mungkin lewatnyalah dia bisa mendapatkan sejumlah informasi yang berarti nanti. Apalagi salah satu petugas polisi itu menginap di tempat Furqon. Maka keluarlah mereka dari pintu kantor Kepala Desa. Beberapa pegawai kantor Kepala Desa berbisik-bisik. Nampaknya mereka juga ikut bingung dengan kedatangan anggota polisi itu. Mugiyono pamit mengambil sepeda motornya, sementara Furqon dan Syaiful menuju ke tepi jalan untuk menunggu angkutan.
“Terimakasih pak Sekdes, minta tolong sampaikan pesan saya kepada pak Lurah, juga mengenai Iptu Syaiful yang akan tinggal bersama mas Furqon itu. Mohon dibantu”, demikian pesan Mugiyono sebelum menstater sepeda motornya. Pak Sekdes mengiyakan dengan anggukan kepala.
Furqon dan Syaiful melambaikan tangan kepadanya begitu Mugiyono, kemudian mereka menganggukkan kepala sebagai tanda perpisahan kepada pak Sekdes yang melambaikan tangan kepada mereka berdua juga.
Dalam pertungguan itu Furqon tidak berani membuka percakapan, Syaiful hanya tersenyum melihat tingkah kikuknya.
“Apakah kira-kira saya tidak menyusahkanmu?”, tanyanya tiba-tiba.
Furqon terperanjat, dia tidak mengira orang yang pernah membantunya menyatakan rasa sungkan kepadanya.
“Tentu saja tidak pak, justru saya yang bingung bagaimana harus menjamu bapak di rumah saya yang sederhana.”
“Sebenarnya kamu bingung karena itu atau bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada orang-orang di sekitarmu tentang kehadiranku di sini?”
“Bagaimana ya pak? Pertama itu, kedua juga saya merasa tidak nyaman dengan masa lalu saya itu.”
“Begini Furqon, saya tidak akan menyinggung mengenai hal itu. Bahkan saya memintamu untuk merahasiakan saya sebagai petugas kepolisian. Di sini saya akan memperkenal diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.”
“Begitu yah?”
“Tapi nanti saya ceritakan di rumah saja. Saya ingin bertemu dengan sosok ibu yang kamu rindukan dahulu.”
“Baiklah pak”
Sebuah mobil angkutan pedesaan berhenti. Mereka berdua segera masuk ke dalamnya. Di dalam mobil itu, Furqon masih membisu sementara tatapannya melekat pada sosok Syaiful Huda yang terlihat diam sambil mengamati para penumpang. Sepertinya mereka juga bertanya – tanya.
“Aduh, aku koq jadi lupa!”, teriak Syaiful tiba-tiba.
“Kenapa pak?”
“Ah, tidak apa-apa, apakah di dekat rumah mas Furqon ada masjid atau mushola?”
“Ada pak, kenapa memang?”
“Ya sudah, nanti kita berhenti dulu di sana.”
“Pak Syaiful mau sholat?”
Syaiful tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Furqon.
Jalanan pedesaan memang sangat lengang, tidak banyak sepeda motor yang lalu lalang, sepeda juga. Orang-orang tampak berjalan kaki pulang dari sawah dan ladang. Desa Prigi cukup sejuk hingga udara siang itu dirasa tidak begitu panas. Ingin rasanya Syaiful tinggal di tempat seperti ini. Prigi menawarkan kedamaian, sedangkan Jakarta adalah kota tempat bekerja keras melawan polusi dan kekejaman. Apalagi dia dulu sempat bergabung di Unit Reserse. Dia sudah merasakan perlawanan dari kemiskinan, kejahatan juga keputusasaan. Seperti dulu, dia menemukan Furqon di lembah putus asa.
Furqon mengusap wajahnya, rasanya dia tidak bisa lagi percaya dengan kenyataan yang terjadi di hari ini. Sepertinya dia kembali bermimpi kembali pada masa lima tahun yang lalu, sebuah déjà vu! Tapi mungkin tidak, karena déjà vu tidak seperti ini, perasaan ini lebih tepatnya seperti sebuah rendevouz.
***

0 Comments:
Post a Comment
<< Home