Kembali Ke Demak

Thursday, July 20, 2006

BAB X. Karma Seorang Anak

Adakah karma dalam kehidupan seseorang? Selama ini kita berpikiran bahwa karma adalah buah akibat dari tindakan kita di masa lalu, padahal sesungguhnya karma adalah bahasa Sanskrit dari kamma dari bahasa Pali. Karma adalah perbuatan itu sendiri. Dalam sebuah kamus elektronik (wikipedia) disebutkan bahwa "karma / kamma ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral).” Jadi setiap manusia pasti mempunyai karma, karena kita hidup dan berkehidupan.

Lalu, bagaimana seharusnya karma seorang anak? Durhaka dalam ajaran Buddha akan menyebabkan kelahiran yang kekal di alam neraka. Jadi, karma seorang anak yang sejati adalah menjauhkan, dari timur sampai ke barat, dari gunung sampai ke tubir laut yang paling dalam, sifat dan perbuatan durhaka kepada orangtuanya. Jika dia tidak ingin seumur hidupnya jatuh di dalam neraka. Menjauhkan berarti tidak juga pernah terlintas di alam pikiran, tidak pernah diucapkan, apalagi sampai dilakukan.

Furqon pingsan, dalam ketidaksadarannya itulah dia menemukan kesadaran sepenuhnya. Selama ini yang dia lakukan hanyalah pemuasan atas keinginannya sendiri. Dia lupa pada karmanya sebagai seorang anak. Memang dalam perjalanan hidupnya, anak (apalagi laki-laki) kebanyakan melepaskan diri sepenuhnya dari orangtua setelah dia beranjak dewasa. Akan tetapi anak tetaplah anak, dia haruslah selalu ingat akan rahim ibunya, dan belaian ayahnya. Di dunia belahan barat, anak menjadi individu bebas ketika ia berusia 18 tahun. Di mana pada usia tersebut, biasanya, dia sudah coba-coba untuk mencari nafkah sendiri. Tak ayal lagi rasa hormat terhadap orangtua di dunia mereka menjadi semakin berkurang seiring pertambahan usia si anak.

Tapi di sini lebih parah lagi, biasanya anak baru bisa mandiri setelah mereka menyelesaikan kuliahnya dan memasuki dunia bekerja. Sayangnya kemudian setelah mereka menemukan posisi yang lumayan, gaji yang besar, dan akhirnya berkeluarga, banyak juga yang kemudian mengurangi porsi hormatnya kepada orangtua sendiri. Beberapa kasus malah menunjukkan gejala yang aneh, anak yang tidak bisa mandiri sampai dia berkeluarga sendiri malah sama sekali tidak menaruh hormat pada orangtuanya.

Furqon siuman, di sekelilingnya sudah banyak orang berkerumun. Segera saja dia ingat akan beberapa barang bawaannya. Setelah memeriksa bahwa tidak ada yang memanfaatkan kesempitannya, Furqon bangkit.
"Kenapa sampai pingsan?", tanya seorang tukang becak.
"Jangan-jangan belum makan ya?", kata seseorang yang lain.
"Maaf, saya telah merepotkan. Terimakasih yang sudah membantu saya. Saya sudah tidak kenapa-napa lagi koq. Terimakasih."
Furqon kembali melangkah. Dalam pikirannya yang terpenting adalah sesegera mungkin ia sampai di terminal bus antar kota yang akan membawanya 21 kilometer ke arah timur kota Semarang ini. Segera saja dipanggilnya sebuah taksi.
Akhirnya Furqon sampai di bangku belakang sebuah bus antar kota Semarang – Demak. Cukup padat penumpangnya. Sebelah Furqon seorang ibu tua. Mengingatkannya pada sosok ibunya yang mungkin sedang menantinya. Hati Furqon makin miris. Dia memperhatikan dengan seksama sosok ibu tersebut. Meskipun takut dikira hendak berbuat yang tidak-tidak, Furqon mencoba membuka percakapan.
“Pulang ke Demak bu?”
“Iya, aku mau pulang, anak sendiri mau pulang atau hanya main-main melancong?”
“Saya juga mau pulang ke Desa Prigi, Kebon Agung.”
“Oh, kalau saya di Donorojo. Dari mana anak ini?”
“Saya dari Jakarta, sudah lama tidak pulang ke Demak.”
“Ya begitu toh, nak. Sering-sering pulang jengguk orangtua.”
“Iya bu, ini juga dalam rangka pulang seterusnya.”
“Ndak’ kembali lagi ke Jakarta?”
“Tidak bu, saya sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jakarta.”
“Membangun desa sendiri itu lebih baik.”
“Saya malah tidak berpikiran seperti itu, yang penting bagi saya ketemu ibu saya dan kembali menata kehidupan saya di desa.”
“Bawa oleh-oleh apa dari Jakarta?”, tanya ibu tua itu dengan tersenyum. Furqon tidak mengerti maksud senyuman ibu itu. Tapi mungkin dia cuma bercanda.
“Tidak bawa apa-apa bu, yang penting selamat.”
“Seharusnya sudah lama tidak pulang, sekalinya pulang bawa sesuatu yang bikin senang ibu dong”, lanjut ibu tua itu.
“Ibu saya tidak pernah berpikiran seperti itu. Saya ini anak yang hilang.”
“Saya jadi ingat perumpamaan anak yang hilang. Ada seorang anak yang telah meminta bapaknya menjual hartanya dan membaginya dengan kakak sulungnya. Kemudian dia pergi ke kota lain untuk berfoya-foya. Ketika hartanya habis, dia pergi ke suatu peternakan dan bekerja sebagai pemberi makan babi. Karena laparnya, dia memakan makanan babi itu. Akibatnya, dia diusir oleh pemilik peternakan. Dalam keadaan hati yang hancur dia ingat rumah bapaknya. Dan dia kembali ke rumah bapaknya. Ternyata bapaknya menyambutnya dengan luar biasa. Dia berlari dan memeluk anak yang hilang itu. Kemudian dia menjamu anaknya itu dengan makan malam yang luar biasa juga, sampai membuat iri kakak sulungnya.”
“Wah, cerita yang menarik. Dapat dari mana cerita itu?”
“Itu ada di dalam Injil. Intinya mengenai pertobatan.”
“Apakah maksud ibu saya harus bertobat kepada ibu saya?”
“Bertobatlah kepada ALLAH, minta maaflah kepada ibumu, itu oleh-oleh yang paling dihargai olehnya.”
“Terimakasih atas nasehatnya. Saya memang sudah bertekad untuk melakukan pertobatan setibanya nanti di rumah saya. Rasanya sudah sekian lama saya mengarungi padang pasir, dan inilah saatnya saya menemukan sumur yang tidak pernah kering.”
“Saya juga mempunyai anak yang kerja di kota, di Semarang ini. Makanya saya sering pergi ke sini untuk menjenguk cucu. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi seorang ibu seperti saya kecuali menikmati masa tua dengan cucu-cucu.”
“Kenapa tidak diantar oleh anak dan menantu, bu?”
“Bukan tugas seorang anak untuk mengantar jemput ibunya, demikian juga menantu. Apalagi menantu kan tetap orang lain, meskipun kita sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Tetap saja ada bedanya.”
“Jadi tugas anak apa bu?”
“Anak mempunyai tugas sendiri, sebagai individu yang bebas namun terikat. Seperti Gibran mengatakan “Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.” Jadi mereka mempunyai tugas untuk masa depannya sendiri.”
“Jadi orang tua tidak boleh mengambil apapun dari anaknya?”
“Apa yang akan diambil orang tua dari anaknya? Semua yang dimiliki anak adalah hasil ukiran orang tuanya. Meskipun dia berhasil menjadi “orang” karena kerja kerasnya, tapi “talenta”nya didapat dari doa-doa orang tuanya. Seperti dikatakan lebih lanjut dari puisi Gibran “Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian” maka dari itu, anak tidak bisa lepas dari orang tuanya. Cuma biasanya anak tidak pernah mengetahuinya.”
Obrolan mereka berhenti saat terlihat tulisan pada gerbang kota “DEMAK BERAMAL : Bersih, Elok, Rapi, Anggun, Maju, Aman, Lestari..” Bus yang mereka tumpangi telah menghantar mereka pada tujuannya.

Furqon sangat menikmati nasehat si ibu tua itu. Hatinya tenang, meskipun dia belum tahu apa reaksi ibunya jika mengetahui dia kembali.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home