Kembali Ke Demak

Thursday, July 20, 2006

BAB XI. Cinta Seorang Ibu

Ini bagian yang susah untuk diungkapkan. Betapa jarak telah mengikis kenangan-kenangan indah dan harapan antara ibu dan anak. Sudah lima tahun terbilang setidaknya mengaburkan tatapan mata sang Ibu karena anaknya telah lama tidak pulang. Terbayang cerita dalam kitab suci, Yaqub yang menjadi buta karena kehilangan anak terkasih. Sedemikian sedih dirinya setiap malam menangisi perpisahan. Tapi siapakah Yaqub dalam cerita ini? apakah aku si anak hilang atau ibu ? Furqon memikirkannya dalam-dalam sepekat malam yang membayang. Masih untung dia tidak membayangkan bahwa dia adalah Yunus yang sembrono di hadapan Tuhan. Sehingga hari-harinya tidak kesepian di dalam petualangannya. Atau mungkin iya? Karena selama ini dia memang merasakan kesepian yang mendalam.

Jika saja kemarin-kemarin dia tidak pergi menghilang, mungkin ceritanya lain. Meski tanpa pamitan yang resmi, dia tidak pernah sedikitpun berpikir dan berniat menjatuhkan nama keluarganya ketika dia pergi ke Jakarta. Justru dia sangat berkeinginan untuk membahagiakan ibunya itu. Harapannya waktu itu dengan dia mencari pekerjaan di Ibukota maka dia bisa paling tidak mengumpulkan uang untuk mewujudkan niatnya memberangkatkan ibadah haji sang ibu. Tapi harapan tinggal harapan, setelah sekian lama sampai kepulangannya tidaklah cukup hasil yang terkumpul untuk membuktikan niatnya itu.

Langkahnya dipercepat, sudah tidak sabar ia ketika melihat pagar rumahnya. Tampak rumahnya sangat sepi. Lampu teplok yang dulu menghiasi serambinya telah berubah menjadi lampu neon. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya bermain-main antara bahagia, gembira, sedih, atau terbuang. Dia sangat kalut jika pada akhir kenyataanya nanti dia dianggap oleh orang yang melahirkannya ke dunia sebagai anak durhaka.
“Tok, tok, tok!”
“Assalamu ‘alaikum!”, sapanya.
Terdengar dari dalam suara langkah-langkah yang sarat.
“Wa alaikum salam. Siapa ya?”
Jantung Furqon berdebar kencang. Saat ini seperti anak sekolah menunggu pengumuman hasil ujian nasional. Tidak, ini lebih lagi. Mungkin seperti calon mahasiswa membaca hasil ujian penerimaan mahasiswa baru? Ini lebih seru. Lebih hampir persisnya seperti ketika kita melihat wajah sang maut.
“Ibu!!! Ini aku, Furqon bu!”
“Ya ALLAH! Kamu pulang, nak?”
“Iya bu. Aku pulang untuk mengurus ibu. Maafkan aku bu, sudah sangat besar dosaku telah menelantarkan ibu selama ini. Maafkan aku bu!”
“Ibu tidak apa-apa. Ibu senang kamu mau pulang untuk kembali berkumpul dengan ibu.”
"Kemana saja kamu selama ini nak? Ibu selalu merindukanmu!"
"Aku menggembara ke Jakarta bu, aku ingin menjadi orang yang lebih baik di sana. Tapi ternyata aku hanyalah orang kalah. Dan sekarang aku pulang, tanpa membawa apa-apa."
"Sudahlah nak, yang penting kamu sehat dan selamat. Itu sudah cukup bagiku."
Furqon menangis dalam pelukan ibunya. Dunia seakan membela dirinya saja ketika dengan damainya ibu memeluk anaknya. Sang ibu juga mulai menangis menumpahkan kerinduan hatinya. Rasanya malam itu ada perhelatan akbar dalam hati mereka.

Mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Furqon pergi ke bagian belakang untuk mandi membersihkan diri. Sang ibu buru-buru menyiapkan teh hangat dan makan malam. Setelah selesai mandi dan makan malam, Furqon duduk di beranda. Teh panas mengepul mengusir sedikit hawa dingin di kampungnya.

Sang ibu tersenyum, hatinya senang karena hari-harinya nanti tidak akan kesepian lagi. Furqon yang melihat ibunya tersenyum menjadi damai. Ternyata gambaran bahwa kekurangajarannya akan dibalas dengan menyakitkan oleh ibunya tidaklah menjadi kenyataan.
“Terimakasih Tuhan, ternyata samudera maaf ibuku masih tidak bertepian.”, gumamnya.
Karena hari sudah larut, ibu pamit untuk berangkat tidur terlebih dahulu.
“Sudah ngantuk nak, besok-besok saja ceritanya ya.”

Furqon memandangi rembulan. Baginya wajah ibunya sudah hilang dari sisi sang rembulan. Ianya menjadi larut dan nyata. Tadi dia menyambutnya dengan tersenyum, meskipun Furqon tidak tahu apakah senyum itu senyum kebahagiaan atau kepedihan. Namun senyum itu telah melarutkan hatinya dalam lembah ketenangan jiwa. Tidak ada gelisah. Memang benar ternyata ungkapan “maafnya ALLAH tergantung juga dari maafnya orang tua ; ridho ALLAH juga sinkron dengan ridho orang tua.”

Furqon kembali mengingat sepotong hadits Nabiyullah yang pernah diajarkan kepadanya ;“Siapa saja yang menggembirakan hati ibu dan bapaknya, Tuhan juga akan menggembirakan mereka dan siapa saja yang membuat ibu bapa mereka marah, Tuhan juga akan murka terhadap mereka.”

Kali ini dia bersiasat, “Jika begitu cinta terhadap orang tua tidak akan membuat ALLAH itu cemburu kepadaku.” Demikian pikirannya berkata-kata. Ah, jadi ruwet juga masalah cinta, tapi setidaknya dia sudah membuktikan bahwa kepulangannya untuk mencari cinta illahiahnya sudah mendatangkan hasil yaitu mengembalikan hubungan silaturahmi antara dirinya sebagai anak dan ibunya. Padahal hubungan seperti ini tidak selayaknya dapat terputus kapan pun jua. Furqon tetap memandangi rembulan di teras rumahnya. Terasa begitu dekat seumpama dia berada di tengah pelataran. Ia pun kembali menuliskan puisi di kepalanya ;

Bulan di Pelataran

bulan di pelataran rumah tersenyum ramah
lebih ramah rasanya dari malam – malam yang lalu
bahkan di malam yang ke seribu

bulan di pelataran rumah terasa lebih indah
padahal ada hari yang rembulannya cerah
tapi sekarang tidak ada warna merah

bulan menyinari hatiku
seperti ibuku tersenyum padaku.
apakah Tuhan menjadikan dewi bulan yang melahirkan aku?
biarkan aku saja yang merasa begitu.

Belum jenak dia melamun, terdengar suara ibunya. "Jangan lupa sholat isya sebelum tidur!"

***

Pagi ini Suci mencoba menidurkan anaknya, Auliya. Dipandanginya dekat dan lekat wajah anaknya yang sedang tertidur lelap. Dia menciumi pipi anaknya dengan gemas. Tak puas-puas rasanya menumpahkan kasih dan sayang sebagai seorang ibu kepada anaknya. Suaminya sudah sedari tadi berangkat kerja. Kegiatannya sebagai seorang istri sementara telah tuntas. Kali ini dia lebih memposisikan dirinya sebagai seorang ibu. Ibu adalah sosok paling mulia di muka bumi ini karena cinta kasihnya tidak pernah berbatas untuk anak-anaknya.

Auliya, itu nama pertama anaknya. Kenapa Suci memberikan nama itu? Auliya dalam bahasa arab berarti orang yang ditinggikan atau dimuliakan. Dia ingin anaknya nanti tidak akan seperti dirinya yang pernah menjadi orang yang direndahkan. Pertukaran pernikahan dirinya dengan Thole Dewandaru adalah karena masalah pinjaman orang tuanya. Dia pernah direndahkan lebih dari sekedar nilai hutang ayahnya. Kadang dia berpikir bahwa dirinya tidak lebih dari sekedar alat tukar selain uang waktu itu. Perasaan tahun - tahun pertama dia dalam pernikahannya bagaikan di neraka. Bagaimana tidak? Dia harus merelakan dirinya digauli oleh lelaki yang menikahinya gara-gara hutang orang tuanya. Dia merelakan bagian kewanitaannya yang paling rahasia dimasuki oleh nafsu birahi orang yang belum dikenalnya dengan baik. Orang itu hanya mengenalnya sebagai gadis cantik anak peminjam modal darinya. Apakah dia menikmati setiap malamnya? Apakah Suci harus menjawabnya? Setidaknya setiap kali dia berbaring, tempat tidurnya yang empuk dan luas itu bagaikan ranjang penuh duri.

Cinta? Apakah saat ini dia memang mencintai lelaki itu? Ataukah cintanya telah hilang menjadi kewajiban belaka? Apakah benar cinta itu adalah kebiasaan? Ataukah cinta itu adalah penerimaan yang seluas samudera? Pertanyaan tentang cinta membuat dia memberikan nama Sita kepada anaknya. Sita atau Sinta adalah tawanan cinta sejati dalam dunia ini dalam Kisah Ramayana. Tubuhnya mungkin pernah dijamah oleh Rahwana, tetapi hatinya tidak! Maka dari itu, Sinta perlu dibakar secara fisik untuk menghilangkan ketidaksucian badaniahnya, tapi dia selamat karena memang hatinya tulus mencintai Rama. Ini hanya hipotesanya belaka. Kadang, Suci merasa seperti itu. Dia membiarkan saja tubuhnya digauli oleh suaminya, tetapi hatinya telah pergi bersama Furqon. Tetapi sekarang dia menyadari bahwa cinta itu bisa berubah. Benarkah?

Seorang penulis kontemporer menuliskan bahwa cinta adalah perangkap, karena kadang kita tidak menyadari sisi gelapnya. Jadi apakah saat ini Suci tengah terperangkap oleh sisi gelap dari cinta? Mungkin. Tapi sebagai istri dan sebagai orang Jawa, Suci tidak menutupi bahwa sebagian bunga-bunga hitam dari cinta telah bermekaran, dalam pandangannya bunga itu kadang menampakkan warna pelangi. Yah, selama ini akhirnya dia bisa menerima Thole sebagai lelakinya. Suci tidak mau terjerumus dalam zinah hati. Thole adalah suaminya yang sah secara agama, sedang Furqon adalah bagian masa lalunya. Biarlah sekarang dia merasakan sisi gelap cintanya menjadi terang, seterang pelangi.

Dia menarik nafas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Memang benar, Furqon adalah bagian dari masa lalunya. Mungkin seperti banyak orang bilang "Tuhan akan menemukan kita dengan orang-orang yang salah, sampai akhirnya kita bisa menyadari siapakah orang yang benar-benar menjadi jodoh kita." Apakah Furqon harus dijadikan sebagai bagian dari orang - orang yang salah yang pernah bertemu dengannya?

Secara fisik, Furqon adalah lelaki dengan wajah yang manis. Tubuhnya tegap, tangannya kuat. Suci dulu sering membayangkan tangan-tangan itu membungkus dirinya dengan sebuah pelukan. Jika itu terjadi dia akan membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapannya. Sebab dia tahu bahwa Furqon akan memberikan kedamaian dalam hatinya. Belum lagi dengan komentar-komentarnya yang dalam tentang arti kehidupan yang tengah mereka jalani. Suci ingin sekali menjadi bagian dari kehidupannya.

Memang Furqon adalah lelaki dengan kehidupan yang sederhana, jauh dari kemewahan yang bisa dia jagakan untuk menjamin kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya nanti, tapi bukankah cinta tidak melihat materi? Tapi bagi kebanyakan orang materi duniawi menjadi pertimbangan seorang dara untuk melabuhkan hatinya. Apakah ini berlaku untuk semuanya? Suci tidak bisa menjawabnya. Cuma memang waktu itu dia menyangsikannya.

Kenapa dia memikirkan Furqon lagi ya? Padahal itu sudah hampir lima tahun berselang. Sudahlah, mungkin saat ini dia memang sedang tidak ada kegiatan sehingga melamun. Buru-buru dia menurunkan anaknya di tempat tidur. Dipandanginya wajah anaknya sekali lagi, sebelum dia turun. Auliya nampak tersenyum. Diperhatikannya dengan seksama senyum anaknya itu. Aduh! Kenapa caranya tersenyum mirip dengan senyum seseorang yang sedari tadi dilamunkannya? Aku tidak mau memikirkan dia lagi! Gerutunya dalam hati. Sekarang dia bergegas untuk menyiapkan masakan makan siang untuk suaminya.

Selintas Bayang

selintas bayangan menggodaku
serupa kamu, tapi saru
aku sudah meninggalkanmu
di halaman belakang buku biru

selintas bayangan kembali padaku
setidaknya aku sudah tahu
sudah lama aku
memendam rasa itu

selintas kamu menjumpai aku
sampai beribu-ribu kali pun aku tetap begitu
cinta bukanlah sesuatu

jika aku tidak menginginkan itu!
hanya ada satu kata yang dapat aku ungkapkan ;
maaf...


***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home