Kembali Ke Demak

Thursday, July 20, 2006

BAB XIII. Surat Dari Demak

Kali ini dengan hati yang terbuka, tangan Furqon menggenggam sebuah pena dengan segenap pikiran. Alasan dia untuk tidak datang ke kota Blora adalah demi menjaga perasaan. Pertama, perasaannya karena selama ini dia sudah kalah. Dia tidak ingin menambah malu untuk disandang pulang ke kampung halaman. Rasanya sudah cukup dia tidak dapat berjalan tegak demi menceritakan kisah - kisah cintanya. Kedua, dia menjaga juga perasaan Suci jika dia datang ke tempatnya, dia takut Suci akan mendapatkan aib. Aib berupa omongan orang lain ataupun tindakan kasar dari suami yang mencintainya.
Sebelum menulis surat itu dia berdoa ;

Tuhan yang menyebarkan cinta,
hatiku tak mampu bicara
biarkanlah aku mengalirkan kesunyian,
membawa semua kabar dan kegembiraan,
menyentuhnya dengan kemesraan.
Meskipun dalam hatiku ragu,
tapi biarkanlah kali ini aku mendapat jawaban,
cintanya sudah berlalu, ataukah masih menyala?
Setidaknya kali ini, aku ingin menyampaikan kepedihan,
kepada kekasihku dalam kenangan,
aku ingin memendam semua kenangan,memadamkan api cinta kehidupan,
dan pergi menjauh selamanya.
Aku mohon padaMU Tuhan,
jangan biarkan dia menangis lagi karenaku...
amien,
Lalu, mengalirlah tulisan-tulisan bermakna dalam. Mungkin bagi orang lain tidak, tapi baginya menyakitkan. Cinta kali ini harus menemui kematian. Bukan badannya tapi jiwanya.
= = =
Demak, awal musim panen.

Kemarau panjang telah berlalu, setidaknya begitu kata ibu. Kali ini aku datang dengan membawa butiran tangis kepadanya. Sedapat mungkin aku mencoba menyeka air matanya agar dia tidak menangis lagi mendengar pengembaraanku yang sia-sia. Tapi rupanya ibu tabah, dan aku tetap kalah.

Kemarin aku menuntaskan pekerjaan, menyambut dengan bahagia seperti anak - anak sekolah berlari - lari di taman. Bagimu mungkin bukan sesuatu yang indah di dengar. Karena aku yakin engkau telah lama melakukannya, membaca dengan tuntas ayat - ayat Tuhan. Malamnya kami mengadakan selamatan. Ustadz muda di kampungku mengatakan bahwa aku harus mempelajari dan mempraktekkan suatu ilmu langka. Ilmu ikhlas namanya. Nah ini yang ingin aku mulai lakukan, dan dalam kesempatan ini aku ingin mengabarkan kepadamu.

Dahulu kita pernah berjanji, untuk mengikatkan diri pada kesetiaan. Meskipun badai besar telah menenggelamkan biduk dan memporakporandakan dermaga, tetapi dalam langit hikmahku janji itu masih sering terbayang. Aku tidak menyalahkanmu pada kisah - kisah dahulu. Sesungguhnya aku sadar bahwa itu semua ujian untukku.

Aku lari dari kenyataan. Keangkuhan menuntunku pada pengembaraan. Sekali kalah yang terjadi adalah kalah. Tidak berubah. Padahal tidak! Aku telah buta! Buta karena cinta yang mendera, membuat aku berjalan seperti di dalam tanah. Aku menjadikan semuanya salah.

Akhirnya di akhir musim tanam aku sadar, aku harus mengatakan kabar itu kepadamu. Karena bagiku engkau adalah pohon yang tenang, laut yang dalam, dan gunung yang diam. Tempat dimana aku bisa teriak tanpa jawaban. Jiwa dimana aku selalu berkelana.

Karena keikhlasan sudah datang, pintu-pintu maaf sepertinya sudah terbuka. Tingkap-tingkap langit tanpa awan. Cahaya matahari memasuki hatiku dengan nyaman. Aku ingin mengatakan dengan jelas tanpa halangan. Aku ingin tidak mengingatmu senantiasa. Bisakah kau memahaminya?

Biarlah cinta menjadi cinta saja. Bukan bagian hidup kita, tapi cinta menjadi cinta abadi tanpa harus dikenang. Aku memang mencintaimu, tapi biarlah itu menjadi rahasia yang paling dalam.

Harapanku kepadamu sekarang, pahamilah bahwa dunia sudah berubah. Aku pun demikian. Terseret dalam arus kehidupan dan tidak akan pernah sama. Aku berubah mengikuti matahari bersinar dan bulan yang temaram.

Saat ini yang terpanjat hanyalah doa, kepada semua orang-orang tercinta. Apalah gunanya hidup tanpa memandang derita tanpa bisa memetik hikmahnya? Semoga kehidupan kita berdua seperti butiran mutiara. Terangkat dalam kemuliaan setelah terbenam dalam penderitaan dunianya. Aku berharap sungguh bisa menjumpai kebahagiaanmu dengan kebahagiaanku jua. Mungkin pada saatnya, entah dimana.

Dari orang yang pernah berujar salam padamu,


Furqon.
= = =
Menangis? hanya bathinnya saja. Air mata bukanlah hak hidup seorang wanita saja. Dirinya hanya bisa menahannya. Di dadanya ada lubang sebesar kepalan tangan. Angin pegunungan dan sawah bisa melaluinya. Darahnya berdesir dengan nada kehidupan. Lega rasanya memuati selembar kertas dengan kata-kata.
Dilipatnya surat itu dan segera dimasukkan ke dalam amplop putih yang sudah dibubuhi perangko. Setidaknya dia merasakan aman. Furqon melangkah ke luar rumah untuk selanjutnya mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju balai desa.

***

"Ibu, tadi saya banyak berdiskusi dengan ustadz Arifin.” Furqon memulai pembicaraan siang ini dengan sang ibu.
"Apa yang kamu bicarakan dengan ustadz muda itu? Adakah yang bisa menjadikan engkau mengerti?"
"Ini masalah penghidupan, bu. Masalah sawah dan ladang kita. Selama ini, seperti yang ibu ceritakan, masalah sawah dan ladang ibu sewakan pada petani-petani penggarap. Mereka mengambil bagian yang tidak seberapa, karena hasilnya kemudian dijual kepada pengijon. Kasihan mereka bu.."
"Lantas, apa yang bisa kamu lakukan? Apakah kamu ingin membebaskan mereka dari pengijon? Tidak bisa nak..Mereka terlalu kuat menembusi tulang belulang kita sampai keropos sumsum ini."
"Itulah yang tadi kami bahas bu. Kebetulan salah seorang kerabat ustadz adalah seorang petugas koperasi. Koperasi itu membeli hasil sawah dan ladang masyarakat dengan tidak membebani atau mengurangi dari harga pasar. Dengan menjual hasil kita kepada Koperasi, koperasi juga bisa membantu permodalan kita."
"Tapi, untuk panen musim datang, kita sudah dapat hasil penjualan yang kita gunakan untuk menanam dan memupukinya."
"Kata ustadz Arifin, mungkin pengelolaan musim tanam selanjutnya baru bisa dilaksanakan."
"Pengelolaan? Bukannya kamu tadi bilang cuma masalah jual beli?"
"Berbicara masalah sawah dan ladang, tidak melulu soal jual beli ibu. Kita harus menyelaraskan mulai dari awal hingga akhir. Termasuk para pekerjanya, kita juga harus memperhatikan nasibnya!"
"Ustadz itu tahu mengenai pertanian?"
"Bukan dia bu, tapi pak Burhanuddin. Dia itu PPL di kecamatan, baru kemarin sore aku dikenalkan dengan dia. Saya, ustadz Arifin dan beliau sepakat untuk menangani sawah dan ladang ibu dengan tidak melupakan atau meninggalkan orang-orang yang sejak dulu terlibat."
"Maksudnya apa?"
"Saya akan menggunakan sistem syariah untuk bagi hasil usaha sawah dan ladang kita bu. Masalah apa dan bagaimana cara menanam sesuatu, saya harus belajar banyak dari pak Burhan."
"Oh begitu? Ini baru rencana atau kamu sudah tidak ingin membicarakannya dengan ibu?"
"Saya cuma berangan jika ibu tidak mengijinkan, akan tetapi saya tahu bahwa ibu adalah orang yang bijaksana makanya saya yakin ibu pasti setuju."
"Kamu ini Furqon, dari dulu tidak pernah berubah. Seandainya ayahmu masih ada, pasti dia bangga padamu, karena anaknya berkemauan keras dan mau bertanggung jawab."
"Jadi ibu setuju?"
"Hidup ibu ini hanya tinggal sebentar, tidak tahu kapan tapi kematianku rasanya tidak sangat dekat dengan kematianmu yang masih muda itu. Apa yang ada sekarang ini adalah hak untuk kamu anak sulungku satu-satunya."
Furqon sangat bangga dengan ibunya, dipeluknya ibunya dan tersungkur dia di pangkuannya. Lalu dia berisak, "Ibu, kenapa dari dulu aku tidak pernah tahu betapa memperhatikannya ibu terhadap nasib anakku."

Ibu beranak itu larut dalam harapan. Setidaknya kedua orang itu merasakan bahwa angin pedesaan dan cuaca hari itu mendukung terbangnya doa dan harapan pada singgasana Sang Raja.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home