BAB XV. Pertanyaan Kehidupan
Hari-hari Furqon sekarang sudah terjadwal rapi, pagi-pagi dia belajar bertani dengan Burhanuddin, menjelang siang dia sudah membedah kitab-kitab agama bersama ustadz Arifin, dan sorenya dia berada di bangku kelas SD dekat Kantor Kepala Desa, mempersiapkan diri untuk menjadi setara dengan siswa Sekolah Menengah Umum.
Suatu malam, dia teringat akan Syaiful Huda, polisi yang pernah menangkapnya juga pada kakaknya Hasan Ali. Mungkinkah mereka masih mengingat dia? Mungkin saja. Tapi yang jelas pertemuan dengan kedua orang tersebut telah menyimpangkan jalannya sedemikian jauh hingga akhirnya dia kembali berada di dekat orang yang disayanginya dan juga dekat dengan impiannya meraih cinta Illahiah.
Benarkah dia sudah mencapai kedekatan dengan cinta Illahiah? Setidaknya dia menurutkan kata ibunya; dimana dia sudah bisa mengkaji ilmu agama dengan serius, demikian pula dengan ilmu pengetahuan, juga ilmu bercocok tanam untuk kelangsungan hidup. Kata ibu ; “Hidup itu mencari keseimbangan belaka.”
Syaiful Huda menurut pandangan Furqon sudah melakukan keseimbangan hidup ; tugasnya sebagai polisi adalah tugas yang penting – menjaga kehidupan bermasyarakat supaya berjalan tanpa gangguan. Tapi yang penting, Furqon sudah melihat bahwa Syaiful Huda juga tidak melupakan tugas-tugasnya sebagai hamba ALLAH. Demikian pula dengan kakaknya Hasan Ali, dia pemegang keputusan siapa yang bisa masuk dalam tim kerja perusahaan tempat dia bekerja. Tanggungjawabnya juga sangat besar, siapa tahu ada orang yang ditolak kerja di situ kemudian menanam dendam di hatinya. Tapi itulah kehidupan, tidak ada orang yang tidak mendapatkan tanggung jawab. ALLAH menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini karena hanya dia-lah yang mengatakan “iya” saat diminta menanggung kepercayaan atas bumi ini.
Lalu ada pak Theo, seseorang pemilik perusahaan yang merasakan betapa berat tanggung jawabnya berkenaan dengan nasib para karyawannya. Setiap hari dia selalu menangis dalam doa-nya, karena merasa terbebani oleh rasa tanggung jawab itu. Furqon pun kembali berpikir, apakah yang menjadi tanggung jawabnya sekarang ini? Rumah, sawah, dan ladang peninggalan almarhum ayahnya sedang dirawat dengan baik. Cinta ibu kepadanya pun telah dipulihkan.
Sementara orang lain dia rasakan punya tanggungjawab yang berat. Apakah dia harus mencari jawaban atas rasa penasaran itu? Mungkin dia harus menanyakan lagi pada ibu? Segera dia bangkit dari duduknya; dan dilihat ke dalam kamar ibu. Tampak ibu sedang tidur dengan tenang. Perlahan didekatinya sosok yang sedang berbaring itu, diambilnya selembar kain panjang untuk menyelimutinya. Ibu tampak tersenyum dalam tidurnya. Senyum yang begitu dalam.
“Mungkinkah ini jawabannya? Ibu adalah tanggung jawabku sebagai seorang anak!” Furqon mulai mengambil sekeping puzzle yang dari tadi terserak di benaknya. Setidaknya ada langkah penyatuan untuk menyelesaikan pertanyaannya.
Selesai menyelimuti ibu, Furqon masuk ke dalam kamarnya. Tidak segera tidur memang, cuma berbaring dengan pikiran masih menerawang. Pencarian alasan adalah awal kegelisahan, dan bathin yang gelisah adalah tanda kehidupan.
Suara jengkerik dan tonggerek mengalun pelan, desah angin dirasakan melinukan tulang. Mungkin hendak kemarau, demikian pikirnya. Berarti ladang sudah saatnya disiapkan. Mulai besok dia akan meminta petani-petani penggarap menggaru ladang. Sambil mencari kantuk atas dera pikirannya, Furqon menuliskan sebuah puisi lagi di dalam kepalanya ;
Alasan
Dalam kelam yang jatuh
karena mengingatMu,
Aku temukan cahaya berpendar di hatiku,
kupungut dia,
kutempelkan di dahi,
rasanya aku tak perlu lagi mencari,
cahayaMu akan menuntun,
sebuah pencarian jawaban
; cintaku
Setelah itu dia mulai menata sebuah mimpi dalam tidurnya. Rembulan adalah kemegahan malam, tanpanya tak indah sebuah istana yang bercahaya. Malam ini cahaya telah menembusi kamar Furqon bahkan masuk dalam celah selimutnya. Berpendar penuh gemerlap.
Dalam mimpinya dia bertemu dengan pak Theo.
Pak Theo tampak tersenyum padanya, lalu dia memperlihatkan sebuah pena. Pena itu tidak bertinta hitam seperti biasanya, tapi abu-abu. Katanya, “Sudah saatnya kamu mulai menuliskan hasil pencarianmu. Bukankah dulu aku bilang, kamu harus memberitahukan kepadaku?”
“Lalu kenapa tintanya tidak hitam pak?”
“Ada apa dengan warna kelabu, warna bisa macam-macam. Tergantung hatimu. Bukankah ada kebiasaan jika marah – kau tuliskan dengan tinta merah ; jika kau sedang senang – tuliskan dengan tinta biru ; lalu hitam ; untuk menulis pesan – pesan penting. Aku tidak memintamu menulis dengan perasaan itu, sebab pencarian adalah keraguan dan harapan.”
“Apakah berarti saya harus menulis sebuah buku?”
“Aku tidak perlu itu, yang penting apapun bentuknya, intinya kamu sudah menyampaikan hasil pencarianmu. Jika nantinya kamu membuat sebuah buku, ataupun hanya sebuah puisi, aku tetap akan senang menerimanya.”
“Baiklah pak, aku akan buat itu!”
Furqon menerima pena itu, lalu pak Theo pun segera berlalu. Furqon terjaga dari mimpinya, dia memang tadi mengingat pak Theo, tapi dia telah melupakan bahwa dia dulu pernah berjanji hendak memberitahukan hasil pencariannya kepada dia. Tapi apakah dia sudah selesai melakukan pencarian? Dulu dia hendak mencari cinta Illahiah ; sekarang dia hanya merasakan ketenangan. Lalu bagaimana dia menyatakannya? Furqon kembali bangkit dari ranjang, berjalan ke arah meja. Dipungutnya sebuah buku tulis, dan sebuah pena. Ah, siapa yang menaruh pena baru ini? Rasa-rasanya dia baru melihatnya. Dia mencoba menulis apa saja.
Abu-abu? Ternyata tintanya abu-abu, persis seperti pena yang ada dalam mimpinya. Pena pemberian pak Theo. Dia sangat kaget, kenapa bisa begitu? Mimpinya seolah nyata. Dia merasa ngeri karenanya. Astaga!
Lalu dia melihat sebuah kotak bersampul coklat, telah dibuka. Rupanya bekas sebuah paket yang sudah ditampakkan isinya. Dari sampulnya dia membaca ; Untuk teman yang sedang menuai kegelisahan. Dari sahabatmu, Theo. Sungguh suatu paralelisme yang sedang terjadi. Jangan-jangan mimpinya memang suatu kenyataan. Mungkin ibu penasaran pada kotak itu tadi siang, tapi beliau lupa menyampaikan padanya.
Kemudian dia mulai mencari, jangan-jangan di dalam kotak itu masih ada pesan atau surat. Bolak-balik diaduk-aduknya kotak itu, ternyata memang tidak ada apa-apa lagi. Yah, mungkin memang sudah saatnya dia harus melaporkan urusan pencariannya kepada pak Theo. Sebab Furqon pun merasa rindu padanya.
Segera saja dibukanya lembaran kosong pada buku tulis yang telah disiapkannya. Coretan pertama hendak dimulai. Tapi tentang apa? Dia pun masih bingung, coba-coba diingatnya segala peristiwa yang telah berkenan.
Yang dia ingat adalah pertentangan bathinnya belaka, saat itu dia masih bingung. Bagaimanakah ia bisa menuliskan cara mendapatkan cinta illahiah, karena kemudian yang dia temukan selanjutnya adalah bagaimana sebaiknya menjalankan kehidupan sebagai anak manusia. Bahkan dia sendiri belum bisa mempertelakan dua pernyataan itu, dan apa hubungannya antar keduanya.
Furqon berpikir keras. Tangannya gemetar saat memegang pena itu, keringatnya menitik di dahi. Ah, kenapa dia harus membuat laporan? Bukankah pak Theo sudah bukan siapa-siapa dia lagi? Furqon melemah. Akhirnya dia kembali ke tempat tidurnya. Dia membaringkan diri, namun tetap tidak bisa terpejam. Jiwanya seakan-akan melayang menembus awan, mencari jawaban.
“Apakah hidup memang demikian adanya, terus mencari jawaban dari setiap pertanyaan?”
***
Suatu malam, dia teringat akan Syaiful Huda, polisi yang pernah menangkapnya juga pada kakaknya Hasan Ali. Mungkinkah mereka masih mengingat dia? Mungkin saja. Tapi yang jelas pertemuan dengan kedua orang tersebut telah menyimpangkan jalannya sedemikian jauh hingga akhirnya dia kembali berada di dekat orang yang disayanginya dan juga dekat dengan impiannya meraih cinta Illahiah.
Benarkah dia sudah mencapai kedekatan dengan cinta Illahiah? Setidaknya dia menurutkan kata ibunya; dimana dia sudah bisa mengkaji ilmu agama dengan serius, demikian pula dengan ilmu pengetahuan, juga ilmu bercocok tanam untuk kelangsungan hidup. Kata ibu ; “Hidup itu mencari keseimbangan belaka.”
Syaiful Huda menurut pandangan Furqon sudah melakukan keseimbangan hidup ; tugasnya sebagai polisi adalah tugas yang penting – menjaga kehidupan bermasyarakat supaya berjalan tanpa gangguan. Tapi yang penting, Furqon sudah melihat bahwa Syaiful Huda juga tidak melupakan tugas-tugasnya sebagai hamba ALLAH. Demikian pula dengan kakaknya Hasan Ali, dia pemegang keputusan siapa yang bisa masuk dalam tim kerja perusahaan tempat dia bekerja. Tanggungjawabnya juga sangat besar, siapa tahu ada orang yang ditolak kerja di situ kemudian menanam dendam di hatinya. Tapi itulah kehidupan, tidak ada orang yang tidak mendapatkan tanggung jawab. ALLAH menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini karena hanya dia-lah yang mengatakan “iya” saat diminta menanggung kepercayaan atas bumi ini.
Lalu ada pak Theo, seseorang pemilik perusahaan yang merasakan betapa berat tanggung jawabnya berkenaan dengan nasib para karyawannya. Setiap hari dia selalu menangis dalam doa-nya, karena merasa terbebani oleh rasa tanggung jawab itu. Furqon pun kembali berpikir, apakah yang menjadi tanggung jawabnya sekarang ini? Rumah, sawah, dan ladang peninggalan almarhum ayahnya sedang dirawat dengan baik. Cinta ibu kepadanya pun telah dipulihkan.
Sementara orang lain dia rasakan punya tanggungjawab yang berat. Apakah dia harus mencari jawaban atas rasa penasaran itu? Mungkin dia harus menanyakan lagi pada ibu? Segera dia bangkit dari duduknya; dan dilihat ke dalam kamar ibu. Tampak ibu sedang tidur dengan tenang. Perlahan didekatinya sosok yang sedang berbaring itu, diambilnya selembar kain panjang untuk menyelimutinya. Ibu tampak tersenyum dalam tidurnya. Senyum yang begitu dalam.
“Mungkinkah ini jawabannya? Ibu adalah tanggung jawabku sebagai seorang anak!” Furqon mulai mengambil sekeping puzzle yang dari tadi terserak di benaknya. Setidaknya ada langkah penyatuan untuk menyelesaikan pertanyaannya.
Selesai menyelimuti ibu, Furqon masuk ke dalam kamarnya. Tidak segera tidur memang, cuma berbaring dengan pikiran masih menerawang. Pencarian alasan adalah awal kegelisahan, dan bathin yang gelisah adalah tanda kehidupan.
Suara jengkerik dan tonggerek mengalun pelan, desah angin dirasakan melinukan tulang. Mungkin hendak kemarau, demikian pikirnya. Berarti ladang sudah saatnya disiapkan. Mulai besok dia akan meminta petani-petani penggarap menggaru ladang. Sambil mencari kantuk atas dera pikirannya, Furqon menuliskan sebuah puisi lagi di dalam kepalanya ;
Alasan
Dalam kelam yang jatuh
karena mengingatMu,
Aku temukan cahaya berpendar di hatiku,
kupungut dia,
kutempelkan di dahi,
rasanya aku tak perlu lagi mencari,
cahayaMu akan menuntun,
sebuah pencarian jawaban
; cintaku
Setelah itu dia mulai menata sebuah mimpi dalam tidurnya. Rembulan adalah kemegahan malam, tanpanya tak indah sebuah istana yang bercahaya. Malam ini cahaya telah menembusi kamar Furqon bahkan masuk dalam celah selimutnya. Berpendar penuh gemerlap.
Dalam mimpinya dia bertemu dengan pak Theo.
Pak Theo tampak tersenyum padanya, lalu dia memperlihatkan sebuah pena. Pena itu tidak bertinta hitam seperti biasanya, tapi abu-abu. Katanya, “Sudah saatnya kamu mulai menuliskan hasil pencarianmu. Bukankah dulu aku bilang, kamu harus memberitahukan kepadaku?”
“Lalu kenapa tintanya tidak hitam pak?”
“Ada apa dengan warna kelabu, warna bisa macam-macam. Tergantung hatimu. Bukankah ada kebiasaan jika marah – kau tuliskan dengan tinta merah ; jika kau sedang senang – tuliskan dengan tinta biru ; lalu hitam ; untuk menulis pesan – pesan penting. Aku tidak memintamu menulis dengan perasaan itu, sebab pencarian adalah keraguan dan harapan.”
“Apakah berarti saya harus menulis sebuah buku?”
“Aku tidak perlu itu, yang penting apapun bentuknya, intinya kamu sudah menyampaikan hasil pencarianmu. Jika nantinya kamu membuat sebuah buku, ataupun hanya sebuah puisi, aku tetap akan senang menerimanya.”
“Baiklah pak, aku akan buat itu!”
Furqon menerima pena itu, lalu pak Theo pun segera berlalu. Furqon terjaga dari mimpinya, dia memang tadi mengingat pak Theo, tapi dia telah melupakan bahwa dia dulu pernah berjanji hendak memberitahukan hasil pencariannya kepada dia. Tapi apakah dia sudah selesai melakukan pencarian? Dulu dia hendak mencari cinta Illahiah ; sekarang dia hanya merasakan ketenangan. Lalu bagaimana dia menyatakannya? Furqon kembali bangkit dari ranjang, berjalan ke arah meja. Dipungutnya sebuah buku tulis, dan sebuah pena. Ah, siapa yang menaruh pena baru ini? Rasa-rasanya dia baru melihatnya. Dia mencoba menulis apa saja.
Abu-abu? Ternyata tintanya abu-abu, persis seperti pena yang ada dalam mimpinya. Pena pemberian pak Theo. Dia sangat kaget, kenapa bisa begitu? Mimpinya seolah nyata. Dia merasa ngeri karenanya. Astaga!
Lalu dia melihat sebuah kotak bersampul coklat, telah dibuka. Rupanya bekas sebuah paket yang sudah ditampakkan isinya. Dari sampulnya dia membaca ; Untuk teman yang sedang menuai kegelisahan. Dari sahabatmu, Theo. Sungguh suatu paralelisme yang sedang terjadi. Jangan-jangan mimpinya memang suatu kenyataan. Mungkin ibu penasaran pada kotak itu tadi siang, tapi beliau lupa menyampaikan padanya.
Kemudian dia mulai mencari, jangan-jangan di dalam kotak itu masih ada pesan atau surat. Bolak-balik diaduk-aduknya kotak itu, ternyata memang tidak ada apa-apa lagi. Yah, mungkin memang sudah saatnya dia harus melaporkan urusan pencariannya kepada pak Theo. Sebab Furqon pun merasa rindu padanya.
Segera saja dibukanya lembaran kosong pada buku tulis yang telah disiapkannya. Coretan pertama hendak dimulai. Tapi tentang apa? Dia pun masih bingung, coba-coba diingatnya segala peristiwa yang telah berkenan.
Yang dia ingat adalah pertentangan bathinnya belaka, saat itu dia masih bingung. Bagaimanakah ia bisa menuliskan cara mendapatkan cinta illahiah, karena kemudian yang dia temukan selanjutnya adalah bagaimana sebaiknya menjalankan kehidupan sebagai anak manusia. Bahkan dia sendiri belum bisa mempertelakan dua pernyataan itu, dan apa hubungannya antar keduanya.
Furqon berpikir keras. Tangannya gemetar saat memegang pena itu, keringatnya menitik di dahi. Ah, kenapa dia harus membuat laporan? Bukankah pak Theo sudah bukan siapa-siapa dia lagi? Furqon melemah. Akhirnya dia kembali ke tempat tidurnya. Dia membaringkan diri, namun tetap tidak bisa terpejam. Jiwanya seakan-akan melayang menembus awan, mencari jawaban.
“Apakah hidup memang demikian adanya, terus mencari jawaban dari setiap pertanyaan?”
***

0 Comments:
Post a Comment
<< Home